
...Tandai typo dengan komen di setiap paragrafnya supaya langsung revisi.....
...*****...
Matahari sudah datang kembali untuk menyapa semua makhluk bumi.
Di sebuah ruangan yang serba putih, terlihat sepasang paruh baya yang baru saja terbangun dengan mata sembab mereka. Matanya melirik ke arah brangkar pesakitan dimana ada seorang gadis cantik yang tengah memejamkan matanya dengan tenang.
"Dad, Ririn kapan bangun?" Tanya Ayudia menatap anaknya sendu.
"Doain Ririn mom, supaya cepet bangun." Jawab Adelard. "Sekarang mommy mandi biar seger, itu baju mommy ada di paperbag. Daddy keluar dulu beliin sarapan untuk kita." Kata Adelard yang di angguki Ayudia.
Adelard berjalan keluar menuju kantin untuk membeli sarapan. Setelah melihat suaminya pergi keluar, Ayudia beranjak dari sofa menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Ayudia sudah selesai. Dia keluar membawa baskom berisi air dan handuk kecil. Dengan telaten dia membersihkan tubuh Ririn, dia tersenyum kecil melihat putrinya.
"Ayo bangun sayang, sudah cukup tidurnya." Ucap Ayudia lirih.
Mereka sudah ikhlas dengan kenyataan bahwa di raga anaknya sekarang bukanlah jiwa milik anaknya. Sulit, sangat sulit untuk di percaya jika di dunia ini akan benar-benar ada yang namanya pertukaran jiwa. Tapi keluarga mereka sendiri yang mengalami hal seperti itu.
Memang benar, orang akan mengerti dan percaya setelah orang itu mengalami suatu hal yang sebelumnya sangat mereka elakkan.
Berbeda dengan kondisi di rumah Xaviera. Keenam anak muda yang menginap disana sedang sarapan bersama Aira dan nenek Odi.
Aira dan nenek Odi tidak jauh berbeda dengan kondisi Ayudia yang bangun dengan mata sembab dan hidung merah.
Mereka sarapan dengan hening, hanya suara sendok dan piring yang saling bertautan.
"Oh ya Renz, apa kita perlu sekolah untuk tau Malik dan temannya yang Nathan maksud masuk sekolah?" Tanya Diki memecah keheningan.
"Nggak perlu. Itu sekolah punya keluarga dia." Lorenz menunjuk Nathan dengan dagunya. "Nanti coba lo telpon pihak sekolah buat nanyain orang yang lo maksud itu." Titah Lorenz kepada Nathan yang hanya di jawab anggukan.
"Tante sama nenek kekamar dulu mau siap-siap. Kalian lanjutin aja sarapannya ya." Pamit Aira kepada keenam pemuda pemudi itu.
"Mau kemana tan siap-siap?" Tanya Nathan kepada Aira. "Mau ke rumah sakit, sayang. Maaf ya tante tinggal kalian dulu" ujar Aira tak enak.
__ADS_1
"Nggak papa kok, tan." Jawab Jessy tersenyum manis diangguki kelima pemuda tersebut tanda setuju.
Nathan menatap sendu tante dan neneknya itu.
Jangan bilang semua akan baik-baik saja dengan orang yang sedang dalam masalah. Jika tidak bisa mengurangi sedikit bebannya,cukup jadi pendengar yang baik untuk mengurangi sesak di dadanya.
*****
Keadaan di SMA GALAXI saat ini sangat heboh dengan video yang sudah di sebarkan oleh Monika sore kemarin. Mata mereka mengelilingi penjuru sekolah mencari seseorang yang membuat mereka ingin menjadi iblis untuk saat ini. Siapa lagi kalau bukan Rima dkk. Tapi sayang mereka tidak akan menemukan mereka saat ini.
Begitu pun dengan Delisha, Mahira dan Enzy yang terlihat tidak semangat. Mereka datang ke sekolah dengan mata sembab mereka. Dari sepulang sekolah sampai malam hari mereka bertiga tidak pernah melihat ponsel, karena mereka bertiga menghabiskan waktu mereka dengan nonton drakor di rumah Enzy. Sampai tengah malam baru mereka buka ponsel dan betapa terkejutnya mereka menonton video yang membuat grub sekolah rame.
FLASBACK ON
Ting..
Ting..
Ting..
"Tumben ni grub rame" gumam Delisha dan membukanya karena penasaran.
Jari tangannya menekan video tersebut dan mulai menontonnya. Betapa terkejutnya dia sampai menjatuhkan ponselnya, membuat Mahira dan Enzy yang baru saja memejamkan matanya terkejut mendengar suara benda jatuh.
"Ririn" lirih Delisha meneteskan air matanya.
Mahira dan Enzy panik melihat Delisha yang menangis dan terus bergumam memanggil nama Ririn.
"Aduhh Del lo kenapa?" Tanya Enzy panik. "Makanya kalo jalan itu liat-liat." Omel Enzy membantu Delisha untuk bangun di bantu Mahira. Dia mengira Delisha jatuh dan sakit.
"Ririn" lirih Delisha kembali.
"Iya Ririn ada di rumahnya sudah tidur nyenyak. Dia sudah jarang punya waktu sama kita bertiga." Kesal Enzy. Sedangkan Mahira memilih diam dan membantu mendudukkan Delisha di kasur queen size milik Enzy.
Mendengar perkataan Enzy membuat Delisha seketika menghempaskan tangannya kasar dari tangan Enzy dan menatapnya tajam.
__ADS_1
"Lihat hp lo!" Titahnya dingin dengan sorot mata tajam menatap Enzy.
"Kenapa? Gue males mau tidur" bantah Enzy santai tanpa rasa takut dan akan naik kasurnya tapi terhenti dengan suara keras Delisha.
"LIHAT HP LO!" Bentak Delisha dengan air mata yang mengalir. Enzy dan Mahira sangat terkejut dengan bentakannya.
Mereka berdua segera mengaktifkan ponselnya masing-masing dengan tangan bergetar karena takut dengan bentakan Delisha.
Beberapa saat kemudian Mahira dan Enzy lagi-lagi di buat terkejut dengan video yang membuat grub sekolah ramai.
"Ini bukan Ririn kan?" Tanya Mahira yang jelas-jelas tidak membutuhkan jawaban. Air bening lolos dari begitu saja melihat bagaimana sahabatnya di siksa, bagaimana sahabatnya menahan sakit, bagaimana sahabatnya mengeluarkan darah dari hidungnya.
Enzy salah, dia salah telah mengatakan Ririn sedang tidur nyenyak di rumahnya. Nyatanya sahabatnya sekarang sedang menahan sakit, entah di rumah sakit atau di rumahnya.
Jadi ini jawaban dari tadi kenapa gue selalu khawatirin lo, selalu mikirin lo. Batin Delisha.
Enzy terlihat mengotak-atik ponselnya dan mencoba telpon Ririn, tapi nihil yang menjawab adalah operator. Dia tidak menyerah, dia terus menelpon orang lain yang entah itu daddy dan mommy Ririn tapi sama tidak ada jawaban sama sekali.
"Kerumah Ririn sekarang ayo!" Titah Enzy kepada kedua sahabatnya itu. Delisha menggelengkan kepalanya, sedangkan Mahira hanya terisak.
"Gue juga pengen langsung nyamperin dia, tapi gue tau sekarang sudah jam berapa. Nggak mungkin kita membahayakan diri kita sendiri jika sesuatu terjadi nanti di jalan yang sudah sepi." Ujar Delisha melihat jam di nakas yang sudah menunjukkan pukul 01:22.
Benar apa yang di ucapkan Delisha, apalagi sopirnya sekarang sedang tidak ada di rumah karena ikut orang tuanya keluar kota.
Enzy semakin histeris, Delisha yang melihat itu memeluknya erat. "Gue nyesel nggak temenin dia ke toilet waktu itu." Ujar Enzy terisak.
Mahira yang mendengar penyesalan Enzy ikut memeluknya. Mereka bertiga menangis dalam pelukan mereka.
Tidak ada yang tidur, mereka hanya menangis dan menggumamkan kata 'maaf' tanpa henti. Sampai mereka memutuskan sekolah untuk memberikan pelajaran kepada Rima dkk terlebih dahulu baru ke rumah sakit.
FLASHBACK OFF
...🌱...
Dukung aku dengan Vote like komen dan favoritkan...
__ADS_1