
BRAKK
Disaat Ririn lagi memikirkan bagaimana nasib sugar daddy nya, dan Cavero yang sedang menahan malu karena ulah papanya, dan yang lainnya yang masih ketawa dengan apa yang terjadi dengan sahabatnya, si Cavero. Tiba-tiba ada yang menggebrak meja mereka membuat semua yang ada di sana terkejut.
Bangsat!!
Bapak lo peyakk
Anj..
Asuu
Dan masih banyak lagi umpatan umpatan dari mereka yang terkejut karena ulah seseorang.
"LO NGGAK ADA KAPOK-KAPOKNYA YA CELAKAIN MONIKA!" Teriak seseorang yang baru saja menggebrak meja Cavero dkk. tepatnya di hadapan Ririn.
"MENTANG-MENTANG GUE NGGAK MASUK LO SEENAKNYA BULLY MONIKA HA!" Lanjutnya, dia adalah Dion.
"Punya bukti?" Tanya Ririn dingin.
"Monika yang bilang kalo lo yang udah nge bully dia di gudang." Ujar Dino ikut ikutan.
"Ck.. mana Monika? Sini gue tanya?" Tanya Ririn yang kesal. Monika berjalan pelan ke hadapan Ririn dengan wajah menunduk, penampilannya seperti gembel, ups.
"Ohh gue bully lo ya?" Tanya Ririn datar.
"I-iya ka-mu bul-ly aku d-di gudang" jawab Monika terbata bata.
Ririn tidak menjawab dan langsung menyeret Monika ke tengah kantin.
PLAK
BRUKK
Dia menampar dan membanting tubuh Monika, membuat semua orang yang berada di kantin memekik. Karena bell istirahat sudah berbunyi membuat kantin sedikit ramai dari sebelumnya yang hanya ada Ririn dan Cavero dkk.
"APA YANG LO LAKUIN SIALAN!" teriak Dion dan Melvin.
"DIAM LO SEMUA!" Bentak Ririn murka. Bahkan matanya berubah menjadi merah sedikit hitam.
Tanpa sepengetahuan semua orang, alter ego dari sang pemilik jiwa, yaitu Aqila, muncul yang bernama Rose.
"LO BILANG GUE BULLY DIA KAN? INI YANG NAMANYA BULLY!" Bentak Rose, nama alter ego Ririn. Dia murka kemudian menampar menendang dan dia mengeluarkan pisau lipat kecil dari saku roknya.
"RIRIN LEPASIN PISAU ITU DI TANGAN LO!" Teriak Dion mencoba membuang pisau yang ada di tangan Ririn.
"Ii ituu Ri-rin kenapa? Ma-ta-nya juga merah gi-tu?" Tanya Enzy yang baru datang bersama kedua temannya berjalan ke arah Cavero dkk. Sedangkan, Cavero hanya melihatnya.
"Kok Ri-rin serem ya?" Tanya Haiden ketakutan melihat Ririn apalagi matanya.
Akhirnya, Cavero pun berjalan ke arah stand makanan dan mengambil pisau lalu berjalan menghampiri Ririn. Cavero mendorong Dion yang mencoba untuk melepaskan pisau yang ada di tangan Ririn.
Cavero menggoreskan pisau tersebut ke tangan Ririn. Ririn pun pingsan di dekapan Cavero. Dengan sigap Cavero menggendong Ririn ala bridal style.
Setelah Cavero dan Ririn pergi, Dion dkk. lun menghampiri Monika yang ketakutan serta penampilannya yang jauh dari kata baik.
"Bro, gue cuma mau bilang dari tadi Ririn sama kita-kita jauh sebelum bell istirahat." Ucap Malik menepuk pundak Dion, sedangkan Dion hanya diam saja.
"Lo nggak bisa asal nuduh orang tanpa bukti." Ucap Varen dingin. Teman-teman Cavero berlalu keluar kantin menyusul Caveri dan Ririn lalu di ikuti Enzy, Mahira dan Delisha.
"Cari buktinya dulu baru beraksi." sinis Malik.
"Gue tau lo nggak bodoh." sindir Kenzo
Dion masih berdiam, bahkan tatapannya kosong. Monika yang melihat itu mengeram kesal.
Awas kamu Ririn. Batin Monika.
*****
Saat ini Cavero dan Ririn sedang berada di UKS, Ririn masih belum sadar. Cavero tidak pernah memalingkan tatapannya sedikit pun dari Ririn.
"RIRINNN." Teriak Enzy saat sudah berada di UKS. "Eh belum sadar ya." Lanjutnya pelan.
__ADS_1
"Eeugh" lengkuh Ririn membuat mereka semua menoleh ke arah Ririn.
"Eh Rin, lo udah sadar. Nih minum dulu." Ucap Delisha tang memang sudah berada di samping brankar Ririn. Ririn pun segera minum.
"Ehh Cav, lo kok bisa sih bikin Ririn jadi pingsan gini?" Tanya Kenzo penasaran.
"Dia punya altel ego." Jawab Cavero datar, membuat semua orang terkejut kecuali Ririn dan Varen.
"Apaan sih. Berisik tau nggak" decak Cavero menatap mereka datar.
"Rin, gimana tangan lo udah mendingan?" Tanya Reyhan mengalihkan pembicaraan.
"Udah nggak papa kok." Balas Ririn memandang tangannya yang sudah di perban.
*****
Ririn pulang dengan mengendarai motornya. Setelah itu masuk ke dalam rumah setelah mengamankan motornya di bagasi.
Tangan Ririn yang di perban pun sudah dia ganti hanya menggunakan plester dan dengan bantuan dari the power of make up sehingga tangannya seperti tidak terluka.
"Assalamualaikum." Salam Ririn yang baru memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam, Rin sudah pulang? Sini nak." Balas Mommy Ayudia yang sedang menonton televisi bareng Aira.
"Daddy sama Abang sudah pulang, mom?" Tanya Ririn celingak celinguk. "Daddy belum pulang, kalo Abang sudah, dia lagi di kamarnya." Jawab Ayudia.
"Kenapa?" Tanya Nathan yang baru keluar dari kamarnya. Sedangkan Ririn hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kamu istirahat gih, kamu pasti capek baru pulang sekolah." Ucap Aira yang di angguki Ayudia. "Iya nak, kamu ganti baju terus istirahat. Kalo belum makan, di dapur ya Rin."
"Iya mom."
Kemudian Ririn berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
"Tangan kamu kenapa?" Tanya Nathan yang tiba-tiba masuk kedalam kamar adiknya, membuat sang empu kaget.
"Nggak papa, bang." jawab Ririn.
"Ini cuma kegores pisau bang, nggak sengaja tadi di kantin saat bantu ibu-ibu kantin itu." Jelas Ririn bohong.
"Abang tau kamu bohong, dek. Tapi abang nggak akan paksa kamu buat cerita. Sekarang kamu ganti baju dan istirahat ya, kalo laper langsung ke dapur." Ucap Nathan sembari mengecup kening Ririn.
Tapi sebelum pergi, Nathan memeluk Ririn.
"Abang nggak mau kamu terluka. Abang takut kamu akan ninggalin abang." Lirih Nathan.
"Abang tau apa yang terjadi tadi di sekolah kamu. Dan terima kasih sudah menjadi adik abang yang sangat kuat. Maaf kalo abang selama ini nyakitin kamu."
"Abang nggak pernah nyakitin aku sama kaya daddy. Kalian berdua adalah laki-laki yang amat aku sayangi." balas Ririn.
"Abang sayang sama adek." Lanjutnya lagi sebelum melangkah pergi keluar kamar Ririn.
"Ririn juga sayang sama abang." Ucap Ririn meneteskan air matanya.
Meski pun Nathan terlihat sedikit cuek terhadapnya tapi di antara semua anggota keluarganya, hanya Nathan yang selalu memperhatikannya dalam hal sedikit pun. Ririn juga yakin pasti abangnya itu tau apa yang terjadi dengan adiknya itu. Entah bagaimana caranya dia bisa tau hanya dia yang tau.
Ririn benci situasi dimana dia akan menjadi cegeng seperti ini.
*****
"Dah cakep nih gue." Ririn berdialog sendiri sembari melihat penampilannya sendiri di cermin.
Ceklek
"Ya ampun Ririn. Kenapa pakaian kamu seperti itu?" Tanya Aira yang cengo melihat penampilan Ririn dari atas sampai bawah. Kaos biasa di tutupi jaket hitam serta celana jeans hitam.
"Lahh emang nggak boleh ya tan?" Tanya Ririn polos.
"Sini biar tante aja yang milihin." Ucap Aira berjalan ke arah lemari Ririn dan memilihkan baju untuk Ririn.
Ceklek
"Tant, plislah ini dada dan paha aku kemana-mana." Protes Ririn yang risih dengan pakaiannya saat ini.
__ADS_1
"Udah nggak papa, udah bagus kaya gitu." Balas Aira.
"Ini gimana naik motornya, yang ada paha aku makin kemana-mana." Tanya Ririn dengan raut wajah memelas.
*****
"Tumben diem aja, Rin?" Tanya Aira memecah keheningan di anatara mereka.
"Astagfirullah. Entar deh cari tutor dulu" ucap Ririn ngawur.
"Tutor apa?" Tanya Aira mengerutkan jidatnya.
"Tutor cara lari-larian di mobil. Puas?!"
*****
"Halo tan" Sapa Cavero menyalami tangan Aira.
"Ganteng banget, ya." Ucap Aira keapda Cavero. "Oiya, ini keponakanku namanya Ririn." Lanjut Aira memperkenalkan Ririn kepada Ayman.
"Rin, Cavero ganteng ya." Bisik Aira kepada keponakan lucnuk nya itu.
"Iyalah, dia kan cowok." Balas Ririn.
"Nggak. Kelakuannya kaya setan." Jawab Cavero yang masih memakan makanannya yang masih teraisa sedikit.
Ririn yang mendengar itu menatap Caveri dengan tatapan tajam. "Eh monyet, lo mau gue bacok di bagian mana, ha?" Ketus Ririn yang tidak terima dengan perkataan Cavero tadi.
"Nggak ya makasih!" Jawab Cavero singkat.
"Kalo nggak ada bokap lo, udah gue geplak pala lo." Ketus Ririn.
"Geplak aja nggak papa!" Ujar Ayman mempersilahkan.
Pletak
Cavero menyentil dahi Ririn. "By one, bego!"
"Lah sejak kapan ganti nama jadi by one?" Tanya Ririn dengan polosnya.
"Dih bego." Cibir Cavero.
"Terus?"
"Matre!" Cibir Cavero.
"Ya nggak papa lah. Dari pada gue ngelonthea, wleee." Ejek Ririn menjulurkan lidahnya. Ririn pun pergi ke meja yang ada di pojok.
"Keponakan kamu lucu juga ya." Ucap Ayman terkekeh.
"Terus ngapain lo kesini? Biasnaya juga nggak mau deket-deket sama orang yang namanya RIRIN, R.I.R.I.N!" Ucap Ririn penuh penekanan pada saat menyebut namanya.
"Kan lo bukan Ririn." Ucap Cavero yang berhasil membuat Ririn terkejut bukan maen.
"L-lo ta-u dari mana?" Tanya Ririn terbata-bata.
"Hmm lagian lo sih ngapain ngomong gitu si aelah."
"Menurut lo, gue siapa?"
"Kok malah balik nanya sih njirr?" Tanya Cavero kesal. Ririn hanya mengangkat bahunya, tanpa ada niatan untuk menjawabnya.
"Gue nggak mau kasih tau dan lo jangan cari tau, PAHAM?!" Ucap Ririn. "Lagian lo ngapain mikir kalo gue ini bukan Ririn. Udah jelas-jelas mukanya Ririn banget." Lanjutnya.
"Dihh, nggak jelas."
"Nanti gue kasih tau kalo gue udah siap." Final Ririn pasrah.
"Jadi lo beneran bukan Ririn?" Tanya Cavero yang masih berusaha buat Ririn ngaku.
*****
Jangan lupa tinggalkan jejak yaw gengs. Vote Like and Komen biar aku makin semangat up..
__ADS_1