RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL

RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL
PART 11


__ADS_3

"Pak ini kan yang mau beli buah si Aini, Dita dan Nia. Terua kenapa saya yang harus mikir berapa harga 1 kg apel dan yang lainnya? Kan mereka bisa tanya sama penjualnya. Kaya gini nih, 'Pak maaf ini apelnya 1 kg berapa ya?' gitu kan bisa pak. Apa untungnya juga buat saya menjawab soal ini, orang saya aja nggak kenal sama mereka. Mereka juga bisa hitung sendiri juga, kan? Udah gitu klao saya berhasil menjawab, mereka juga nggak bakal ngasih ke saya apel, anggur sama jeruknya!" Cerocos Ririn panjang lebar.


Selain Pak Burhan, siswa-siswinya pun ikut mendengar ocehan Ririn. Mereka juga kebingungan dengan sikap Ririn sekarang. Biasanya dia tidak akan peduli dengan semua ini karena semua tugas-tugasnya akan di kerjakan oleh orang lain.


Sebenarnya semua murid itu ingin bertepuk tangan atas keberanian Ririn. Namun, mereka tidak mempunyai nyali yang cukup besar untuk melakukan itu. Akhirnya, mereka hanya bisa diam dari luar dan bertepuk tangan dari dalam.


"Kalo kamu nggak mau kerjakan soal itu, silahkan keluar!" Ucap Pak Burhan dengan santai.


"Alhamdulillah Ya Allah." Bukannya panik, dia malah berayukur telah di usir oleh Pak Burhan.


"Tapi kamu tidak memiliki nilai dalam pelajaran kali ini dan saya akan menganggap kamu tidak hadir hari ini." Ucap Pak Burhan.


"Yahh pak kok nggak di anggap hadir? Saya kan bukan setan, pak. Lagian saya sudah mengerjakan beberapa soal kok." Protes Ririn.


"Yaa itu terserah kamu. Orang itu bukan urusan saya."


"Gini aja deh pak! Bapak pilih mau meng-alfakan absen saya atau mau mengosongkan nilai saya?"


"Kok jadi kamu yang ngatur saya?"


"Yaa lagian nggak adil dong bagi saya, pak. Masa saya sudah capek-capek ke sekolah dan mengerjakan beberapa soal malah nggak di anggap sama bapak."


Pak Burhan terdiam sebentar, kemudian dia menghembuskan nafasnya kasar. "Oke kalo kamu keluar bapak akan mengosongkan absen kamu." Final Pak Burhan.


"Azeekkkkk, gitu dong pak." Ririn pun segera memberekan alat tulisnya ke dalam tas kemudian dia mengambil lembar jawabannya untuk di serahkan kepada Pak Burhan.


"Dadah prenn. Gue mau bolos dulu hari ini. Selamat mengerjakan buat kalian semua! Alopyu pul, pak." Ucap Ririn sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu.


"Jangan di contoh!!" Titah Pak Burhan kepada murid-muridnya.


Ririn pun kembali membuka pintu kelasnya karena mendengar ucapan dari sang guru. "Dilakukan hanya oleh profesional ya pren."


"Anj, balik lagi tuh orang." Ucap salah satu dari meraka.


Sekarang tujuan Ririn adalah kantin. Tidak ada tempat lain yang bisa Ririn kunjungi selain kantin. Karena dia tidak mungkin membolos, dia mempunyai misi untuk membahagiakan orang di sekitarnya. Dan yaa, inilah salah satu caranya.


"Anjayy baru kali ini gue liat kantin sepi kaya gini." Ucap Ririn tersenyum lebar.


Matanya berkeliling, sampai akhirnya dia melihat lima orang pria yang sedang duduk bersama sambil memperhatikannya dari kejauhan.


"Apa lo liat-liat?" Tanya Kenzo.


"Dih pede banget lo" Balas Ririn memutar matanya malas, sebelum akhirnya berjalan menghampiri mereka.


"Ngapain lo di sini? Bolos kan lo?" Tanya Kenzo lagi.


"Dihh suudzon mulu kerjaan lo. Gue tuh nggak bolos, orang gurunya aja tau gue keluar dari kelas." Jawab Ririn yang sudah mendudukkan dirinya di kursi yang tersisa di meja mereka.


"Anjing, bisa gitu ya. Bolos tapi gurunya tau kalo kita bolos, nah loh gimana konsepnya tuh?" Tanya Haiden heran.


"Jadi gini, tadi tuh gue lagi ulangan matematika, kan. Terus gue protes tuh, karena si Aini yang beli apel tapi gue yang di suruh ngitung harga 1 kg nya berapa. Yaa gue kan males gitu ya, terua kata si bapaknya gini 'kalo kamu nggak mau ngerjain soal itu, silahkan keluar!' gitu, jadi ya udah deh gue keluar." Jelas Ririn panjang lebar.


"Terus lo ke sini ngapain?" Tanya Kenzo kepada Ririn.


"Tadinya gue mau beli bakso tapi ngeliat lo pada disini jadi ya udah gue samperin lo pada. Kalo makan bakso sendirian nggak enak, jadi kita makan sama-sama disini." Jawab Ririn.


"Terus bakso lo mana?" Tanya Malik.


"Oh ya, gue lupa pesen. Sebentar!" Ririn pergi ke stand bakso, kemudian kembali ke meja geng Divine dengan membawa nampan.


Sekembalinya Ririn, seketika menjadi hening tidak ada yang membuka suara. Sampai tiba-tiba Ririn memulai pembicaraan di antara mereka.


"Oiya kita kan belum kenalan ya. Padahal udah ketemu beberapa kali." Lanjutnya.


"Udah dari tahun lalu, njirr." Ucap Malik.

__ADS_1


"Gue kan hilang ingatan JAMALUDIN."


"Oiya gue lupa." Balas Malik cengengesan.


"Ya udah, nama lo siapa?" Tanya Ririn.


"Kenalin nama gue Malik!" Ucap Malik smabil mengulurkan tangannya untuk mengajak Ririn berjabat tangan.


Ririn pun membalas uluran tangan Malik itu. "Njirr gue yakin dah, lo semua masuk nerakanya jalur VVIP dari segala VVIP, orang temenannya aja sama penjaganya langsung."


"Nggak usah bikin gue emosi deh lo, njing!" Kesal Kenzo yang berusaha menahan emosinya pada Ririn.


"Ck.. emosian. Siapa nama lo?" Tanya Ririn kepada Kenzo.


"Gue Kenzo."


"Lo?"


"Gue Haiden."


"Terus lo siapa namanya?" Tanya Ririn pada David.


"David." Jawab David singkat.


"Irit banget nih orang." Beo Ririn menatapnya dengan tatapan bingung.


"Emang gitu kadang-kadang." Ucap Malik yang tak sengaja mendengar ucapan Ririn.


"Ohh gitu ya." Ririn mengangguk-anggukkan kepalanya paham.


"Oke pren-pren. Terima kasih atas perkenalannya, tapi dapat di pastikan bahwa nama lo pada nggak bakalan berguna. Karena gue lebih suka panggil kalian dengan bangsat, nyet, bret dan lainnya."


"Terus ngapain lo nanya, anjirr?" Kesal Haiden.


"Buat jaga-jaga. Siapa tau gue di ajak jalan-jalan sama lo, terus ada orang tua lo juga. Masa gue manggil lo dengan sebutan anjing, anak anjing. Kan nggak lucu." Jawab Ririn santai sembari memasukkan bakso ke mulutnya.


"Kan gue bilang siapa tau, bangsatt. Lo punya telinga nggak sih?" seru Ririn kesal.


"Punya lah, nggak liat nih telinga gue ada dua, hah!" Haiden menunjukkan telinganya untuk di perlihatkan kepada Ririn.


"Dimana-mana juga telinga mah cuma ada dua. Ngadi-ngadi aja lo."


Lucu. Batin Cavero yang dari tadi terdiam.


Tidak ada yang tau dari tadi senyum tipis terbit dari bibir Cavero. Sangat tipis sehingga tidak ada yang menyadarinya.


Bell istirahat sudah berbunyi membuat suasana kantin mulai ramai sedikit demi sedikit.


BRAKK


Uhuk


Uhuk


Ririn dan Kenzo tersedak makanan mereka sendiri ketika seseorang menggebrak meja di hadapannya.


...🌱...


"Lo udah gila hah! Main gebrak meja orang gitu aja udah tau ada orang yang lagi makan. Untung gue kaya mati dua kali gara-gara keselek." Bentak Ririn dadanya terasa sakit karena nafasnya yang tersendat bakso, matanya sedikit berair karena terbatuk tadi.


"Lo yang udah gila!" Ucap Dion dengan emosi. "Liat apa yang baru aja lo lakuin? Lo kurung dia di bilik toilet dan bully dia sampai segitunya!" Ucap Dion marah membuat Ririn memgernyit bingung menatap Dion kemudian menatap Monika yang ada di belakang Dion dengan keadaan yang sangat mengenaskan seperti sudah tercebur ke air got. Ririn yang menatap itu tertawa terbahak-bahak membuat orang yang melihatnya ikut tertawa bahkan ada juga yang terkikik geli karena melihat Monika yang seperti itu, kecuali Cavero dan David tetap dengan muka dinginnya.


"Kenapa lo? Habis kecebur di selokan iiuuh haha anjirr ngakak gue liatnya. Lo kaya orgil di jalan yang suka ngejar-ngejar orang tau nggak lo?" Ucap Ririn tertawa membuat Dion marah dengan rahang yang mengeras, dia menjambak rambut Ririn dengan kuat membuat semua orang terkejut.


"Akhh shitt" ringis Ririn, dia menatap Dion dengan senyuman mengejek.

__ADS_1


"Kenapa? Mau marah ha.." Ririn tersenyum miring. "Lepasin rambut gue sebelum gue berubah!" Ucap Ririn dingin.


"Heh lo" tunjuk Ririn pada Dino. "Bawa nih temen burik lo ini menjauh dari gue sebelum gue ngelakuin sesuatu." Ririn memejamkan matanya menahan semua emosi di benaknya.


"Oke jangan salahin gue kalo sampai temen burik lo ini masuk rumah sakit sampai satu minggu, ah satu bulan tidak tapi satu tahun." Ririn menyeringai lebar membuat semua orang yang melihatnya bergidik ngeri.


"Lepas bangsatt!" Sertak Kenzo.


"Diem lo!" Bentak Dion.


"Sudah kalian diem aja dan liat pertunjukan gratis yang gue berikan." Ucap Ririn santai dengan rambutnya yang masih di jambak.


Srett


"Lo pikir lo juga pantes gitu nyakitin gue kaya gini!" Ririn tersenyum mengejek kepada Dion. "Lo pikir lo siapa? Berani ngelakuin hal kaya gini ke gue?" Ucap Ririn menghempaskan tangan Dion dari rambut panjangnya. Lalu mendorong Dion sedikit menjauh darinya.


"Siapa pun gue, itu terserah gue mau lakuin hal apa pun." Ucap Dion dingin.


"Begitu pun gue. Lo pikir lo aja yang bisa lakuin hal apa pun, gue juga bisa"


"Sebaiknya lo jauh-jauh dari hidup gue sebelum gue bener-bener bakalan bikin hidup lo nyesel." Ucap Ririn serius.


Dion mencekal dagu Ririn kuat. "Itu nggak bakalan terjadi." Dion tersenyum miring.


"Lo jadi cowok kok pengecut banget. Main kasar sama cewek!" Sindir Malik.


"Cewek kayak lo emang pantes di kasarin, karena lo itu iblis yang nggak punya hati." Sarkas Dion.


"Heh lo bodoh atau emang bodoh sampai ubun-ubun. Seorang iblis aja nggak bakalan mau di kasarin. Dan lo samain gue sama iblis yang nggak punya hati."


"Oke gue bakal tunjukin bagaimana gue yang iblis ini." Ucap Ririn menyeringai. "Lo semua penasaran kan apa yang udah gue lakuin sama ni anak gorila?" Ucap Ririn menatap sekelilingnya.


"Tapi sebelum itu gue cuma mau nunjukkin kejutan buat lo semua, siapa disini yang bersalah gue atau lo pada." Ucap Ririn tersenyum misterius. Ririn mengambil sebuah tisue lalu membasahinya dengan air. Kemudian dia mendekati Monika.


"Nggak boleh ada yang halangin gue setelah ini, karena kejutannya akan segera kalian lihat."


"Lo udah gila ya!" Bentak Dion.


"Iya anggap aja begitu."


"Lo ma-mau ngapain?" Tanya Monika dengan tubuh bergetar. "Gue? Gue cuma mau bersihin muka lo." Ririn mengelap wajah Monika dengan tisue yang sudah dia kasih air tadi.


Semua orang terkejut melihat wajah Monika yang tidak ada bekas biru lagi di wajahnya.


Plak


Plak


"Ini yang gue lakuin sama dia."


Srett


Ririn menarik rambut Monika hingga gadis itu menjerit berdiri dari duduknya.


Dugh


Brak


Ririn membenturkan kepala Monika pada meja di depannya dan mendorongnya hingga tubuh Monika menabrak meja.


Brukk


"Ssh.. sa.. hiks kit.. hiks."


...🌱...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan pren:)


__ADS_2