
Hari ini adalah hari senin, tanda harus memulai aktifitas seperti biasanya setelah libur akhir pekan.
Ririn terburu-buru menuruni tangga dengan sepatu yang dia jadikan sebagai kalung dan dasi yang tidak terpasang rapi.
"Anj! Ni orang rumah pada kemana sih? Udah tau gue hari ini ujian semester malah di biarin molor terus." Gerutu Ririn sepanjang menuruni tangga.
Terlihat di ruang makan ada semua keluarganya kecuali Nathan. Mungkin sudah berangkat kuliah atau kantor atau mungkin masih tidur? Entahlah.
"Rin sarapan dulu!" Titah Adelard yang melihat anaknya akan keluar rumah.
"Nggak dad, Ririn udah telah nih. Assalamualaikum." Ujar Ririn sedikit teriak sambil terus berlari keluar menuju garasi.
"Waalaikumsalam" jawab mereka pelan sambil menatap cengo Ririn yang terlihat sangat sangat berantakan.
Tanpa memasang sepatunya terlebih dahulu, Ririn segera meninggalkan mansion keluarga Xavier dengan kecepatan tinggi. Segala umpatan dari para pengendara lain tidak di perdulikan. Dia terus melaju dengan kecepatan tinggi menyalib pengendara lain sembari sesekali melirik arlogi di tangannya.
Sekitar sepuluh menitan Ririn sudah sampai di sekolah, tinggal dua menit lagi dia bakal terlambat. Semua murid bahkan beberapa guru menatap Ririn cengo termasuk Cavero dkk dan Dark Spider yang masih menunggunya di parkiran.
"Habis nge-gembel dimana lo, Rin?" Tanya Jessy menatap cengo sahabatnya tersebut.
"Ini Ririn kan?" Tanya Diki menelisik penampilan Ririn.
"Berisik lo pada!" Sentak Ririn kemudian turun dari motornya dan duduk di tanah memasang sepatu dan membenarkan penampilannya.
Teman-temannya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tingkah Ririn yang tiada habisnya buat mereka istigfar tiap saat. Seperti saat ini, bagaimana tidak? Pasalnya Ririn tiba di sekolah dengan keadaan yang jauh dari kata baik. Sepatu yang dijadikan kalung, dasi yang masih acak-acakan, rok rempel sekolah yang resletingnya harusnya di belakang tapi ini di samping dan jas yang masih belum terpasang tapi dia duduki selama bermotor, dan jangan lupakan sandal bulu warna kuning cerah yang dia pakai.
Harus di apakan Ririn ini wahai pren-prenku semua? Lelah hayati..
"ASTAGFIRULLAH RIRINNN!" Suara pak Didik menggelegar di area parkir. "Kamu ini mau ngapain di sekolah? Nge-gembel?" Sindir pak Didit.
"Aduhh pak nanti aja marahnya. Mau pasang sepatu dulu sebelum upacara di mulai." Ujar Ririn tidak mengidahkan pertanyaan yang di lontarkan pak Didit.
Pak Didit menatap Ririn tajam. "Ngapain kamu kesekolah pake sepatu di sekolah bukan di rumah sebelum berangkat?" Omel pak Didit tak habis pikir dengan kelakuan aneh anak muridnya yang satu ini yang tidak ada habisnya.
"Aduh pak kalo saya pake sepatu di rumah ya saya telat dong nanti." Jawab Ririn sambil membenarkan dasinya dan rok rempelnya. "Saya kan murid baek-baek dan teladan jadi harus dateng ke sekolah tepat waktu" cerocosnya.
Cavero dkk dan inti Dark Spider yang mendengar kalimat 'Saya kan murid baek-baek' dari mulut Ririn pengen muntah.
"Dah selesai." Ucap Ririn yang baru selesai memasang jasnya. "Masyaallah cantik syekali Ririn ini, ya kan pak?" Tanya Ririn kepada pak Didit yang menggelengkan kepalanya pasrah.
"Serah dah serah!" Ujar pak Didit kemudian melenggang pergi dari hadapan mereka, Ririn hanya terkekeh melihatnya.
Kring kring
"Langsung ke lapangan aja yuk. Taruh tas di belakang barisan nanti." Ujar Leo dan mulai melangkah duluan.
Ririn yang baru akan melangkah tapi di urungkan karena netra matanya tidak sengaja menangkap sesuatu. "STOP!" Teriak Ririn menghentikan langkah mereka.
"Gue lupa sesuatu, bentar!" Ujar Ririn kemudian melangkah ke motornya hanya untuk melihat penampilannya di kaca spion. Di rasa sudah oke, dia menghampiri Cavero. "Selamat pagi mas pacar." Sapa Ririn tersenyum manis tidak lupa dengan matanya yang kedap-kedip di buat seimut mungkin.
"Hm." Jawab Cavero singkat.
__ADS_1
Mereka yang melihat itu merotasikan mata mereka menatap Ririn jengah. Kemudian melangkahkan kakinya kembali menuju tujuan awalnya.
*****
Sejam berlalu, tapi semua murid Galaxi masih menerima ceramah dari kepala sekolah yang entah sedang menyampaikan apa. Banyak murid yang sudah mengeluh panas, capek berdiri dan sebagainya, tidak terkecuali Ririk dkk.
Siapa si yang ngusulin ujian harus upacara dulu? Batin Ririn menggerutu.
Ririn yang sudah tidak tahan lantas memutar otaknya berpikir untuk mencari ide. Sampai akhirnya..
"WOYY PAK! UDAH NAPA PANAS NIH KEPALA APALAGI NANTI MAU DI GUNAIN BUAT MIKIR JAWABAN SOAL! BISA MELEDAK NI KEPALA!" Teriak Ririn membuat semua orang menatap kearahnya dengan pandangan berbeda. Ada yang menatap Ririn takut, was-was, melototkan matanya terkejut dengan keberanian Ririn, tapi yang lebih dominan adalah pandangan berbinar mereka.
Semua murid bertepuk tangan dalam hati dengan keberanian Ririn yang luar biasa. Cavero yang mendengar Ririn teriak hanya menatapnya datar begitu pun dengan Leo. Tapi tidak dengan Haiden, Malik, Kenzo, Diki dan Arnold yang sudah bertepuk tangan heboh dengan sambil mengacungkan kedua jempol mereka ke arah Ririn. Sedangkan guru yang mendengar itu melototkan matanya tidak percaya dengan muridnya tersebut.
Mantap bosquee.
Alhamdulillah ya Allah.
Wahh harus berterima kasih nih gue nanti sama dia.
Ririn memang ter-the best.
Dan masih banyak lagi batinan mereka dengan keberanian Ririn tersebut.
Kepala sekolah yang mendengar itu berdehem. "Ekhm. Baiklah anak-anak mungkin hanya itu saja yang mau saya sampaikan. Terima kasih." Tutupnya.
Semua murid bertepuk tangan. Bukan, bukan buat kepala sekolah yang menyelesaikan pidatonya tapi buat Ririn yang telah menghentihan ocehan kepala sekolah di atas mimbar tersebut. Ririn hanya menatap mereka dengan tersenyum manis. Dalam hatinya tentu dia merasa bangga dengan dirinya sendiri.
*****
Upacara telah selesai. Semua murid berhamburan ke kantin bukan ke kelas, termasuk Ririn dan antek-anteknya, siapa lagi kalau bukan Cavero dkk, Inti Dark Spider dan ketiga temannya.
"Beuhh seger bener ni ess." Cetus Ririn menyeruput es jeruk yang di pesannya.
"Anjirr panas banget. Kepala sekolah ity nggak ada pengertiannya sama sekali." Cetus Mahira.
"Iya, muka gue jadi item seketika." Sahut Enzy mengipas-ipas mukanya denga kedua tangannya.
"Untung ada Ririn tadi yang berhentiin tu kepala sekolah." Sahut Delisha.
"Iya lo keren banget tadi, Rin. Ullu ullu gemes." Ujar Haiden mencubit gemas pipi Ririn.
"Sakit bangsat!" Sentak Ririn menepis tangan Haiden dari pipinya kemudian mengusap-usap pipinya kasar.
Cavero yang melihat itu menatap tajam Haide. "Hehe ampun boss." Ujar Haiden menyengir kuda kepada Cavero.
Sedangkan yang lain tidak menghiraukan mereka bertiga. Mereka sibuk dengan cemilan yang ada di depan mereka berupa naget. Naget tersebut seolah-olah melambaikan tangan kepada mereka meminta untuk dimakan.
Kring kring..
"Sudah bell. Cabut!" Titah Leo berdiri dan melangkah meninggalkan kantin terlebih dahulu di ikuti Derren dan yang lainnya. Bahkan Mahira, Delisha dan Enzy ikut pergi.
__ADS_1
"Bentah dulu ellahh. Es gue belum habis." Cetus Ririn dengan santai menyeruput Es jeruknya.
"Buruan!" Titah Cavero yang menemaninya.
"Bentar. Ni makanan belum habis juga, mubazir!" Cetus Ririn lagi sambil memakan sisa naget dengan santai.
Cavero yang melihat itu pun geram. Dan dengan tidak santai dia membantu Ririn menghabiskan naget tersebut.
"Cabut!" Titah Cavero berubah dingin kemudian berdiri dan melangkah meninggalkan gadis aneh yang sayangnya adalah pacarnya sendiri.
"Tungguin bret!" Ujar Ririn sedikit teriak. Sebelum mengejar Cavero, dia masih sempat-sempatnya nyeruput esnya sampai tandas.
Sesampainya di kelas ternyata sudah ada guru pengawas yang baru saja selesai membagikan kertas soal.
"Assalamualaikum bapak ganteng." Salam Ririn tersenyum manis.
"Dari mana saja kamu?" Tanya guru tersebut.
"Jawab salam hukumnya wajib pak." Beritahu Ririn.
"Iya waalaikumsalam. Dari mana?"
"Dari kantin pak, haus!" Jawab Ririn jujur.
"Apa kamu tidak mendengar bell sedari tadi?" Tanya guru itu sedikit tidak santai.
"Dengar pak. Tapi makanan saya masih, nanti mubazir. Kata mommy saya nggak boleh mengbuang-buang makanan, nggak baik. Di luaran sana masih banyak orang yang belum tentu bisa makan seperti kita pak." Jawab Ririn bijak dan dramatis.
Guru pengawas tersebut hanya menatap Ririn jengah. "Iya sudah sana duduk kamu." Titah guru tersebut yang malas untuk berdebat.
Ririn duduk dan mulai mengerjakan soal yang sudah tersedia di atas mejanya dengan tenang, tapi ketenangan itu tidak berlangsubg lama.
Sudah mulai terdengar bisik-bisik temannya mencari jawaban, bahkan ada yang menggunakan trik kembang kuncup di kancing seragam mereka.
"Jess no. 11 apa?" Tanya Ririn pelan kepada Jessy. Jessy yang mendengar itu menjawab dengan isyarat tangan.
Perlu di ketahui, jika masalah hafal menghafal Jessy lah jagonya. Tapi tidak dengan menghafal rumus matematika dan fisiki dia angkat tangan. Katanya, terlalu ribet.
"Lo bisa nggak?" Tanya Delisha. Selalu, selalu kata itu yang di tanyakan Delisha kepadanya setiap ulangan. Ririn menjawab dengan mengangguk tapi sedetik kemudian menggelengkan kepalanya membuat Delisha mengernyitkan dahinya bingung.
Baru saja Delisha akan buka suara tapi suara pengawas mengurungkan niatnya.
"Di belakang kenapa berisik?" Tanya guru pengawas tersebut. "Kerjakan dengan tenang!" Titahnya.
"Iya pak!" Jawab mereka barengan dengan lesu.
*****
Part ini lebih panjang pren-prenku semua.
Yuk satu kata buat Ririn?
__ADS_1
Dukung prenmu ini dengan vote, like, komen dan favoritkan gengs..