
Dokter tergesa-gesa menghampiri ruangan Ririn. Dokter itu berhenti di depan pintu dengan mata membelalak melihat pasiennya kini tengah duduk santai berpelukan. Bagaimana bisa pasiennya bangun? Bukannya beberapa waktu lalu jantungnya sudah berhenti berdetak bahkan sudah tidak bernafas lagi, pikirnya.
"Permisi." Ucap dokter Justin. "Maaf, biar saya periksa dulu."
"Ahh iya ya silahkan dok." Ade mempersilahkan dokter Justin memeriksa Ririn.
"Kenapa saya di periksa?" Tanya Ririn polos menatap dokter tersebut.
Sungguh dia masih bingung dengan apa yang terjadi. Mengapa semua orang menangis? Tapi tak khayal, dia patuh dan diam di periksa dalam pikirannya.
"Ini sebuah keajaiban, pasien kini dalam keadaan yang normal." Ucap dokter Justin mambuat mereka bernafaa lega.
"Woy dokter gadungan! Gue dari dulu juga udah NORMAL kali! Ya kali gue BELOK!" Sewot Ririn sedikit meninggi membuat semua orang terperanjat kaget kembali. Sudah berapa kali mereka kaget dengan Ririn dalam satu hari ini.
Sungguh Ririn ini adalah manusia yang di luar dugaan. Orang yang baru bangun dari kematian, kritis, atau pun koma pasti akan merasakan lemas dan kadang tidak bisa bicara banyak. Tapi, Ririn bangun langsung berteriak seperti itu. Kini bukan Ririn yang akan kejang-kejang, tapi mereka semua yang ada di ruangan tersebut yang di buat kejang-kejang karenanya.
"Njirr! Gue harap jantung gue nggak jatuh ke perut." Umpat Haiden mengusap dadanya karena kaget.
"Aduhh Rin, nggak usah teriak-teriak bego!" Protes Lorenz menyentil kening Ririn gemas dengan tingkah adiknya itu. "Lo nggak papa, kan? Tanya Lorenz.
"Nggak papa gimana maksud lo, bang? Lo tau nggak gue habis di kejar-kejar setan." Ujar Ririn membuat semua yang mendengarnya mengernyit. Bagaimana bisa pikirnya.
"Gue cape banget anjirr hiks mommy huaaaaaa." Ririn menangis kencang tiba-tiba membuat semua orang kembali terperanjat kaget.
Dengan panik Ayudia memeluknya. "Mommy disini, udah jangan nangis. Nggak malu diliat pacarnya?" Tanya Ayudia sedikit menggoda anaknya.
Pacar? Batinnya bertanya.
Ririn berhenti menangis dan mengedarkan matanya. Dia menemukan objek itu. "Ehh ada mas pacar hehee. Lo nggak mau kasih gue apa gitu? Gue baru sembuh lo" ujar Ririn tersenyum genit tapi sedikit malu karena dilihat menangis.
"Coba tampar gue, mungkin ini mimpi." Pinta Cavero mendekati Ririn. Dia masih belum percaya bahwa orang yang sudah dinyatakan meninggal itu masih berbicara dengannya.
Plak!
Ririn menampar Cavero dengan keras membuat Caveeo meringis. "Kenapa lo nampar gue, njirr?" Cavero menatap Ririn tajam.
"Lahh kan lo tadi yang minta gue buat npar lo." Bela Ririn menatap Cavero sinis. Ririn melihat bekas lima jari tangannya yang membekas merah di pipi putih Cavero. Ingin sekali Ririn ketawa tapi tidak tega karena melihat Cavero yang meringis mengusap pipinya sendiri.
Semua yang ada di dalam ruangan VVIP tersebut menahan tawanya melihat kelakuan keduanya.
"Jadi ini nyata bukan mimpi lagi?" Tanya Cavero dengan bodohnya.
"Bukan. Ini masih di dunia khayalan, dunia halusinasi. Puas lo?!" Sewot Ririn.
Pecah sudah tawa mereka melihat pasangan di depan matanya tersebut. Sedangkan Cavero masih perang tatap-tatapan dengan Ririn.
Ririn beralih menatap dokter Justin yang masih berada di ruangannya. "Eh dokter gadungan! Kapan saya pulang?" Tanya Ririn.
Dokter Justin yang dikatai dokter gadungan hanya menghela nafas panjang. "Besok sudah boleh pulang." Jawab dokter Justin sedikit ketus namun tetap tersenyum meski terpaksa. Dia kemudian pamit keluar.
"Heh mulutnya! Nggak boleh gitu lagi." Tegur Aira karena melihat tatapan dokter tadi yang kecewa mendengar panggilan Ririn kepadanya. Dokter tersebut pasti berpikir dia tidak layak menjadi dokter, pikirnya.
"Iya sayang. Tidak semua orang akan menerima semua yang kamu katakan." Lanjut Ayudia membelai lembut rambut anaknya.
"Iya ya maaf."
Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat jawaban Ririn.
"Eh lupa. Mommy!" Panggil Ririn yang baru mengingat sesuatu. "Tadi kenapa semua orang nangis?" Tanyanya penasaran.
"Lo tadi mati njim!" Bukan Ayudia yang menjawab tapi Lorenz.
"Anjim!"
"Mulutnya Rin!" Tegur Adelard menatap anaknya tajam.
"Astagfirullah maafkan Ririn Ya Allah Ririn khilaf!" Ucap Ririn mengadahkan tangannya lalu mengusap di wajahnya. "Hehe maaf dad."
"Lo doain gue mati?" Tanya Ririn nge-gas menatap Lorenz tajam.
__ADS_1
"Kalo lo nggak percaya, tanya aja mereka semua." Jawab Lorenz santai.
"Bener dad? Mom?" Tanya Ririn kepada orang tuanya dibalas anggukan.
"Ririn kan belum merasakan yang namanya nilah sama Kim Taeyung atau nggak sama Song Jong Ki, kasian mereka kalo jodohnya mati. Lagian kan nggak elit banget kalo Ririn mati muda." Cerocos Ririn membuat mereka menggelengkan kepala.
"Gaya lo Song Jong Ki." Balas Kenzo sewot.
"Perlu gue bawa penghulu sekarang?" Tanya Cavero dingin mendengar penuturan ngawur Ririn.
"Hehe mas pacar, bercanda doang ellahhh." Elak Ririn melihat tatapan tajam Cavero membuat nyalinya menciut. Semua orang terkekeh melihat itu.
"Don't you miss me?" (Apakah kamu tidak merindukanku?) tanya nenek Odi menatap Ririn sendu.
Ririn menatap neneknya lalu menatap Ade. "Artinya apa dad?" Tanya Ririn kepada Ade.
Ade terkekeh. "Apa kamu tidak merindukan nenekmu?" Jawab Ade.
"Of Course. I rindu dengan you." Jawab Ririn tersenyum menatap neneknya. Dia sungguh malu dengan dirinya sendiri yang mendengar bahasa inggrisnya yang tidak ada bagus-bagusnya.
Lagi dan lagi mereka harus memahan tawa karena ulah Ririn.
"I don't understand what you're saying. but one thing is for sure, whoever you are, you are still my granddaughter." (Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Tapi satu hal yang pasti, siapa pun kamu, kamu tetap cucuku.) Ucap nenek Odi memeluk Ririn. Ririn terdiam dalam pelukan neneknya. Bukan karena terharu mendengar penuturan nenek Odi, tapi karena dia tidak mengerti apa yanh dikatakan neneknya.
Nenek Odi melepas pelukannya dan di gantikan Aira. "Cepat sembuh, biar nanti kita jalan-jalan berdua habiskan uang daddy-mu itu." ujar Aira terkekeh memeluk sayang keponakannya itu. Ririn mengangguk semangat meng-iya-kan perkataan Aira.
Apa gue doang yang ngerasa aneh sama semua orang? Batin Ririn menatap semua orang bingung.
Bodo amat dah. Batinnya lagi.
"Sudah. Sekarang gue yang melepas rindu sama adek gue!" Ujar Nathan memeluk Ririn posesif.
"Jangan pergi lagi!" Pinta Nathan lirih. "Kamu sukses buat abang hampir mati jantungan hari ini." ujarnya mencium rambut Ririn.
"Bukan gue bang." Elak Ririn. "Tapi tadi tuh Ririn habis di kejar-kejar setan. Setan mencekik leher aku jadi nggak bisa nafas tapi sekuat tenaga aku bales tu setan dan aku melarikan diri." Jelas Ririn tapi tentu tidak ada yang percaya dengan itu semua.
NEXT!
"Makin cantik aja gue, masyaallah." Monolog Ririn seperti biasa jika sudah selesai dengan kegiatan pagi sebelum berangkat sekolah.
"Dahlah nanti kacanya pecah karena insecure sama gue yang masyaallah ini." Monolognya lagi, lalu mengambil tasnya dan keluar kamar menuju ruang makan.
"Selamat pagi semuaa" ucap Ririn sedikit teriak sambil tersenyum manis.
"Loh Rin. Kok kamu sekolah? Nggak nggak! Kamu belum boleh sekolah dulu hari ini!" Larang Ayudia yang melihat anaknya memakai seragam sekolah.
"Ck mom, Ririn sudah sehat wal'afiat. Aku juga bosan di rumah terus mau ini nggak boleh itu nggak boleh, makin stres akunya." Balas Ririn mendramatis.
"Nggak bo-"
"Aku sekolah ya dad" pinta Ririn memotong ucapan Ayudia dan menatap Ade memelas.
"Yakin?" Tanya Ade memastikan.
"Yakin!" Jawab Ririn cepat dan memastikan.
"Oke, kamu boleh pergi sekolah." Ujar Ade memutuskan membuat Ayudia melototkan suaminya itu tapi Adelard hanya cuek bebek.
"Yes!"
Ayudia terdiam dan duduk dengan kesal kepada adik, anak dan suaminya yang terkekeh melihatnya. Sedangkan nenek Odi hanya diam memakan sarapannya. "Serah!"
"Oh ya, kamu mau hadiah apa?" Tanya Adelard kepada Ririn di sela-sela sarapan mereka.
"Hadiah?" Tanya Ririn bingung menatap daddynya.
"Iya hadiah. Hadiah atas kesembuhan kamu." Beritahu Adelard.
Busyeettt! Demen banget gue sakit kalo gini, setiap sembuh dapet hadiah. Btw, minta apaan ya? Motor sport udah, sekarang apa ya? Kira-kira kalo mobil sport bakal di beliin nggak ya? Batin Ririn bimbang.
__ADS_1
"Mobil sport dad!" Ucap Ririn semangat.
"Oke!" Jawab Ade cepat.
Ririn menatap Adelard cengo. Segitu mudahnya dia bilang 'oke' tanpa memikirkannya terlebih dahulu.
Busyettt seberapa kaya nya ni keluarga. Segitu mudahnya mau beliin gue mobil sport. Bener-bener dah ni keluarga, yang sayangnya keluarga gue. Batin Ririn menggerutu.
"Sudah! Sekarang habiskan sarapannya nanti kamu telat." Ujar Aira yang melihat wajah cengo Ririn.
"Ngomong-ngomong dad, abang kok nggak ada batang idungnya disini?" Tanya Ririn mengedarkan pandangannya mencari Nathan.
"Dia sudah berangkat kekantor karena ada kerjaan sedikit katanya baru dia ke kampusnya." Beritahu Ayudia bukan Adelard karena memang Adelard tidak tau Nathan dimana, dia kira masih tidur.
Ririn hanya manggut-manggut. "Ya udah, aku berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Eh berangkat bareng sopir!" Titah Ayudia tidak ingin di bantah.
"Nggak! Aku pake motor mom. Assalamualaikum!" Ririn langsung berlari keluar sebelum mommy-nya kembali melarangnya.
"Astaga tu anak"
"Waalaikumsalam"
*****
"Pagi mas pacar" sapa Ririn dengan senyuman manis.
"Udah masuk aja lo, Rin." Cetus Haiden.
"Bosan banget gue di rumah. Kangen mas pacar juga makanya gue sekolah" Balas Ririn tersenyum manis kearah Cavero yang masih terdiam menatap Ririn.
"Dih bucin!" Cibir Kenzo.
"Biarin wlee! Iri? Bilang bos!" Balas Ririn mencibir Kenzo.
"Ngapa lo diem aja dari tadi? Nggak kangen sama gue?" Tanya Ririn beruntun yang sama sekali tidak di respon Cavero.
"Anjirr udah aku-kamu aja" goda Kenzo terkekeh.
"Berisik!" Sentak Cavero kepada Ririn yang membuat Ririn dan yang lainnya tertawa, pasalnya wajah Cavero sekarang sudah memerah menahan malu.
BRUMM
BRUMM
BRUMM
Tidak lama, ada lima motor sport memasuki area sekolah dan memarkir di dekat Ririn. Mereka adalah Dark Spider.
"QILAAA!" Teriak Jessy yang baru turun dari motornya.
"Anjing! Jangan teriak-teriak!" Sentak Ririn menatap tajam sahabatnya itu. "Hehe itu namanya gue kesenengan, njirr." Balas Jessy menyengir kuda.
"Ikut gue lo!" Titah Ririn menarik tangan Jessy untuk mengikutinya. "Kenapa?" Tanya Jessy setelah Ririn berhenti.
"Tenang aja. Gue udah bilang sama bokap lo buat masukin gue biar sekelas sama lo dan yang lain sekelas sama Zero." Jelas Jessy. "Oke. Ayo!" Ucap Ririn yang melangkah duluan.
"Anjirr tungguin gue!" Jessy segera berjalan menyamakan langkahnya dengan Ririn.
Di tempat lain.
"Cabut!" Titah Cavero yang berjalan duluan.
"Apa kita nggak ke ruang kepala sekolah dulu?" Tanya Diki kepada Leo.
...🌱...
Dukung aku dengan cara Vote, like Komen dan favoritkan..
__ADS_1