
Hari ini sekolah di liburkan karena para guru akan mengadakan rapat untuk persiapan ujian semester minggu depan. Dan Ririn sudah siap untuk keluar jalan-jalan lagi mencari cogan karena yang kemarin gagal karena ada ibu-ibu di palak. Sepertinya jalan-jalan menjadi hobi barunya sekarang.
Padahal pacarnya ganteng pake banget, tapi ya namanya juga pemburu cogan ye kann..
Sekarang dia mencoba jalan-jalan pagi. Sekarang baru pukul 08:24 pagi dan perlu di ketahui, Ririn saat ini belum mandi. Dengan percaya dirinya mengatakan bahwa dia masih sangat cantik meski belum mandi.
Kali ini Ririn menggerai rambutnya yang biasanya kuncir kuda. Tapi dia tetap membawa ikat rambut dan dia jadikan sebagai gelang.
Ririn melangkahkan kakinya menuruni tangga. Di ruang tamu ada mommy, tante dan neneknya sedang menonton si kembar kepala botak sambil mengobrol santai.
"Mau kemana Rin?" Tanya Aira yang melihat Ririn menuruni tangga. "Mau jalan-jalan sebentan, tan." Jawab Ririn.
"Jalan kemana? Kamu belum mandi kan?" Sahut Ayudia menatap anaknya menelisik.
"Hehe iya mom, tapi masih cantik kan?" Jawab Ririn cengengesan.
Ayudia dan Aira yang mendengar itu mendengus dengan ke-pede-an Ririn. "Ya sudah. Tapi jangan lupa waktu." Titah Ayudia. Ririn hanya menganggukkan kepalanya.
"Assalamualaikum." Salam Ririn kemudian melenggang pergi keluar mansion.
"Waalaikumsalam"
Setelah sekitar sepuluh menit berjalan, entah kenapa dia merasa jalan yang di lewatinya terasa sepi.
Perasaan jalan yang gue lalui sekarang beda deh sama yang kemarin. Tapi kok sama-sama sepi yah? Batin Ririn bertanya.
Ririn terus berjalan sampai dia melihat kelima orang yang dia kenal baru turun dari satu mobil dan salah satu dari mereka tengah memeriksa mesin mobil yang saat ini kapnya terbuka. Sepertinya mobil mereka mogok. Ririn pun menghampiri mereka.
"Mogok nyet?"
__ADS_1
"Astagfirullah kaget. Lo kalo dateng jangan kaya setan dong." Reyhan yang saat ini sedang memeriksa mesin mobil terkejut karena Ririn yang tiba-tiba datang bahkan tanpa suara sudah ada di sebelahnya.
"Bhahaa salah sendiri jadi orang kagetan." Ejek Ririn.
"Yaa lo nya aja yang kaya setan tiba-tiba nongol" ketus Reyhan.
Ririn tak mengidahkan perkataan Reyhan. "Sini gue liat mesinnya." Ujar Ririn dan meminta Reyhan menyingkir biar dia memeriksa mobilnya. Tapi sebelum itu dia mengikat rambutnya dulu.
Pemandangan Ririn yang mengikat rambutnya membuat kelima lelaki buaya tersebut.
Ririn mulai memeriksa dan mencari apa yang salah. Raut wajahnya sangat serius meneliti setiap bagian mesin. Bahkan tangan dan wajahnya kini sudah kotor dengan noda hitam.
"Lo ada perkakas?" Tanya Ririn menatap mereka.
"Nggak ada." jawab Reyhan seadanya.
Sedanhkan para lelaki buaya disana di buat semakin bingung. Bagaimana tidak, habis memainkan ponselnya dia malah lesehan di pinggir jalan.
"Oh ya lupa gue tanya. Cavero sama Varen mana?" Tanya Ririn menatap mereka yang ikut duduk lesehan di pinggir jalan.
"Ini kita mau ke rumah Cavero. Si Varen sudah duluan kesana pakai motor." Jawab Malik. Ririn hanya mengangguk-angguk.
Mereka terdiam kembali. Namun tak berapa lama, jalan yang tadinya sepi tampak pemotor melaju ke arah mereka. Tampak sekali motor itu melaju dengan ugal-ugalan. Pemotor tersebut semakin dekat semakin jelas bahwa penumpangnya dua orang perempuan yang tak lain adalah Delisha dan Mahira.
Motor mereka pun berhenti tepat di depan mereka. Mereka berdua nampak seperti membawa sekantong gresek sedang yang entah isinya apa. Tingkah mereka berdua bahkan sangat aneh. Mereka turun dari motor mereka dengan tergesa-gesa dan mendekati Ririn.
"Mana? Mana yang lecet?"
"Badan lo kagak kenapa-napa kan?"
__ADS_1
"Gimana ceritanya sih hah?"
"Ada korban?"
"Lo sih banyak tingkah."
Mereka terus memborbardir Ririn dengan banyak pertanyaan sampai tidak membiarkan Ririn bicara sekata pun. Mereka bahkan mengabaikan penampilan mereka yang tampak berantakan dimana kelima lelaki disana.
Belum selesai rentetan pertanyaan Delisha dan Mahira, datang lagi sworang pengendara motor yang berhenti di depan mereka. Itu adalah Enzy.
Dia tampak membawa perkakas yang dibutuhkan mereka. Enzy pun segera mendekati Ririn yang masih lesehan di aspal.
"Ngapain lagi? Nggak cape apa lo buat ulah hah? Sekarang mobil orang mana yang lo rusakin? Ya ampun Ririnnnn! Jangan ngadi-ngadi napa kalo maen. Udah di bilangin jangan banyak tingkah juga. Terua kenapa lagi tu muka lo item-item gitu. Iiiuuww dekil banget lo." Omel Enzy sambil menyerahkan perkakasnya kepada Ririn. Ririn pun tidak mengidahkan ucapan mereka bertiga dan langsung bangkit membenarkan mobil Reyhan dengan perkakas yang di bawa Enzy.
"Lah Zy? Kok lo disini juga? Mana baka obeng sama teman-temannya lagi?" Tanya Mahira yang diangguki Delisha.
"Gue baru bangun tidur dan dapat pesan dari si Ririn. Dia bilang kalo dia udah bikin rusak mobil orang dan dia minta tolong bawain perkakas buat benerin mobil itu. Jadi ya gue buru-buru langsung kesini sampai lupa nggak ganti baju dulu." Jelas Enzy. "Lah lo berdua di chat juga? Terus kenapa berantakan gitu kalian?" Tanya Enzy menelisik penampilan mereka dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Yaps, Enzy di kirimin pesan seperti itu oleh Ririn. Jadi sekarang Enzy masih memakai piyama dan sandal bulunya. Wajahnya pun hanya di basuh air dan bahkan penutup mata doraemonnya saja masih bertengger di atas kepalanya.
"Lah? Ngerusakin mobil orang? Gue di chat dia bilang lagi kecelakaan. Mana pake bilang permintaan terakhir beliin es kelapa muda sembilan bungkus tapi gue belinya sepuluh. Jadi gue sama Mahira buru-buru kesini. Jadi yang bener yang mana? Ngerusakin mobil orang atau kecelakaan?" Delisha menjelaskan dengan bingung.
Kelima laki-laki itu pun mendengar penjelasan mereka disana. Mereka di buat menahan tawa dengan cerita mereka. Entah mereka harus kasihan atau apa, karena ketiga gadia itu di buat gelisah oleh temannya sendiri.
"Nggak ada yang bener semua itu. Yang bener si Ririn mau bantuin kota benerin mobil gue yang mogok dan kebetulan gue kebetulan gue nggak ada perkakas. Jadi kalian di bohongin." Jelas Reyhan.
Sontak ketiga gadis itu melongo tidak percaya. Mereka di buat hampir gila dengan pesan tidak benar yang di kirim oleh temannya sendiri. Mereka bertiga tidak habis pikir dengan kelakuan temannya tersebut. Maunya tidak percaya tapi mereka sendiri yang mengalami.
Haiden tidak bisa lagi menahan tawanya. Tawa Haiden, Malik dan Kenzo yang paling kencang melihat wajah cengo ketiga gadis tersebut.
__ADS_1