
PLAKK
Ririn kembali di tampar. Riam dan teman-tennya tertawa terbahak-bahak melihat Ririn yang tersiksa.
"ANJING! SIALAN! KALO LO BERANI KITA DUEL AJA BY ONE!" Amik Ririn mencoba melepaskan diri.
BUGH
Rima memukul Ririn. Ririn cukup terkejut dengan pukulan Rima, tidak terlalu kuat tapi cukup membuatnya pusing.
BUGH
Anggun menendang kaki Ririn sedikit keras.
BUGH
"Dan ini buat lo yang sudah mempermalukan gue di depan banyak orang kemarin!" Ujar Rima memukul kembali wajah Ririn membuatnya mengeluarkan darah dari hidung Ririn.
"Udah! Ayo cabut! Biarin aja dia disini sampai mati!" Ujarnya kemudian melangkah keluar bersama Anggun dan Nita.
"Good!" Gumam seseorang mematikan camera ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. "Sembunyi-sembunyi" bisiknya kepada temannya karena melihat Rima dkk yang berjalan keluar.
Setelah di rasa aman. Seorang tadi dan kedua temannya keluar dari balik tembok dan berjalan masuk ke dalam gudang tersebut.
Ririn yang sudah tidak berdaya tapi sekuat tenaga berusaha untuk melepaskan tali yang mengikat tangannya terhenti karena mendengar pintu di buka. Ririn menyipitkan matanya melihat siapa yang datang.
"To-long!" Pintanya lirih.
"Iya Rin, lo harus bertahan." Ujar Monika berlari ke arah Ririn yang sudah terkapar dengan raut wajah khawatir.
Yaps, orang yang sedari tadi video perlakuan Rima kepada Ririn adalah Monika dan Jessica, temannya. Monika membuka ikatan tali pada tangan Ririn, sedangkan Jessica pada kakinya.
"Maaf gue nggak nolongin lo dari tadi, karena takut gue juga di sekap sama seperti lo. Gue mau minta tolong tapi sudah sepi" ujar Monika sembari membantu Ririn berdiri di sisi kanan dan Jessica di sisi kiri. "Dan gue juga mikir kalo gue di sekap bareng lo siapa yang bantuin kita nanti"
"Maaf banget, Rin" lanjut Monika dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ingatannya kembali pada kejadian malam itu dimana dia hampir di lecehkan oleh dua pria jika Ririn dan Cavero tidak datang.
Ririn sama sekali tidak membalas ucapan Monika, dia benar-benar lelah dan sakit di bagian kepalanya.
"Maaf gue juga nggak bisa lawan mereka, karena kondisi gue. Kalo gue lawan mereka bisa-bisa nanti beasiswa gue di cabut. Maaf banget Rin" ujar Jessica, matanya berkaca-kaca melihat Ririn yang wajahnya penuh lebam dan seluruhnya merah.
Ririn hanya menanggapinya dengan menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Pelan-pelan aja jalannya" ujar Monika kepada Ririn dan Jessica.
"Sa-kit" lirih Ririn memejamkan matanya sambil berjalan pelan.
"Iya gue tau. Lo harus tahan sebentar lagi sampai mobil" ujar Monika menenangkan.
Memang yang banyak mendapatkan tamparan dan pukulan adalah kepalanya bukan kakinya, tapi pukulan Rima mampu membuatnya pusing dan mengeluarkan darah dari hidungnya.
Sesampainya di samping mobil milik Monika, Jessica masuk terlebih dahulu di kursi penumpang dengan Ririn yang di baringkan berbantalan paha Jessica.
Setelah memastikan Ririn aman, Monika berlari menuju balij kemudi dan menjalankan mobilnya meninggalkan area sekolah.
"Ayo Ka cepetan!" Ujar Jessica panik.
"Iya ya ini juga sudah ngebut gue" jawab Monika sedikit panik dan khawatir.
Saat ini dia sungguh khawatir, bukankah dulu dia sangat membenci Ririn? Tapi entahlah semenjak kejadian malam itu, Monika sadar sejahat apa dia kepada Ririn tapi Ririn masih dengan suka rela menolongnya. Sungguh Monika merasa sangat bodoh saat itu dan sekarang, dia tidak bisa menolong Ririn dengan cepat membuat Ririn sakit seperti sekarang.
Air mata Monika lolos begitu saja tanpa di minta melihat wajah Ririn yang penuh dengan lebam dan darah yang mengalir dari hidungnya. Dengan kasar dia menghapus air matanya, tangannya bergetar.
Tidak jauh berbeda dengan Jessica yang terus berkata 'bertahan sebentar lagi kita sampai' dengan air mata yang sudah dari tadi menetes.
Sungguh Ririn membenci situasi sekarang ini, dia tidak suka dikasihani dia tidak suka menjadi alasan orang lain menangis. Tapi hatinya tersenyum melihat Monika yang sangat khawatir dengannya.
"SUSTER SUSTER" Teriak Monika. "TOLONG TEMAN SAYA, SUS!"
Perawat yang mendengar itu segera mendorong brangkar pesakitan menuju mobil Monika.
Monika membuka pintu mobil belakangnya dan perawat laki-laki segera mengangkat tubuh Ririn lalu di taruh di brangkar pesakitan. Mereka mendorong brangkar dengan berlari sampai di masuk ruangan, tapi Monika dan Jessica di tangan di pintu masuk.
"Sus, tolong teman saya" pinta Monika lirih.
"Pasti kita akan bantu, mohon tunggu di luar" jawab suster dan menutup pintu.
"Rin, maafin gue" ucap Monika lirih.
"Kita duduk dulu. Doain semoga Ririn baik-baik aja." Ujar Jessica mencoba menenangkan teman kelasnya itu. "Jes, gue takut banget kalo Ririn kenapa-napa" lirih Monika.
"Gue emang udah jahat banget sama dia dulu, tapi dengan status gue yang musuhnya pun dia tolong di saat gue akan di lecehkan waktu itu sama dua orang. Dia orang baik, Jes. Baik banget" lanjutnya menangis memeluk Jessica.
Monika benar-benar merasa tidak berguna sekarang. Dia sangat berhutang budi dengan Ririn tapi dengan berpikir akan takut sama Rima dkk membuatnya tidak bisa membantu Ririn dengan cepat.
__ADS_1
Jessica tau bagaimana Monika membenci Ririn dan selalu membuat drama seolah-olah Ririn telah membully-nya. Tetapi melihat bagaimana rapuhnya Monika sekarang, bagaimana khawatirnya dia sekarang membuatnya mengerti akan besarnya rasa bersalah yang temannya tersebut rasakan.
"Percaya sama Tuhan, Ririn akan baik-baik saja" balas Jessica membalas pelukan Monika.
"Apa kita harus memberitahukan kepada orang tuanya?" Tanya Monika tiba-tiba.
Jessica terlihat berpikir sebentar. "Kaya harus, nggak mungkin kita biarin Ririn sendirian disini nanti sedangkan kita juga nggak mungkin selalu stay disini."
"Oke. Gue chat Cavero dulu" ujar Monika membuka ponselnya mencari kontak Cavero.
"Bagaimana dengan video itu?" Tanya Jessica mengingat mereka berdua merekam semua perlakuan Rima kepada Ririn.
"Sekarang gue sebar ke grub sekolah" jawab Monika.
Ceklek
Terlihat seorang pria baruh baya keluar dari ruang tempat Ririn di tangani dengan jas putihnya.
"Dok, bagaimana dengan teman saya?" Tanya Monika cepat kepada dokter tersebut.
"Alhamdulillah tidak ada luka serius. Hanya tulang hitungnya yang patah itu mengakibatkan darah keluar tapi darahnya sudah kita hentikan." Jelas dokter tersebut membuat Monika dan Jessica menghela nafas lega mendengarnya.
"Apakah dia sudah sadar, dok?" Tanya Jessica.
"Pasien belum sadar karena di beri obat bius. Kemungkinan sebentar lagi akan sadar. Pasien akan di pindahkan ke rawat inap setelah ini" Jawab dokter tersebut.
"Kalau begitu saya permisi dulu" pamit dokter.
"Terima kasih dok" ucap Monika dan Jessica barengan.
"MONIKAAA!" Teriak Cavero yang berlari kearahnya bersama David.
"Gimana keadaan Ririn?" Tanya Cavero to the point.
"Tulang hidungnya patah tapi tidak masalah kata dokternya" jawab Monika.
"KARINNNN!" Geram Cavero. Awalnya Cavero berpikir Monika lah yang membuat Ririn masuk rumah sakit, tapi setelah melihat video yang di kirim Monika ke grub sekolah membuatnya sangat marah.
"Sebaiknya lo kasih tau keluarganya. Karena gue nggak punya nomor keluarganya makanya gue kasih tau lo" ujar Monika yang di angguki Cavero.
Cavero meronggoh ponselnya yang berada di dalam saku celananya lalu mengotak-atiknya.
__ADS_1
...🌱...
Jangan lupa tinggalkan jejak di setiap part gengs. Vote, Like, Komen, and Share..