
Cavero hanya menyimak percakapan mereka saja. Sebenarnya ia pun merasa begitu dan dia masih memikirkan perkataan Ririn yang menyuruhnya untuk 'menganggapnya' hilang ingatan. Berarti dia tidak hilang ingatan beneran. Pikir Cavero.
"Kalo menurut gue sih, dia emang bener-bener nggak tau siapa kita. Tapi nggak kenalnya tuh bukan nggak kenal karena nggak inget. Tapi emang bener-bener nggak kenal." Ucap Malik
"Nah setuju banget gue." Ucap Haiden.
"Wah, kayaknya kita harus menyelediki.. menyilediki, menyeleksi, menye.. menye apa sih aelah.." Ucap Kenzo.
"Menyelidiki bego!" Ucap Malik.
"Ah iya itu menyelikdiki. Anjingg apaan sih kok belibet gini." Ucap Kenzo frustasi sendiri.
"Coba lo ikutin gue!" Titan Haiden. "Menye"
"Menye" Kenzi pin mengikuti ucapan David.
"Lidi"
"Lidi"
"Ki"
"Ki"
"Menyelidiki" Ucap Haiden dengan cepat.
"Menyiledeki." Ucap Kenzo dengan cepat. "Anjing ah bodo amat, nggak peduli gue." Kesal Kenzo yang langsung di tertawai oleh teman-temannya.
"Bwhahahahha." Mereka tertawa puas, sangat amat puas. Sementara David dan Cavero hanya tersenyum tipis saja.
Disisi lain ada Ririn yang kebingungan mau duduk dimana karena semua tempat sudah penuh.
Masa gue duduk di lantai sih? Aelah apes mulu hidup gue. Gerutu Ririn dalam hatinya.
Tiba-tiba ia melihat seseorang yang melambaikan tangannya untuk mengajak Ririn duduk bersamanya. Ririn memutar bola matanya malas, ketika tau siapa yang mengajaknya.
"SINI DUDUK BARENG KITA!" Teriak Haiden.
Karena teriakan Haiden, kini seisi kantin menatap ke arah Ririn dengan tatapan bingung. Tubuh Ririn menegang seketika di tatap semua orang seperti itu.
"WOYY BURUAN!" Teriak Haiden lagi.
Karena merasa sangat malu, akhirnya Ririn berjalan menghampiri meja mereka.
"Lo ngapain ajak dia kesini, anjirr." Tanya Malik.
"Siapa tau kita bisa dapet informasi tentang dia" Jawab Haiden santai.
Ririn memukul lengan Haide. "Lo kenapa teriak-teriak, bangsatt!"
"Kalo gue bisik-bisik mah nggak bakal kedengaran, bego." Jawab Haiden santai.
"Paket komplit banget. Udah nggak ada akhlak nggak ada otak pula." Ucap Ririn.
"Bwhahahahaa" Mereka kembali tertawa sangat puas.
"Gue obral juga lo lama-lama." Ucap Haiden kesal.
"Diem lo jamal!" Ririn memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Ririn menyantap nasi gorengnya dengan sangat tenang, meski pun ia sedang di perhatikan oleh kelima laki-laki itu. Ia hanya bersikap biasa saja, toh ia juga sudah terbiasa ketika masih menjadi Aqila.
"Lo itu sebenarnya siapa dan kenapa hari ini lo beda banget?" Tanya Malik.
"Bidadari tak bersayap yang turun ke bumi." Jawab Ririn santai ngawur. Ia mengambil hpnya yang tersimpan di atas meja. Ia akan melihat-lihat apa saja yang ada di hp tersebut.
"Matamu bidadari tak bersayap, jawab yang bener anjirr!" Ucap Malik.
"Ckck, nggak sadar diri." Ucap Ririn yang masih sibuk mengotak-atik isi hpnya.
Karena kesal melihat tingkah Ririn, Cavero pun merebut hp Ririn dan menyimpannya ke dalam saku celananya.
"Heh! Balikin hp gue bangsatt!" Pinta Ririn.
"Kalo ada orang nanya itu di perhatiin, bukan malah main hp." Ucap David.
__ADS_1
"Pengen banget gue perhatiin?"
"Lo waktu pelajaran sopan santun ke mana?" Tanya Cavero.
"Ada gue, cuma gue tidur."
"Pantes."
"Ya udah buruan pada mau ngomong apaan?" Tanya Ririn malas.
"Kenapa lo bisa berubah separah ini? Dan kenapa lo bisa sembuh secepat ini?" Tanya Cavero
"Mana gue tau. Orang bangun-bangun gue udah kayak gini. Lagian emang gue kecelakaannya gimana sampe bisa masuk rumah sakit gitu?" Tanya Ririn serius.
"Lah kan kita yang nanya, maemunah." Ucap Haiden kesal.
"Heh Udin, kan gue udah bilang kalo gue nggak inget apa-apa." Sewot Ririn.
"Kan lo amnesia nih ya? Terus kenapa lo bisa jalan, bisa makan, bisa bahasa indonesia, kan lo hilang ingatan?" Tanya Kenzo.
"Heh Jamal, lo mau gue gorok di bagian mana, hah?" Sungguh dia tidak mengerti dengan pertanyaan yang di lontarkan manusia setengah babi itu.
"Eh gue mau tau, kalo gue dulu kayak gimana sih? Ceritain dong!" Ucap Ririn
"Siapa lo nyuruh-nyuruh kita?" Tanya Kenzo.
"Eh monyett! Kerjaan lo ngajak gelud aja perasaan dari tadi. Gue gorok beneran lo lama-lama." Kesal Ririn.
"Silahkan! Gue ikhlas kalo lo beneran mau bunuh dia. Udah lama juga gue pengen bunuh dia." Ucap Malik mempersilahkan.
"Lo juga ikutan gue gorok nanti, biar sekalian!"
"Astagfirullah kamu ini berdosa banget." Ucap Malik.
"Ya udahlah, kalo nggak mau cerita gue mau balik ke kelas. Bye!" Ririn pun berdiri dan akan melangkahkan kakinya tapi di tahan oleh Cavero.
"Handphone lo nggak mau di bawa?" Tanya Cavero.
"Nggak. Ambil aja gue ikhlas, makan tuh handphone sekalian. Kesel bet dah gue njirr!" Ririn pun membalikkan badannya hendak pergi dari sana. Namun, lagi dan lagi dia di tahan.
"Mau kemana, lo?" Tanya Haiden dan Malik.
"Duduk dulu, katanya mau di ceritain." Ucap Kenzo.
"Awas aja kalo nggak bener!"
"Iya!"
"Ya udah buruan!" Titah Ririn datar. Kini dia sudah terlalu kesal dengan kelima laki-laki di dekatnya tersebut.
"Mau dari mana dulu?" Tanya Kenzo.
"Sabang sampe marauke" Ucap Ririn kesal. "Terserah lo lah, bego!"
"Nggak usah ngegas juga, njing!"
"Udah buruan, jadi gimana?" Tanya Ririn.
"Lo itu di sini tukang bully sama tukang caper sama si Caveri. Orang-orang pada nggak suka sama lo, tapi mereka menutupi itu karena takut sama lo. Makanya temen lo itu cuma ada tiga. Dulu lo mana pernah ngomong kasar depan kita, yang ada ngomongnya sengaja di lembut-lembutin. Lo tuh kalo caper suka kelewatan, sampe bikin risih nauzubillah tau nggak." Jelas Kenzo panjang kali lebar.
"Ohh pantes orang-orang pada ngehindarin gue." Ucap Ririn pelan. "Terus kalo gue caper sama Cavero itu, gimana?"
"Dih, lo tuh suka nempel-nempel sama si Cavero. Terus nanya-nanya privasi dia, manja-manja sama dia, posesifin dia. Gitu-gitu deh pokoknya." Jawab Haiden.
"Dih najis banget, murah banget dong ya dia." Ucap Ririn tunjuk dirinya sendiri. "Udah tau orangnya nggak mau masih aja di kejar."
"Dih, beneran gila ya dia. Masa ngomong kata 'dia' tapi tunjuk dirinya sendiri. Aneh binti ajaib" Ucap Malik. Ririn yang mendengar itu memutar bola matanya jengah.
"Aakh akhirnya gue nemu lo juga." Ucap Ririn kepada Cavero, dengan raut wajah yang terlihat bahagia. Dia baru ingat tentang pesan yang di berikan si Ririn asli. Untuk membuat Cavero tidak membencinya lagi.
Tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi malas. Dih berarti gue harus berurusan sama si jambret lagi dong? Aakhh anjing, males bangett. Gerutu Ririn dalam hati.
"Tadi muka lo seneng tapi kenapa sekarang muka lo jadi murung gitu?" Tanya Kenzo.
"Eh si Jambret namanya siapa sih?" Tanya Ririn.
__ADS_1
"Cavero, monyett!"
"Ish kalem dong." Ucap Ririn. Kemudian Ririn menatap ke arah Cavero membuat Cavero mengangkat alisnya bingung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Oke. Terus apa yang harus gue laluin supaya lo nggak benci lagi sama gue?" Tanya Ririn serius dan antusias.
"Cukup jauhin gue dan jangan ganggu gue!" Jawab Cavero.
"Ngapain?" Tanya Cavero.
"Ha?" Ririn mengerjapkan matanya bingung.
"Tangan lo."
Brakk
Argh
"Ma-maaf Ririn aku nggak se-sengaja." Ucapnya gugup dan takut dengan mata berkaca-kaca. Ririn menatap tajam perempuan di hadapannta ini.
"Makanya kalo jalan hati-hati!" Peringat Ririn tenang membuat perempuan itu bingung dengan reaksi Ririn.
"A-aku bener-bener hiks nggak sengaja hiks maaf." Perempuan di hadapannya ini dengan menggenggam tangan Ririn, tapi saat Ririn melepaskan tangannya dari genggaman tersebut, perempuan itu dengan sengaja menjatuhkan dirinya sendiri.
"Monika! Lo nggak papa?" Tanya seorang pemuda yang baru datang yang bernama Dion, membantu Monika yang tengah menangis berdiri.
"Lo apa-apaan sih pake dorong Monika segala." Bentak Dion menatap Ririn tak suka.
"Gue nggak dorong dia. Dianya aja yang jatuhin dirinya sendiri." Ucap Ririn membuat Dion mengepalkan tangannya.
"Mana ada maling ngaku" ucap Dino.
Hell? Dia tau aja kalo gue suka maling. Maling mangga mang kupret. Apa dia cenayang? Pikir Ririn.
"Iya orang kita lihat sendiri tadi lo hempasin tangan lo sampe buat Monika jatuh." Ucap Dino.
"Bener tuh" Melvin membenarkan.
"Lain kali nggak usah drama buat cari perhatian semua orang." Ucap Ririn menatap tajam Monika yang ketakutan, Dion yang melihat itu menyembunyikan Monika di belakangnya.
"Lo yang drama disini. Nggak usah nuduh orang, lo pikir dengan lo berubah penampilan kaya gini semua orang akan suka sama lo, gitu?" Dion menatap tajam Ririn.
Wow amazing, Rin. Batin Malik dan Haiden
Dan masih banyak lagi batinan orang-orang yang ada disana. Cavero yang melihat itu semua tersenyum tipis.
"Haloo memangnya ada iblis yang cantik bin imut macem gue? Yang ada iblis aja insecure kalo di samain sama gue" ucap Ririn dengan polosnya membuat semua orang cengo melihatnya.
"Kalo disamain sama lo baru tuh cocok iblis" lanjut Ririn tersenyum mengejek.
"Maksud gue? Jauh-jauh lo dari hidup gue, nggak usah ikut campur bisakan?" Ririn menatap Dion tajam.
"Lo tanya sendiri sama cewek sok polos di belakang lo itu."
"Emang dia polos nggak kaya lo." Sinis Melvin.
"Emang gue kaya gimana? Lo tau apa tentang gue Tuan Aldeon yang terhormat?" Melvin menelan ludahnya dengan kasar ketika dia melihat tatapan menakutkan dari Ririn tertuju padanya.
"Lagian, bukannya dia udah minta maaf sama lo. Dia nggak sengaja juga" ujar Dino membuat Ririn tersenyum sinis.
"I-iya makasih kak." Ucap Monika tersenyum manis.
"Lo belum makan kan?" Tanya Dion di balas gelengan oleh Monika.
"Cabut!" Pinta Cavero berdiri dan melenggang pergi dari kantin di ikuti yang lainnya.
"Gila si Ririn keren banget" ucap Haiden
"Iya nggak nyangka gue, biasanya langsung ngamuk dia. Tapi tadi dia.. ahh sudahlah." Lanjut Malik.
"Ehh tangannya gimana ya, kuah baksonya masih panas banget tadi gila!!"
...🌱...
__ADS_1
ig : @knririn_
Jangan lupa tinggalkan jejak yaw gengs. Vote like and komen.