RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL

RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL
PART 16


__ADS_3

Hari ini Ririn sudah mulai pergi ke sekolah setelah dua hari di kurung di rumah. Dia di antar oleh Mang Udin karena dia belum bisa di izinkan membawa motor oleh orang tua dan abangnya.


"Makasih ya Mang." Ucap Ririn kepada sopirnya dan hanya di balas anggukan dari sopirnya. Ririn langsung membuka pintu mobil lalu berjalan masuk ke gedung sekolahnya.


Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya. Dia pun menoleh dan langsung mendapati Haiden yang sedang tersenyum lebar kepadanya di ikuti yang lainnya di belakang.


"Ngapain lo senyam-senyum kek gitu?" Tanya Ririn dengan tidak santainya.


"Yehh nggak bisa banget lo di baikin sama orang, bisanya ngajak ribut mulu!" Sewot Haiden.


"Serah gue lah!"


"Ya ya terserah lo. Sini gue bantuin, kaki lo masih sakit, kan?" Ucap Malik yang langsung mengulurkan tangannya untuk membantu Ririn.


Tanpa ba bi bu Ririn langsung menerima bantuan Ririn. Karena memang kakinya masih terasa sakit, di tambah dia tidak menggunakan alat bantu apa pun. Karena dia tidak menyukainya.


Dengan sangat sabar, Cavero dan yang lain mengantar Ririn sampai depan kelasnya. Ririn sudah sampai di kelasnya, namun belum menemukan Delisha, Mahira dan Enzy.


Setelah Ririn menunggu beberapa saat, akhirnya ketiganya pun datang ke kelasnya. Ririn langsung melambaikan tangannya. Namun, hal itu di abaikan oleh ketiga temannya tersebut.


"Tuh budak tiga pada kenapa ya?" Tanya Ririn pada dirinya sendiri. "Apa mereka masih marah karena kejadian waktu itu, ya?" Ririn mengerutkan dahinya. Dia bingung kenapa mereka mengabaikannya begitu saja.


"Lo duduk di tempat gue." Ucap Delisha pada salah satu teman kelasnya yang ada di depan meja Mahira dan Enzy.


"Kenapa sama lo?" Ririn mengangkag salah satu alisnya. Namun, Mahira, Enzy mau pun Delisha tidak menjawab pertanyaannya. Melihat itu, Ririn menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Selamat pagi anak-anak." Salam Bu Reni, guru fisika.


"Pagi Bu!"


"Silahkan kumpulkan PR kalian!" Perintah Bu Reni, guru yang paling galak di antara guru yang lainnya.


Semua murid pun murah menyerahkan buku PRnya ke meja guru. Tetapi tidak dengan Delisha, Mahira, Enzy mau pun Ririn. Sebenarnya Ririn sudah mengerjakannya, tapi karena dia tau ketiga curutnya itu belum mengerjakannya dan sudah pasti mereka akan mendapat hukuman dari Bu Reni. Jadi, dia pun tidak menyerahkannya.


"Ririn, Mahira, Delisha dan Enzy dimana PR kalian?" Tanya Bu Reni kepada mereka.


"Belum, Bu." Jawab Delisha jujur.


"Saya juga belum, Bu."


"Saya juga."


"Saya juga."


"Bagaimana sih kalian ini. Ya sudah sekarang silahkan pergi ke lapangan dan langsung hormat bendera selama jam pelajaran saya selesai!" Titah Bu Reni tak terbantahkan.


Mereka berempat pun langsung menuruti perintah dari Bu Reni.


"Ngapain lo ngikut-ngikut, gue tau lo udah ngerjain tugas dari Bu Reni." Ucap Delisha kepada Ririn yang berdiri di antara Delisha dan Mahira, sedangkan Enzy berdiri di dekat Delisha.


"Penting banget buat lo?" Bukannya menjawab, Ririn malah tanya balik.


"Ngikutin kita?" Tanya Enzy dingin.


"Dih ge-er bet dah."


"Oh ya udah!" Enzy dan Delisha pun nyerah untuk beryanya kepada Ririn.


Kini mereka sudah berdiri di bawah sinar matahari yang panasnya MasyaAllah. Itu membuat mereka merasa sangat lelah, keringat mereka terus bercucuran dan di tambah lagi dengan Ririn yang keadaannya belum sembuh sepenuhnya.

__ADS_1


"Lo kalo cape mah duduk aja kali!" Ujar Mahira yang mengkhawatirkan keadaan Ririn. Namun, dia gengsi untuk mengungkapkannya.


"Gue nggak papa." Jawab Ririn.


Mereka pun melanjutkan hukumannya kembali dengan keadaan hening. Tidak ada yang mengeluarakn suara satu orang pun.


Setelah beberapa lama mereka terdiam, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri mereka dengan membawa 4 botol air minum.


"Nih, buat kalian." Gadis itu menyerahkan botol minum sama mereka sama-sama satu. Tapi mereka hanya diam tanpa ada niatan untuk menerima.


"Nggak usah, makasih!" Tolat Ririn.


"Tapi kalian pasti hauskan karena di hukum dari tadi."


"Lo nggak usah so baik sama kita, bisa? Gue tau lo kesini pasti ada maunya, iyakan?" Ucap Enzy datar.


"Kalian bener. Gue mau kalian, terutama lo buat jauhin Cavero karena dia akan jadi milik gue!" Ucap Monika menunjuk Ririn. Yaps, seseorang yang menawarkan minuman kepada mereka adalah Monika.


"Ambil aja tuh si Cavero makan bila perlu sekalian sama lo. Lagi pula gue udah nggak peduli sama tuh orang." Sewat Ririn membuat Monika melihatnya tak percaya.


"Lo pikir gue percaya! Dari dulu lo selalu ngejar-ngejar Cavero, nggak mungkin lo lepas tiba-tiba kaya gitu." Ucap Monika memancing emosi Ririn.


"Lo bukannya sama Dion?" Tanya Mahira.


"Harusnya lo bersyukur gue lepasin dia. Ambil tuh bekas gue! Lo kan emang pantesnya sama yang bekasan." Ririn tersenyum sinis membuat Monika mengepalkan tangannya marah. Sedangkan, ketiga teman Ririn diam menyaksikan drama apa lagi yang akan di tunjukkan Monika.


Sialan dia pikir dia siapa?. Geram Monika dalam hati. Dia tersenyum miring dengan rencananya, dia tidak boleh terpancing emosi.


"Tentu saja gue Ririn yang berbeda." Ucap Ririn tersenyum miring, membuat Monika tertegun. Bagaimana bisa dia tau apa yang sedang di pikirkannya. Batinnya. Sedangkan ketiga temannya saling tatap satu sama lain karena bingung apa yang di maksud Ririn.


"Maksud lo apa?" Tanya Monika menatap Ririn dingin.


"Maksud gue, jauh-jauh dari gue sana. Kalo lo nggak mau masuk rumah sakit selama beberapa bulan atau tahun!" Jawab Ririn tersenyum miring dengan aura mengintimidasi membuat Monika mundur beberala langkah menjauhi Ririn dkk.


Berani banget ni si anak gorila ngatain gue bego. Umpat Ririn dalam hati tak terima. Sialan pikirnya.


"Tutup mulut lo!" Ririn menatap tajam Ririn yang terkekeh di hadapannya.


Sialan ni si anak gorila mau main-main sama gue. Oke, gue ikutin mau lo. Batin Ririn tersenyum miring.


"Lo mending pergi sana, ganggu aja!" Sinis Delisha.


"Nggak usah marah-marah, aku kesini cuma mau ngasih kalian terutama si ono hadiah." Ucap Monika menunjuk Ririn dengan dagunya. Monika membuka tutup botol minum yang dia bawa dan menyiramkan ait itu ke kepalanya sendiru membuat Delisha, Enzy, Mahira dan Ririn terdiam melihat Monika di hadapannya.


Rencana bodoh. Batin mereka terkekeh sinis.


Setelah menuangkan minuman tersebut, Monika mengambil sebelah tangan Ririn dan menyerahkan botol yang sudah sisa setengah tersebut. Bersamaan dengan bell istirahat berbunyi dan menghamburkan murid-murid di sekolahnya menatap ke arah mereka berlima.


"Maaf Rin hiks aku cuma hiks mau kasih hiks kamu minum hiks."


"Tapi hiks kenapa kamu hiks malah nyiram hiks aku." Monika berdramatis seolah-olah dirinya sedang di bully mereka berlima, membuat Delisha, Enzy, dan Mahira menatapnya sinis. Sedangkan Ririn hanya tersenyum miring.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ririn! Lo apa-apan ha!" Bentak Dion membuat Mahira, Delisha dan Enzy terperanjat kaget apa lagi melihat Ririn yang di dorong, untuk mereka bertiga siap siaga.


"Apa emang?" Tanya Ririn menatap Dion datar.


Plakk

__ADS_1


"Jaga ucapan lo itu Rin!" Dion menampar Ririn hingga kepala gadis itu tertoleh membuat seua orang yang melihat itu terkejut.


"Dion, lo gila!" Sentak Kenzo yang baru datang bersama temannya yang lain, termasuk Cavero yang sudah menatap Dion datar.


"Jangan pernah main tangan sama cewek, pengecut lo!" Sarkas Malik.


"Kenapa?" Ririn melihat ke arah Dion dengan dingin. "Nggak terima gue bilang gitu ke cewek lo?" Ririn tersenyum sinis.


"Wah tamparan lo lumayan juga. Sialan bibir sexy gue pecah kaya gini." Ucap Ririn membuat mereka cengo.


"Eh anjirr ini lagi genting, jangan bercanda dulu lo." Ucap Haiden. Cavero yang mendengar ucapan Ririn tadi tersenyum tipis.


Bugh


"Sialan lo pikir lo siapa hah bisa ngomong seenaknya sama gue, njing!" Bentak Ririn setelah memberikan pukulan pada wajah Dion membuat mereka semua terkejut. Ririn mengabaikan rasa sakit pada kakinya.


Bugh


Bugh


"Itu buat lo yang udah berani nampar gue." Ririn menghajar perut lalu dagu Dion membuat pria itu meringis.


"Ish sakit, bego!" Pekik Ririn.


"Pelan-pelan anjing!" Ririn menatap Cavero tajam.


"Hm"


"Ham hem ham hem sariawan lo." Sentak Ririn.


"Gendongannya itu loh, bro. Mantaps!" Lanjut Malik terkekeh.


"Kayanya sebentar lagi temen kita ini udah nggak jomblo lagi." Lanjut Haiden terkekeh.


"Sans aja kali." Balas Ririn. "Udah gue maafin."


"Yok kita ke kantin, masih ada sisa waktu cukuplah buat makan doang." Ajak Mahira. "Ayok buruan, laper nih gue."


"Sabar dong, njim!" balas Ririn mengikuti langkah mereka.


"Eh bentar!" Ucap Ririn menghentikan langkah mereka.


"Apa lagi sih, Rin. Kita nggak punya banyak waktu nih." Kesal Delisha. "Kok kaki gue nggak sakit lagi, ya?" Tanya Ririn.


*****


Kini mereka sudah berada di area kantin yang sangat ramai di penuhi oleh para siswa-siswi. Bahkan, sekarang sudah tidak ada meja kosisng yang tersisa. Mata mereka berempat terus berkeliling mencari meja yang dapat mereka tempati. Dan akhirnya, Enzy mendapati meja yang mudah untuk mereka yang menurutnya mudah di rebut.


"Kita duduk disana aja." Ucap Enzy menunjuk meja yang sudah di tempati oleh seorang siswi berkaca mata.


Ririn, Mahira dan Delisha pun mengarahkan pandangannya ke tempat yang di maksud Enzy.


"Iya tuh di situ aja." Ucap Mahira menyetujui perkataan Enzy.


"Heh njim, mata lo rabun? Noh liat ada orang yang lagi makan." Tolak Ririn yang tidak menyetujui usulan mereka berdua.


"Tinggal singkirin aja kali." Kali ini giliran Delisha yang bersuara.


...🌱...

__ADS_1


ig : @knririn_


Jangan lupa tinggalkan jejak yaw gengs. Vote Like and komen..


__ADS_2