
Seperti yang sudah di rencakan sebelumnya bahwa mereka akan pergi ke arena balap. Tapi tenang, arena balap ini sudah legal atau sudah mendapatkan izin.
Cavero dan Ririn baru sampai yang langsung di hampiri Arnold.
"Gimana? Sudah siap?" Tanya Arnold langsung, tapi tidak ada jawaban dari Ririn yang hanya berdiri kaku sembari tersenyum kikuk. "Ak-u hmm.."
"Biar gue yang gantiin dia" ucap Cavero cepat membuat Arnold menoleh ke arahnya.
"Tapi gue daftar atas nama Ririn" balas Arnold. "Tinggal ubah apa susahnya"
Arnold menatap Cavero tak percaya. Dia bicara seolah tidak tau masalah balap-balapan atau memang dia tidak tau. Sedangkan Ririn menatap Cavero sama tidak percaya bagaimana bisa dia bicara seperti itu.
"Bagaimana bisa bangsatt! Lo kira ini acara punya nenek moyang lo? Seenak jidat bilang ganti" sewot Arnold.
"Udah biar gue yang tetap maju, Ro gue pinjem motor lo. Gue nggak bawa motor" lerai Ririn yang langsung di tatap horor oleh Cavero. Bagaimana bisa dia membiarkan kekasihnya balapan.
Ririn tau Cavero sedang menatapnya horor tapi Ririn pura-pura tidak tau dan melihat ke sembarang arah.
Arnold segera pergi dari hadapan mereka berdua menyiapkan segala sesuatu untuk temannya itu.
"Apa lo beneran mau balapan?" Tanya Cavero dengan suara berat. Ririn hanya mengangguk cepat tanpa ragu tapi tidak dengan hatinya yang sudah was-was melihat tatapan dan suara Cavero kepadanya.
"Iya, gue juga udah biasa. Jadi lo nggak perlu khawatir" ucap Ririn menenangkan kekasihnya tersebut.
"Biasa?" beo Cavero dalam diam.
"Udah jangan banyak lo, nyet. Lo liat aja gimana gue balap nanti, oke!"
"Heh, mulut lo!"
"Kenapa?" Tanya Ririn polos membuat Cavero gemas.
"Jangan berkata kasar lagi mulai sekarang!" Ucap Cavero dingin menahan diri untuk tidak memeluk kekasihnya itu saking gemasnya.
"Oke nggak janji" balas Ririn kemudian pergi dimana Arnold berada.
"Wihh siapa nih?"
"Ohh ini yang lo daftarin buat balap malam ini, Nold?"
"Wihh cantik Nold"
"Kenalan dong"
"Ekhm!" Deheman Cavero membuat atensi mereka beralih ke arahnya. "Jangan ganggu pacar gue" ucapnya dingin.
Sebagian orang yang melihat Cavero menunduk hormat tapi tidak lama karena melihat lirikan Cavero yang mengisyaratkan mereka untuk tetap berlaku seperti biasa.
Kok aneh. Batin Ririn yang melihat sekilas orang yang awalnya biasa saja saat melihatnya datang namun berubah seratus delapan puluh derajat saat melihat Cavero datang di belakangnya.
"Ada apa?" Tanya Ririn yang melihat mereka gugup.
"Tidak ada. Ayo siap-siap sebentar lagi mulai" balas Cavero mengalihkan pembicaraan. Dia bahkan melupakan sedikit amarahnya melihat Ririn ikut balapan.
Sama seperti Ririn, Arnold juga merasakan hal yang sama dengan Ririn. Ada apa dengan sebagian teman-temannya saat melihat Cavero.
Siapa dia? Batinnya menatap Cavero dengan tatapan menelisik.
Bukan waktu yang tepat untuk memikirkan bahkan menanyakannya sekarang. Ririn berusaha berpikir positif kepada kekasihnya itu.
Setiap Cavero melangkah pasti akan ada orang yang menunduk hormat meski tidak semua orang. Sedangkan Cavero hanya cuek dan terus melangkah.
Melihat itu, Ririn bertanya-tanya. Siapa sebenarnya Cavero?
"Sudah siap?" Tanya seorang perempuan di tengah peserta balap sambil membawa bendera kecil berwarna hitam dengan pakaian sedikit terbuka. Bukan, bukan sedikit tapi emang terbuka!.
Keempat peserta hanya mengangguk sebagai jawaban. Dari keempat peserta hanya Ririn seorang yang perempuan. Tapi ketiga musuhnya tidak tau karena dari area tempat Arnold tadi Ririn sudah memakai helm.
BRUMM
BRUMM
BRUMM
BRUMM
Suara deru motor dari keempat peserta sebagai tanda mereka sudah benar-benar siap.
Kaki kiri sudah siap menginjak gigi motor untuk melaju dengan tangan kanan yang terus mempermainkan gas. Dan sorak ria dari para penonton membuat suasana menjadi riuh.
"SATU.. DUA.. TI-GA!" Teriak perempuan yang tadi sambil melempar bendera hitam ke udara sebagai tanda permainan sudah di mulai.
__ADS_1
Keempat peserta yang mendengar itu, langsung saling kebut-kebut untuk mengejar garis finish.
Ririn masih santai tidak terlalu ngebut. Hingga di rasa sudah waktunya untuk kebut, dia dengan mudah menyalib lawannya sampai akhirnya dia melewati garis finish pertama.
Penonton mulai mendekati Ririn dengan suara sorakan dan selamat kepada Ririn.
Saat Ririn membuka helm nya betapa terkejutnya mereka bahwa yang menang adalah seorang perempuan kecuali Cavero dan Arnold dkk yang memang sudah tau di awal.
"Waw lo kalah dari cewek Li" seru Diga kepada temannya yang bernama Liam.
"Bisa-bisanya lo bertiga kalah dari cewek, ckck" seru seorang pemuda lagi yang bernama Juan teman salah satu peserta yang bernama Gilang.
"Bacot lo!" Sentak Bian salah satu peserta.
Cantik. Batin seseorang yang sedari tadi tak melepas pandangannya dari Ririn semenjak membuka helm.
Cavero yang melihat tatapan semua pemuda yang ada disana dan tidak tau siapa Cavero, tidak terima. "Ayo balik!" Ucap Cavero dingin kepada pacarnya.
Melihat raut wajah Cavero membuat Ririn mengangguk cepat mengiyakan ucapan Cavero. "Ro seperti biasa ya" ucap Ririn kepada Arnold.
Setelah pamit kepada Arnold dan yang lain, Ririn segera pergi meninggalkan arena bersama Cavero.
"Sejak kapan lo suka balapan?" Tanya Cavero memecah keheningan di antara mereka.
"Sejak.. sejak kapan ya? Lupa gue" jawab Ririn sekenanya.
"Gue serius!"
"Iya gue juga serius, lupa"
Setelah itu mereka diam. Sekian lama mereka menikmati angin malam di atas motor, Cavero menepikan motornya di stand bakso di pinggir jalan.
"Kita makan dulu" ucap Cavero dingin, Ririn hanya menganggukkan kepala cuek dengan sikap dingin kekasihnya itu.
"Mang baksonya dua sama es teh nya juga" ujar Cavero kepada mamang bakso.
"Siap atu den"
"Cav?"
"Cav ngomong dong, jangan diem doang. Masa baru tadi sore jadian udah di kacangin aja gue, njirr" gerutu Ririn melihat Cavero yang cuek bebek sambil pegang ponselnya.
"Lagian lo sih kacangin gue"
"Gue nggak suka lo di liatin sama orang lain kaya mau nerkam lo" jujur Cavero membuat Ririn tersenyum malu.
Ehh Ririn bisa malu juga?
"Ini den baksonya" Ucap mamang yang datang membawa bakso pesanan mereka.
"Makasi mang"
"Sama-sama den" kemudian mamang itu pergi menyiapkan pesanan untuk pelanggan yang lain.
Mereka makan dalam diam, tidak ada yang membuka suara di antara mereka berdua. Sedangkan Ririn sesekali mencuri pandang kepada Cavero yang dengan santai memakan baksonya.
Mungkin banyak yang tanya, kenapa tidak makan di restoran seperti kebanyakan orang kaya? Jawabannya karena Cavero tidak seperti orang yang memilih restoran buat makan karena alasan kurang higenis seperti orang lain. Menurutnya yang penting keyang, dimana pun jadi.
...*****...
"STOP!!" Teriak Ririn tiba-tiba membuat Cavero mengerem mendadak.
Ririn sampai di dekat sana, dia bisa melihat Monika yang sedang di lecehkan oleh kedua pria tersebut. "GANTENG DOANG GREPP GREP CEWEK DEPAN GANG!" Teriak Ririn menghentikan aksi kedua laki-laki itu. Monika yang sudah lelah menangis terduduk di tanah.
Salah satu dari mereka berjalan ke arah Ririn. "Siapa lo? Nggak usah ikut campur!"
"Boleh" jawab Ririn santai.
BRUKK
Laki-laki itu terpental mencium aspal, Bukan Ririn pelakunya tapi Cavero yang sudah mengerang marah mendengarnya akan mengajak Ririn bermain-main di tambah jawaban santai Ririn. Cavero menendang laki-laki tersebut dengan kuat.
"Jangan pernah lo sentuh cewek gue dengan tangan kotor lo itu!" Ucap Cavero penuh penekanan.
"RIN!" Panggil Cavero penuh peringatan. Dia sungguh jengkel dengan kekasihnya itu yang masih terlihat santai meski ada bahaya di depannya.
Laki-laki yang satunya berlari ke arah mereka namun dengan mudah di tangkis Cavero. Sedangkan Ririn malah duduk di aspal menonton pertarungan di depannya.
Nyesel gue nggak beli cemilan tadi. Batinnya.
"CAVERO STOP!" Teriak Ririn menarik tangan Cavero.
__ADS_1
Cavero mengotak-atik ponselnya menelpon seseorang. "Bawa cewek yang pingsan di jalan xx dekat clubb Gentara" perintahnya kepada seseorang di sebrang telpon lalu mematikannya setelah mengatakan itu.
"Ngapain lo bawa dia segala? Biarin aja kali dia pingsan disini" ujar Ririn kesal dengan Cavero.
"Lo suka sama dia?" Tebak Ririn tajam.
"Alahh" cibir Ririn kesal lalu berjalan dimana motor Cavero berada.
"Rin beneran gue nggak suka sama dia. Gue tolongin dia karena manusiawi" jelas Cavero yang takut Ririn akan salah paham dengan niatnya membantu Monika.
"Bacot lo. Buruan, gue mau pulang" ketus Ririn membuang pandangannya ke sembarang arah menahan tawanya melihat raut wajah memelas Cavero.
"Rin beneran" Ririn hanya diam saja tanpa membalas bujukan Cavero.
"Sayang"
Bluss
"Iya udah ayo pulang" ujar Ririn masih melihat ke sembarang arah. Tidak ingin pipinya yang sudah benar-benar merah di lihat oleh Cavero.
"Maafin dulu"
"Iyaaa"
"Nah gitu dong, kan makin sayang" ujar Cavero memeluk Ririn tiba-tiba.
Ririn semakin blushing di buatnya. Tidak lama, Cavero melepaskan pelukannya dan mulai menjalankan motornya memecah jalanan ibu kota.
Sesampainya di depan gerbang rumah Ririn, Cavero berhenti dan Ririn pun turun.
"Beneran nggak mau mampir dulu?" Tanya Ririn kepada Cavero. "Nggak, udah malem. Kamu langsung istirahat tidur. Besok aku jemput" jawab Cavero.
"Iya sudah, hati-hati lo" Ririn melihat kepergian Cavero dan langsung berlari masuk dengan senyum yang terus mengembang.
"Wahh adek abang udah gede ternyata" goda Nathan menoel-noel tangan Ririn. "Abang apaan si" cetus Ririn menunduk. Pipinya sudah panas kembali.
"Abangggg!" Rengek Ririn membuat Nathan tertawa lebih kencang.
"Abang jahat!" Sentak Ririn kemudian berjalan ke kamarnya dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal. Sedangkan Nathan masih mentertawakan adiknya yang menurutnya lucu.
Nathan menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat kelakuan adiknya lalu berjalan menuju dapur mengambil minum.
Sedangkan Ririn dia langsung merebahkan tubuhnya di kasur queen size miliknya tanpa mengganti pakaian dulu.
Ting
Dering ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk. Ririn segera membuka ponselnya, matanya terbelalak melihat nama yang barusan mengirinya pesan.
...Cavero...
Sdh tdr?
^^^Ngomong apa lo?^^^
Sudah tidur?
^^^Sudah. Ni yang bales arwahnya^^^
Hm
TIDUR, BESOK GUE JEMPUT!
^^^Nah gitu dong kan enak.^^^
^^^Tapi jangan ngegas juga, njirr^^^
^^^Iya ya ini juga mau tidur^^^
Sekali lagi lo ngomong kasar, gue cium lo besok!
Good night sayang
Read
Blushing
"CAVERO BANGSAT!"
...🌱...
Jangan lupa Vote, Like, Komen dan Share..
__ADS_1