
Sore harinya, Ririn berencana untuk jalan-jalan keliling sekitar menggunakan sepada miliknya.
"Tolongggg!"
"Tolonggg!"
"Lepas! Kalo lo nggak lepas gue bunuh lo!" Ancam salah seorang berkepala botak.
Di pertigaan jalan menuju pasar yang sepi, dia tidak sengaja melihat ada seorang ibu paruh baya yang sedang tarik-tarikan tas dengan tiga pria berbadan besar dengan tato di seluruh tubuhnya.
"Wahh ada tontonan gratis nih." Gumam Ririn.
"Tolongin nggak ya, itu ibu comberan?" Pikirnya.
"Tapi nanti kalo gue tolongin, nggak bisa nonton lagi dong gue?" Masih memikirkan. "Tapi kalo gue nggak tolongin, kasian juga tuh ibu comberan"
"Tolongin nggak tolongin nggak tolongin" Ririn memikirkan dengan sepuluh jari tangan sebagai alat mikir.
"Lahh tolongin?" Gumamnya saat jari kesepuluh. "Aish merepotkan!"
"Hai om" sapa Ririn yang sudah di dekat orang-orang yang main tarik-tarikan tadi.
"Heh bocah, pergi lo sana!" Usir salah satu dari ketiga pria berbadan besar tersebut.
"Lagi ngapain om?" Tanya Ririn santai tanpa menghiraukan pertanyaan preman tersebut.
"Cantik juga lo."
"Lumayan nih bos"
"Kita ajak main-main aja dulu."
"Ck kelamaan om!"
Bugh
Bugh
Bugh
Ketiga preman itu jatuh tersungkur karena tidak siap melawan serangan Ririn.
"Sialan, serang!" Perintah salah satu preman tersebut.
Bugh
Prang
Bugh
"Wah wah om nggak gentle banget main tangan sama cewek lemah lembut kaya saya." Ucap Ririn mendramatis.
Brak
Melihat ada salah seorang yang bangun akan menyerang Ririn. Dia dengan gesit langsung menendang bagian perut lawan. Dalam sekali tendangan mampu membuat lawan terkapar.
"Cabut!" Perintah salah satu dari mereka.
"Terima kasih ya, nak!" Ucap ibu paruh baya yang tadi akan di copet.
__ADS_1
"Sama-sama bu. Lain kali hati-hati ya bu. Saya permisi dulu." Pamit Ririn yang meringis karena kena sekali pukulan bagian perut.
"Iya nak, sekali lagi terima kasih."
Ririn pergi tanpa membalas perkataan ibu paruh baya tersebut. Untung kaga kena muka gue, kalo kena bisa turun kadar kecantikan gue. Batin Ririn percaya diri.
Sesampainya di rumah, Ririn langsung masuk kamar.
Gara-gara om-om itu nih, gagal kan gue cari cogan. Batinnya.
Untung semua orang sudah pada masuk kamar, jadi aman. Lanjutnya.
*****
Seperti biasa, setiap pagi Ririn akan bergaya ala model terlebih dahulu di depan cermin baru kemudian dia keluar menuju ruang makan.
Sesampainya di parkiran sekolah. Mata Ririn tak sengaja menangkap objek yang tidak asing menurutnya.
Plak
"Aaww.. sakit. Berarti ini nyata dong." Monolognya sembari mengusap pipinya yang dia tampar sendiri.
"Zerooo" seru Ririn berlari ke arah seorang pemuda yang terkejut.
Nggak mungkin. Batin pemuda tersebut.
Namanya, Arnold. Zero adalah panggilan dari Aqila, hanya dia yang memanggilnya seperti itu. Arnold yang sering di panggil Nol membuat Aqila selalu memanggilnya Zero.
Tiba-tiba Arnold merasakan sesak di dadanya mendengar panggilan itu. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari seseorang yang sudah berani memanggilnya seperti itu. Dia hanya melihat seorang wanita berlari kearahnya dengan gembira.
Grep
"Apa-apaan sih lo!" Sentak Ririn melepaskan pelukan Ririn.
"Zero.." lirih Ririn.
"Siapa lo berani manggil gue gitu?" Tanya Arnold dingin.
Ririn kaget mendengar pertanyaan yang di lontarkan Arnold padanya. Tadi sedetik kemudian dia sadar bahwa kini dia berada di jiwa seseorang.
Sial! Gue baru sadar, bagaimana cara jelasinnya ya? Batin Ririn bingung.
"Jangan pernah panggil gue dengan nama tadi lagi!" Ucap Arnold penuh penekanan. Setelah mengatakan seperti itu, Arnold pergi meninggalkan Ririn yang masih memikirkan bagaimana cara menjelaskan bahwa dia adalah Qila kepada Arnold.
"Wah maen-maen peluk anak orang aja lo, Rin!" Ucap Haiden menghampiri Ririn yang diam.
"Iya Rin. Parah lo!" Lanjut Kenzo.
"Lo kenal dia, Rin?" Tanya Malik. Sedangkan Cavero dan David hanya menyimak.
"Diem anjirr!" Sentak Ririn kemudian pergi meninggalkan Cavero dkk.
"The real anjing ini mah" gumam Haiden kepada Ririn.
Di satu sisi, Arnold masih memikirkan kejadian yang tadi di parkiran. Selama ini hanya satu orang yang manggilnya dengan nama Zero, sedangkan orang yang memanggilnya seperti itu sudah tiada.
"Zeroo" panggil Ririn.
"Apaan sih lo, gue udah bilang jangan panggil gue dengan panggilan itu!"
__ADS_1
"Lo mau tau kenapa gue bisa panggil lo begitu kan?" Tanya Ririn. "Lo mau tau siapa gue kan? Kalo gitu ikut gue!" Lanjutnya menarik tangan Arnold.
Arnold yang di tarik mengikuti kemana ia akan dibawa oleh seoeang gadis di depannya tersebut. Jujur saja, Arnold juga penasaran siapa gadis di depannya ini, bagaimana dia bisa tau namanya.
"Siapa lo?" Tanya Arnold to the point.
"Oke. Kalo gue bilang Aqila, lo percaya nggak?" Tanya Ririn.
Mendengar pertanyaan Ririn membuat Arnold terkejut. "Jangan pernah bawa nama sahabat gue, dia sudah tenang disana. Gila, lo"
"Aah udah gue duga." Ririn menghembuskan nafasnya kasar.
"Gue emang Aqila tapi dalam wujud Ririn. Ro lo percaya transmigrasi, nggak?"
"Percaya. Program pemerintah buat mindahin penduduk dari satu daerah padat penduduk ke daerah lain."
Plakk
Ririn memukul tangan Arnold pelan. "Bukan yang itu, bego. Yang gue maksud itu transmigrasi jiwa. Percaya nggak?"
"Nggaklah. Nggak usah gila lo!"
"Tapi itu yang gue alami." Lirih Ririn.
"Lo ngajak gue kesini buat dengerin omong kosong lo itu. Udah gue mau ke ruang kepsek!" Arnold akan berdiri tapi di tahan Ririn.
"Ini bukan omong kosong, Ro." Ucap Ririn.
"Lo bisa buktiin kalo ini bukan omong kosong?"
"Oke. Gue nggak tau apa yang bisa gue buktiin. Tapi semoga ini cukup buat ngebuktiin semua omongan gue." Ucap Ririn penuh harap.
"Gue tau lo nggak bisa tidur kalo belum minum susu pisang, dan itu harus di tuangkan ke dalam dot. Lo akan minum jika tidak ada orang lain. Bener, kan?" Tanya Ririn tersenyum manis.
"Ja-di, lo beneran Qila?" Tanya Arnold terkejut, pasalnya yang tau rahasianya ith hanya Aqila. Bahkan teman-temannya yang lain tidak tau sampai detik ini.
Grepp
"Gue masih nggak percaya kalo ini lo. Tapi cuma lo yang tau tentang gue yang itu." Ucap Arnold bergetar menahan tangis dalam pelukan Ririn.
"Gue bahkan nggak percaya Ro, tapi ini gue." Balas Ririn yang sudah meneskan air mata.
Kringg Kringg
"Sudah bell, nanti istirahat kita ke kantin bareng. Oh ya kelas lo dimana?" Tanya Ririn melepaskan pelukannya.
"Gue belum tau, ini hari pertama gue disini. Temenin gue keruangan kepsek yok." Ajak Arnold sembari mengusap air mata Ririn.
"Ya udah yok. Oh ya, panggil gue Ririn ya jangan Aqila." Pinta Ririn.
"Oke!"
...🌱...
Jangan lupa komen dan like..
Jangan lupa juga follow aku..
Lopyuu
__ADS_1