RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL

RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL
PART 34


__ADS_3

...Tidak ada orang murahan, yang ada hanya orang yang tidak tau seberapa berharga dirinya....


...*****...


Sampai pulang sekolah Ririn hanya menampilkan muka datarnya. Bahkan ketiga temannya yang sedari tadi mencoba untuk mengajaknya mengobrol pun menyerah karena tidak mendapatkan respon darinya.


Tidak jauh berbeda dengan Cavero dkk yang merasa aneh dengan sikap Ririn hari ini. Mereka saat ini sedang berada di dalam kelas duduk melingkar di lantai pojok dengan kesibukan masing-masing, dengan Haiden dan Malik yang sedang ngemil, Kenzo yang sedang main game, David yang membaca buku tapi bukan buku pelajaran sambil sesekali ngemil bareng Haiden dan Malik, dan Cavero yang mengotak-atik ponselnya entah apa yang sedang pemuda itu lakukan tetapi bukan game.


"Kok gue merasa aneh ya dengan Ririn hari ini?" Tanya Kenzo kepada teman-temannya.


"Aneh gimana maksud lo?" Tanya David balik.


"Semenjak dari kantin, dia kaya datar gitu nggak kaya biasanya" jelas Kenzo. Sedangkan, teman-temannya memikirkan perkataan Kenzo.


"Sudahlah ngapain urus hidup orang" ucap Cavero datar tapi tak khayal dalam hati frustasi ngebatin.


"Cav, lo nggak bisa bohong ke kita-kita. Lo udah ada rasa kan sama Ririn?" Tebak Malik menatap Cavero melihat raut wajah temannya itu. "Nggak lah!" Bantahnya.


"Gue tau, beberapa terakhir ini lo natap Ririn beda" ujar Malik lagi. "Gue kenal lo bukan kemarin Cav, tapi dari kecil kita sudah main bareng gue tau gimana lo" lanjutnya.


Masa gue jatuh cinta sama dia. Batin Cavero memikirkan perasaannya.


"Nggak! Ayo cabut!" Titah Cavero kemudian berdiri.


Malik mendengus kasar mendengar bantahan temannya. Sedangkan yang lain hanya menyimak percapakan keduanya, pun dengan Haiden yang biasanya selalu ikut nimbrung sekarang memilih diam.


Mereka berdiri dan keluar menuju parkir beriringan. Tidak ada yang mengeluarkan suara seperti biasa. Sampai di parkiran mereka langsung ke arah motor masing-masing.


Saat akan melenggang pergi, Ririn berjalan ke arah mobilnya yang berada tidak jauh dari tempat mereka.


Baru saja Haiden akan memanggil Ririn, tapi di urungkan karena melihat Ririn yang cuek dan datar kepada mereka.


Jujur saja, mungkin dulu mereka risih dengan Ririn yang selalu nempel kepada Cavero, tapi entah kenapa semenjak Ririn berubah menjadi gadis barbar membuat mereka berlima merasa aneh terlebih Cavero. Tapi dia terlalu gengsi untuk mengakui itu.


"Kok rasanya aneh ya" celetus Haiden yang akhirnya buka suara setelah melihat kepergian Ririn keluar area sekolah dengan mobilnya.


Sakit. Batin Cavero tiba-tiba merasa nyeri di hatinya melihat wajah datar sang kekasih. Eh? Kekasih? Apakah sekarang Cavero mulai mengakui Ririn sebagai pacarnya? Entahlah.


"Gue duluan" ucap Cavero meninggalkan teman-temannya tanpa mendengar jawaban mereka.


"Gue cabut juga, ada urusan" ucap David.


*****


"Kalo suka bilang, jangan diem aja." Ucap David yang sekarang berada di apartemen Cavero.


Yaps, David mengikuti Cavero tadi sehabis pulang sekolah dan sekarang mereka berdua berasa di apartemen milik Cavero, tepatnya di balkon kamar Cavero.


"Nanti keburu di ambil orang. Menurut info yang gue dapet, Dion masih suka sama Ririn apalagi dengan perubahan Ririn semenjak kecelakaan. Dengan lo abai sama dia, itu akan membuat Dion makin gencar untuk coba deketin dia" nasihat David. "Dan perlu lo tau, Dion dan Monika tidak menjalin hubungan. Mereka, lebih tepatnya Monika hanya ingin menarik simpati lo. Dan kalo lo nanya kenapa mereka nggak buat ulah lagi, itu karena mereka mulai takut dengan Ririn apa lagi melihat bagaimana kemarin Ririn menghabisi Rima dan antek-anteknya." Lanjutnya.


Cavero yang mendengar itu hanya diam tanpa menjawab sedikit pun.


Inilah seorang David, jika salah satu dari teman-temannya dalam masalah dialah yang paling bijak dan dewasa. Tapi ketahuilah kebijak-bijak dan sedewasa-dewasa nya orang tidak akan menyembuhkan lukanya sendiri. Percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya.


"Seperti yang di bilang Malik tadi, kita bukan orang yang baru kenal lo sehari dua hari Cav, tapi kita sudah kenal lama terlebih gue dan Malik" ucap David menjeda. "Jangan sampe lo nyesel" lanjutnya lalu masuk ke dalam dan tidur di kasur milik Cavero.


Sedangkan Cavero mencerna apa yang barusan David bilang.


Ririn hanya milik gue. Batin Cavero.


Entah sejak kapan Cavero memiliki rasa sama Ririn. Tapi satu yang pasti, Cavero mulai mengakui bahwa Ririn hanya miliknya.


Di sisi lain


Ririn baru saja sampai rumahnya, tapi dia sangat terkejut melihat semua anggota keluarganya sedang kumpul di ruang keluarga. Lebih terkejut lagi melihat pakaian mereka yang sepertinya akan pergi.


Busyett ni nenek reot cerah bener. Batin Ririn menelisik penampilan neneknya yang yang memakai dress bawah lutut berwarna toska dan pink cerah.

__ADS_1


Itu bibir cerah panas apa nyala gitu. Batinnya lagi yang cengo melihat lipstik neneknya.


Ni nenek dandan? Wah bisa-bisanya gue kalah sama nenek-nenek. Batinnya lagi kepada neneknya.


Ririn hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan neneknya.


Nggak inget umur!


"Kenapa kamu berdiri di depan pintu gitu?" Tanya Ade membuka suara. "Kok pada rapi-rapi bener, mau kemana?" Tanya Ririn balik.


"Sini dulu sayang" ajak Ayudia, Ririn menuruti Ayudia dan duduk di dekatnya.


"Kita mau ke Bandung, tante kamu yang di sana bilang kalo Opa kamu sakit" jelas Ayudia. "Aku juga mom?" Tanya Ririn.


"Nah itu dia, kamu mau ikut nggak?" Tanya Aira. "Kalo kamu nggak ikut nanti kamu di rumah sama abang"


"Bandung jauh nggak mom?" Tanya Ririn yang di angguki Ayudia. "Sekitar empat jam perjalanan"


"Nggak deh mom, aku dirumah aja. Cape!" Jawab Ririn. "Nenek juga ikut?"


"Ikut dong, nggak liat penampilannya?" Jawab Aira terkekeh geli.


"Nggak bisa apa nenek pakaiannya lebih lembut gitu warnanya. Ini nenek cerahnya Masyaallah mana lipstiknya nyala banget lagi, apa nggak panas ya? Astagfirullah mata aku sakit liatnya" celoteh Ririn mengomentari style neneknya yang menurutnya lebay.


Sedangkan semua orang terkekeh mendengar komentar Ririn kecuali neneknya.


"Heh nek, you warna-warni sekali ya. Kaya ABG aja you, mana lipstik you red banget lagi. Nggak ada warna lain apa udah old juga banyak tingkah you" ucap Ririn dengan bahasa inggris yang nggak ada enak-enaknya.


"Terus bang Nathan nngak ikut?" Tanya Ririn beralih kepada Nathan. "Nggak! Besok abang ada pertemuan dengan kolega bisnis" jawab Nathan, Ririn hanya mangut-mangut.


Btw, Nathan sudah memegang beberapa anak perusahaan milik Xav's Group. Dia sudah di percayakan sejak Nathan SMA, karena memang dari kecil sudah di ajarkan tentang bisnis oleh Opa dan Ade.


Back to topic!


"Kapan berangkatnya dad?"


"Ya sudah ayo Ririn anter sampe depan."


Mereka semua keluar rumah dan langsung masuk mobil kecuali Ririn dan Nathan yang kembalu masuk rumah setelah mereka berangkat menuju kota Bandung.


"Dek, kamu istirahat sana kamu pasti cape. Kalo laper langsung ke ruang makan, abang sudah bilang sama bibi untuk siapin makan buat kamu" ucap Nathan kepada Ririn yang baru duduk di sofa ruang keluarga. "Iya bang, aku ke kamar dulu mau mandi badan aku lengket banget."


*****


NEXT!


"Kenapa gue harus mikirin omongan orang coba, aduhh Qila bukannya hal ini sudah biasa buat lo" monolognya sendiri sembari menatap langit-langit kamarnya.


"Apa gue suka lagi sama dia?" Lanjutnya.


Ddrrttt Drttt


...Zero...


Satu nama itu yang menelponnya.


"Iya halo?"


"Halo Rin, nanti malem ada balap lo mau ikut nggak?" Tanya Arnold di seberang sana.


"Jam?"


"Seperti biasa"


Ririn berpikir sebentar. "Iya gue mau. Lo tolong daftarin"


...Cavero...

__ADS_1


Lg dmn?


Ni orang tumben chat gue. Batin Ririn heran.


Nnt mlm gue jmp.


^^^Lo ngetik apa, bego!^^^


Depan!


^^^Depan apaan?^^^


Gue di depan rmh lo!


"Ngapain lo kesini?" Tanya Ririn sedikit ngegas.


"Emang salah gue ke rumah pacar gue sendiri?" Tanya Cavero balik mendiami Ririn.


"Siapa pacar lo?" Tanya Ririn menantang.


"Lo nggak nawarin gue masuk?" Tanya Cavero mengalihkan pembicaraan.


"Nggak usah. Pulang sana, gue sendirian di rumah" usir Ririn.


"Yakin sendirian?"


"Ayo pacaran beneran" ucap Cavero tiba-tiba membuat Ririn melengo.


"Hah?" Beo Ririn.


"RIN, KENAPA NGGAK AJAK TAMUNYA MASUK" Teriak Nathan yang melihat Ririn sedang ngobrol dengan seseorang. "IYA BANG" balas Ririn.


"Lo sih, pulang lo sana!" usir Ririn kepada Cavero. "Lo masih belum jawab pertanyaan gue yang tadi" ujar Cavero masih kekeh tidak mau pergi.


"Oke. Nanti jam delapan gue jemput" ucap Cavero akan menyalakan mesin motornya tapi tidak jadi karena balasan Ririn. "Nggak bisa, gue ada janji"


"Janji sama siapa?" Tanya Cavero penasaran.


"Arnold!"


"Mau kemana?" Tanya Cavero sekali lagi.


"Mau balapan. Puas!" Sentak Ririn.


"Jemput atau nggak sama sekali?"


"Terserah dah serah" pasrah Ririn kemudian masuk tanpa memperdulikan Cavero yang masih di luar.


...*****...


"Eh Cav, mau ketemu Ririn?" Tanya Nathan yang baru membukakan pintu.


"Iya bang, Ririnnya ada?"


"Ayo langsung pergi aja" ucap Ririn. "BANG RIRIN PERGI DULU SAMA CAVERO" Teriak Ririn berharap abangnya dengar karena malas naik tangga lagi.


"Iya. Pulangnya jangan kemaleman" balas Nathan dari atas tangga. "Cav, jagain Ririn" lanjutnya lagi kepada Cavero.


*****


"Apaan si lo" berontak Ririn untuk melepaskan tangannya tapi di tahan Cavero. "Pegangan nanti jatuh"


"Modus lo" sentak Ririn.


Apa gue punya penyakit jantung? Batin Ririn memegang dadanya.


...🌱...

__ADS_1


Jangan lupa share gengs. Part selanjutnya lagi aku tulis, semoga bisa tiga part hari ini..


__ADS_2