RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL

RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL
PART 48


__ADS_3

Terhitung sudah tiga hari berlalu nun Ririn masih belum juga siuman dari komanya. Itu semua membuat semua orang sangat khawatir. Terdapat Ayudia, Aira dan nenek Odi yang sedang duduk di sofa dan sedikit berbincang-bincang dengan bahasa inggris.


Ceklek


Pintu ruangan Ririn dibuka dan muncullah dua orang perempuan yang masih memakai seragam sekolah.


"Eh nak, ayo masuk" ujar Ayudia yang melihat Monika dan Jessica di ambang pintu.


"Iya tante, makasih." Balas Monika tersenyum dan berjalan mendekati mereka. "Ini tante" Monika menyerahkan bingkisan buah yang ia bawa.


"Nggak perlu repot-repot. Makasi ya nak" ucap Ayudia.


"Sini duduk dekat tante." Ajak Aira kepada kedua gadis tersebut. "Baru pulang?" Tanya Aira.


"Iya tante" jawab Jessica.


"Bagaimana keadaan Ririn, tante?" Tanya Monika kepada Ayudia sambil melirik kearah Ririn dengan bibir pucatnya.


"Belum ada perkembangan." Jawab Ayudia sendu. "Doain Ririn cepat sembuh ya, nak." Pintanya.


"Pasti tante."


Ceklek


Muncul lagi tiga gadis memakai seragam yang sama dengan Monika dan Jessica.


"Eh Delisha, Enzy, Mahira ayo masuk sayang." Sambut Ayudia tersenyum.


"Ngapain lo disini?" Tanya Enzy ketus kepada Monika.


Monika hanya diam tanpa menjawab. Dia terus melirik kearah Ririn tanpa menghiraukan ketiga teman Ririn yang menatapnya sinis.


"Maksud kalian apa tanya seperti itu. Nggak boleh begitu sayang." Ujar Ayudia lembut kepada ketiga teman anaknya.


"Dia yang selalu gangguin Ririn, mom!" Beritahu Mahira.


Ayudia terdiam. "Astagfirullah mommy lupa ucapin terima kasih sama kamu nak." Ucap Ayudia mendekati Monika dan Jessica. "Terima kasih ya sudah nolongin anak tante. Kalo nggak ada kalian berdua entah bagaimana nasib Ririn." Ucap Ayudia karena baru sekarang Monika dan Jessica datang mengunjungi Ririn kembali.


Delisha, Mahira dan Enzy tercengang mendengar penuturan Ayudia. Pasalnya, mereka baru tau kenyataannya.


Monika baru saja akan membalas perkataan Ayudia tapi terhenti ketika matanya melihat Ririn yang tiba-tiba mengejang hebat membuatnya memekik panik dengan apa yang terjadi pada Ririn secara tiba-tiba.


"RIRINN!!" Teriak Monika. Semua orang yang ada di ruangan itu seketika panik. Aira segera menekan tombol darurat.


"Sayang, apa yang terjadi?" Ayudia terus terisak melihat Ririn yang mengejang.


"Silahkan tunggu di luar" ucap perawat yang datang bersama dokter Justin.


Tidak ada jantungnya tidak berdetak kencang saat ini. Mereka menunggu dengan cemas.


"Halo, mas segera ke rumah sakit!" Aira menelpon Adelard. Setelah mengatakan itu, Aira menutup telponnya.


"Sayang, bertahanlah. Mommy mohon." Ucap Ayudia yang berada di depan pintu ruangan menunggu dokter selesai.


Di dalam ruangan, dokter terus berusaha di dalam sana untuk Ririn yang masih mengejang dengan nafas yang tersedat-sedat dan jantung yang berdetak kencang membuat dokter dan perawat yang menangani Ririn panik.


"Suntikkan obat penenang pada pasien!" Titah dokter dan di angguki perawat tersebut. Tidak lama Ririn mulai tenang, namun tidak lama setelahnya masalah kembali datang.


"Dok tekanan darah pasien meningkat dan detak jantung pasien semakin melemah." Beritahu salah satu perawat. Di dalam ruangan itu penuh dengan ketegangan dan kepanikan, sedangkan diluar ruangan penuh dengan suasana haru.


"MOMMY!" Panggil Adelard dan Nathan yang baru saja datang dengan Lorenz dkk.


"Apa yang terjadi mom?" Tanya Nathan langsung.


Ayudia kembali terisak. "Ririn tiba-tiba kejang-kejang, son. Mommy takut." Ucap Ayudia memeluk Nathan.


"Riri kuat. Dia pasti akan baik-baik saja." Bukan Nathan, tapi Adelard yang mengelus lembut rambut istrinya.


Abang mohon, bertahanlah sweety. Batin Lorenz menatap pintu ruangan.


Gue mohon, bertahanlah. Lo pasti bisa La. Batin Jessy takut.


Inti Dark Spider terus membatin dan berdoa untuk Ririn.

__ADS_1


Setelah sekian menit berlalu dokter pun keluar dengan wajah lesunya membuat Adelard segera menghampirinya.


"Apa yang terjadi dengan putri saya, dok?"


"Maaf tuan." Dokter Justin menghela nafas panjang sebelum berbicara. "Nona Ririn mengalami kritis sekarang dan keadaannya sanhat lemah. Kita berdoa semoga saja nona Ririn bisa melewati masa kritisnya." Jelas dokter Justin.


Deg


Jantung mereka seketika berhenti berdetak mendengar penjelasan dokter, mereka semakin terisak.


"LORENZ!" Panggil Cavero yang berlari bersama yang lain.


"Apa yang terjadi dengan Ririn?" Tanya Cavero langsung kepada Lorenz.


"Bagaimana bisa? Bukankah tafi pagi keadaannya sudah stabil kenapa sekarang bisa sampai kritis?" Tanya Lorenz kepada dokter dan menghiraukan pertanyaan Cavero.


"Maafkan saya tuan. Saya juga tidak tahu, tiba-tiba saja keadaan pasien drop. Memang tadi pagi kesadarannya sudah mulai stabil karena kejang-kejang mendadak dan tekanan darah yang tinggi serta detak jantung yang melemah membuat kondisi tubuh pasien down. Hingga mengakibatkan keadaannya kritis seperti ini." Jelas dokter panjang lebar.


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang dok?" Tanya Cavero.


"Doakan saja semoga pasien bisa melewati masa kritisnya karena keadaannya sekarang dalam ambang batas hidup atau mati. Jika dalam waktu dua hari pasien tidak bisa melewati masa kritisnya hanya keajaiban yang dapat menolongnya." Ucap dokter Justin dengan wajah sendunya.


"Tolong lakukan apapun untuk putri saya dok. Saya akan memberikan uang berapa pun asal putri saya tetap hidup dan sehat kembali dok." Pinta Ayudia dengan derai air mata.


"Ini bukanlah soal uang nyonya. Tapi pasien sendirilah yang menetukan semua itu. Tapi saya akan mencoba semampu saya untuk membantu pasien kembali pulih." Ucap dokter dengan kesungguhan.


"Terima kasih dok. Tolong lakukan yang terbakk untuk putri saya." Ucap Ayudia dengan linang air mata membasahi pipinya.


"Apa sekarang kita bisa melihat pasien dok?" Tanya Cavero.


"Bisa saja. Tetapi hanya satu dua orang yang masuk untuk saat ini dan harus memakai baju khusus. Sebaiknya jangan dulu temui pasien dengan banyam orang, karena keadaannya sekarang sangat rentan sekali."


"Baik dok, terima kasih."


"Sama-sama tuan. Kalau begitu saya pamit, permisi." Dokter justin pergi dari hadapan mereka.


"Sebaiknya kalian pulang dulu, besok kalo keadaannya sudah membaik kalian bisa kesini lagi." Ucap Adelar kepada Delisha dkk, inti Dark Spider, dan Monika Jessica.


Mereka hanya mengangguk patuh kecuali inti dark spider. Mereka berjalan menjauh dari ruangan Ririn dengan air mata yang masih terjatuh tanpa mau berhenti.


Aira mengangguk dan membantu nenek Odi untuk berdiri dan berjalan. Sedangkan nenek Odi hanya diam dan mengikuti Aira.


"Take care!" Aira mengangguk lemah.


Setelah melihat Aira dan ibu mertuanya menjauh, baru Ade dan Ayudia berjalan masuk ke ruangan anaknya.


"Kalian ke markas yang ada di kota ini aja." Ucap Lorenz kepada Dark spider yang langsung di angguki mereka.


"Kabari aku nanti." Ucap Jessy yang di angguki Lorenz.


...*****...


NEXT!


"Gimana ya keadaan Ririn sekarang?" Tanya Mahira entah kepada siapa dengan wajah sendu.


"Semoga keadaannya sudah membaik." Ucap Delisha pelan.


"Gue pengen ketemu." Lirih Enzy.


Mereka bertiga hanya berdiam diri di dalam kelas sedangkan teman kelas yang lainnya sudah berada di kantin karena sekarang waktu istirahat.


Tidak jauh berbeda dengan kelas dimana Cavero dkk berada. Hari ini adalah hari pertama Cavero masuk sekolah kembali setelah kejadian dimana Ririn masuk rumah sakit. Pandangannya kosong, raganya bersama anggota Divine tapi tidak dengan pikirannya yang entah kemana.


"Ririn emang nyebelin, tapi entah kenapa setelah dia keluar dari rumah sakit waktu itu gue akui dia jadi beda. Gue suka dengan dia yang selalu ceria, meski pun kadang-kadang dia nyeselin." Ucap Haiden yang di angguki yang lainnya kecuali Cavero tanda setuju.


Hanya Cavero yang tau kenapa setelah keluar dari rumah sakit Ririn berubah seperti bukan Ririn yang mereka kenal. Cavero tidak menceritakannya kepada teman-temannya. Karena dia pikir, itu bukan haknya untuk menceritakan pribadi orang lain.


"Iya, meski pun kita kadang-kadang berantem sama dia tapi Ririn orangnya asik" lanjut Kenzo.


Varen dan Reyhan hanya menyimak.


Ddrrttt ddrrttt

__ADS_1


Cavero terkejut dengan dering telponnya yang ada di saku celana. Dia mengeluarkan ponselnya dan langsung mengangkat panggilan tersebut setelah melihat siapa yang menelponnya.


"Ha-"


"APA?!" Teriak Cavero mengagetkan keenam temannya.


"ANJING!"


"Ada apa?" Tanya David mengusap dadanya.


"Gue ke rumah sakit sekarang!" Tanpa menjawab pertanyaan David, Cavero berlari keluar menuju parkiran dimana motornya berada.


"Ikutin!" Titah David berlari menyusul Cavero diikuti yang lain.


*****


Di ruangan Ririn, kini giliran Lorenz yang menemui Ririn. Sudah sehari adiknya dalam keadaan kritis, tidak ada perubahan sama sekali.


"Sweety bangun. Kamu nggak kangen sama abang?" Tanya Lorenz meski dia sendiri tau pertanyaannya tidak akan di jawab.


"Abang mohon bertahanlah untuk kedua kalinya." Air mata Lorenz tak terbendung lagi. Lorenz menggenggam tangan Ririn erat dengan menundukkan kepalanya. Sedetik kemudian dia panik karena Ririn kembali mengejang. Lorenz segera memencet tombol darurat.


"Sweety apa yang terjadi?" Lorenz terkejut karena melihat alat deteksi jantung Ririn melemah hingga memperlihatkan garis terputus-putus.


"Maaf tuan. Silahkan tunggu diluar." Pinta salah satu perawat dengan sopan.


"Tolong selamatkan adik saya." Pinta Lorenz mengatup tangannya memohon. "Kami pasti akan melakukan yang terbaik." Jawab perawat tersebut sambil menuntun Lorenz keluar ruangan.


"Nak, ada apa?" Tanya Ayudia panik menghampiri Lorenz.


"Apa yang terjadi, dok?" Tanya Cavero cepat.


"Maaf tuan nyonya, nona Ririn tidak dapat di selamatkan." Dokter Justin menundukkan wajahnya dengan sorot mata sendu.


Deg


"Hiks nggak nggak hiks." Tangis Ayudia kencang. "Daddy hiks bilang kalo ini hiks cuma mimpi." Racau Ayudia.


Adelard hanya bisa memeluk istrinya erat dengan air mata yang mengalir. "Sabar sayang sabar."


"Kak Diaaa." Teriak Aira di lorong rumah sakit bersama nenek Odi.


Nathan menatap nenek dan tantenya lalu menggeleng seiring air matanya jatuh. "Ririn has left, grandma." (Ririn telah pergi, nek) ucap Nathan memeluk nenek dan tantenya yang terdiam.


Tidak ada yang tidak mengeluarkan air matanya, bahkan David yang lebih dingin dan datar dari Cavero menangis mendengar penuturan dokter. Lorenz terduduk di kursi tunggu dan menangis dalam diam, sama halnya dengan Cavero yang berada di samping Lorenz dan teman-temannya di sisi sebelahnya lagi.


Nenek Odi berjalan tertatih masuk ruangan Ririn. "why did you leave me, ha?" (Kenapa kamu meninggalkanku, ha?) Tanya nenek Odi seiring air matanya keluar lagi.


Nenek Odi menangis dalam pelukan Aira. "She is evil for leaving me!" (Dia jahat sudah meninggalkanku!) Lirih nenek Odi.


Cavero berjalan mendekati brangkar. "Bangun sayang." Lirih Cavero. "Jangan tinggalin aku!"


"Sayang bangun" lirih Cavero kembali.


"NGGAAKKKK!"


Semua terkejut mendengar suara teriakan Ririn di telinga mereka. Seketika mereka diam, dan menoleh ke arah brangkar.


Deg!


Plak!


Cavero menampar wajahnya sendiri untuk menyadarkan dirinya dari mimpi tersebut.


"Terima kasih Tuhan." Seru Ade memeluk Ririn dan Ayudia.


Mereka kembali menumpahkan air matanya. Tapi bukan air mata sedih seperti beberapa menit yang lalu, air mata yang sekarang mereka tumpahkan adalah air mata haru bahagia.


Ririn yang melihat semua orang menangis pilu, bingung. Ini semua pada kenapa dah? Batinnya dalam pelukan Ade dan Ayudia.


...🌱...


Mau lawak? oke next part!

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan..


__ADS_2