RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL

RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL
Part 69


__ADS_3

"Pulang sama gue," titah Cavero yang sudah menunggu Ririn bersama yang lainnya.


"Terus motor gue gimana?" Tanya Ririn.


"Nanti gue suruh orang gue ambil ke sini. Mana kuncinya biar dititip di pak satpam," ujar Cavero mengadahkan tangannya.


Ririn membuka tas ransel berwarna hitam miliknya mencari kunci motor. Setelah dapat, Cavero mengambilnya lalu menyalakan motornya, Ririn pun naik.


"Gue cabut duluan," pamit Cavero kepada yang lain.


"Santai aja bro," balas Kenzo.


"Papay gengs!" Ucap Ririn melambaikan tangannya ke kiri dan ke kanan.


"Pak titip kunci motor warna hitam yang ada di parkiran, nanti akan ada orang yang datang ambil," ujar Cavero kepada satpam sekolah sembari menyerahkan kunci motor Ririn.


"Siap atu den," balas satpam tersebut.


Cavero melajukan motornya dengan Ririn yang memeluknya dari belakang.


"Mau kemana?" Tanya Ririn sedikit teriak.


"Mall mau?" Tanya Caveri balik.


Ririn mengangguk. "Boleh," jawabnya.


"Mas pacar jangan ngebut-ngebut, santai aja. Kalau kenapa-napa kita gak bisa nikah nanti," cetus Ririn sedikit teriak agar Cavero mendengarnya.


Cavero yang mendengarnya, mana bisa dia tidak tersenyum. Di balik helm hitamnya, Cavero tengah menampakkan deretan gigi putih miliknya. Memegang tangan Ririn yang melingkae di perutnya. "Iya mba pacar," balas Cavero.


Ririn tersenyum manis, Cavero jika sudah begini bisa membuat Ririn terbang tinggi menabrak langit.


Mereka sampai setelah beberapa puluh menit setelahnya. Bergandengan tangan berjalan memasuki bangunan besar itu.


Ririn mengajak Cavero untuk melihat beberapa aksrsoris lucu di sebuah toko. "Lucu," cetus Ririn menunjuk sebuah gelang couple.


"Mau?" Tanya Cavero.

__ADS_1


Ririn mengangguk. Cavero menghampiri penjaga toko dan membayar gelang yang Ririn inginkan. Ririn memasangkan gelang itu kepada Cavero setelah dia memasang untuknya. Setrlah itu mereka berkeliling mall mencari sesuatu yang mungkin menarik perhatian mereka.


"Beli hoodie yuk," ajak Ririn.


"Hoodie gue banyak, bekasan aja," jawab Cavero mengikuti langkah Ririn.


Ririn mendelik. "Enak aja di kasih bekas, emang lo pikir yang punya hoodie banyak cuma lo doang? Gue juga punya banyak."


Cavero tersenyum miring menundukkan kepalanya menatap Ririn. "Terserah, ayo beli yang banyak," ujarnya mengacak-acak rambut Ririn.


Ririn melirik ke samping, melihat beberapa gadis terpekik melihat Caveri yang tersenyum. Mata Ririn menajam seketika. "Sayang aku capek," ujar Ririn dengan nada manja.


Tangan Ririn melingkar di leher Cavero membuat laki-laki itu harus menunduk. "Dih bisa berubah tiba-tiba, mau pulang?"


Ririn menggeleng. "Gak mau," jawab Ririn mengerucutkan bibirnya.


Cavero tersenyum gemas meski bingung, tapi dia tidak bohong jika senang melihat Ririn seperti ini. "Jadi mau apa?" Tanya Cavero lembut.


"Mau pergi dari sini, liat tuh banyak cabe-cabean liatin lo, gue gak suka," jawab Ririn ketus lalu menarik Cavero dari sana.


Cavero menoleh. Benar saja, ada beberapa gadis yang tengah memperhatikan dia. Cavero tidak bisa menyembunyikan senyumnya, dia senang melihat Ririn yang cemburu seperti itu. "Katanya gak mau balik? Tapi kok?" Tanya Cavero. Pasalnya Ririn menarik dia keluar dari mall.


Cavero tertawa geli. "Cemburu?"


"Iya lah, pakek di tanya lagi. Ayo pulang," ketus Ririn.


Mereka berjalan ke arah parkiran. Cavero belum mau pulang sekarang, dia masih ingin menghabiskan waktu bersama Ririn. Maka dari itu dia berhenti di pinggir jalan, tepat di tempat tongkrongan anak-anak muda.


"Baliknya nanti aja ya, sebentar lagi," ujar Cavero merapikan rambut Ririn. Mau tak mau Ririn mengangguk. "Jangan cemberut, sayang," ujar Cavero lagi.


Bibir Ririn berkedut menahan senyum. Merasa tak tahan dengan sikap manis Cavero yang tiba-tiba ini, sedangkan Cavero sudah tertawa geli. "Senyum aja, gak usah di tahan," cetus Cavero.


Ririn menepuk lengan Cavero pelan, namun senyumnya sudah terbit. Cavero yang masih duduk di atas motornya menggenggam tangan Ririn yang berdiri di sampingnya. Menggerakkan tangan mereka ke kanan dan ke kiri.


"Besok gue jemput, ya?" Tawar Cavero yang langsung diangguki Ririn.


Ririn sibuk memperhatikan sekitar membuatnya tak sadar bahwa dia tengah di perhatikan Cavero seksama. "Kenapa?" Tanya Ririn.

__ADS_1


Cavero menggeleng. "Mba pacar cantik banget," jawab Cavero.


"Mas pacar," cicit Ririn mengerucutkan bibirnya.


"Cantik banget, sampai gue kesel kalau ada cowok yang ngeliatin lo lebih dari tiga detik," sambung Cavero. "Kaya yang itu tuh," ujarnya menunjuk segerombolan pemuda yang secara terang-terangan memandangi Ririn. "Rasanya pengen gue colok mata mereka semua."


Ririn tertawa. "Jangan, mereka banyak, kalau lo babak belur gimana? Nanti gantengnya hilang kita juga nanti gak bisa nikah," jawab Ririn.


Mereka terdiam cukup lama, menikmati malam yang sejuk.


"Kita kalau lagi akur sweet banget ya, apa lagi dengan kamu yang tiba-tiba bersikap manis gini. Terharu gue," sambung Ririn.


Cavero merotasikan matanya malas. "Yang selalu ngajak ribut kan lo, apalagi kalau liat cowok ganteng dikit langsung tuh di goda," balas Cavero ketus.


"Meski aku di luaran sana sering goda cowok gitu, tapi percayalah cinta aku ini hanya untuk Cavero Koa Nelson seorang. Lo tetap cinta kan sama gue?" Tanya Ririn menaik turunkan alisnya.


Caveri mau tak mau tersenyum. Memajukan tubuhnya agar lebih dekat dengan Ririn. "Always," bisiknya.


Malam ini adalah malam yang sangat indah bagi Cavero. Dia bisa menghabiskan waktu dengan baik, merasakan kebahagiaan yang tertunda. Cavero tidak bohong, Ririn benar-benar cantik kapan pun itu. Cavero tidak bohong, ia selalu jatuh tiap detiknya pada Ririn. Cavero tidak bohong, Ririn benar-benar memenuhi hatinya.


"Sudah sedikit larut, ayo kita pulang," ajak Cavero bangkit terlebih dahulu dari kursi yang tersedia di sana.


Tanpa menjawab, Ririn ikut lalu menggandeng lengan Cavero. "Ayo. Nanti daddy sama mommy nyariin," balas Ririn.


Mereka berjalan dengan Ririn yang menggandeng lengan Cavero manja. "Mas pacar mau itu," pinta Ririn menunjuk penjual gula kapas.


Cavero mengikuti arah tunjuk Ririn lalu mengangguk. "Ayo."


Setelah selesai membeli apa yang Ririn inginkan. Mereka menuju dimana motor Cavero berada.


Setelah sampai mereka berdua tidak langsung pulang, Cavero membiarkan Ririn menghabiskan gula kapas dengan duduk di motor.


"Sudah," cetus Ririn setelah habis gula kapasnya.


Cavero mengangguk lalu memasangkan helm satunya kepada Ririn. Setelah selesai, Cavero membantu Ririn naik ke jok belakang dan menyalakan motor setelah di rasa aman.


Cavero melajukan motornya santai seperti sebelumnya, dia tidak bohong, hari ini dia merasa bahagia menghabiskan waktu bersama Ririn. Sikap cemburu Ririn membuatnya terus tersenyum. Apalagi dengan terang-terangan Ririn mengakuinya meski tidak berkata langsung.

__ADS_1


...🌱...


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan gengs! Hadiahnya juga pren:)


__ADS_2