
Hubungan Cavero dan Ririn semakin romantis. Tapi sikap dingin Cavero tidak berubah kecuali kepada Ririn.
Sudah empat hari semenjak mereka menjadi sepasang kekasih yang sesungguhnya.
"Gue ke toilet dulu ya. Kalian pergi ke parkiran aja dulu nanti gue nyusul" ucap Ririn kepada ketiga temannya.
Mereka berempat memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama. Mereka akan pulang ke rumah Mahira dengan mobil Enzy.
"Mau kita-kita temenin nggak?" Tawar Delisha yang di jawab gelengan oleh Ririn. "Nggak usah. Gue sendiri aja, kalian tunggu di parkiran aja.
"Ya udah kita duluan."
Ririn berjalan ke arah toilet sendirian. Keadaan sekitar toilet sangat sepi membuatnya sedikit merinding, tapi karena panggilan alam yang tidak bisa di tunda membuatnya mau tak mau memberanikan diri.
"Ahh legaaa" helaan nafas Ririn setelah keluar dari bilik toilet. Dia mencuci tangannya di wastafel lalu beranjak keluar.
Tapi sebelum benar-benar keluar, Ririn tidak menyadari ada orang yang sedari tadi mengikutinya. Orang tersebut membekap mulutnya dengan sapu tangan. Ririn memberontak kuat tapi tidak lama kemudian berontakannya kian lemah dan beberapa saat dia pingsan.
"Dia sudah pingsan"
"Ayo cepet nanti keburu ada yang dateng"
"Ayo"
Ririn di bopong dengan susah payah oleh dua orang tersebut. "Gila, Ririn berat banget anjirr" cetus salah satu di antara mereka yang sedang membopong Ririn susah payah.
"Sedikit lagi"
Di depan pintu gudang belakang sekolah ada seorang yang menunggu mereka. Orang tersebut segera membantu kedua temannya untuk mengangkat Ririn. "Ayo cepetan dikit" ujarnya.
"Udah lepas disini aja" ujar salah satu dari tiga orang tersebut.
"Rim, kita mau apain dia?" Tanya Anggun kepada Rima.
Yaps, ketiga orang tersebut Rima, Anggun dan Nita. Mereka sudah merencanakan ini dari jauh hari.
"Gue udah siapin ini" jawabnya mengangkat tali yang dipegangnya. "Kita ikat kaki dan tangannya biar dia nggak bisa ngelawan kita lalu kita tunggu dia sadar baru kita bertindak" lanjutnya tersenyum miring.
"Oh ya, ketiga teman curutnya masih nunggu di parkiran" Beritahu Nita.
"Cari hpnya terus chat salah satu dari mereka" perintah Rima yang masih sibuk mengikat tangan dengan Anggun yang mengikat bagian kakinya.
Disisi lain, Tiga orang gadis sedang menunggu dengan sedikit bercanda gurau saling bertukar cerita.
"Ririn lama banget sih" cetus Delisha sambil melirik arloginya. Ucapan Delisha membuat Mahira dan Enzy sadar, mereka sudah menunggu Ririn hampir setengah jam tapi belum ada tanda-tanda Ririn.
"Ehh iya ya. Cavero dan yang lain juga sudah pergi" lanjut Enzy melihat samping mobilnya yang tadi masih ada Cavero dkk tapi sekarang sudah kosong.
Di parkiran hanya tinggal beberapa motor dan mobil yang masih terparkir. Entah itu pemiliknya lagi ada kegiatan tambahan atau itu punya guru yang masih dengan urusannya.
Ting
Bunyi dering ponsel milik Delisha tanda ada pesan masuk membuyarkan lamunan mereka. Terlihat sebuah pesan masuk di aplikasi chat berwarna hijau, Delisha segera membuka pesan tersebut dan mengernyitkan dahinya setelah melihat pesan dari siapa.
"Dari Ririn" beritahu Delisha membuat kedua temannya menoleh ke arahnya. "Apa katanya?" Tanya Enzy cepat.
...Ririn Comell...
Sha..
Maaf gue buru² td blm sempat nyamperin kalian ke parkiran..
Bokap nyokap gue hrus kluar kota sekarang.
Dan gue liat Cavero yg baru keluar gerbang jadi gue pulang bareng dia.
Maaf ya..
"Lahh bukannya baru kemarin bokap nyokap nya pulang dari luar kota yah?" Tanya Enzy kepada kedua temannya.
__ADS_1
"Iya, Ririn juga cerita kalo opa nya sakit makanya bonyok nya pergi ke Bandung" ingat Mahira. Sedangkan Delisha berusaha berpikir positif meski pun dia tengah khawatir memikirkan Ririn.
"Iya mungkin kakeknya parah, makanya keluarganya keluar kota lagi" ucap Delisha memberi pendapat.
"Bisa jadi"
"Iya sudah kita langsung pulang aja kalo gitu" ujar Enzy yang langsung menyalakan mobilnya dan di angguki kedua temannya.
Selama di perjalanan Mahira dan Enzy lebih lebih mendominasi obrolan. Sedangkan Delisha hanya sesekali menyimpali, perasaannya tidak enak sedari tadi dia menerima pesan dari Ririn. Entah kenapa dia merasa Ririn dalam bahaya tapi sebisa mungkin dia menepis perasaannya itu.
Ririn baik-baik aja! Batinnya menyangkal.
Berbeda dengan keadaan di gudang belakang sekolah tempat dimana Ririn di sekap.
"Ni orang kapan sadarnya sih?" Tanya Nita kesal karena dari tadi menunggu Ririn sadar.
"Iya. Lama banget, bosen gue" lanjut Anggun.
"Lo berdua ada bawa air nggak?" Tanya Rima menghiraukan gerutuan kedua temannya.
"Gue ada nih air minum gue. Lo haus?" Tanya Anggun. "Udah buruan sini" ujar Rima.
Anggun mengeluarkan botol minumnya yang dia bawa dan memberikan botolnya kepada Rima. Dengan cepat Rima menyambar botol tersebut.
Byurr
"Kebanjiran tolonggg kebanjirannnn" teriak Ririn refleks dengan kondisi tangan dan kaki terikat.
Sedetik kemudian dia diam dan sadar sekarang dia sedang dalam bahaya.
"Sudah puas tidurnya?" Tanya Rima tersenyum miring.
"Lepasin gue, bangsat!" Bentak Ririn menatap nyalang kepada ketiga orang di depannya tersebut.
"Lepasin?" Tanya Rima menantang. "In your dream!" Lanjut kedua temannya barengan.
"Dih keroyokan nih ceritanya?" Tanya Ririn tersenyum miring. Meskipun sekarang dia sendiri apa lagi dengan kaki dan tangan yang di ikat, tapi tidak ada rasa takut yang tersirat di wajahnya.
"Jadi lo mau apa?" Tanya Ririn santai.
PLAKK
Wajah Ririn menoleh ke samping akibat tamparan kuat dari Rima. Wajahnya memerah dan terasa panas. Tapi Ririn hanya bisa merasakan untuk saat ini, tidak bisa membalasnya. Dia terus berusaha untuk melepaa ikatan pada tangannya.
"Itu balasan buat lo yang nampar gue waktu di kantin kemarin" ujar Rima. "Guys!" Lanjutnya kepada kedua temannya.
PLAKK
PLAKK
Dua tamparan kembali mendarat di pipi kiri dan kanan Ririn yang dia dapatkan dari Anggun dan Nita. Bibirnya sobek mengeluarkan darah, tapi lagi-lagi Ririn diam memejamkan matanya menahan amarah dan rasa sakit di wajahnya.
"PENGECUT LO SEMUA!" Teriak Ririn. "LEPASIN SIALAN!"
"Gue akui lo emang hebat semenjak lo keluar dari rumah sakit dan gue nggak sebanding sama lo! Tapi itu nggak ngebuat gue berhenti untuk balas dendam ke lo." Ujar Rima menunjuk kening Ririn jijik. "Karena lo gue nggak bisa dapetin Cavero dari dulu. Kalo lo pikir gue takut? Jawabannya nggak! Gue bukan orang biasa Ririn, gue bisa lakuin apapun sesuka gue!"
Cavero? Bukannya waktu itu dia bilang Arnold? Batin Ririn mengingat kejadian di kantin.
...****...
NEXT!
"ANJING! SIALAN! KALO LO BERANI KITA DUEL AJA BY ONE!" Amik Ririn mencoba melepaskan diri.
BUGH
BUGH
BUGH
__ADS_1
"Dan ini buat lo yang sudah mempermalukan gue di depan banyak orang kemarin!" Ujar Rima memukul kembali wajah Ririn membuatnya mengeluarkan darah dari hidung Ririn.
"Udah! Ayo cabut! Biarin aja dia disini sampai mati!" Ujarnya kemudian melangkah keluar bersama Anggun dan Nita.
"Good!" Gumam seseorang mematikan camera ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. "Sembunyi-sembunyi" bisiknya kepada temannya karena melihat Rima dkk yang berjalan keluar.
"To-long!" Pintanya lirih.
"Iya Rin, lo harus bertahan." Ujar Monika berlari ke arah Ririn yang sudah terkapar dengan raut wajah khawatir.
"Maaf gue nggak nolongin lo dari tadi, karena takut gue juga di sekap sama seperti lo. Gue mau minta tolong tapi sudah sepi" ujar Monika sembari membantu Ririn berdiri di sisi kanan dan Jessica di sisi kiri. "Dan gue juga mikir kalo gue di sekap bareng lo siapa yang bantuin kita nanti"
"Maaf banget, Rin" lanjut Monika dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ingatannya kembali pada kejadian malam itu dimana dia hampir di lecehkan oleh dua pria jika Ririn dan Cavero tidak datang.
Ririn hanya menanggapinya dengan menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum tipis.
"Pelan-pelan aja jalannya" ujar Monika kepada Ririn dan Jessica.
"Sa-kit" lirih Ririn memejamkan matanya sambil berjalan pelan.
"Iya gue tau. Lo harus tahan sebentar lagi sampai mobil" ujar Monika menenangkan.
Memang yang banyak mendapatkan tamparan dan pukulan adalah kepalanya bukan kakinya, tapi pukulan Rima mampu membuatnya pusing dan mengeluarkan darah dari hidungnya.
Sesampainya di samping mobil milik Monika, Jessica masuk terlebih dahulu di kursi penumpang dengan Ririn yang di baringkan berbantalan paha Jessica.
"Ayo Ka cepetan!" Ujar Jessica panik.
"Iya ya ini juga sudah ngebut gue" jawab Monika sedikit panik dan khawatir.
Sungguh Ririn membenci situasi sekarang ini, dia tidak suka dikasihani dia tidak suka menjadi alasan orang lain menangis. Tapi hatinya tersenyum melihat Monika yang sangat khawatir dengannya.
Sesampainya di rumah sakit, Monika turun lebih dulu dan berlari masuk.
"SUSTER SUSTER" Teriak Monika. "TOLONG TEMAN SAYA, SUS!"
"Sus, tolong teman saya" pinta Monika lirih.
"Pasti kita akan bantu, mohon tunggu di luar" jawab suster dan menutup pintu.
"Rin, maafin gue" ucap Monika lirih.
"Kita duduk dulu. Doain semoga Ririn baik-baik aja." Ujar Jessica mencoba menenangkan teman kelasnya itu. "Jes, gue takut banget kalo Ririn kenapa-napa" lirih Monika.
"Percaya sama Tuhan, Ririn akan baik-baik saja" balas Jessica membalas pelukan Monika.
"Apa kita harus memberitahukan kepada orang tuanya?" Tanya Monika tiba-tiba.
Jessica terlihat berpikir sebentar. "Kaya harus, nggak mungkin kita biarin Ririn sendirian disini nanti sedangkan kita juga nggak mungkin selalu stay disini."
"Oke. Gue chat Cavero dulu" ujar Monika membuka ponselnya mencari kontak Cavero.
"Bagaimana dengan video itu?" Tanya Jessica mengingat mereka berdua merekam semua perlakuan Rima kepada Ririn.
"Sekarang gue sebar ke grub sekolah" jawab Monika.
Ceklek
Terlihat seorang pria baruh baya keluar dari ruang tempat Ririn di tangani dengan jas putihnya.
"Dok, bagaimana dengan teman saya?" Tanya Monika cepat kepada dokter tersebut.
"MONIKAAA!" Teriak Cavero yang berlari kearahnya bersama David.
"Gimana keadaan Ririn?" Tanya Cavero to the point.
"Tulang hidungnya patah tapi tidak masalah kata dokternya" jawab Monika.
"RIMAA!" Geram Cavero. Awalnya Cavero berpikir Monika lah yang membuat Ririn masuk rumah sakit, tapi setelah melihat video yang di kirim Monika ke grub sekolah membuatnya sangat marah.
__ADS_1
...🌱...
Jangan lupa tinggalkan jejak gengs. Vote Like Komen dan Share..