
Seperti biasa, Ririn dkk dan Cavero dkk selalu jadi pusat perhatian se-antero Galaxi dan sekarang di tambah lagi dengan inti Dark Spider membuat siswi makin menjerit-jerit tertahan melihat mereka.
OMG! Itu yang di belakang Ririn ganteng banget anjirr.
OMO OMOOO itu yang ganteng bangetttt.
Huaaaa Taeyung versi lokal.
Tuhan.. mau yang ituuu huaaa..
Jangan dingin-dingin sayang..
Itu perempuan yang sama Ririn itu siapa?
Cavero selalu di hati.
Davidd aku padamu..
Berbagai jeritan-jeritan siswi masuk ke indra pendengaran Ririn dan yang lainnya, tapi mereka tidak mengubrisnya dan duduk di meja biasa tempat Cavero dkk yang berada di pojok kantin. Tapi berbeda dengan Diki, Haiden, Malik dan Kenzo yang sibuk melambaikan tangannya sambil tersenyum manis kepada siswi-siswi membuat mereka makin memekik karena sapaan mereka di balas.
"Anjirr berasa artis bener dah gue" cetus Diki menggeleng-gelengkan kepala.
"Emang di Bandung lo nggak gini?" Tanya Haiden penasaran.
"Ya gini juga tapi nggak sehisteris mereka-mereka."jawab Diki menunjuk siswi-siswi dengan dagunya. "Dan baru kali ini gue bisa bebas balas mereka, karena yaa seperti yang lo tau mereka bertiga batu." Lanjutnya sambil terus membalas sapaan murid yang lain.
"Bhahaha bersyukur lo pindah kesini." Tawa Kenzo. "Dan ketemu kita-kita, ya nggak?" Ujar Kenzo meminta pendapat Malik dan Haiden yang di angguki mereka.
"Di kita cuma si David dan Cavero yang batu." Ujar Malik tertawa diikuti Kenzo dan Haiden.
"Tapi semenjak pacaran sama Ririn, Cavero bisa punya ekspresi lain selain datar." Timpal Kenzo. Mereka berempat tertawa tanpa sadar orang yang tengah di bicarakan menatap mereka tajam.
"Pesen sana!" Titah Cavero menatap tajam mereka berempat yang tidak berhenti tertawa sambil memberikan mereka uang seratus ribu sebanyak tiga lembar.
Mendengar perkataan Cavero membuat mereka seketika menghentikan tawa mereka. "Mau pesan apa?" Tanya Haiden semangat melihat uang berwarna merah.
"Samain aja semuanya." Jawab Ririn yang diangguki Haiden.
"Kalian bertiga ikut gue!" Titah Haiden kepada Malik, Kenzo dan Diki.
Semenjak dari rumah sakit, Cavero dkk dan inti Dark Spider jadi semakin akrab. Mereka tidak canggung untuk saling bercanda gurai terlebih Diki yang memang mudah bergaul dengan orang lain.
__ADS_1
"Gue mau nanya masalah kemarin!" Ujar Leo serius kepada Ririn. "Waktu lo sekarat kenapa lo nggak biarin Rose yang hadapi si tikus itu?"
"Ya lo pikir Rose nggak keluar? Dia keluar kali cuma karena tangan dan kaki gue di ikat kenceng jadi dia nggak bisa ngelawan." Jelas Ririn.
"Setelah tu tikus keluar baru Rose kembali dan Monika yang muncul bareng temannya nyelametin gue." Jelasnya lagi menatap mereka yang ada disana.
"WHAT? MONIKA?" Pekik Enzy dan Mahira yang mendengar penjelasan Ririn. Ririn mengangguk.
"Kok bisa?" Tanya Delisha yang tadi hanya menyimak.
"Nggak tau juga, tadi gue lihat dia khawatir banget sama gue bahkan dia nangis selama perjalanan bawa gue ke rumah sakit." Jawab Ririn.
"Mungkin dia merasa hutang budi karena kita nyelamatin dia waktu itu." Ujar Cavero yang diam saja dari tadi. Ririn hanya mengangguk mengiyakan.
*****
"Selamat siang anak-anak." Salam guru yang baru masuk, dia adalah pak Burhan.
"Siang pak" balas mereka serempak.
"Bagaimana sudah siap ulangan?" Tanya pak Burhan kepada penghuni kelas. Bukannya menjawab 'iya', malah mereka membantak tak terima.
"BAPAK KOK NGGAK BILANG SIH?" Teriak salah satu murid laki-laki di pojokan yang diketahui bernama Bimo.
"PAK MANA ADA KITA ULANGAN HARI INI! BAPAK JANGAN GITU DONG!" Teriak Laura tak terima.
"IYA PAK! APALAGI SAYA YANG BARU SEKOLAH DISINI!" Teriak Jessy yang ikut protes.
Ririn pun ikut membantah. "Yaelah pak, minggu kemarin bapak nggak masuk di kasih tugas, sekarang bapak masuk masa tiba-tiba ulangan."
"SUDAH DIAM SEMUA!" Teriak pak Burhan yang pusing mendengar keributan mereka. "Kita ulangan untuk persiapan ujian semester minggu depan. Sekarang simpan semua buku dan tas kalian. Ketua kelas tolong bagikan soal ini." Lanjutnya menatap muridnya yang misah-misuh.
"Yahh baru aja gue injak kaki di sekolah yang katanya elit ini sudah di kasih asupan ulangan aja." Protes Laura lesu.
"Guru yang kayak gini yang mau gue hih." Gerutu Enzy sambil memperagakan sedang mencekik leher orang dengan kedua tangannya.
Kertas soal sudah ada di meja masing-masing. "Njim ni soal apaan kenapa angka semua?" Tanya Delisha frustasi melihat soal tersebut.
"Iyalah angka, kan sekarang matematika bego." Jawab Ririn tak santai mendengar pertanyaan dari sahabatnya tersebut.
"Anjirr mata gue sakit liat ni soal." Cetus Jessy yang di belakang Ririn duduk dengan Laura.
__ADS_1
"Soalnya lima tapi anaknya 1.. 3.. 4.. 6.. 12.. hufft banyak banget, gilaa!" Cetus Mahira menghitung anak soal.
"Kerjakan dengan tenang! Jangan ada yang bekerja sama." Titah pak Burhan.
Satu jam telah berlalu, Ririn dan teman sekelasnya masih berusaha menyelesaikan soal yang hanya lima butir tapi beranak.
"Diketahui dua buah persamaan sebagai berikut, 2x + 3y \= 13 dan x - 2y \= -4. Berapakah nilai dari x dan y?" Baca Ririn sembari mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuknya.
"Ini kan hasilnya 13. 2 + 3 \= 5. Nah 13 - 5 \= 8, berarti 8 bagi 2 biar nilai x dan y nya rata dapet 4." Ririn tersenyum bangga dengan pemikirannya. "Pinter bet dah gue ellahh." Ririn segera menulis jawabannya sebelum lupa.
Tapi sepertinya Ririn lupa dengan x - 2y \= -4 yang termasuk dalam soal.
"Rin?" Panggil Jessy pelan. Ririn menoleh menaikkan sebelah alisnya. "Nomor tiga b jawabannya apa?" Tanya Jessy.
Gimana cara bilangnya anjirr. Kalo pilihan ganda sih oke gue tinggal jawab a b c tapi ini? Gerutu Ririn dalam hati berpikir.
Kalo gue kasih kapan gue selesainya? Batinnya.
Akhirnya hanya gelengan yang Ririn kasih untuk Jessy karena bingung juga dia. Buku nggak ada, kertas kosong untuk oretan nggak ada yang tersisa karena dia pakai untuk cari nilai x dari tadi, kalau di kasih lembar jawaban dia selesainya kapan? Itulah pemikiran Ririn.
"Aish nggak like lo." Kesal Jessy pelan.
Ririn tidak mengidahkan kekesalan Jessy, dia lanjut mengerjakan soal yang tinggal beberapa soal.
Anjir ni soal udah kaya ayam aja banyak banget sekali netas. Batin Ririn menggerutu.
"Lo bisa nggak?" Tanya Delisha pelan menyenggol lengan Ririn.
Ririn menoleh dan menggeleng. "Ngasal gue" jawab Ririn terkekeh.
Kring kring..
Bunyi bell menggema membuat teman kelas Ririn termasuk dirinya bernafas lega. Persetanan dengan soal yang belum di jawabnya, yang penting sekarang matematika keluar dari kelasnya.
"Jadi tidak jadi di kumpulkan!" Titah pak Burhan.
Akhirnyaa. Batin mereka semua.
...*****...
Dukung Ririn dengan cara Vote, like, komen dan favoritkan..
__ADS_1