
Sesampainya mereka di rumah Ririn, Ririn masuk di ikuti Cavero dkk.
"Assalamualaikumm" seru Ririn memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam" jawab Ayudia. "Wahh ada tamu ternyata, ayo masuk masuk" mempersilahkan Cavero dkk.
"Iya tan, makasi" ucap Cavero sopan.
"Rin, mana bule nya?" Tanya Kenzo berbisik.
"Mom, nenek mana?" Tanya Ririn kepada mommy nya. "Tuh" tunjuk Ayudia kepada nenek Odi yang sedang duduk santai di depan tv.
"Ayok ikut gue" ajak Ririn kepada Cavero dkk.
Ririn berjalan menuju sofa di ikuti Cavero dkk dan Ayudia yang penasaran ada apa.
"Mana bule nya, Rin?" Tanya Kenzo sekali lagi. "Nih" tunjuk Ririn kepada neneknya yang sedang baca majalah.
Cavero dkk mengikuti arah tunjuk yang Ririn maksud dan seketika mereka kaget bukan maen.
"ANJING" Umpat Haiden kaget.
"Bule apaan nih?" Tanya Kenzo kesal.
"Katanya bule nya cantik" ucap Malik tak kalah kesal.
"Maksud lo apaan ngomong gitu? Wahh lo katain nenek gue nggak cantik gitu? Mommy, mereka katain nenek nggak cantik, marahin mom marahin mereka." Adu Ririn kepada Ayudia.
Sedangkan Ayudia yang melihat dan mendengar penuturan mereka hanya menahan tawa karena telah dibohongi anaknya itu.
"Udah kalian jangan dengerin Ririn. Ayok duduk" ucap Ayudia mempersilahkan mereka dan melenggang pergi ke arah dapur.
Mereka duduk di sofa yang sama dengan nenek Odi. Nenek Odi yang melihat mereka semua bingung. "Who are they?" (Siapa mereka?) Tanya nenek Odi kepada Ririn.
"I not understand what you bilang" ucap Ririn. "Siapa yang bisa bahasa inggris?" Tanya Ririn kepada Cavero dkk yang sedang menahan tawa mendengar bahasa inggris nya Ririn.
"Cavero" jawab mereka serempak.
"Apa tadi dia bilang?" Tanya Ririn kepada Cavero.
"Siapa mereka" jawab Cavero dengan malas. "Ya udah lo jawab aja siapa kalian" ucap Ririn santai.
Sebelum Cavero membuka mulut, Ayudia lebih dulu datang membawa minuman dan beberapa cemilan untuk mereka.
"Ini di minum ya, santai aja kalo disini anggap rumah sendiri" ujar Ayudia.
"Dia, who are they?" (Dia, siapa mereka?) Tanya nenek Odi kepada anaknya. "They are Ririn's friends" (mereka adalah teman-temannya Ririn) jawab Ayudia sedangkan nenek Odi hanya mangut-mangut sambil menatap mereka satu persatu.
"Niat hati mau liat bule hot, malah di suguhkan bule reot kaya gini" gumam Malik yang dapat di dengar oleh mereka yang ada disana.
Ririn hanya terkekeh mendengar penuturan Malik. "Nenek gue cantik, asal lo tau aja setiap malem ni nenek reot perawatan" Ririn ingat tadi malam yang kaya setan.
"Elleh perawatan mata lo" balas Haiden sengit yang merasa dibodohi Ririn.
"Lo nggak percaya? Tanya aja sama dia" ucap Ririn santai. "Perawatan apa coba"
"Lo nggak tau aja, tadi malem ni nenek reot perawatan pake masker segala. Mana maskernya warna putih lagi.."
Ririn menceritakan semua kejadian tadi malam membuat semua orang ketawa terbahak-bahak mendengarnya kecuali Cavero yang hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya. Sedangkan nenek Odi menatap mereka dengan tatapan bingung.
"Wihh ada apa nih rame-rame?" Tanya Aira dari arah tangga yang baru turun.
"Eh ada Cavero juga" Cavero yang di panggil hanya tersenyum menanggapinya.
"Oh ini calon ibu tiri lo Cav" ucap Haiden menggodai Cavero. Sedangkan Aira yang mendengar penuturan teman Ririn itu menunduk malu.
"Kenapa muka tante merah gitu?" Goda Ririn dengan bertanya polos.
Aira semakin malu dengan penuturan keponakannya biadab nya itu.
"Kak Diaaaa" teriak Aira berlari ke dapur dengan muka yang bersemu pink.
"Bhahahahaa calon lo malu Cav" tawa Malik melihat tingkah Aira di ikuti teman-temannya dan Ririn. Sedang Cavero hanya menatap mereka datar dan tajam.
__ADS_1
"Assalamualaikum" salam seorang yang baru memasuki rumah di ikuti seorang pemuda di belakangnya.
"Waalaikumsalam" jawab mereka semua.
"Ada apa nih rame-rame?" Tanya Adelard. "Lohh ada nak Cavero juga" seru Ade.
"Iya om" balas Cavero sopan.
"Daddy kenal?" Tanya Ririn. "Dia anak rekan bisnis daddy, sesekali dia juga ikut meeting" jelas Ade.
"Kamu siapanya Ririn?" Tanya Ade kepo.
"Pacarnya om" Bukan, bukan Cavero yang menjawab tapi Haiden dengan tidak santainya menjawab.
"Benarkah?" Tanya Ade memastikan. "Benar, mereka pacaran baru seminggu" jawab Haiden kembali dengan tidak santai.
"Santai aja dong jawabnya" ucap Malik yang berada di sampingnya kesal dengan kelakuan temannya.
"Wahh om setuju banget kalo gitu. Ya sudah kalian jangan pulang dulu nanti kita makan malam sama-sama. Syukuran kecil-kecil, bagaimana?" Antusias Ade.
"Mau om!" Jawab mereka serempak antusias. Sedangkan Ririn hanya duduk santai tersenyum manis, Cavero menahan malu dengan kelakuan teman-temannya, nenek Odi hanya membuka-buka majalah karena tidak mengerti juga apa yang sedang mereka bicarakan.
*****
Seperti yang sudah di bicarakan, Cavero dkk ikut makan malam dengan keluarga Adelard. Cavero dkk sudah ganti baju dengan baju Nathan yang di pinjamkan. Dan syukurnya badan mereka rata-rata sama ukuran.
"Nak Cavero kok mau pacaran sama Ririn?" Tanya Ade di sela-sela mereka makan.
"Jelaslah mau, Ririn kan cantik, kaya, tidak sombong, murah hati lagi. Daddy nggak sadar kalo anak daddy ini masyaallah sekali" ucap Ririn dengan mengibaskan rambutnya ke belakang.
Semua yang mendengar penuturan Ririn hanya terkekeh kecuali Cavero dan nenek Odi tentunya.
"Gaya kamu, bilangnya tidak sombong tapi itu apa?" Balas Ade menggeleng-gelengkan kepala mendengar kepercayaan diri anaknya.
"Tanya aja sama dia, iya kan?" Ucap Ririn penuh penekanan menoleh ke Cavero yang berada di sampingnya.
Cavero yang mendengar itu hanya mendengus. "Iyaa" jawab Cavero dengan penuh keterpaksaan.
"Sudah cepat habiskan makannya" ucap Nathan yang sedari tadi diam.
*****
"Kita pamit ya, om" pamit Cavero mewakili teman-temannya.
"Loh kenapa cepat banget kalian mau pergi" seru Ade.
"Udah malem om, takut di cariin nanti" celetus Malik.
"Dihh anak mami banget lo" ketus Ririn mendengar penuturan Malik. "Ehh maksudnya Papi, kan nyokap lo udah di invite sama nyokapnya mas pacar" lanjutnya.
"Maksud kamu?" tanya Ayudia kepada anaknya.
"Jawab kuis dari malaikat Munkar dan Nakir, mom" jawab Ririn santai.
Ayudia terdiam mendengar penuturan anaknya. "Tapi mommy tenang aja, calon bokapnya mas pacar ada di dekat mommy" celetus Ririn kelewatan jujur.
Aira seketika terbatuk mendengar ucapan Ririn, Ayudia menoleh ke arah adiknya dan tersenyum menggoda adiknya.
"Oh gitu. Nggak mau ngomong sama anaknya, dek?" Tanya Ayudia goda adiknya, Aira hanya menunduk menahan malu.
"Bhahahhaaaa kupingnya tante merah" tawa Ririn puas.
Semua orang tertawa kecuali Aira, Cavero dan nenek Odi.
*****
Dug
"Siapa si ya-ng.. eh mas pacar" Ririn yang semula akan marah tidak jadi karena melihat siapa yang di tabraknya.
"Ngapain jingkrak jingkrak nggak jelas lo?" Tanya Malik ngegas.
"Nyanyi apaan lo tadi?" Kenzo.
__ADS_1
"Mana suaranya jelek banget lagi" cerobos Haiden.
"Tumben semangat banget lo" ucao David yang sedari tadi diam saja.
"Tenang nanti istirahat Cavero traktir kita" ucap Ririn menaik turunkan alisnya.
Cavero baru saja akan membuka suara tapi di dahului Ririn. "Udah-udah nggak usah banyak cincong, mending kita masuk kelas masing-masing. Inget sebentar lagi kita ujian kenaikan kelas. Jangan bolos terus lo pada" omel Ririn seperti emak mereka.
Cavero dkk yang di omel seperti itu cengo mendengarnya.
Sedangkan si David hanya tersenyum tanpa ngebatin.
"Kenapa lo pada liatin gue gitu amat?" Tanya Ririn menatap mereka heran.
Ririn bingung dengan orang-orang yang di lewatinya ada yang menatapnya sinis bahkan tidak sedikit murid yang terang-terangan mengatainya.
Dasar jalangg..
Ohh ini yang ngaku-ngaku pacarnya Cavero
Nggak cocok banget..
Masih banyak lagi desisan-desisan yang Ririn setiap dia melangkah. Tapi Ririn sama sekali tidak peduli akan hal itu. Selagi mereka nggak ganggu nggak papa. Batinnya.
"ASSALAMUALAIKUM YA AHLI NERAKA!" Teriak Ririn yang baru sampai di kelasnya mengagetkan teman-teman kelasnya.
"WAALAIKUMSALAM!" Balas mereka ketus.
"RIRINNNN!" Teriak ketiga temannya.
"Kalian kenapa?" Tanya Ririn dengan watados (wajah tanpa dosa). Namun, sedetik kemudian dia tertawa ngakak sambil memegangi perutnya melihat wajah kesal semua temannya.
"BERISIK ASUU!" Sentak Varel sang ketua kelas yang sedang menulis, entah menulis apa.
Ririn seketika berhenti ketawa, dia berjalan menuju mejanya kemudian duduk di samping Delisha.
"Ehh ada berita hot" ujar Enzy memberitahu ketiga temannya.
"Berita apaan?" Tanya Delisha singkat.
"Ehh Rin, lo beneran jadian sama Cavero?" Tanya Enzy kepada Ririn.
"Iya, kenapa?" Tanya Ririn balik.
"Ohh pantes banyak orang natap gue aneh dari tadi, ternyata ini toh penyebabnya" Ririn mangut-mangut melihat video yang di perlihatkan Enzy.
Sepanjang koridor menuju kantin, banyak murid yang menatap sinis ke arah Ririn. Bahkan tidak sedikit dari mereka terang-terangan mengata-ngatai Ririn yang bukan-bukan.
"Udah jangan di dengerin" ucap Delisha yang di sampingnya. Ririn hanya mengangguk diam sambil terus berjalan.
"Duh selera makan gue ilang ngeliat jalangg disini" Ucap Rima dengan suara sedikit keras. Masih ingat dengan Rima? Kalo lupa bisa ulang baca yaw..
"Iya nggak sudi banget gue satu kantin bareng jalangg" lanjut Anggun.
"Maksud lo apa hah?" Bentak Enzy bangun dari duduknya.
"Tap-"
"Udah Zy, duduk lagi" Enzy melihat ke arah Mahira dan Mahira mengangukkan kepalanya tanda 'turuti'.
"Hai bu bos" sapa Haiden dan duduk bergabung bersama mereka.
Orang yang di panggil hanya melirik sekilas kemudian melanjutkan makannya. Begitu pun dengan ketiga temannya yang tak menghiraukan keberadaan Cavero dkk.
"Sesuai perjanjian tadi pagi, kita akan di traktir pak bos" ucap Malik memecah keheningan di antara mereka bersepuluh.
"Gue udah kenyang, gue cabut duluan" ucap Ririn datar kemudian melenggang pergi keluar kantin tanpa menghiraukan teman-temannya yang memanggilnya.
*****
Jangan lupa hadiahnya sayangku..
Alapyuu..
__ADS_1