RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL

RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL
PART 51


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit siang harinya, rumah Ririn ramai dengan leader dan inti Dark Spider yang menyambutnya antusias beserta geng Divine dan ketiga temannya. Mereka menghabiskan waktu sampai larut malam.


Lorenz memutuskan untuk pindah ke Jakarta dengan membeli sebuah apatemen karena ia tidak ingin tinggal bersama keluarga Xavier, lebih tepatnya tidak mau merepotkan. Menurutnya, yang penting adiknya baik-baik saja dan mudah untuk mereka ketemu dilain waktu.


Begitu pun dengan inti Dark Spider, mereka akan pindah sekolah di sekolah yang sama dengan Ririn, tentu dengan bantuan Adelard semua terasa sangat mudah. Tidak ada berani dengan orang yang ber-uang, karena hukum pun bisa dibeli.


Dirasa sudah cukup istirahatnya, setelah kemarin seharian di rumah tanpa berbuat apa-apa membuatnya sangat bosan. Pagi ini dia memutuskan untuk sekolah kembali meski nanti akan ada perdebatan kecil.


"Makin cantik aja gue, masyaallah." Monolog Ririn seperti biasa jika sudah selesai dengan kegiatan pagi sebelum berangkat sekolah.


"Dahlah nanti kacanya pecah karena insecure sama gue yang masyaallah ini." Monolognya lagi, lalu mengambil tasnya dan keluar kamar menuju ruang makan.


"Selamat pagi semuaa" ucap Ririn sedikit teriak sambil tersenyum manis.


"Loh Rin. Kok kamu sekolah? Nggak nggak! Kamu belum boleh sekolah dulu hari ini!" Larang Ayudia yang melihat anaknya memakai seragam sekolah.


"Ck mom, Ririn sudah sehat wal'afiat. Aku juga bosan di rumah terus mau ini nggak boleh itu nggak boleh, makin stres akunya." Balas Ririn mendramatis.


"Nggak bo-"


"Aku sekolah ya dad" pinta Ririn memotong ucapan Ayudia dan menatap Ade memelas.


"Yakin?" Tanya Ade memastikan.


"Yakin!" Jawab Ririn cepat dan memastikan.


"Oke, kamu boleh pergi sekolah." Ujar Ade memutuskan membuat Ayudia melototkan suaminya itu tapi Adelard hanya cuek bebek.


"Yes!"


"Udahlah kak, Ririn juga sudah sembuh" lerai Aira yang melihat kakaknya akan protes.


Ayudia terdiam dan duduk dengan kesal kepada adik, anak dan suaminya yang terkekeh melihatnya. Sedangkan nenek Odi hanya diam memakan sarapannya. "Serah!"


"Oh ya, kamu mau hadiah apa?" Tanya Adelard kepada Ririn di sela-sela sarapan mereka.


"Hadiah?" Tanya Ririn bingung menatap daddynya.


"Iya hadiah. Hadiah atas kesembuhan kamu." Beritahu Adelard.


Busyeettt! Demen banget gue sakit kalo gini, setiap sembuh dapet hadiah. Btw, minta apaan ya? Motor sport udah, sekarang apa ya? Kira-kira kalo mobil sport bakal di beliin nggak ya? Batin Ririn bimbang.


"Mobil sport dad!" Ucap Ririn semangat.


Bodo amat dah, mau mereka katain gue matre terserah dah. Lagian nggak yakin gue bakal di beliin mobil. Batin Ririn


"Oke!" Jawab Ade cepat.


Ririn menatap Adelard cengo. Segitu mudahnya dia bilang 'oke' tanpa memikirkannya terlebih dahulu.


Busyettt seberapa kaya nya ni keluarga. Segitu mudahnya mau beliin gue mobil sport. Bener-bener dah ni keluarga, yang sayangnya keluarga gue. Batin Ririn menggerutu.


"Sudah! Sekarang habiskan sarapannya nanti kamu telat." Ujar Aira yang melihat wajah cengo Ririn.


Ya Allah.. nggak ngapa-ngapa dah gue sakit tiap minggu kalo setiap gue sembuh dapet hadiah. Mana hadiahnya nggak kaleng-kaleng lagi, anjayy! Batin Ririn girang sembari memakan sarapannya dalam diam.


"Ngomong-ngomong dad, abang kok nggak ada batang idungnya disini?" Tanya Ririn mengedarkan pandangannya mencari Nathan.


"Dia sudah berangkat kekantor karena ada kerjaan sedikit katanya baru dia ke kampusnya." Beritahu Ayudia bukan Adelard karena memang Adelard tidak tau Nathan dimana, dia kira masih tidur.


Ririn hanya manggut-manggut. "Ya udah, aku berangkat dulu. Assalamualaikum."


"Eh berangkat bareng sopir!" Titah Ayudia tidak ingin di bantah.


"Nggak! Aku pake motor mom. Assalamualaikum!" Ririn langsung berlari keluar sebelum mommy-nya kembali melarangnya.


"Astaga tu anak"


"Waalaikumsalam"


*****


Sesampainya di area sekolah, seperti biasa Ririn selalu jadi pusat perhatian para siswa-siswi dengan sejuta pesona yang dia miliki.


"Anjirr udah masuk aja tuh anak." Celetuk Malik melihat Ririn yang memarkirkan motornya di samping Cavero.

__ADS_1


"Pagi mas pacar" sapa Ririn dengan senyuman manis.


"Udah masuk aja lo, Rin." Cetus Haiden.


"Bosan banget gue di rumah. Kangen mas pacar juga makanya gue sekolah" Balas Ririn tersenyum manis kearah Cavero yang masih terdiam menatap Ririn.


"Dih bucin!" Cibir Kenzo.


"Biarin wlee! Iri? Bilang bos!" Balas Ririn mencibir Kenzo.


"Ngapa lo diem aja dari tadi? Nggak kangen sama gue?" Tanya Ririn beruntun yang sama sekali tidak di respon Cavero.


"Kemarin aja ada yang 'jangan tinggalin aku lagi ya, sayang' gitu." Ujar Ririn yang mengulangi perkataan Cavero.


Perkataan Ririn membuat Haiden dkk menahan tawa mendengarnya, tidak terkecuali Varen dan David yang terkenal dingin sama seperti Cavero. Cavero menatap teman-temannya dengan tajam.


"Anjirr udah aku-kamu aja" goda Kenzo terkekeh.


"Berisik!" Sentak Cavero kepada Ririn yang membuat Ririn dan yang lainnya tertawa, pasalnya wajah Cavero sekarang sudah memerah menahan malu.


BRUMM


BRUMM


BRUMM


Tidak lama, ada lima motor sport memasuki area sekolah dan memarkir di dekat Ririn. Mereka adalah Dark Spider.


"QILAAA!" Teriak Jessy yang baru turun dari motornya.


"Anjing! Jangan teriak-teriak!" Sentak Ririn menatap tajam sahabatnya itu. "Hehe itu namanya gue kesenengan, njirr." Balas Jessy menyengir kuda.


"Ikut gue lo!" Titah Ririn menarik tangan Jessy untuk mengikutinya. "Kenapa?" Tanya Jessy setelah Ririn berhenti.


"Gue kan udah bilang dari kemarin-kemarin sama lo dan yang lain, Jes. Panggil gue RIRIN, R.I.R.I.N!" Beritahu Ririn yang hanya di balas cengiran oleh Jessy.


"Maaf-maaf gue lupa, hehe"


"Ya sudah sekarang ayo kita ke kelas" ajak Ririn. " Eh tapi kelas lo dimana, njim?" Tanya Ririn yang baru ingat sahabatnya tersebut adalah murid baru.


"Anjirr tungguin gue!" Jessy segera berjalan menyamakan langkahnya dengan Ririn.


Di tempat lain.


"Lahh kok malah ninggalin kita tu orang?" Tanya Haiden kepada angin.


"Cabut!" Titah Cavero yang berjalan duluan.


"Nggak Ririn nggak pacarnya sama aja! Main tinggal-tinggal anak orang ae." Kesal Haiden.


"Sabar!" cetus Malik menepuk pundak Haiden pelan kemudian ikut menyusul Cavero dan teman-temannya yang sudah menyusul Cavero masuk kelas.


Dark Spider hanya menatap mereka. "Cabut!" Titah Leo sang leader dan di ikuti intinya.


"Apa kita nggak ke ruang kepala sekolah dulu?" Tanya Diki kepada Leo.


"Nggak perlu. Om Ade sudah atur semuanya. Kita tinggal masuk aja." Jawab Leo yang diangguki Diki dan Derren, sedangkan Arnold hanya menyimak.


...*****...


NEXT!


OMG! Itu yang di belakang Ririn ganteng banget anjirr.


OMO OMOOO itu yang ganteng bangetttt.


Huaaaa Taeyung versi lokal.


Tuhan.. mau yang ituuu huaaa..


Jangan dingin-dingin sayang..


Itu perempuan yang sama Ririn itu siapa?


Berbagai jeritan-jeritan siswi masuk ke indra pendengaran Ririn dan yang lainnya, tapi mereka tidak mengubrisnya dan duduk di meja biasa tempat Cavero dkk yang berada di pojok kantin. Tapi berbeda dengan Diki, Haiden, Malik dan Kenzo yang sibuk melambaikan tangannya sambil tersenyum manis kepada siswi-siswi membuat mereka makin memekik karena sapaan mereka di balas.

__ADS_1


"Anjirr berasa artis bener dah gue" cetus Diki menggeleng-gelengkan kepala.


"Emang di Bandung lo nggak gini?" Tanya Haiden penasaran.


"Ya gini juga tapi nggak sehisteris mereka-mereka." jawab Diki menunjuk siswi-siswi dengan dagunya. "Dan baru kali ini gue bisa bebas balas mereka, karena yaa seperti yang lo tau mereka bertiga batu." Lanjutnya sambil terus membalas sapaan murid yang lain.


"Bhahaha bersyukur lo pindah kesini." Tawa Kenzo. "Dan ketemu kita-kita, ya nggak?" Ujar Kenzo meminta pendapat Malik dan Haiden yang di angguki mereka.


"Tapi semenjak pacaran sama Ririn, Cavero bisa punya ekspresi lain selain datar." Timpal Kenzo. Mereka berempat tertawa tanpa sadar orang yang tengah di bicarakan menatap mereka tajam.


"Pesen sana!" Titah Cavero menatap tajam mereka berempat yang tidak berhenti tertawa sambil memberikan mereka uang seratus ribu sebanyak tiga lembar.


Mendengar perkataan Cavero membuat mereka seketika menghentikan tawa mereka. "Mau pesan apa?" Tanya Haiden semangat melihat uang berwarna merah.


"Samain aja semuanya." Jawab Ririn yang diangguki Haiden.


"Kalian bertiga ikut gue!" Titah Haiden kepada Malik, Kenzo dan Diki.


"Gue mau nanya masalah kemarin!" Ujar Leo serius kepada Ririn. "Waktu lo sekarat kenapa lo nggak biarin Rose yang hadapi si tikus itu?"


"Ya lo pikir Rose nggak keluar? Dia keluar kali cuma karena tangan dan kaki gue di ikat kenceng jadi dia nggak bisa ngelawan." Jelas Ririn.


"Setelah tu tikus keluar baru Rose kembali dan Monika yang muncul bareng temannya nyelametin gue." Jelasnya lagi menatap mereka yang ada disana.


"WHAT? MONIKA?" Pekik Enzy dan Mahira yang mendengar penjelasan Ririn. Ririn mengangguk.


"Kok bisa?" Tanya Delisha yang tadi hanya menyimak.


*****


"Bagaimana sudah siap ulangan?" Tanya pak Burhan kepada penghuni kelas. Bukannya menjawab 'iya', malah mereka membantak tak terima.


"BAPAK KOK NGGAK BILANG SIH?" Teriak salah satu murid laki-laki di pojokan yang diketahui bernama Bimo.


"PAK MANA ADA KITA ULANGAN HARI INI! BAPAK JANGAN GITU DONG!" Teriak Laura tak terima.


"IYA PAK! APALAGI SAYA YANG BARU SEKOLAH DISINI!" Teriak Jessy yang ikut protes.


"SUDAH DIAM SEMUA!" Teriak pak Burhan yang pusing mendengar keributan mereka. "Kita ulangan untuk persiapan ujian semester minggu depan. Sekarang simpan semua buku dan tas kalian. Ketua kelas tolong bagikan soal ini." Lanjutnya menatap muridnya yang misah-misuh.


"Yahh baru aja gue injak kaki di sekolah yang katanya elit ini sudah di kasih asupan ulangan aja." Protes Jessy lesu.


"Guru yang kayak gini yang mau gue hih." Gerutu Enzy sambil memperagakan sedang mencekik leher orang dengan kedua tangannya.


Kertas soal sudah ada di meja masing-masing. "Njim ni soal apaan kenapa angka semua?" Tanya Delisha frustasi melihat soal tersebut.


"Iyalah angka, kan sekarang matematika bego." Jawab Ririn tak santai mendengar pertanyaan dari sahabatnya tersebut.


"Anjirr mata gue sakit liat ni soal." Cetus Jessy yang di belakang Ririn duduk dengan Laura.


"Soalnya lima tapi anaknya 1.. 3.. 4.. 6.. 12.. hufft banyak banget, gilaa!" Cetus Mahira menghitung anak soal.


"Kerjakan dengan tenang! Jangan ada yang bekerja sama." Titah pak Burhan.


"Diketahui dua buah persamaan sebagai berikut, 2x + 3y \= 13 dan x - 2y \= -4. Berapakah nilai dari x dan y?" Baca Ririn sembari mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuknya.


"Ini kan hasilnya 13. 2 + 3 \= 5. Nah 13 - 5 \= 8, berarti 8 bagi 2 biar nilai x dan y nya rata dapet 4." Ririn tersenyum bangga dengan pemikirannya. "Pinter bet dah gue ellahh." Ririn segera menulis jawabannya sebelum lupa.


Tapi sepertinya Ririn lupa dengan x - 2y \= -4 yang termasuk dalam soal.


"Rin?" Panggil Jessy pelan. Ririn menoleh menaikkan sebelah alisnya. "Nomor tiga b jawabannya apa?" Tanya Jessy.


Gimana cara bilangnya anjirr. Kalo pilihan ganda sih oke gue tinggal jawab a b c tapi ini? Gerutu Ririn dalam hati berpikir.


Anjir ni soal udah kaya ayam aja banyak banget sekali netas. Batin Ririn menggerutu.


"Lo bisa nggak?" Tanya Delisha pelan menyenggol lengan Ririn.


Ririn menoleh dan menggeleng. "Ngasal gue" jawab Ririn terkekeh.


Kring kring..


...🌱...


Dukung Ririn dengan Vote, like, komen, dan favoritkan..

__ADS_1


__ADS_2