
Kini Ririn dan Cavero sudah berada di pekarangan rumah Cavero, tepatnya di halaman depan.
Rumahnya sedikit jauh dari permukiman warga, bukan daerah komplek perumahan melainkan di pinggir jalan kemudian kita harus terus menyelusuri jalannya hingga ke dalam dan menemukan gerbang yang menjulang tinggi.
Tidak ada rumah lagi sekitaran tempat tingg Cavero, mungkin hanya rumah Cavero yang berdiri di sini.
Ririn terkagum-kagum melihat bangunan eropa clasic tersebut. Mansion tersebut lebih besar dari mansion keluarga Xavier. Di lihatnya sekeliling rumah Cavero seperti di jaga dengan ketat terbukti banyak sekali bodyguard di setiap sudut rumah ini.
"Ayo masuk," suara Cavero membuat Ririn tersadar dari lamunannya.
"Astagfirullah kaget," cetus Ririn mengusap dadanya.
Cavero terkekeh pelan, dia pun menautkan jari-jarinya ke tangan Ririn.
Kok gue gugup gini ya? Bukannya gue pernah ketemu sama bokapnya si Cavero? Batin Ririn.
Cavero membuka pintu utama rumahnya. Ririn pun ikut masuk mengekori Cavero. Pertama masuk, yang Ririn lihat adalah seorang pria paruh baya yang sedang duduk santai di depan televisi menonton si kembar kepala botak sambil memakan buah.
"Dari mana saja kamu son!" Suara bariton bernada tinggi keluar dari bibir Ayman, membuat Ririn sedikit terloncat kebelakang kaget.
"Papa!" Suara Cavero tak kalah tinggi, mungkin dia sedang memperingati papanya bahwa dia tidak datang sendiri.
Ayman menghentikan aktifitasnya, meletakkan remot tv. Ayman mendangakkan kepalanya melihat ke arah belakang Cavero, ada seorang gadis kecil yang tengah memegangi tangan Cavero.
Ayman pun bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Cavero.
"Eh ada Ririn," ujar Ayman tersenyum manis.
"Ha-halo om," sapa Ririn melambaikan tangan, bukannya salim.
Setelah sadar apa yang dia lakukan salah, Ririn berjalan ke depan Ayman dan mencium punggung tangan Ayman.
Wangi anjing! Kek sugar daddy. He love me he gives all his money that gucci prada convi ma sugar daddy. Batin Ririn asik bernyanyi.
"Ekhem," deheman dari Ayman membuat Ririn langsung melepaskan tangannya.
"Ayo," ajak Cavero langsung membawa Ririn pergi dari sana tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada ayahnya.
"Eeh tunggu!" Seru Ayman menghentikan langkah mereka berduan. Cavero hanya mengangkat alisnya.
"Hm.. Rin, tante kamu kok nggak pernah hubungin om lagi?" Tanya Ayman dengan suara lirih.
Cavero yang mendengar pertanyaan papanya menahan tawa apalagi melihat papanya galau seperti sekarang.
"Hm.. anu apa ya? Tante Aira hm.. sedang sibuk. Ya sedang sibuk om di Canada mungkin," beritahu Ririn dengan di ujung kalimatnya berbisik.
"Hufft.. gitu ya? Ya sudahlah kalian nikmati waktu kalian," ujar Ayman lesu kembali duduk di sofa.
Eh bentar! Kalo tante Aira sama papanya Cavero nikah, berarti gue nggak bisa nikah dong sama Cavero? Batin Ririn memikirkan.
__ADS_1
Eh tapikan gue bukan Ririn anaknya mommy sama daddy, gue kan Aqila. Batin Ririn tersenyum.
"Kenapa lo senyam-senyum kek gitu?" Tanya Cavero yang hanya di respon gelengan kepala oleh Ririn.
Cavero membawa Ririn ke area dapur rumahnya.
"Mau makan?" Tanya Cavero.
"Nggak deh belum laper," jawab Ririn berbohong padahal dirinya tengah lapar berat saat ini.
"Mah jus?"
"Boleh deh."
"Tunggu bentar," ujar Cavero yang akan melenggang pergi tapi tidak jadi karena pertanyaan Ririn.
"Mau kemana?" Tanya Ririn. "Mau bikin jus buat kamulah," jawab Cavero.
"Nggak usah! Ada buah strawberry, ngga?" Tanya Ririn.
"Ada." Cavero mengambil buah strawberry dari dalam kulkas.
Cavero memakaikan celemek supaya baju Ririn tidak kotor. Ririn memotong-motong strawberry nya menjafi potongan kecil sedangkan Cavero yang bertugar mencuci buahnya.
Setelah buahnya sudah terpotong semua, Ririn memasukkannya ke blender. Cavero juga ikut menuangkan es batu, gula, dan menambahkan segelas air. Kemudian Ririn menyalakan blendernya.
Tangan Ririn inhin mengambil sebuah gelas yang berada di depan Cavero, namun sepertinya Cavero juga akan mengambil gelas tersebut. Tangan mereka berdua pun saling bersentuhan.
Saling terdiam sekian detik sampai akhirnya Cavero pun memajukan wajahnya mengecup sibgkat bibir Ririn. Mereka saling diam menikmati hembusan nafas masing-masing.
Cavero memegang pinggang Ririn mwnarik tubuh Ririn supaya menempel padanya. Cavero kembali menempelkan bibirnya ke bibir milik Ririn, kali ini bukan sekedar ciuman.
Sekarang menjadi sebuah *******, Cavero terus memperdalam lumatannya mengabsen setiap gigi-gigi mungil Ririn. Sedangkan Ririn masih diam terkejut dengan perlakuan dari Cavero.
Trobos aelah. Batin Ririn.
Walaupun tidak terbiasa, Tirin tetap membalas ciuman Cavero. Kedua tangannya kinu mengalung di leher Cavero, mereka saling memainkan lidah dan bertukar air liur masing-masing.
Masih di posisi yang sama, belum ada yang ingin melepaskan ciuman mereka, sedangkan blender masih menyala namun mereka berdua seakan tuli.
Saat ini tangan Cavero tidak lagi berada di lingkar punggang Ririn, tangannya mulai merambat ke bagian bawah belkaang. Tidak ada yang mengganggu aktifitas kedua sejoli ini, karena para maid biasanya akan keluar jika sudah magrib.
"Tuan mud-a," perkataan seorang pria yang baru saja hadir ketika melihat apa yang tengah tuan mudanya lakukan.
"Maaf, silahkan Anda lanjutkan," ujar pria tersebut kemudian melenggang pergi meninggalkan area dapur.
Ririn cepat-cepat mendorong tubuh Cavero ketika mendengar suara pria itu tadi.
"Mau lanjut?" Tanya Cavero pelan membisikkan tepat di telinga Ririn.
__ADS_1
"Minum dulu," jawab Ririn mematikan blendernya kemudian menuangkan jus tersebut ke gelas mereka masing-masing.
Cavero pun duduk kembali meminum jus tersebut, begitupun Ririn yang duduk di samping Cavero.
"Mau pulang atau lanjutkan yang tadi?" Tanya Cavero setelah meminum jusnya sampai tandas.
"Pulang," jawab Ririn singkat memalingkan wajahnya. Pipinya sudah merona mendengar pertanyaan yang dilontarkan Cavero.
"Nggak mau lanjut aja nih?" Goda Cavero menaik turunkan alisnya.
"Udah bangsat! Gue lagi salting ini, jangan buat gue tambah salting," gerutu Ririn dengan pipinya yang semakin merona.
Cavero yang mendengar itu tertawa terbahak-bahak. "Oke pulang. Tunggu sebentar!" Titah Cavero kemudian pergi ke lantai dua dimana kamarnya berada.
Ririn menyusuri setiap sudut mansion keluarga Nelson sampai akhirnya kakinya berhenti di sebuah figura besar.
"Sepertinya ini nyokapnya Cavero," gumam Ririn melihat foto yang dia yakini sebuah foto keluarga. "Cantik."
"Ririn," panggil Ayman membuat Ririn menoleh kearahnya.
"Iya om?"
"Bilang sama tante kamu dong, balas pesan om," pinta Ayman lirih.
Anjim ni om kaya inget umur apa. Galaunya ngga ketulungan ckck. Batin Ririn.
"Ehh i-ya om. Nanti Ririn bantu bilangin," jawab Ririn menenangkan.
Ayman yang mendengar balasan Ririn tersenyum lebar. "Makasi. Ya sudah kamu lanjut aja lihat-lihatnya," ujar Ayman kegirangan seperti abg. Ririn yang melihat itu menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir.
Itu beneran papanya Cavero? Batin Riri masih heran.
"Sudah selesai?" Tanya Ririn yang melihat Cavero menuruni tangga.
"Hm"
"Kita nggak pamit sama papa lo dulu?"
"Nggak usah dia sibuk lagi galau."
"Oh oke."
Mereka oun keluar rumah Caveri dan menuju ke arah motor yang berada di halaman rumah Cavero.
Cavero melajukan motornya dan meninggalkan pekarangan mansionnya.
*****
Jangan lupa dukung aku dengan vote, like, komen, dan favoritkan!
__ADS_1
Jangan lupa baca juga karya aku 'KITA BERBEDA'.