RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL

RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL
PART 30


__ADS_3

Setelah sampai di tiang bendera, mereka berhenti mengatur nafas dan siap hormat berdera karena melihat pak Didit tengah mengawasi mereka dari jauh.


"Gara-gara lo sih Rin, ke kantin segala kita jadi kena juga kan" omel Haiden yang berada di sampingnya yang masih ngos-ngosan.


"Aelah. Namanya juga laper" jawab Ririn santai. Matanya melirik kiri kanan mencari keberadaan pak Didit. Dan ternyata aman, pak Didit sudah pergi.


Dengan tidak tau malu, Ririn duduk di bayang-bayang mereka yang mengarah ke depan dan mengeluarkan snack kacang yang sempat di belinya tadi dari dalam kantong roknya.


"Eeh anj, bisa-bisanya lo duduk santai gitu" David menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Ririn yang dengan santai memakan kacang.


"Yaelah santai aja kali, pak Didit juga sudah pergi. Nih pada makan, gue juga punya kuaci" ucap Ririn.


Mereka yang melihat Ririn mengeluarkan kuali serenteng melongo. Kapan belinya? Pikir mereka.


"Udah nggak usah nganga gitu mulut lo pada, masuk lalat tau rasa lo pada" ejek Ririn membuat mereka menutup mulutnya rapat-rapat.


Cavero dkk akhirnya duduk mengikuti Ririn dan dengan santainya makan tanpa memperdulikan orang-orang yang cengo melihat mereka makan di tengah lapangan dengan santai.


"Lo nggak takut di hukum makin parah sama pak Didit?" Tanya Kenzo.


"Ngapain harus takut?" Tanya Ririn balik. "Ya nggak, biasanya juga lo ngeluh panas atau nggak kalo di suruh bersihin toilet lo suruh orang lain. Aneh aja gitu." Jelas Malik. "Ho'oh" setuju Haiden dan Kenzo. Sedangkan Cavero dan David hanya diam menyimak sembari makan kuaci.


"Ini kapan bellnya sih, nyett" ucap Ririn mengalihkan pembicaraan. "Sejam lagi" jawab Cavero.


"Hufffh masih lama"


*****


"Assalamualaikum" salam Ririn.


Ririn masuk dengan raut bingung, celingak celinguk mencari orang.


Tumben sepi. Batin Ririn bingung.


Setelah matanya berkeliling ke setiap penjuru, matanya berhenti di televisi yang menyala. Ririn mendekat dan ternyata neneknya yang sedang menonton.


"Asalamualikum nek" salam Ririn di belakang sofa tempat neneknya duduk.


Nih nenek reot budek apa gimana, dari tadi gue salam nggak di jawab. Batin Ririn sedikit kesal.


"ASALAMUALAIKUMM!" Teriak Ririn tapi tetap nenek Odi tidak menyahut.


Ririn yang kesal pun berjalan ke depan neneknya. Dia mondar mondir di depan tv yang menyala. Nenek odi yang melihat Ririn bingung.


"Hei, what are you doing there?" (Apa yang kamu lakukan disana?) Tanya nenek Odi.


"Nek, if i bilang assalamualaikum you harus answer waalaikumsalam gitu. Not diam, nanti Allah angry, you know!" Ririn berusaha menjelaskan.


Melihat raut wajah neneknya, membuat Ririn sangat kesal. Masa iya assalamualaikum ada bahasa inggrisnya? Batin Ririn menggerutu.


"MOMMYYYY!"


"TANTEEE!


"ABANGGGG!"


"Aish ini orang-orang pada kemana sih, masa iya gue di tinggal sama nenek reot disini?" Gumam Ririn menggerutu. "Bodo amat dah. Biarin aja, gue cape mau tidur" Ririn melenggang pergi dari hadapan neneknya.


"Where are you going?" (Kemana kamu pergi?) Tanya nenek Odi. "I not understand what you bilang. And i ngantuk mau sleep" jawab Ririn.


Bodo amat dah tuh nenek mau ngapain. Batin Ririn masuk ke kamarnya.

__ADS_1


*****


"Dimana nih gue?" Tanya Ririn pada dirinya sendiri. "Banyak bunga-bunga lagi. Wangi-wangi bener ni bunga. Gue mandi kembang sabilah ya"


"Hai Aqila" sapa seseorang.


"Kaget anjirr" reflek Ririn kaget kemudian berbalik dan melihat orang tersebut. "Kok kaya kenal ya?"


"Ini aku Ririn yang punya tubuh yang kamu tempati sekarang" ucap Ririn, sedangkan Aqila hanya ber'oh' ria.


"Kita sekarang lagi dimana? Apa gue juga mati dan sekarang kita lagi di akhirat?" Cerocos Aqila. "Hehe kamu nggak mati kok, kita sekarang berada di alam bawah sadar" jelas Ririn.


"Lo nggak balik ke tubuh lo, si Cavero udah nggak benci lagi noh sama lo" tanya Aqila.


"Nggak La, aku udah tenang disini. Jadi kamu akan menempati raga aku selamanya. Oh ya, kalo kamu mau kasih tau keluarga aku tentang kita nggak papa kok, teman-teman dan abang kamu juga kan sudah tau." Jelas Ririn.


"Beneran nggak papa?, Kalo mereka kecewa gimana?" Tanya Aqila beruntun. "Percaya sama aku, mereka pasti akan menerima semuanya" jawab Ririn.


"Dan ini mungkin akan jadi pertemuan kita yang terakhir. Aku harap kamu bisa jaga baik-baik tubuh aku" ucap Ririn.


"Lahh emangnya lo mau kemana?"


"Aku sudah bisa tenang, aku ingin mengikuti proses dari Tuhan. Aku yakin kamu bisa Qila, aku pergi dulu ya. Bye" pamit Ririn.


Ririn pergi seiring hembusan angin.


*****


"Eeughh" lengkuh Ririn.


"Tadi gue mimpi atau beneran ya itu?" Pikir Ririn. "Tapi kok gue ngerasa itu beneran ya? Tenang aja Rin, gue pasti akan jaga tubuh lo dengan baik"


Ririn mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia menoleh ke alarm ternyata sudah pukul 10 : 48. "Lama juga gue tidurnya" gumamnya.


"ANJ- ASTAGFIRULLAH SETANNN!" Teriak Ririn melihat sosok di depan pintunya.


Rambut putih, baju tidur putih polkadot pink masker putih.


"Auzubillahiminassaitonirrojim.." doa Ririn bergetar. "Pergi kau setannnn. Hush hush hush."


"HUAAAAA MOMMYYY SETANNNNN!" Teriak Ririn berlari kencang menuruni tangga. Di saat sudah sampai di tangga terakhir, Ririn menoleh ke belakang yang ternyata sosok itu mengikutinya menuruni tangga dengan tampang bingung. Ada apa, pikirnya.


"HUUAAAA MOMMY DADDY SETANNYA NGIKUTTT HUAAAAA" Teriak Ririn lagi berlari kencang mengelilingi sofa.


Teriakan Ririn membuat semua orang rumah berlari keluar. "Heiii Rin kenapa, hei!" Khawatir Ayudia.


"Huaaa mommy setannn" Ririn menunjuk seseorang yang dikiranya setan.


Semua orang menoleh dan betapa terkejutnya mereka, sedetik kemudian semua orang ketawa kecuali Ririn yang masih berada di pelukan Ayudia dan nenek Odi yang bingung.


"Bwhahahhaaa ini nenek, Rin" ucap Nathan.


"Hah?" Beo Ririn dan melihat neneknya dari atas sampai bawah. Sedetik kemudian, wajahnya merah menahan amarah. Sedangkan, semua orang masih tertawa kencang.


"Heh you! Nenek reot. Kenapa you pake masker segala hah, i jantungan you know, you kaya setan." Omel Ririn menunjuk-nunjuk neneknya.


"Ma, why are you wearing a white mask? you know what? Ririn thinks you're a ghost hahhaa" (Ma, kenapa Anda pakai masker warna putih? Anda tau apa? Ririn pikir Anda ini hantu hahaha) Tanya Adelard tertawa yang melihat ibu mertuanya.


"What! What did you say? Ghost?" (Apa! Apa yang kamu katakan? Hantu?) Tanya nenek Odi marah.


"Heh you harusnya sadar, udah tua juga banyak tingkah you. Bikin orang jantungan aja tiba-tiba nongol di depan i kaya setan. Mana white-white lagi dari ujung hair sampe ujung kaki." Omel Ririn tak kalah ngegas yang melihat neneknya ngegas.

__ADS_1


"Udah sana, you cuci face. Untung you nenek i, kalo bukan udah i banting dari tadi" omel Ririn lagi. "Hush nggak boleh gitu" peringat Ayudia.


Sedangkan yang masih masih tertawa sambil pegang perut. Sungguh konyol, pikir mereka.


*****


NEXT!


"Woyy Rin!" Panggil Kenzo yang tidak sengaja melihat Ririn yang baru memasuki gerbang dengan muka cemberut.


Ririn yang merasa ada yang memanggil namanya celingak celinguk ke kiri dan kanan. Sampai akhirnya matanya menangkap orang melambaikan tangganya dari parkir.


Dengan tidak semangat, Ririn berjalan ke arah mereka. "Kenapa?" Tanya Ririn lesu.


"Kenapa lo tumben banget 3 L gitu?" Tanya Haiden yang melihat Ririn tidak semangat. "3 L apaan, njim?" Tanya Kenzo.


"Cabut, sebentar lagi bel masuk" Ucap Cavero yang berjalan terlebih dahulu dan di ikuti mereka.


*****


"Baiklah langsung saja kita lanjutan pelajaran minggu kemarin tentang Expressing of Persuading. Seperti yang di jelaskan minggu lalu bahwa.."


Ririn moodnya telah kembali karena belajar bahasa inggris, dengan dia mengikuti pelajaran, dan menyimak dengan serius apa yang di jelaskan gurunya. Malu, neneknya bule tapi dia sendiri nggak bisa bahasa inggris.


"Tumben lo serius gini?" Tanya Delisha dengan suara pelan. "Sssttt.. diem, gue lagi serius ini" jawab Ririn berbisik.


"Kantin kuy" ajak Enzy kepada ketiga temannya yang dibalas anggukan singkat.


"Ehh Rin, lo mimpi apa semalem rajin banget perhatiin guru dan tadi juga lo tumben-tumbennya paling aktif nanya ini nanya itu?" Cerocos Enzy heran kepada Ririn. Pasalnya sahabatnya yang satu ini adalah manusia paling malas dan paling bodoh di kelasnya.


"Ho'oh anjirr, gue aja yang di sampingnya dari tadi penasaran" lanjut Delisha. "Emangnya salah?" Tanya Ririn balik.


"Ya nggak salah sih, cuma kita heran aja."


*****


"Terima kasih ya Allah" ucap Ririn mengadahkan kedua tangannya lalu mengusapnya di wajahnya.


Ririn tidak mengubris pertanyaan David, dia berjalan ke arah Cavero. "Hai pacar, anterin gue pulang" pinta Ririn masih dengan senyum manisnya.


"Dih siapa lo?" Ucap Cavero. "Gue bukan pacar lo"


"Lo nggak inget, kan lo terima gue waktu itu" ucap Ririn mengingatkan. "Itu kalo bokap gue jalan sama lo, tapi kan itu sama tante lo bukan lo" jawab Cavero.


"Cavero ternyata bisa ngomong lima belas kata" jawab Ririn sembari menempelkan punggung tangannya pada dahi Cavero. "Nggak panas" gumam Ririn.


"Lo harus anter gue pulang!" Ucap Ririn yang langsung melingkarkan tangannya erat di pinggang Cavero.


"Lo pada mau liat bule nggak?" Tanya Ririn yang ingat nenek reotnya. Mereka semua mengangguk kecuali Cavero.


"Lo semua ikut aja ke rumah gue, di rumah ada bule cantik lagi" ucap Ririn sedang raut wajah yang meyakinkan. "Serius lo?" Tanya Haiden. Ririn mengangguk kepalanya sebagai jawaban.


"Oke!" Ucap mereka serempak.


"Ya sudah, ayo Cav buruan" ucap Haiden tidak sabar.


Mau tak mau, Cavero menyalakan motornya karena desakan teman-temannya. Mereka semua mulai meninggalkan sekolah.


*****


Jangan lupa bunganya gengs. Vote Like Komen and Follow..

__ADS_1


Share juga yaw, recomendasikan ke sosial mediamu.


Alapyuu..


__ADS_2