RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL

RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL
PART 38


__ADS_3

Jam baru saja menunjukkan dirinya di pukul 06 : 02, matahari pun masih malu-malu untuk menampakkan dirinya kepada seluruh penghuni bumi. Begitu pun dengan Ririn yang masih bergulat manja dengan kasur dan gulingnya enggan untuk beranjak. Tapi tidak dengan Cavero yang sudah berada di rumah Ririn dengan senyum yang terus mengembang.


Nathan yang sedang bersiap-siap akan jogging sekitar komplek pun mengerutkan dahinya melihat kedatangan Cavero yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya sambil menoleh ke arah jam dinding yang ada di ruang tamu.


"Lo ngapain kesini sepagi ini?" Tanya Nathan kepada Cavero yang sudah duduk di ruang tamu.


"Mau jemput adek lo" jawabnya sambil membuka toples berisi cemilan.


Nathan menepuk keningnya mendengar jawaban rekan bisnisnya ini. "Sepagi ini?" Tanya Nathan yang di angguki Cavero.


"Serah dah serah" ujar Nathan kemudian bangkit untuk pergi jogging.


"Bi tolong bangunin kebo itu ya" pinta Nathan kepada salah satu pelayan di rumahnya.


"Baik tuan muda"


"Lo tunggu aja di sini, gue keluar dulu" pamit Nathan yang langsung melenggang pergi.


Tok tok tok


"Non" panggil Bi Hani sambil mengetuk pintu kamar Ririn.


"Non?" Panggilnya lagi tapi tidak ada sahutan dari dalam.


"Non bangun"


Ceklek


"Ada apa bi?" Tanya Ririn dengan muka bantal dan suara serak khas bangun tidur.


"Itu non, Tuan Cavero sudah datang" beri tahu bi Laras.


"Cavero?" Beo Ririn yang di angguki bi Laras. "Ngapain dia datang subuh-subuh gini?"


"Katanya mau jemput non Ririn" beri tahu bi Laras.


"Hah?!"


"Anjir sudah jam berapa ini?"


"Ya udah bi, tolong bilang untuk tunggu sebentar" ujar Ririn dengan wajah paniknya. Tanpa mendengar balasan dari bi Laras, Ririn langsung menutup pintunya dan goncar-gancir mencari handuk lalu berlari masuk kamar mandi.


"Anjirr baru jam enam tu orang ngapain di rumah gue sepagi ini" gerutu Ririn sambil mandi.


Selang beberapa menit, Ririn keluar dengan handuk yang masih melilit di tubuhnya. Saking buru-burunya dia lupa bawa seragam sekolahnya.


Dia berlari lagi ke dalam kamar mandi mandi membawa seragam sekolahnya. Beberapa menit berlalu, dia sudah siap dengan seragamnya. Duduk di depan Cermin besar yang dimana ada berbagai macam skincare tapi Ririn sama sekali tidak pernah memakai hal begitu, dia hanya cukup memakai bedak bayi dan lipbalm untuk memoles dirinya.


"Masyaallah cantik banget gue" monolognya sendiri di depan cermin. Memuji dirinya sendiri sambil berpose ala-ala di depan camera.


"Ckckck nggak salah lagi kenapa sampe tu si jambret klepek-klepek sama gue" lanjutnya.


"Sudah cantik, kaya, baik luar dalem apalagi jiwanya behh mantap bener dah, dan tidak sombong" monolognya menyombongkan dirinya.


Di rasa sudah selesai tidak ada lagi yang mau di ingin di lakukan. Dia menggendong tas hitam polosnya lalu keluar kamar dan turun ke ruang tamu yang ada di lantai dasar.


"Ngapain sih lo datang sepagi ini, njirr" kesal Ririn. Cavero hanya mengendikkan bahunya melanjutkan makan cemilan.


"Non sarapannya sudah siap" beri tahu salah satu pelayan di rumahnya.


"Iya bi, makasi"


"Sama-sama non" ucap pelayan tersebut dan melenggang pergi dari hadapan Ririn dan Cavero.


"Ayo sarapan dulu" ajak Ririn kepada Cavero yang dianggukinya.


Ririn berjalan menuju ruang makan dan di ikuti Cavero di belakangnya. "Bi tolong panggilkan abang ya" pinta Ririn kepada bi Laras.


"Tuan belum pulang olahraga non" balas bi Laras.


"Oh, ya udah. Makasi bi" ucap Ririn tersenyum manis. "Kita sarapan duluan aja" ucap Cavero yang akhirnya buka suara.


"Siapa lo nyuruh-nyuruh" sewot Ririn yang masih sedikit kesal dengan Cavero yang datang subuh-subuh.


"Asalamualaikum" ucap Nathan yang baru pulang jogging dan langsung pergi ke arah kulkas.


"Waalaikumsalam. Bang ayo sarapan" ajak Ririn kepada kakaknya.


"Kalian duluan aja, abang mau mandi dulu. Lengket banget ini, nggak nyaman" ucap Nathan yang di angguki Ririn dan Cavero.


*****


Sesampainya di kawasan sekolah, seantero sekolah di buat tercengang dengan kedatangan Cavero yang membonceng Ririn dan di belakang mereka ada Malik dkk.

__ADS_1


Itu Cavero beneran sama Ririn?


Ehh iya itu Ririn.


Dasar ****** nggak tau diri.


Aaaa Vero mau juga di bonceng.


Mereka sweet banget sih aaaa.


David jangan dingin-dingin dong.


Aduhh Kenzo ganteng bangettt.


Ini nih alasan gue rajin berangkat subuh.


Dan masih banyak lagi jeritan-jeritan siswi yang memuja ketujuh sekawan itu. Tidak sedikut juga yang tidak suka dengan Ririn yang datang bersama Cavero.


"Ciee bos sudah berani terang-terangan" goda Haiden yang langsung heboh saat melihat mereka berdua di jalan tadi.


"Paan si?" Kesal Ririn.


"Biasa aja ellah. Rin sejak kapan lo pake blush on? Kebanyakan lagi" tanya Kenzo dengan polosnya.


"Bhahahaa Ririn salting anjirr" tawa Reyhan melihat Ririn yang semakin merah pipi dan telinganya.


Ririn yang mendengar itu, menundukkan kepalanya. Cavero yang mengerti kekasihnya tengah malu, langsung memeluknya.


"Malu" cicit Ririn menyembunyikan wajah merah meronanya di dada bidang Cavero.


"Bwhahahaa anjir si Ririn bisa malu juga, biasanya juga malu-maluin" ledek Varen. Haiden dkk yang mendengar itu tertawa terbahak-bahak kecuali David yang tersenyum manis melihat sahabatnya sudah mulai menyadari perasaannya. Tidak sia-sia kemarin dia bicara panjang lebar dengannya.


Sedangkan siswa-siswi yang melihat Cavero memeluk Ririn merasa pasokan udara mereka menipis. Mereka semua terkejut dengan perlakuan manis Cavero.


Jhiaaakk Cavero sweet bangett.


Makk mauu kaya gituu.


Nganjen banget sih tu ******.


Huaaa mommy mereka sweet bangett.


Anjirr David ganteng banget kalo senyum gitu.


Itulah sebagian jeritan mereka yang melihat perlakuan Cavero kepada Ririn. Dan ada orang yang mengepalkan tangannya erat melihat itu, siapa lagi jika bukan Rima.


Rima sebenarnya sudah sangat lama menyukai Cavero, bukan hanya dia yang menyukai Cavero tapi banyak. Tapi dengan alibi Varen dekat dengan Ririn dia berani melabrak Ririn akhir-akhir ini.


"Sudah ayo cabut!" Ucap Cavero berjalan menggandeng tangan Ririn membuat Ririn menundukkan kepalanya karena menjadi pusat perhatian semua orang.


Anjir sejak kapan gue bisa letoy kaya gini? Batinnya bertanya-tanya.


Ayokk Rin, jangan letoy gini dong. Batinnya lagi menyemangati dirinya sendiri.


Yok bisa yok, Rin.


Ririn menarik nafas dalam lalu buang. Ririn mulai menatap lurus dengan gaya sombongnya seperti biasa.


"Anjirr puas banget gue ketawain si Kampret" ketawa Malik di ikuti yang lainnya.


"Si kulkas sudah bucin" celerus David yang dari tadi hanya diam menyimak.


"Anjirr nggak nyangka banget gue, Cavero bisa gitu" lanjut Varen menggelengkan kepala.


"Huaaaa gue juga mau punya pacar" ucap Haiden dramatis.


"Emang ada yang mau sama lo?" Ejek Malik terkekeh. Temannya yang mendengar itu tertawa mengejek Haiden.


"Jahat banget si kalian" sebal Haiden.


Sedangkan Cavero dan Ririn tidak menghiraukan mereka yang terus saling mengejek. Mereka terus berjalan ke kelas Ririn, banyak pasang mata yang melihat mereka dengan pandangan berbeda-beda tapi bukan Cavero namanya kalo mereka meladeni ucapan nggak penting mereka.


...*****...


NEXT!


"BU BOS!" panggil Haiden heboh melambaikan tangan kepada Ririn dkk.


"Anjirr ngapain tu anak teriak-teriak sih" gerutu Ririn dengan Haiden yang teriak seenak jidatnya.


"Bisa nggak sih lo nggak usah teriak-teriak, njim!" Ujar Ririn kesal memukul lengan Haiden. Sedangkan Haiden hanya menanggapinya dengan cengiran kuda.


"Udah-udah. Kalian bertiga mau pesen apa? Biar gue pesenin dulu. Laper gue" tanya Enzy kepada Mahira, Delisha dan Ririn.

__ADS_1


"Kita udah pesenin untuk kalian berempat" Ujar Kenzo yang mendengar pertanyaan Enzy.


"Wahh beneran lo?" Tanya Enzy dengan mata berbinar.


"Makasi" ucap mereka berempat serempak kemudian langsung duduk di tempat kosong dia antara Cavero dkk.


Ririn duduk samping Cavero, Enzy di antara Kenzo dan Malik, Mahira di samping Varen dan Delisha disamping David. Sedangkan Haiden di samping Reyhan.


"Pelan-pelan! Nggak akan gue rebut tu makanan" celetuk Malik yang melihat Enzy makan dengan rakusnya.


"Swuka-swuka gwue dwong. Mwulwut mwulwut gwue"


Delisha dkk yang mendengar itu tersedak berjamaah. Mereka bertiga segera minum karena terasa panas di hidung mereka.


"Itu Cavero?" Tanya Mahira polos menunjuk Cavero.


"Anjirr lo pelet dia, Rin?" Celetuk Enzy cengo tidak percaya.


"Demi apa itu Cavero? Wahh harus di abadikan nih" ujar Delisha heboh. "Bener lo"


Malik dkk tertawa mendengar celetuk mereka bertiga. Cavero hanya menatap mereka datar, sedangkan Ririn santai-santai saja memakan makanannya.


*****


"Sini kunci mobil lo!" Pinta Cavero. "Biar nanti orang gue yang bawa mobil lo"


Enzy yang mendengar itu, langsung memberikan kuncinya kepada Cavero dan naik ke motor Malik tanpa izin membuat sang empu sedikit oleng karena tidak siap menahan beban. Wkwk..


"Anjirr bilang dong kalo mau naik. Untung nggak jatuh" omel Malik. Enzy yang mendengar itu hanya cengir kuda.


Cavero dengan Ririn, Enzy dengan Malik, Delisha dengan David dan Mahira dengan Varen. Haiden dan Reyhan sendiri-sendiri. Bukan, bukan Reyhan sendiri tapi sang kekasih belum di jemput.


Tujuan pertama mereka sekarang adalah SMA SATU BANGSA untuk menjemput Auris, kekasih Reyhan.


Terlihat Auris yang sudah nunggu di dekat gerbang sekolah bersama temannya bernama Clara. Terlihat sekolah tersebut yang tidak terlalu ramai, tinggal beberapa orang yang masih stay disana. Entah sedang nunggu jemputan atau masih ada urusan.


"Lama nunggunya?" Tanya Reyhan yang sudah berhenti di depan kekasihnya.


"Ris gue duluan ya" pamit Clara yang merasa tidak enak.


"Sudah di jemput Ra?" Tanya Auris kepada Clara. "Nggak kok Ris, supir nggak jemput hari ini. Gue ke halte aja nanti naik taxi disana" jawab Clara.


Ririn yang melihat Clara terdiam bimbang tidak bisa diam saja. "Udah mba ikut kita-kita aja, ada temennya juga kok ikut. Jadi nggak usah khawatir" cerocos Ririn.


Setelah lama terdiam. "Tap-" ucapan Clara di potong oleh Ririn. "Aduh kelamaan mba" potong Ririn yang sudah turin dari motor dan menarik Clara ke tempat Haiden. "Udah nggak usah pake tapi-tapian, mba ikut aja sama ni anak. Tenang aja nggak akan di culik kok"


"Udah Ra, lo ikut aja yuk" ucap Auris yang dari tadi hanya menyimak.


"Lama anjing!" Sentak Ririn gemas sendiri dengan keterdiaman Clara.


"Pegang tangan gue neng." Ujar Haiden yang melihat Clara kesusahan menaiki motornya. Clara hanya diam menuruti ucapan Haiden.


"Lo laper nggak?" Tanya Cavero kepada Ririn.


"Hah?" Tanya Ririn karena mendengar ucapan Cavero samar-samar.


"LO LAPER NGGAK?" Teriak Cavero agar di dengar.


"OH, NGGAK! MASIH KEYANG" jawab Ririn sedikit teriak, Cavero yang mendengar itu mengangguk.


Tidak lama Reyhan datang di samping. "Berhenti di restorant depan, Auris belum makan" ujar Reyhan sedikit teriak supaya di dengar Cavero. Cavero mengangguk dan tidak lama mereka menepi tepat di restoran.


"Ayo masuk" perintah Cavero dan masuk terlebih dahulu.


"Kalian mau pesan apa?" Tanya Ririn kepada semua temannya termasuk Auris dan Clara.


"Gue ayam bakar, sama minumnya orange jus aja"


"Paket ayam bakar 2, Orange jus 2, Mocca Ice Chocolate 1. Kalian bertiga?" Tanya Ririn beralih kepada ketiga temannya.


"Gue juga Mocca Ice Chocolate" jawab Delisha.


"Gue Vanilla Milk Shake sama kentang goreng" ujar Enzy.


"Gue samain aja sama Enzy" ucap Mahira.


"Seperti yang teman-teman saya bilang ya, Mba" cengir Ririn kepada waiters tersebut karena malas untuk mengulang.


...🌱...


Jangan lupa tinggalkan jejak gengs. Vote, Like Komen dan Share sebagai apresiasi karena kalian juga baca novel ini gratis..


Alapyuu sayangku..

__ADS_1


__ADS_2