RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL

RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL
PART 45


__ADS_3

"Bagaimana?" Tanya Lorenz kepada inti Dark Spider lagi.


"Kita belum bisa menemukan mereka karena mereka seperti menghilang di telan bumi" jawab Leo selaku leader Dark Spider.


"Red Diamond?" Tanya Lorenz kepada inti Dark Spider yang hanya mereka yang mengerti.


Red Diamond? Batin Adelard terkejut mendengar nama kelompok mafia yang cukup di segani itu.


"Belum ada konfirmasi, King" jawab Leo menunduk hormat.


Inti Dark Spider tau jika King mereka sekarang sedang serius jadi harus sopan. Yaps, Lorenz adalah King dari kelompok mafia yang cukup di segani di beberapa negara. Pusat inti Red Diamond adalah di Spanyol tapi pemimpin mereka di Indonesia. Dark Spider adalah geng motor di bawah naungan Red Diamond.


King? Adelard semakin terkejut mendengarnya.


Tidak hanya Adelard yang terkejut namun Nathan juga terkejut mendengarnya. Nathan melihat mereka satu persatu, apakah Aqila yang memasuki raga adiknya adalah salah satu bagian dari mereka, pikirnya.


Ting..


Dering ponsel milik Jessy berbunyi tanpa pesan masuk. Jessy membukanya dan melototkan matanya membaca pesan tersebut.


"Maaf King." Ujar Jessy menghadap Lorenz. "Mereka bertiga ternyata di tangkap oleh Black Blood, entah apa yang membuat Black Blood menangkap mereka. Tapi saya rasa mereka menangkap tikus-tikus itu dengan tujuan yang sama dengan kita" lanjut Jessy menunduk hormat.


"Black Blood?" Gumam Lorenz sedikit terkejut mendengar salah satu kelompok mafia yang berada di atasnya.


Black Blood jauh lebih kuat dan di segani oleh dunia dari Red Diamond.


Lagi lagi Nathan dan Adelard di buat terkejut mendengar perkataan mereka. "Siapa kalian?" Tanya Nathan dingin dan penasaran dengan mereka semua.


Lorenz dan inti Dark Spider menoleh menatap mereka yang juga menatap mereka dengan raut wajah bingung. Leo menoleh kepada Lorenz dan dia mengangguk.


Leo menatap Diki dan mengangguk. "Bang Lorenz adalah King dari Red Diamond, kelompok mafia yang saya rasa Anda mengetahui mafia itu." Jeda Diki melihat reaksi mereka. Nathan dan Adelard sangat terkejut mendengar kenyataan ini. "Dan tikus-tikus yang membuat Ririn masuk rumah sakit sudah di tangkap lebih dulu oleh Black Blood, seperti yang di jelaskan oleh Jessy." Lanjutnya lagi.


"Black Blood?" Gumam Nathan berpikir. "Bukankah semua anggota Black Blood memiliki tatto bergambar burung phonix kecil di bagian denyut nadi?" Tanya Nathan yang di angguki Lorenz dan Dark Spider.


Nathan terkejut mengingat siapa saja orang yang memiliki tatto tersebut. "Cavero!" Ucap Nathan celingak celinguk menatap sekitar mencari orang itu. Semua orang di buat bingung olehnya.


"Dimana Cavero?" Tanya Nathan yang tidak mendapati Cavero di sekitar mereka.


"Tadi pergi. Memangnya kenapa?" Tanya Arnold penasaran.


"Gue pernah melihat tatto itu di lengan Cavero, Malik dan David waktu mereka mandi dan ganti baju di kamar gue. Gue liat mereka tutupi itu dengan perekat berwarna kulit." Jelas Nathan membuat mereka terkejut kecuali Lorenz dan Leo yang tersenyum smirk.


"Terima kasih infonya bro!" Ucap Lorenz menepuk pundak Nathan. "Tant-"


"Mommy!"


"Hah?" Beo Lorenz menatap Ayudia.


"Panggil mommy aja, sekarang kamu juga abangnya Ririn dan itu artinya kamu juga anaknya mommy." Ucap Ayudia menatap Lorenz sendu.


Lorenz mengangguk tersenyum mendengar itu. "Mommy daddy jagain Ririn sebentar, Lorenz ada urusan" ucap Lorenz tersenyum manis kepada Ayudia.


"Derren lacak keberadaan Cavero sekarang! Leo dan Arnold siapkan pasukan, Jessy dan Diki seperti biasa atur strategi untuk masuk kesana. MENGERTI?!" Perintah Lorenz dengan lantang.


"MENGERTI KING!" Jawab mereka serempak.


"Gue ikut!" Ujar Nathan yang tiba-tiba berdiri. Mereka menatap Nathan dalam diam lalu Lorenz mengangguk.


Mereka berjalan meninggalkan Adelard, Ayudia, Aira dan nenek Odi yang tersenyum melihat kekompakan mereka, terutama Nathan dan Lorenz di ruangan serba putih tersebut.

__ADS_1


"Dek, bawa mama pulang aja. Kasian mama butuh istirahat, biar kak Dia sama kak Ade yang disini jagain Ririn." Ujar Adelard yang melihat mama mertuanya duduk dan menyender di tembok.


"Iya kak" jawab Aira patuh.


"Let's go home, ma." (Ayo pulang, ma) ajak Aira kepada ibunya dan membantunya untuk berdiri.


"I wanna stay here." (Aku ingin disini) balas nenek Odi dengan mata berkaca-kaca.


"No, ma! You must go home. Hospital not good for you." (No, ma! Anda harus pulang. Rumah sakit tidak baik buatmu) titah Adelard.


"Okay." Jawab nenek Odi berjalan ke arah cucunya. "Oh God, save her for me" ucapnya lirih mengelus rambut Ririn. Air mata yang tadinya sudah berhenti, kini kembali jatuh lagi.


Aira segera membawa nenek Odi pulang. Ia tidak sanggup melihat ibunya menangis karena melihat cucu kesayangan ibunya itu dengan wajah pucat dan jarum yang menancap di tangannya.


*****


Disisi lain.


Enam pemuda dan seorang gadis tengah berada di dalam mobil yang sama.


"Bagaimana, Ren?" Tanya Leo kepada Derren yang berada di kursi paling belakang.


"Belum" jawab Derren singkat.


"SIAL!" Umpat Derren yang terlihat kesal. Arnold yang duduk bersamanya melihat kearah laptop. "ERROR?" Tanya Arnold, seperti bukan pertanyaan tapi sebuah pernyataan.


"Tumben lo error dalam hal begini!" Ejek Diki.


"Black Blood bukan orang sembarangan, bahkan tingkatannya jauh lebih tinggi di bandingkan kita." Bantah Derren. "Dan gue rasa Cavero sudah tau siapa kita karena saat kita sampai di rumah sakit, dia melirik kita terus."


"Gue juga merasakan hal yang sama" lanjut Jessy.


"Apa Cavero adalah King Black Blood?" Tanya Arnold yang baru ingat sesuatu. Atensi semua orang teralihkan ke Arnold.


"Waktu itu Ririn datang ke arena balap bareng Cavero dan anehnya sebagian orang menunduk hormat kepada Cavero tapi sedetik kemudian mereka seperti biasa yang tidak kenal" jelas Arnold yang ingat malas itu.


Mata Arnold bulat sempurna. "GOCHA!" Teriak Arnold membuat mereka terkejut. "Gue pernah dengar samar-samar mereka waktu menunduk hormat bilang 'King'" jelas Arnold antusias.


"Gue udah duga" ucap Lorenz tersenyum miring.


"Lebih baik kita sekarang istirahat. Gue yakin Cavero nggak masuk sekolah tapi Malik sama David yang di maksud Nathan pasti masuk." sela Lorenz. "Karena percuma kita cari sekarang, kita tau sendiri siapa Black Blood." jelasnya lagi yang di angguki inti Dark Spider. Sedangkan Nathan sangat bingung dengan pembicaraan mereka karena dia bukanlah anggota kelompok mafia manapun atau pun geng motor manapun. Tapi mendengar dari pembicaraan mereka barusan, dia bisa menyimpulkan Black Blood jauh lebih berbahaya dari Red Diamond.


Hari ini sungguh menguras air mata, tenaga dan pikiran dan bahkan kesehataan jantungnya Nathan. Bukan hanya Nathan tapi semua keluarganya yang benar-benar terkejut mendengar dan melihat semua kejadian hari ini.


Belum hilang keterkejutan keluarga Xavier, mereka di buat terkejut lagi dengan kelompok mafia yang sangat di segani. Cukup bagi mereka untuk semua yang terjadi hari ini, mereka hanya berharap semoga besok lebih baik.


"Kita langsung ke rumah aja, istirahat disana." titah Nathan yang di angguki langsung oleh Lorenz.


...*****...


NEXT!


"Dad, Ririn kapan bangun?" Tanya Ayudia menatap anaknya sendu.


"Doain Ririn mom, supaya cepet bangun." Jawab Adelard. "Sekarang mommy mandi biar seger, itu baju mommy ada di paperbag. Daddy keluar dulu beliin sarapan untuk kita." Kata Adelard yang di angguki Ayudia.


"Ayo bangun sayang, sudah cukup tidurnya." Ucap Ayudia lirih.


Mereka sudah ikhlas dengan kenyataan bahwa di raga anaknya sekarang bukanlah jiwa milik anaknya. Sulit, sangat sulit untuk di percaya jika di dunia ini akan benar-benar ada yang namanya pertukaran jiwa. Tapi keluarga mereka sendiri yang mengalami hal seperti itu.

__ADS_1


Memang benar, orang akan mengerti dan percaya setelah orang itu mengalami suatu hal yang sebelumnya sangat mereka elakkan.


Berbeda dengan kondisi di rumah Xaviera. Keenam anak muda yang menginap disana sedang sarapan bersama Aira dan nenek Odi.


Aira dan nenek Odi tidak jauh berbeda dengan kondisi Ayudia yang bangun dengan mata sembab dan hidung merah.


Mereka sarapan dengan hening, hanya suara sendok dan piring yang saling bertautan.


"Oh ya Renz, apa kita perlu sekolah untuk tau Malik dan temannya yang Nathan maksud masuk sekolah?" Tanya Diki memecah keheningan.


"Nggak perlu. Itu sekolah punya keluarga dia." Lorenz menunjuk Nathan dengan dagunya.


"Tante sama nenek kekamar dulu mau siap-siap. Kalian lanjutin aja sarapannya ya." Pamit Aira kepada keenam pemuda pemudi itu.


"Mau kemana tan siap-siap?" Tanya Nathan kepada Aira. "Mau ke rumah sakit, sayang. Maaf ya tante tinggal kalian dulu" ujar Aira tak enak.


*****


Begitu pun dengan Delisha, Mahira dan Enzy yang terlihat tidak semangat. Mereka datang ke sekolah dengan mata sembab mereka. Dari sepulang sekolah sampai malam hari mereka bertiga tidak pernah melihat ponsel, karena mereka bertiga menghabiskan waktu mereka dengan nonton drakor di rumah Enzy. Sampai tengah malam baru mereka buka ponsel dan betapa terkejutnya mereka menonton video yang membuat grub sekolah rame.


FLASBACK ON


Ting..


Ting..


Ting..


Delisha yang baru saja mengaktifkan kembali ponselnya setelah nonton drakor mengernyitkan keningnya.


"Tumben ni grub rame" gumam Delisha dan membukanya karena penasaran.


Jari tangannya menekan video tersebut dan mulai menontonnya. Betapa terkejutnya dia sampai menjatuhkan ponselnya, membuat Mahira dan Enzy yang baru saja memejamkan matanya terkejut mendengar suara benda jatuh.


"Ririn" lirih Delisha meneteskan air matanya.


Mahira dan Enzy panik melihat Delisha yang menangis dan terus bergumam memanggil nama Ririn.


"Iya Ririn ada di rumahnya sudah tidur nyenyak. Dia sudah jarang punya waktu sama kita bertiga." Kesal Enzy. Sedangkan Mahira memilih diam dan membantu mendudukkan Delisha di kasur queen size milik Enzy.


Mendengar perkataan Enzy membuat Delisha seketika menghempaskan tangannya kasar dari tangan Enzy dan menatapnya tajam.


"Lihat hp lo!" Titahnya dingin dengan sorot mata tajam menatap Enzy.


"LIHAT HP LO!" Bentak Delisha dengan air mata yang mengalir. Enzy dan Mahira sangat terkejut dengan bentakannya.


Mereka berdua segera mengaktifkan ponselnya masing-masing dengan tangan bergetar karena takut dengan bentakan Delisha.


Beberapa saat kemudian Mahira dan Enzy lagi-lagi di buat terkejut dengan video yang membuat grub sekolah ramai.


"Ini bukan Ririn kan?" Tanya Mahira yang jelas-jelas tidak membutuhkan jawaban. Air bening lolos dari begitu saja melihat bagaimana sahabatnya di siksa, bagaimana sahabatnya menahan sakit, bagaimana sahabatnya mengeluarkan darah dari hidungnya.


Enzy terlihat mengotak-atik ponselnya dan mencoba telpon Ririn, tapi nihil yang menjawab adalah operator. Dia tidak menyerah, dia terus menelpon orang lain yang entah itu daddy dan mommy Ririn tapi sama tidak ada jawaban sama sekali.


"Kerumah Ririn sekarang ayo!" Titah Enzy kepada kedua sahabatnya itu. Delisha menggelengkan kepalanya, sedangkan Mahira hanya terisak.


Enzy semakin histeris, Delisha yang melihat itu memeluknya erat. "Gue nyesel nggak temenin dia ke toilet waktu itu." Ujar Enzy terisak.


Mahira yang mendengar penyesalan Enzy ikut memeluknya. Mereka bertiga menangis dalam pelukan mereka.

__ADS_1


...🌱...


Dukung aku dengan Vote Like Favorit dan komen..


__ADS_2