
Ririn berjalan perlahan-lahan menuju ke arah mommy dan abangnya dengan mata yang masih menatap neneknya itu.
"Mom, tu nenek-nenek siapa si? Gayanya masyaallah banget." Tanya Ririn.
"Bagus?"
"Alhamdulillah enggak." Jawab Ririn menggeleng cepat. Mereka kembali menahan tawanya yang mendengar perkataan Ririn.
Sabar jangan ngatain Rin, dosa! Tahan! Tahan! Rin yok bisa yok nggak ngatain! Ririn mengusap dadanya pelan untuk sabar.
"What are you whispering about?" (Sedang bisik-bisik apa kamu?) Tanya nenek Odi.
Ririn menatap ayah, ibu, tante dan abangnya kemudia tersenyum manis. "Yes!" Balas Ririn mengangkat jempolnya.
Nenek Odi kembali mengerutkan keningnya. "Why are you being stupid? Do you not understand what i am talking about?" (Kenapa kamu menjadi bodoh? Apakah kamu tidak mengerti dengan apa yang saya bicarakan?).
"Artinya apa bang?" Tanya Ririn kepada Nathan.
"Katanya 'kenapa kamu jadi bodoh dan nggak ngerti apa yang nenek ucapkan'" beritahu Nathan.
Ririn mengangguk paham. "Because my kepala after kejedot dengan somting, my kepala jadinya is jedag jedug. And i tidak can mengerti your bahasa, because your bahasa like alien, yang always is ngang ngong ngang ngong."
Adelard dan Nathan yang sedari tadi menampilkan muka datarnya. Kini mereka sudah tidak bisa lagi. Mereka sangat-sangat ingin ketawa mendengar jawaban yang di lontarkan Ririn.
"I don't understand what are you saying?" (Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan?).
"Katanya, 'aku tidak mengerti apa yang kamu katakan?'" Beritahu Ayudia.
"I am not peduli." Ucap Ririn. "Because itu your problem, tapi not my problem."
Ririn pun berjalan menuju kamarnya. Dia terus saja memukul-mukul kepalanya. Ini di ingatan si Ririn nggak ada bahasa inggrisnya apa ya? Atau emang dia juga nggak bisa? Tapi mana mungkin, aelah. Semoga aja tu nenek reot cepet pulang, pusing gue nggak bisa bahasa inggris. Nyesel gue tidur mulu dulu.
Dan yaa, rencana mereka untuk memarahi Ririn pun gagal karena ulah Ririn.
*****
Malam pun tiba. Seperti biasa kelaurga Xavier akan melakukan rutinitas makan malam bersama.
"Hei, nek ini is my sit here. You know?" Sentak Ririn kepada Nenek Odi yang sudah duduk di kursi tempat Ririn biasa jika makan.
"What are you saying?" (Apa yang kamu katakan?)
"Here is my sit. You pindah sana, because ini my sit from dulu." Ucap Ririn mencoba untuk menjelaskan.
Lagi dan lagi mereka yang ada di sana menahan tawa mendengar bahasa inggris Ririn yang mereka pun tidak mengerti artinya apa. Sedangkan Nenek Odi hanya menatap cucunya itu dengan tatapan bingung.
"Nathan, what did happen with your lil sister? Why is she being stupid now?" (Nathan, apa yang sudah terjadi dengan adikmu ini, kenapa dia jadi sangat bodoh sekarang?) Tanya nenek Odi kepada Nathan.
"I don't know, grandma." (Aku juga tidak tau, nek) balas Nathan.
"Sudah-sudah, Rin kamu duduk di dekat tantemu saja dulu. Jangan ribut, mari makan daddy sudah lapar ini." Cela Ade yang sudah tidak tahan melihat Ririn. Jika melihat Ririn rasanya ingin ketawa terus. Dia juga berpikir, sejak kapan Ririn menjadi bodoh dalam bahasa inggris. Bukankah dulu dia sangat dekat dengan neneknya?
*****
"Anak-anak kalian akan praktek bola kaki. Tapi kita akan bermain futsal saja karena tidak ada lapangan bola kaki disini." Kata pak Wawan. "Ayo anak-anak bentuk kelompok 5 orang sesuai gender."
Ririn bergabung dengan Enzy, Mahira, Delisha dan Citra.
"Duh gue nggak bisa main bola." Cetus Mahira.
"Tinggal tendang aja apa susahnya." Balas Enzy.
"Gue kiper deh. Males lari-lari." Kata Citra.
"Gue yakin lo bisa nahan tu bola. Gunain semua kemampuan lo." Ucap Ririn merangkul Citra.
Ririn dan ketiga temannya sudah berdiri di tengah lapangan. Dia sebenarnya tidak tau juga bermain bola tapi Ririn berpikur hanya modal tendang saja apa susahnya.
Ririn memang pinter, tapi dia sangat minim di bahasa inggris dan olahraga.
Prittt
Bola di tendang ke arah Delisha, dengan cepat Delisha berlari mengejar bola itu. Ririn tertawa di tempatnya, merasa lucu dengan teman-temannya yang merebut bola secara bersamaan.
__ADS_1
"Bwhahahha lucu kali lah kalian." Tawa Ririn melihat bola keluar lapangan. "Satu bola di rebut bertujuh bhahaha"
"MAIN YANG BENER DONG, RIN. KEJAR BOLANYA." Teriak Haiden di pinggir lapangan bersama yang lainnya. Entah sejak kapan mereka ada disana, apa mereka tidak belajar.
Dug
"Woy" teriak Ririn karena bola mengenai pantatnya. "Pelecehan namanya ini" ketus Ririn mengusap pantatnya.
"Lari dong, Rin" kesal Enzy.
"Eh iya ya." Kata Ririn melihat teman-temannya sudah sangat kesal dengan dirinya.
Ririn berlari mengejar bola. "Ya elah, ni bola manja banget minta di kejar-kejar. Nggak mau usaha sendiri apa" ketus Ririn sambil berlari.
"Woyy, Mahira bule ambil nih!" Ujar Ririn menendang bola ke arah Mahira.
Mahira kebingungan, karena dia tak tau maka dia asal menendang, bola menggelinding sangat jauh dari tiang gawang.
"Lo yang bener dong, ngopernya. Kan nggak jadi gol tuh." Cerocos Mahira.
Ririn melototkan matanya. "Malah nyalain gue lo. Ini juga salah lo, bego!"
"Jangan berantem, ayo main lagi." Lerai Pak Wawan.
Sedangkan Cavero dkk sudah ketawa ngakak sembari memegang perut mereka kecuali Cavero yang hanya tertawa lirih.
"Bwhahaha anjir si Ririn, mainnya gitu amat." Ketawa Malik.
Ririn berlari mengejar bola yang berada di kaki lawan, dengan cepat Ririn merebutnya. Ririn menggiring bola menuju depan dan menendangnya. Tapi tendangannya malah melenceng.
"Emang nggak ada bakat-bakatnya gue disini." Gerutu Ririn.
"Lemah lo ah, biasanya juga lo keren." Cetus Enzy.
"Gue juga manusia kali. Nggak sempurna" baals Ririn.
Tubuhnya sudah terasa gerah, ingin sekali kabur ke pinggir lapangan tapi tidak bisa. Mau tak mau, Ririn kembali mengejar bola. Kali ini Delisha membawa bola.
Dengan semangat Ririn menendang bola hingga masuk ke gawang lawan. Tapi dia tidak bisa menahan diri hingga Ririn hampir menabrak tiang gawang.
Brukk
Ririn tersangkut di jaring gawang membuat semua teman-temannya tertawa ngakak. Bahkan Cavero dkk saja sampai terbahak-bahak.
"Mommyyyy sakitt!" Pekik Ririn.
"Ririn kenapa?" Tanya Mira, penjaga gawang lawan yang polos.
"Nyangkut" kesal Ririn.
Mahira, Delisha dan Enzy berlari menghampiri Ririn. "Ya ampun, emang ada aja tingkah lo!" Kata Enzy sambil membanru Ririn berdiri. Kaki Ririn tersangkut di jaring gawang membuatnya seperti laba-laba yang ada di jaringnya.
"Niatnya mau keren, eh malah malu-maluin." Ketus Ririn.
"Bhahahaa Rin, lo mau cosplay jadi spider lo?" Tanya Kenzo yang sudah di lapangan bersama yang lain.
"Ada-ada aja tingkah lo, Rin. Heran gue" ucap David.
"Nggak bisa nge-rem!"
"Ada yang sakit?" Tanya Delisha.
"Sakit tu nggak, malunya yang nggak ngotak!" Jawba Ririn membuat Cavero dkk dan Mahira dkk kembali tertawa.
"Lagian lo ngapain larinya kenceng banget. Untung lo nyangkut di jaring, kalo nabrak tiang gimana, njirr. Bwhahaha" tanya Haiden yang tertawa seperti yang lain, sedangkan Cavero tertawa lirih tapi dalam hati tertawa lepas.
"Benjol!"
*****
"Rin, kita temenin nggak?" Tanya Mahira. "Nggak usah, biar gue sendiri aja" jawab Ririn.
"Mau kita-kita temenin nggak Rin? Tenang ada Cavero nanti yang ngomong." Tawar Kenzo cengengesan yang di balas gelengan oleh Ririn. "Gue sendiri aja"
__ADS_1
"Bapak panggil saya?" Tanya Ririn sopan.
"Ririn Ririn. Ckckck apa kamu nggak ada kapok-kapoknya buat masalah. Akhir-akhir ini saya seneng kamu tidak pernah masuk lagi ke ruangan saya tapi kenapa kamu berbuat ulah lagi?" Omel pak Didit.
"Saya nggak tau, pak" balas Ririn santai sembari menggigit kuku-kuku tangannya.
"Saya sudah seneng mendengar kamu yang berubah seperti akhir-akhir ini. Tapi kenapa kamu buat saya kecewa lagi dengan membuat Rima masuk rumah sakit." Ucap pak Didit.
"Dia menghina orang tua saya!" Jawab Ririn masih santai.
"Apakah kamu harus sampai membuatnya masuk rumah sakit?" Tanya pak Didit dengan menekan kata 'harus'.
Sedangkan Ririn yang melihat raut wajah pak Didit, bukannya takut malah terkekeh geli melihatnya. "Dia dan antek-anteknya mengatai saya jalangg juga. Jika dengan kata-kata mereka tidak mengerti, lalu apa salahnya saya memberi sedikit balasan untuk mereka?" Ucap Ririn santai tanpa takut.
"Kamu tidak takut dengan saya?" Tanya pak Didit heran, biasanya Ririn akan memohon-mohon padanya untuk tidak di hukum dam segera keluar dari ruangannya yang menurut semua murid sangat menyeramkan.
"Langsung saja pak, apa hukumannya? Saya cape mau ke kantin, haus" cetus Ririn.
"Kamu berdiri di lapangan hormat bendera sampai bel istirahat!"
"Oke pak. Tapi saya boleh ke kantin dulu nggak, pak? Haus saya" pinta Ririn.
"Nggak ada kantin kantin. Sekarang langsung ke lapangan. CEPAT!" Teriak pak Didit sembari menunjuk ke arah pintu.
"Gini ya, pak. Saya kan baru olahraga, cape pak. Haus juga, kalo saya nggak ke kantin buat beli minum bisa-bisa saya nanti pingsan pak. Gimana pak?" Tanya Ririn tersenyum manis.
*****
"Woyy Rin" panggil David.
"Kenapa?" Tanya Ririn to the point sembari meminum es teh milik Malik sampai sisa setengah kurang.
"MANG UDIN BAKSONYA SEPERTI BIASA SATU SAMA ES TEH SATU" Teriak Ririn tanpa memperdulikan sekitarnya yang sudah tutup telinga mendengar teriakan Ririn.
"Siap neng" sahut mang Udin.
"Nggak usah teriak-teriak juga, bangsatt!" Kesal Malik. "Males jalan gue, cape"
"Bukannya lo di panggil sama pak Didit, kok lo bisa lolos gitu aja tanpa di hukum?" Tanya Cavero penasaran.
"Di suruh hormat berdera sampe jam istirahat" jawab Ririn.
"Terus kenapa lo ada di sini?" Tanya Kenzo.
"Ini neng baksonya" ucap mang Udin. "Makasih mang, nanti di bayar Cavero ya mang" balas Ririn.
"Siap atu neng"
Cavero yang namanya di sebut melolot menatap Ririn. Apa tadi dia bilang, bayarin?
"Apa? Nggak ikhlas lo, sekali-kali teraktir gue" ketus Ririn. "Dih siapa lo?" Sewot Cavero.
"Sudah-sudah. Terus lo ngapain pesen bakso? Kan lo bilangnya cuma beli minum?" Tanya David. "Laper juga gue" jawab Ririn singkat.
"Anjing bisa gitu lo, nah lo gimana konsepnya tuh?" Heran Malik dengan kelakuan Ririn.
"RIRINNNNN!" Teriak pak Didit.
"ANJ- ASTAGFIRULLAH" Ririn terloncat kaget untung saja tidak keselek baksonya sendiri.
Ririn menoleh ke belakang arah pintu masuk. "Ehh bapak hehe" ucap Ririn cengengesan.
"Enak ya baksonya?" Sindir pak Didit. "Enak banget pak, bapak mau juga? Saya pesenin pak, tenang ada Cavero nanti yang bayar" cerocos Ririn tersenyum manis.
Mendengar penuturan Ririn membuat pak Didit naik pitam. "CEPAT HORMAT BERDERA SEKARANG! KALIAN BERLIMA JUGA! CEPATT!!" Bentak pak Didit membuat mereka berlima berlari terbirit-birit.
Pak Didit memijat pelipisnya melihat kelakuan Ririn dan Cavero dkk.
*****
Yuks gengs, jangan lupa komen and like. tembus 10 komen dan 100 like lanjut nanti sore update lagi.
Jangan lupa share juga yaw. alapyuu..
__ADS_1