RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL

RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL
PART 33


__ADS_3

Pagiku cerahku matahari bersinar


Ku gendong tas diskon ku di pundak


Selamat pagi semua ku nantikan dirimu


Di depan kelasku menantikan kami


Sekolahku tersayang sekolahku tercinta


Tanpamu apa jadiny..a a..


Dug


Ririn yang sedang jingkrak jingkrak nggak jelas di koridor sambil bernyanyi dengan suara cemprengnya, tiba-tiba menabrak tembok. Bukan, bukan tembok itu dada bidang seseorang yang keras seperti tembok.


"Aduhh kepala gue kejedot" ucapnya mengusap-usap keningnya.


"Siapa si ya-ng.. eh mas pacar" Ririn yang semula akan marah tidak jadi karena melihat siapa yang di tabraknya.


"Ngapain jingkrak jingkrak nggak jelas lo?" Tanya Malik ngegas.


"Nyanyi apaan lo tadi?" Kenzo.


"Mana suaranya jelek banget lagi" cerobos Haiden.


"Tumben semangat banget lo" ucao David yang sedari tadi diam saja.


"Iya dong, pagi-pagi kita harus semangat" ucap Ririn tersenyum manis.


"Ehh ngomong-ngomong nih ya bos, lo kan udah sold out nih, belum pernah lo kasih kita pj" cerobos Haiden si mata duitan. "Ho'oh bener itu bos" lanjut Kenzo.


"Tenang nanti istirahat Cavero traktir kita" ucap Ririn menaik turunkan alisnya.


YESS


YUHUU


MAKAN ENAK


"Gue nggak pacaran!" Bantah Cavero. "Nggak boleh gitu mas pacar, nanti dedek sakit hati loh dengernya" ucap Ririn dramatis.


Cavero baru saja akan membuka suara tapi di dahului Ririn. "Udah-udah nggak usah banyak cincong, mending kita masuk kelas masing-masing. Inget sebentar lagi kita ujian kenaikan kelas. Jangan bolos terus lo pada" omel Ririn seperti emak mereka.


Cavero dkk yang di omel seperti itu cengo mendengarnya.


Udah kaya nyokap gue aja ni orang. Batin Varen.


Busyett cosplay jadi emak-emak ni orang. Batin Haiden.


Si bangsat kenapa?. Batin Malik bertanya-banya.


Wahh pengertian banget sih bu bos. Batin Kenzo.


Cocok nih sama si kulkas berjalan. Batin Reyhan.


Lucu. Batin Cavero tersenyum tipis.


Sedangkan si David hanya tersenyum tanpa ngebatin.


Kenapa lo pada liatin gue gitu amat?" Tanya Ririn menatap mereka heran.


"Eekhmm.." Cavero berdehem menormalkan ekspresinya dan menyadarkan teman-temannya. "Cabut!" Titahnya kemudian melengos meninggalkan Ririn di ikuti yang lain.


Ririn yang di tinggalkan hanya mengendikkan bahunya acuh kemudian melanjutkan langkahnya menuju kelasnya.


Ririn bingung dengan orang-orang yang di lewatinya ada yang menatapnya sinis bahkan tidak sedikit murid yang terang-terangan mengatainya.


Dasar jalangg..


Ohh ini yang ngaku-ngaku pacarnya Cavero


Nggak cocok banget..


Masih banyak lagi desisan-desisan yang Ririn setiap dia melangkah. Tapi Ririn sama sekali tidak peduli akan hal itu. Selagi mereka nggak ganggu nggak papa. Batinnya.


"ASSALAMUALAIKUM YA AHLI NERAKA!" Teriak Ririn yang baru sampai di kelasnya mengagetkan teman-teman kelasnya.

__ADS_1


anjirr kaget..


Asuu..


Mak Dante janda..


Berisik bangsatt..


Dan masih banyak lagi jeritan kaget mereka.


"WAALAIKUMSALAM!" Balas mereka ketus.


"RIRINNNN!" Teriak ketiga temannya.


"Kalian kenapa?" Tanya Ririn dengan watados (wajah tanpa dosa). Namun, sedetik kemudian dia tertawa ngakak sambil memegangi perutnya melihat wajah kesal semua temannya.


"BERISIK ASUU!" Sentak Varel sang ketua kelas yang sedang menulis, entah menulis apa.


Ririn seketika berhenti ketawa, dia berjalan menuju mejanya kemudian duduk di samping Delisha.


"Ehh ada berita hot" ujar Enzy memberitahu ketiga temannya.


"Berita apaan?" Tanya Delisha singkat.


"Ehh Rin, lo beneran jadian sama Cavero?" Tanya Enzy kepada Ririn.


"Iya, kenapa?" Tanya Ririn balik. "Lo jadi berita hot anjirr, gue tadi pagi liat berita di lambe sekolah pada heboh bahas lo sama Cavero" jelas Enzy memberikan ponselnya kepada mereka bertiga.


"Ohh pantes banyak orang natap gue aneh dari tadi, ternyata ini toh penyebabnya" Ririn mangut-mangut melihat video yang di perlihatkan Enzy.


Video tersebut adalah video kejadian kemarin dimana Ririn memeluk Cavero di atas motor waktu akan mengantarnya pulang.


"Lo nggak marah liat komentar-komentar mereka?" Tanya Mahira. "Buat apa marah?" Tanya Ririn balik mendiami mereka bertiga.


Kring kring


Pembicaraan mereka terhenti mendengar bell tanda masuk berbunyi.


Sedari tadi guru menjelaskan, Ririn sama sekali tidak mendengarkan. Dia masih kepikiran tentang orang yang mengatainya jalangg lah murahan lah.


Sampai jam istirahat, Ririn sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Kantin yuk" ajak Mahira. "Ayok laper gue" jawab Enzy dibalas anggukan singkat Delisha, sedangkan Ririn hanya diam tidak menyahut.


"Kenapa?" Tanya Delisha yang melihat Ririn sedikit murung sedari pelajaran pertama.


"Rin?"


"Ririn?"


"RIRINN!" Teriak Enzy membuat Ririn terlonjat kaget. "Apaan si teriak-teriak" balas Ririn sedikit ngegas.


"Ya lagian lo ngapain bengong aja dari tadi" sewot Enzy. "Udah ayok kita ke kantin" lerai Mahira.


"Kalian aja, gue nggak laper" jawab Ririn.


"Nggak ada. Lo harus ikut!" Titah Delisha menarik tangan Ririn. Mau tak mau Ririn ikut ke kantin.


Sepanjang koridor menuju kantin, banyak murid yang menatap sinis ke arah Ririn. Bahkan tidak sedikit dari mereka terang-terangan mengata-ngatai Ririn yang bukan-bukan.


"Udah jangan di dengerin" ucap Delisha yang di sampingnya. Ririn hanya mengangguk diam sambil terus berjalan.


Sesampainya di kantin, mereka duduk di pojok. Sedangkan Delisha pergi memesan makanan untuk ketiga temannya.


"Duh selera makan gue ilang ngeliat jalangg disini" Ucap Rima dengan suara sedikit keras. Masih ingat dengan Rima? Kalo lupa bisa ulang baca yaw..


"Iya nggak sudi banget gue satu kantin bareng jalangg" lanjut Anggun.


"Maksud lo apa hah?" Bentak Enzy bangun dari duduknya. Enzy baru akan melangkah ke arah mereka tapi di tahan oleh Ririn. "Udah, nggak usah"


"Tap-"


"Udah Zy, duduk lagi" Enzy melihat ke arah Mahira dan Mahira mengangukkan kepalanya tanda 'turuti'.


Mau tak mau Enzy duduk kembali menahan emosinya.


"Makanan datangggg!" ucap Delisha yang membawa nampan di bantu ibu kantin.

__ADS_1


"Tadi kenapa?" tanya Delisha kepada Enzy.


"Biasa si Rima" Delisha hanya mengangguk paham.


"Hai bu bos" sapa Haiden dan duduk bergabung bersama mereka.


Orang yang di panggil hanya melirik sekilas kemudian melanjutkan makannya. Begitu pun dengan ketiga temannya yang tak menghiraukan keberadaan Cavero dkk.


"Sesuai perjanjian tadi pagi, kita akan di traktir pak bos" ucap Malik memecah keheningan di antara mereka bersepuluh.


"Gue udah kenyang, gue cabut duluan" ucap Ririn datar kemudian melenggang pergi keluar kantin tanpa menghiraukan teman-temannya yang memanggilnya.


"Udah biarin aja. Habiskan makanan kita dulu baru susul dia" Ucap Delisha. Memang hanya Delisha yang bisa bersikap dewasa di antara mereka berempat. Mahira dan Enzy hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Ada apa si?"


*****


NEXT!


"Kok gue merasa aneh ya dengan Ririn hari ini?" Tanya Kenzo kepada teman-temannya.


"Aneh gimana maksud lo?" Tanya David balik.


"Semenjak dari kantin, dia kaya datar gitu nggak kaya biasanya" jelas Kenzo. Sedangkan, teman-temannya memikirkan perkataan Kenzo.


"Cav, lo nggak bisa bohong ke kita-kita. Lo udah ada rasa kan sama Ririn?" Tebak Malik menatap Cavero melihat raut wajah temannya itu. "Nggak lah!" Bantahnya.


"Nggak! Ayo cabut!" Titah Cavero kemudian berdiri.


Malik mendengus kasar mendengar bantahan temannya. Sedangkan yang lain hanya menyimak percapakan keduanya, pun dengan Haiden yang biasanya selalu ikut nimbrung sekarang memilih diam.


"Gue duluan" ucap Cavero meninggalkan teman-temannya tanpa mendengar jawaban mereka.


"Gue cabut juga, ada urusan" ucap David.


*****


"Kalo suka bilang, jangan diem aja." Ucap David yang sekarang berada di apartemen Cavero.


"Nanti keburu di ambil orang. Menurut info yang gue dapet, Dion masih suka sama Ririn apalagi dengan perubahan Ririn semenjak kecelakaan. Dengan lo abai sama dia, itu akan membuat Dion makin gencar untuk coba deketin dia" nasihat David.


Cavero yang mendengar itu hanya diam tanpa menjawab sedikit pun.


Inilah seorang David, jika salah satu dari teman-temannya dalam masalah dialah yang paling bijak dan dewasa. Tapi ketahuilah kebijak-bijak dan sedewasa-dewasa nya orang tidak akan menyembuhkan lukanya sendiri. Percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya.


"Seperti yang di bilang Malik tadi, kita bukan orang yang baru kenal lo sehari dua hari Cav, tapi kita sudah kenal lama terlebih gue dan Malik" ucap David menjeda. "Jangan sampe lo nyesel" lanjutnya lalu masuk ke dalam dan tidur di kasur milik Cavero.


Ririn baru saja sampai rumahnya, tapi dia sangat terkejut melihat semua anggota keluarganya sedang kumpul di ruang keluarga. Lebih terkejut lagi melihat pakaian mereka yang sepertinya akan pergi.


Busyett ni nenek reot cerah bener. Batin Ririn menelisik penampilan neneknya yang yang memakai dress bawah lutut berwarna toska dan pink cerah.


Nggak inget umur!


"Kenapa kamu berdiri di depan pintu gitu?" Tanya Ade membuka suara. "Kok pada rapi-rapi bener, mau kemana?" Tanya Ririn balik.


"Kita mau ke Bandung, tante kamu yang di sana bilang kalo Opa kamu sakit" jelas Ayudia. "Aku juga mom?" Tanya Ririn.


"Nenek juga ikut?"


"Ikut dong, nggak liat penampilannya?" Jawab Aira terkekeh geli.


"Nggak bisa apa nenek pakaiannya lebih lembut gitu warnanya. Ini nenek cerahnya Masyaallah mana lipstiknya nyala banget lagi, apa nggak panas ya? Astagfirullah mata aku sakit liatnya" celoteh Ririn mengomentari style neneknya yang menurutnya lebay.


Sedangkan semua orang terkekeh mendengar komentar Ririn kecuali neneknya.


"Heh nek, you warna-warni sekali ya. Kaya ABG aja you, mana lipstik you red banget lagi. Nggak ada warna lain apa udah old juga banyak tingkah you" ucap Ririn dengan bahasa inggris yang nggak ada enak-enaknya.


"Terus bang Nathan nngak ikut?" Tanya Ririn beralih kepada Nathan.


"Ya sudah ayo Ririn anter sampe depan."


*****


Aku sudah up 3 part hari ini, mohon timbal baliknya ya gengs biar besok aku semangat up 3 part lagi.


Jangan lupa Vote Like Komen and Share..

__ADS_1


__ADS_2