
"Halo?" Sapa Cavero di sebrang telpon.
"Halo, mas pacar," balas Ririn. "Mas pacar bisa jemput gak? Ban motor gue kempes," pinta Ririn kepada Cavero.
"Hm.. maaf Rin. Gue udah janji mau jemput Renata, soalnya dia belum hafal jalan ke sekolah, dia kan baru di Jakarta," jawab Cavero.
Ririn menahan nafasnya mendengar nama Renata. Ini masih pagi, Rin. Tahan! Yok bisa yok. Batin Ririn emosi.
"Halo? Rin?"
"Ah oh iya gak papa kok, aku bisa pake ojol tenang aja," jawab Ririn. "Ya sudah kalo gitu aku pesan ojol dulu, papay." Ririn langsung mematikan sambungan telponnya tanpa mendengarkan balasan Cavero.
"Why are you still here yet to go to school? What time is it?" (Kenapa kamu masih di sini belum berangkat sekolah? Ini sudah jam berapa?) Tanya nenek Odi berkacak pinggang dengan membawa kantong gresek hitam berisi sampah. Dia berencana akan membuang sampah ke depan tapi melihat Ririn yang masih memainkan ponselnya membuatnya mengurungkan niatnya.
Ririn menoleh ke belakang dimana neneknya sedang mengomelinya. Ririn menepuk jidatnya frustasi karena tidak tau apa yang neneknya itu katakan. "Yes yes yes," jawab Ririn tidak semangat.
Ririn yang malas berlama-lama dengan neneknya itu, pergi ke garasi mencari apa yang bisa di gunakan untuk ia pergi ke sekolah. "Kalo gue pake mobil sudah pasti bakal telat dan kalo gue pake ojol juga pasti bakal telat, orang udah jam segini juga. Huft!" Gumam Ririn melihat mobil sport-nya yang terparkir rapi berwarna kuning cerah. "Pake mobil aja deh, lumayan uang jajan gue utuh," gumamnya lagi.
__ADS_1
"Hey! Why are you still standing here?!" (Hei! Kenapa kamu masih melamun di sini?!) Pekik nenek Odi geram melihat Ririn yang masih santai melihat mobil.
"Anjing!" Umpat Ririn refleks memegang dadanya karena kaget lalu berbalik melihat neneknya. "Ni nenek reot gak bisa apa gak ngagetin. Untung nenek gue," ujar Ririn memejamkan matanya.
"Yes nek yes," jawab Ririn. Hanya itu yang bisa Ririn katakan, karena Ririn sama sekali tidak paham sedikit pun apa yang di katakan neneknya itu. Ririn mengambil kunci mobilnya lalu masuk dan keluar dari garasi meninggalkan nenek Odi yang geleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan cucunya tersebut.
Drtt drtt
Ponsel Ririn berdering, awalnya Ririn abaikan karena fokus nyetir menyalib pengendara lainnya. Tapi melihat nama yang tertera di ponselnya membuatnya segera memakai earphone lalu menerima panggilan tersebut.
"Lo dimana? Capek gue nungguin lo di parkiran njing!" Ujar Arnold.
"Lah? Siapa yang nyuruh lo nungguin gue njing!" Balas Ririn sengit.
"Udah baik hati gue nungguin lo nyet!"
"Udah buruan, napa?"
__ADS_1
"Lo sama Cavero putus? Kok dia bisa berangkat bareng cewek lain?" Tanya Arnold.
Ririn memutar bola matanya jengah. "Udah nanti aja gue cerita, sebentar lagi gue sampe," jawab Ririn.
"Eh anjing gerbang udah di tutup," beritahu Arnold.
"Gue tau," balas Ririn lalu mematikan sambungan telpon tersebut.
Sedangkan di sekolah, Arnold mengumpat karena Ririn mematikan panggilan sepihak. "Kenapa gue bisa punya temen kaya dia," gumam Arnold masih melihat layar ponselnya. Posisinya masih menunggangi motornya di parkiran meski bel masuk sudah berbunyi dari tadi. "Sia-sia gue nungguin dia," gumamnya lagi lalu pergi meninggalkan parkiran dengan perasaan kesal.
...🌱...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan pren:)
TM!
Terima kasih buat semua yang selalu support aku. Alapyuu pulpul❤️
__ADS_1