
"Ayo kita jalan-jalan dulu," ajak Cavero.
"Terus motor?" Tanya Ririn menatap Cavero.
"Seperti biasa, titip kunci di satpam," jawab Cavero santai.
"Aduh mas pacar, nanti kalo mas pacar mau ngajak jalan-jalan sehabis sekolah gini mending paginya jemput gue sekolah biar gue gak bawa motor segala," cerocos Ririn.
"Ini juga baru ada rencana. Si Varel mau ke pantai sama Delisha begitu juga Reyhan sama pacarnya," jelas Cavero.
Ririn mendelik. "Berarti kalo mereka gak ke sana. Lo juga gak bakalan ngajakin gue ke sana?" Tanya Ririn memicingkan matanya menatap Cavero.
Cavero mengangguk membuat Ririn melototkan matanya. "Dasar gak romantis banget sih jadi cowok," cibir Ririn. Tapi tetap naik ke motor Cavero dengan sebal.
Cavero terkekeh melihat Ririn yang menyebikkan bibirnya lucu. "Maaf," cicit Cavero lalu melajukan motornya pelan. Dia memang bukanlah orang yang romantis yang bisa merangkai kata, tapi dia mempunyai caranya sendiri untuk melakukan hal itu.
"Cya terus nanyain kamu," celetuk Cavero.
Mendengar nama Cya di sebut membuat Ririn mendekatkan wajahnya kepada Cavero. "Cya kenapa?"
"Dia nanyain kamu terus," jawab Cavero sedikit meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Nanya apa?"
"Dia pengen ketemu sama kamu lagi," ujar Cavero yang di angguki Ririn. "Nanti deh kapan-kapan kita janjian di taman yang kemarin ya mas pacar," ujar Ririn dengan nada manja.
Cavero tersenyum di balik helm mendengarnya lalu mengangguk mengiyakan.
"Mas pacar tau gak?"
"Gak," potong Cavero cepat.
Ririn mendelik memukul pundak Cavero pelan. "Gue belum selesai ngomong ih," sebalnya. "Gue pernah ke taman sebelum ketemu Cya dan mas pacar, gue pernah ketemu sama anak indihome. Mas pacar tau anak indihome gak? Itu loh yang bisa lihat setan itu."
Di balik helm nya Cavero mendengus. "Indigo mba pacar," ralat Cavero.
"INDIGO!"
"Lah emang aku bilang apa tadi?"
"Indihome," jawab Cavero singkat.
"Oh salah ya?" Ririn mangut-mangut. "Iya intinya itulah. Terus dia bilang 'aku gak sendiri kok kak, aku sama temen aku. Temen aku hebat deh kak, matanya bisa di lepas pasang' gitu di bilang bocah itu," cerita Ririn menirukan kalimat Inaya.
__ADS_1
Cavero menahan tawanya, apa lagi melihat raut wajah ketakutan kekasihnya dari spion motornya. "Terus?"
"Terus nyokap nya dateng, gue tanya bener gak nya, anaknya itu bisa lihat setan. Eh ternyata oh ternyata emaknya juga bisa liat, malah emaknya bilang 'oh itu yang gelantungan di tangan kamu' gitu. Langsung dong gue teriak-teriak kaya orang gila pergi tinggalin mereka," sambung Ririn dengan sesekali mengusap keringat yang keluar dari pelipisnya karena mengingat waktu bertemu Inaya.
Cavero tertawa membayangkan bagaimana Ririn teriak-teriak di tempat umum, apa lagi melihat Ririn yang masih merasa takut saat menceritakan itu.
"Ish mas pacar kok ketawa sih?" Cetus Ririn mengerucutkan bibirnya kesal. "Itu cerita serem tau bukan komedi," sambungnya.
"Ya ya gak lagi kok," balas Cavero terkekeh.
"Tuh kan ketawa lagi," ujar Ririn melototkan matanya garang ke spion, karena dia tau Cavero melihatnya dari spion.
"Lucu aja ngebayangin kamu yang teriak-teriak."
"Eh betewe mas pacar, terus si Varen sama si Reyhan kemana? Kok gak bareng kita ya dari tadi?" Tanya Ririn melihat samping kiri kanan depan belakang tapi tidak menemukan tanda-tanda kedua temannya itu.
"Mereka udah ke sana duluan."
...🌱...
Musim sakit pren:(
__ADS_1
Dan aku kena juga, tapi bukan omicronn itu ya.
Update nya segini dulu pren:) Papay!