
"Nak Caveroo!" Panggil seorang pria paruh baya yang berlari menghampirinya bersama Nathan dan Ayudia, terlihat pula Aira yang dengan sabar menuntun nenek Odi di belakang mereka.
"Bagaimana keadaan Ririn?" Tanya Ayudia dengan suara bergetar, bahkan air matanya tidak berhenti untuk mengalir.
"Keadaannya baik om, cuma tulang hidungnya patah. Tapi sudah di tangani oleh dokter dan sekarang akan di pindahkan ke ruang rawat.
Ceklek
Terlihat suster baru saja keluar dari ruangan dimana Ririn di tangani.
"Sus, bagaimana dengan anak saya?" Tanya Ade lagi untuk memastikan keadaan anaknya.
"Keadaan pasien tidak terlalu parah, tulang hidungnya patah membuat darah keluar dari hidungnya. Selebihnya tidak ada masalah pak" jelas suster tersebut.
"Apa kita boleh lihat keadaannya, sus?" Tanya Nathan.
"Boleh mas, tapi nanti. Kita akan pindahkan dulu ke ruang rawat"
"VVIP" ujar Ade singkat. "Pindahkan anak saya ke ruang VVIP"
"Baik pak, silahkan bapak urus biaya administrasi terlebih dahulu" ujar suster tersebut yang di angguki Ade.
"Kalo begitu saya permisi dulu, mari" pamit suster tersebut.
"Kalian berdua lebih baik pulang dulu. Baju kalian juga ada noda darahnya" ujar Cavero kepada Monika dan Jessica.
"Em-eh iya"
"Kalo gitu, kami berdua pamit dulu om tante" pamit Monika dan Jessica.
"Tunggu!" Cegah Ade yang membuat langkah mereka terhenti.
Mereka berbalik menghadap Ade dengan bahu bergetar.
"Terima kasih" ucap Ade tersenyum manis, Monika dan Jessica hanya menganggukkan kepala. "Kalian pulang di antar sopir aja, kalian pasti lelah"
Melihat dari baju dan keadaan kedua gadis di hadapannya sekarang ini, Ade yakin bahwa mereka yang sudah menolong anaknya.
"Tidak perlu om, saya bawa mobil sendiri kok" tolak Monika sedangkan Jessica hanya terdiam.
"Iya sudah kalian hati-hati"
"Iya om, permisi"
Cavero yang melihat mereka berdua berjalan pelan segera menelpon seseorang.
"Ikuti dua gadis yang baru saja keluar dari sini. Bila perlu antar mereka, pastikan keduanya baik-baik saja sampai tujuan" ujar Cavero kepada seseorang yang ada di sebrang telpon.
Setelah mengatakan itu, Cavero memutuskan telponnya dan duduk di kursi tunggu yang telah di sediakan.
"Daddy pergi dulu mau urus administrasinya" Ade pergi meninggalkan mereka yang masih bersedih.
*****
Di ruang rawat inap VVIP terlihat ramai orang yang sedang menatap orang yang sedang tidur nyenyak dengan luka lebam memenuhi wajahnya. Mereka adalah Adelard, Ayudia, Aira, nenek Odi, Nathan dan Cavero.
Ayudia duduk di samping brangkar menggenggam tangan anaknya. Dia menatap wajah Ririn sendu, hatinya sangat sakit melihat banyak luka lebam pada wajah anaknya.
"Bangun nak. Ini mommy" ujar Ayudia lirih.
Ini adalah kedua kalinya anaknya masuk rumah sakit dengan cara yang mengenaskan. Seorang ibu mana yang tidak ikut sakit melihat anaknya sakit seperti keadaan Ririn sekarang ini. Jangankan sakit berat, anak sakit ringan saja, seperti demam seorang ibu sudah khawatir.
Hari sudah sore, tapi Ririn belum sadar. Selang beberapa kemudian pintu di buka oleh seorang pemuda dengan raut wajah khawatir bersama beberapa pemuda dan satu gadis dengan jaket yang sama masuk.
Ceklek
Seorang pemuda langsung berjalan cepat menuju Ririn dan memeluknya. Ayudia yang melihat itu bingung tapi tetap untuk melepaskan genggaman tangannya dan mundur.
Tidak ada yang tidak bingung dengan kehadiran lima pemuda dan satu gadis tersebut. Terlebih Cavero yang sudah mengepalkan tangannya melihat salah satu pemuda tersebut memeluk Ririn.
"Bangun sayang, abang sudah ada di sini" bisik seorang pemuda yang tengah memeluk tubuh pucah Ririn.
"Kalian siapa?" Tanya Aira yang sudah sangat penasaran.
Mendengar ada yang bertanya, pemuda tersebuy melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah mereka.
__ADS_1
"Lohh Lorenz?" Terkejut Nathan yang melihat orang tersebut.
Yaps, pemuda yang baru saja masuk dan langsung memeluk Ririn adalah Lorenz dan inti Dark Spider.
Lorenz yang di panggil tersenyum, namun tidak lama lelehan air mata yang tiba-tiba kembali keluar. Melihat adiknya yang raganya mungkin sudah tinggal tulang saja di dalam tanah tapi jiwanya masih ada di raga orang lain dan raganya yang sekarang penuh dengan luka lebam di wajahnya membuatnya merasa tidak berguna menjadi abangnya.
"Eeugh" lengkuh Ririn setelah beberapa saat.
Mendengar suara lengkuhan dari Ririn membuat semua orang memusatkan pandangannya kepada Ririn. Mereka melupakan sejenak rasa penasaran mereka terhadap Lorenz dan inti Dark Spider.
"A-air" lirihnya.
Lorenz yang kebetulan mendengar dan berada di sampingnya segera memberikan air kepada adiknya sedang sedotan.
"Udah bang" ucap Ririn. Lorenz langsung menaruh gelas tersebut di nakas samping brangkar.
"Sayang ada yang sakit?" Tanya Ayudia lirih. "Kepala Ririn sakit, mom" jawab Ririn menatap mommynya dengan pandangan teduh.
"Mana yang sakit? Sebentar tante panggilkan dokter dulu" serocos Aira cepat.
Grepp
"Terima kasih sudah bertahan lagi. Abang nggak bisa bayangin kalo kamu tinggalin abang lagi" ujar Lorenz memeluk Ririn.
"Bang nggak bisa nafas" ujar Ririn sesak. "Eh maaf-maaf, abang kelepasan" jawab Lorenz cengir.
Semua terdiam dalam kebingungan melihat Interaksi antara Lorenz dan Ririn yang terlihat sangat akrab bahkan terlihat seperti orang yang sudah lama kenal.
Ceklek
Pintu ruangan dibuka seorang paruh baya yang menggunakan jas putih di ikuti oleh dua orang perempuan berseragam biru di belakangnya.
"Maaf menggangu, saya periksa dulu" ucap dokter tersebut sopan.
"Silahkan dok" jawab Ayudia cepat.
Dokter dan kedua perawat tersebut melangkah mendekati Ririn dan mulai memeriksanya.
Setelah di periksa, dokter beralih menghadap Ade dan yang lainnya. "Keadaan pasien sudah mulai stabil. Tapi perlu di rawat beberapa hari disini dulu. Dan selalu olesin salep yang saya berikan waktu itu untuk luka lebamnya supaya cepat sembuh dan memudar." Jelas dokter tersebut.
Semua bernafas lega. "Terima kasih dok" ucap Ade tersenyum.
"Kalau begitu kami permisi dulu, pak/bu" pamit dokter dan perawat tersebut, mereka yang ada di ruangan tersebut hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kamu kenal Lorenz, dek?" Tanya Nathan penasaran setelah dokter dan kedua perawat itu benar-benar pergi. Jujur dia sedikit cemburu melihat interaksi Lorenz dengan adiknya.
Ririn menoleh kepada Nathan. "Abang kenal?" Tanya Ririn bukan menjawabnya. Nathan mengangguk singkat. "Dia teman SMA abang dulu di Bandung dan sekarang rekan bisnis abang juga" jawab Nathan.
"Rekan bisnis?" Beo Ade.
"Iya dad. Dia anak dari om Bayu rekan kerja daddy dari Bandung" jelas Nathan.
"Bayu?" Pikir Ade. Sedetik kemudian, dia terkejut. "Orenz?" Tanya Ade menunjuk Lorenz dengan mata berkaca-kaca. Lorenz mengangguk singkat sebagai jawaban.
Grepp
"Maafin om yang nggak dateng waktu pemakaman Ayah dan Bunda kamu dulu" ucap Ade memeluk Lorenz. Dia terkejut karena ternyata pemuda di depannya sekarang ini adalah anak dari sahabat baiknya dulu dan Adw tidak bisa hadir di pemakanan sahabatnya itu karena perusahaannya yang disini waktu itu sedang bermasalah.
"Tidak apa-apa om" jawab Lorenz.
Ririn menangis melihat interaksi dari daddy dan abangnya itu.
"Sayang ada yang sakit? Kenapa nangis? Kasih tau mommy, mana yang sakit nak?" Tanya Ayudia beruntun membuat semua orang menoleh ke arah Ririn.
"Ririn nggak papa mom" jawab Ririn menghapus jejak air matanya.
Cavero hanya berdiri di belakang mereka menahan diri untuk tidak menonjok Lorenz yang berani-baraninya memeluk kekasihnya itu.
"Sekarang jelasin, bagaimana kamu bisa kenal dengan Lorenz dan ini bukannya Dark Spider?" Tanya Nathan yang baru menyadari kelima orang di belakang Lorenz adalah Dark Spider karena baru melihat jaket mereka.
Ririn yang mendengar pertanyaan Nathan seketika gugup dan menoleh kearah Lorenz. Lorenz yang di tatap menganggukkan kepalanya begitu pun dengan Dark Spider.
"Emm sebenarnya.."
...*****...
__ADS_1
NEXT!
"Emm sebenarnya.."
"Sebenarnya.."
"Sebenarnya apa RIN!" Geram Cavero dengan Ririn yang hanya bicara 'sebenarnya' tanpa melanjutkan. Dia akhirnya membuka suara setelah Ririn sadar membuat atensi semua orang menoleh kearahnya.
"Sebenarnya aku bukan Ririn putri kalian." Ucap Ririn meremas selimut yang dipakainya.
Deg
"Apa maksud dari semua ini?" Tanya Ade. Sungguh dia tidak percaya dengan cerita putrinya barusan.
"Raga ini memang milik Ririn putri kalian, tapi jiwa yanh menpati tubuh ini adlaah aku Aqila. Raga dan jiwaku tertukar saat aku dan Ririn kecelakaan di waktu yang sama." Jelas Ririn mulai terisak.
"Mungkin kalian yang mendengar ini akan menganggap aku gila. Tapi inilah rahasia yang sebenarnya aku tutupi selama ini" jelas Ririn lagi.
"Ragaku ini memang milik Ririn putri daddy dan mommy. Tapi, jiwaku milik seorang Aqila Zara Maureen putri dari Ayah Bayu dan Bunda Naya." Ucap Ririn.
"Hiks maafin Ririn dad mom" tangis Ririn pecah melihat keluarganya termasuk Cavero juga yang terdiam.
"Abang, Qila takut hiks" Lorenz yang mendengar perkataan adiknya segera memeluknya. "Jangan takut ada abang disini" ucap Lorenz mencium rambut adiknya.
"Jika kamu adalah Aqila, lalu dimana adikku Ririn?" Tanya Nathan dingin dengan mata yang sudah merah menahan air matanya membuat Ririn terdiam menegang.
"JAWAB DIMANA RIRIN SEKARANG!" Sentak Nathan tiba-tiba membuat semua orang kaget.
Ririn menatap wajah mommynya yang berada di sampingnya dengan penuh luka dan kesedihan mendalam. Membuat Ayudia hancur berkeping-keping.
"Ririn.." suara lirihan keluar dari bibir milik Ririn ketika matanya melihat jiwa Ririn yang asli tengah berdiri memeluk sebelah tangan Ayudia tengah melihatnya dengan tersenyum manis.
"Biar aku yang mengatakan semuanya." Lirihan suara dari jiwa Ririn asli membuatnya terdiam hanya menatap kearahnya.
"Mommy.. Ri-rin.." tunjuk Ririn kearah tangan sebelah kiri mommynya yang tengah di peluk oleh Ririn yang asli.
Ia mencium sebelah kiri pipi Ayudia. "I love you mommy" lirih suara Ririn terdengar di telinga Ayudia membuat wanita paruh baya itu tertegun dengan hati berdenyut sakit dan menangis terisak kembali.
"Lethicia" gumam Ayudia ketika merasakan pelukan hangat di tangan dan pipi sebelah kirinya.
"Mommy" panggil Ririn menyadarkannya. Ayudia menatap kearah Ririn yang tengah tersenyum manis merentangkan tangannya. Yaps, saat ini jiwa yang memasuki raga Ririn adalah Ririn yang aslu sedangkan jiwa Aqila memasuki sebuah ruang terdalam dengan kegelapan menyelimuti.
"Do you wanna hug me, mom dad?" Tanya Ririn dengan mata berbinar dan mengerjap lucu membuat Adelard tersenyum haru. Kata itu adalah yang sering putrinya katakan ketika ia merasa sedih atau lelah ketika seharian bekerja. Kata yang baru kalii ini ia dengar lagi setelah sekian lama.
"Putriku" lirih Adelard berhambur memeluk Ririn dengan bahu bergetar menahan isak tangis.
"Daddy jangan nangis. Ririn nggak suka" ucapnya dengan mata yang berairnya.
"Mommy" panggil Ririn menjulurkan sebelah lengannya kepada Ayudia, membuat Ayudia langsung berhambur memeluknya.
"Maafin Ririn ya. Ririn udah jadi anak yang nakal, selalu buat mommy sama daddy khawatir." Ucap Ririn dalam pelukan mereka. "Maafin Ririn juga karena selama ini selalu nyusahin mommy sama daddy, meskipun Ririn tau mommy sama daddy jarang di rumah karena kerja buat Ririn sama abang" lanjutnya lagi dengan air mata yang terus mengalir membuat suasana di dalam ruangan tersebut penuh haru bahkan nenek Odi yang tidak mengerti sampai mengeluarkan air matanya dan Cavero yang memalingkan mukanya.
"Mommy terima kasih dan maafin Ririn ya untuk semuanya, sekarang Ririn udah bahagia tapi juga sedih karena harus ninggalin kalian semua."
"Kamu bicara apa Rin? Jangan bicara seperti itu!" Ayudia melepas pelukannya dan menatap nyalang anaknya itu.
"Sebenarnya Ririn sudah pergi jauh. Jaaauuuhh banget pada saat Ririn jatuh koma karena kecelakaan waktu itu." Ucap Ririn tersenyum pedih menatap sendu kedua orang tuanya. "Ririn udah pergi jauh sebelum jiwa Aqila memasuki raga milik Ririn." Ririn mendongak menatap langit-langit ruangannya agar air matanya tidak jatuh kembali, namun gagal lagi-lagi air bening itu terjatuh juga.
"Bukan hanya Ririn yang jadi korban pada waktu itu, tetapi seorang gadis yang tidak lain adalah Aqila yang menyelamatkan seorang anak kecil." Jelas Ririn membuat semua orang terkejut dengan fakta yang baru saja di dengar oleh telinga mereka.
"Mak-sud lo? Bu-kannya yang nabrak Aqila sebuah truk? Lo nggak mungkinkan mengebdarai truk?" Tanya Lorenz beruntun tak percaya.
Ririn menggeleng dengan terisak.
"Semua ini salahku. Seandainya aku fokus dan bisa menghindar semua ini tidak akan terjadi." Raung Ririn merasa bersalah mengeratkan pelukannya kepada Lorenz.
Semua yang mendengar cerita dari Ririn terisak pelan. Cavero yang selalu terlihat dingin dan datar kini ikut menangis melihat dan mendengar semua kebenarannya dari Ririn.
"Aku bersumpah dan meminta pada Tuhan untuk menyelamatkan nyawa Aqila, gadis yang tidak bersalah karena akibat dari kecerobohanku. Aku rela menukarkan nyawaku demi Aqila tetap hidup di dunia." Ririn tersenyum melepaskan pelukan Lorenz.
"Dia sudah berbuat banyak untukku di waktu yang sekarang ini" jeda Ririn menatap kedua orang tuanya. "Mommy, daddy Ririn mohon tetap sayangi Ririn meski jiwa Ririn sudah pergi dan tergantikan oleh Aqila." Ririn menggenggam tangan Adelard dan Ayudia.
...🌱...
Komentar di setiap paragraf, tandai typo biar nanti aku revisi langsung..
__ADS_1
Jangan lupa Vote, Like, Komen dan Hadiahnya biar nanti aku lanjut part berikutnya wkwk..
Terima kasih dan alapyuu gengs...