
"Sayanggg kamu dimana?" Teriak Ade yang baru sampai rumah langsung mencari putrinya.
"Dekk kamu dimana? Abang pulang nihh," teriak Nathan.
Teriakan mereka berdua menggema di seluruh penjuru masion. "Heiii jangan teriak-teriak kalian berdua!" Ujar Ayudia garang dari anak tangga.
"Mommy juga teriak!" Sarkas Nathan membuat Ayudia mendengus.
"Ada apa?" Tanya Ririn yang tiba-tiba muncul di anak tangga pertama.
"Turun sini, abang bawain kamu hadiah," ujar Nathan.
Hadiah? Batin Ririn bertanya-tanya tapi tak urung membuatnya turun.
"Nih!" Nathan memberikan paperbag dengan merk brand terkenal dan mahal.
"Apaan nih?" Tanya Ririn menerima paperbag tersebut. "Buka aja," ujar Nathan.
Anjirr tas ginian buat apaan gue? Batin Ririn setelah melihat hadiahnya dari sang kakak.
"Gimana? Suka?" Tanya Nathan. "Jujur nggak bang. Buat apaan nih?" Tanya Ririn bingung.
Sungguh dia tidak mengerti dengan tas apalagi dunia per-brand-an. Dia lebih suka dengan gaya simple, jikapun ingin bepergian pasti dia akan membawa tas ransek bukan slingbag seperti yang di bawakan Nathan untuknya.
Nathan tersenyum masam mendengar penuturan adiknya, dia lupa bahwa sekarang Ririn bukan seperti adiknya yang dulu yang suka dengan barang-barang branded.
"Bhahahaa kaya daddy dong," Adelard tertawa melihat wajah masam putra sulungnya tersebut. "Minggir!"
"Nih buat princessnya daddy," ujar Ade memberikan bingkisan yang sama dengan Nathan dari brand ternama hanya saja beda merk.
"Ini apaan lagi?" Tanya Ririn menerima paperbag tersebut. "Ini ada apa sih? Kenapa kalian mendadak kasih hadiah-hadiah segala sama Ririn?" Tanya Ririn menatap Ade dan Nathan secara bergantian.
"Suka nggak?" Tanya Ade balik tanpa menjawab pertanyaan anaknya, sedangkan Nathan sudah duduk lesu di sofa.
"Aduhh gimana ya? Aku nggak suka barang-barang kaya gini dad bang," terang Ririn hati-hati karena takut membuat mereka kecewa meskipun sebenarnya sudah kecewa.
Ade memberikan tas dari brand ternama dengan ciri khas selalu menggunakan bahan dari kulit hewan asli dengan harga di atas satu milyar lebih. Meski dari brand dengan harga segila itu, tidak membuat Ririn suka dengan pemberiannya.
Sepertinya Ade dan Nathan benar-benar lupa dengan siapa Ririn yang sekarang.
"Ini dalam rangka apa sih? Kok kompak banget ngasih hadiah?" Tanya Ririn lagi karena tidak mendapatkan jawaban sedari tadi.
"Dalam rangka kamu tiga besar," jawab Ade lesu.
Ririn terperangah mendengarnya, sepertinya dia juga lupa dengan keluarganya yang sekarang sedikit-sedikit kasih hadiah.
Anjirr bener-bener ni keluarga. Batin Ririn menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
"Terus kamu mau apa dari abang, dek?" Tanya Nathan menatap Ririn menunggu jawaban adiknya tersebut.
Hm.. apa ya? Gue minta mobil sport dikasih nggak ya? Batin Ririn berpikir.
Matre banget dah gue tapi no ploblem lah ya, kan keluarga gue kaya. Batin Ririn kegirangan.
"Mobil sport!" Ujar Ririn semangat tanpa malu-malu. Mau di bilang matre urusan belakang.
"Oke!" Balas Nathan cepat.
"Ehh nggak nggak! Biar daddy yang beliin!" Titah Ade tak terbantahkan.
"Nathan aja!" Balas Nathan menatap sinis daddynya.
__ADS_1
"Daddy!"
"Nathan!"
"Daddy aja, nak."
"Nathan aja, dad."
Mereka terus ribut, sedangkan Ririn dan Ayudia hanya menonton sambil memakan cemilan yang ada di toples ruang keluarga.
"Uang Nathan di tabung aja," rayu Ade.
"Uang Nathan banyak! Uang daddy aja yang di tabung buat jaminan masa tua nanti sama mommy," ujar Nathan.
"Uang daddy lebih banyak dari Nathan!" Tegas Ade melototkan matanya menatap anaknya yang tidak ingin mengalah.
Ririn yang jengah mendengarnya pun berdiri. "STOP!" Teriak Ririn melerai mereka. "Daddy beliin apart aja dan abang beliin mobil sport, gimana?" Tanya Ririn menaik turunkan alisnya.
"Oke!" Balas anak dan ayah tersebut barengan.
Sedangkan Ririn sangat kegirangan. Yess gue punya apartemen sekaligus mobil sport. Batin Ririn kegirangan.
"Ada apa nih ribut-ribut?" Tanya Lorenz tiba-tiba masuk dengan inti Dark Spider.
Ririn yang melihat itu tiba-tiba raut wajahnya berubah masam.
"Gue harus kabur nih," gumam Ririn melihat abangnya.
Ririn yang baru akan mengambil ancang-ancang pun di urungkan karena suara Lorenz. "Mau kabur, hm?" Tanya Lorenz menatap Ririn dingin.
"Hehe ng-gak si-apa yang kabur," elak Ririn menggelengkan kepalanya cepat.
"Ya namanya juga manusia bang, kadang di atas kadang di bawah," jawab Ririn santai. Bukan, tapi berusaha santai.
"Terus tadi apa minta-minta mobil sport sama apartemen segala?" Tanya Lorenz lagi menatap Ririn garang.
"Itu.. itu.. hm apa ya?" Ririn berpikir jawaban apa yang pas.
"Hadiah dari gue dan bokap," jawab Nathan santai membuat Ririn menegang mendengarnya.
"Hadiah apaan?" Tanya Lorenz penasaran.
"Hadiah karena Ririn masuk tiga besar umum," beritahu Ayudia membuat Lorenz dan inti Dark Spider tercengang mendengarnya.
"ANJ- ASTAGFIRULLAH!" Reflek Lorenz.
"Serius Rin?" Tanya Leo menatap Ririn.
"Tante butuh anak lagi nggak? Aku siap kok tant," seru Diki.
"Serius lo Rin dikasih apartemen?" Tanya Arnold.
Sedangkan Derren hanya tersenyum tipis. Dia tidak heran mengingat keluarga Xaviera sangat terkenal di kalangan bisnis.
Anjirr serius? Batin Jessy bertanya-tanya.
"Keren kan gue?" Ririn menaik turunkan alisnya sombong menatap satu persatu sahabatnya tersebut.
"Sudah-sudah," lerai Ayudia. "Lebih baik kita makan malam sekarang."
Ayudia berjalan diikuti Ririn, Ade, dan Nathan mendahului mereka yang masih berperang dengan logika mereka sendiri. Lorenz yang tersadar langsung berjalan menuju ruang makan diikuti inti Dark Spider.
__ADS_1
Yang tanya kemana Aira dan nenek Odi? Mereka sudah kembali ke Canada dua hari yang lalu karena ada problem di butik milik Aira.
*****
Libur selama dua minggu membuat Ririn sangat bosan karena hanya berdiam diri di rumahnya. Meski sesekali dia akan pergi ke markas Dark Spider yang ada di Jakarta.
"Anjir bosan banget gue. Apa yang harus gue lakuin yah?" Gumam Ririn uring-uringan di kasurnya.
Ting!
...Cavero...
Sayang jalan yuk
^^^Ayok^^^
Ririn membalas pesan tersebut cepat tanpa berpikir. Karena dia sudah sangat bosan di rumah.
Ting!
Sekarang gue jemput!
Read
"Apa perlu gue mandi lagi? Tapi kan baru juga dua jam yang lalu gue mandi. Udahlah ngapain mandi lagi kalo masih wangi gini," final Ririn ganti baju bersiap-siap.
*****
Tok tok tok
"Rin, di bawah ada Cavero," beritahu Ayudia di balik pintu.
"Iya mom sebentar!" Ujar Ririn sedikit teriak.
Tidak lama kemudian, Ririn keluar menuruni tangga dan dapat dia lihat Cavero dengan santainya makan cemilan yang ada di meja.
"Jalan sekarang?" Tanya Ririn langsung. Cavero hanya mengangguk dan langsung berdiri.
"Mommy.. Ririn pergi dulu sama Cavero," pamit Ririn kepada Ayudia yang sedang bikin pancake di dapur.
"Iya sayang, pulangnya jangan malam-malam," ujar Ayudia dan beralih menatap Cavero. "Jangan anak tante ya Cav."
"Pasti tan."
Setelah berada di atas motor, Cavero dan Ririn pun langsung melajukan motornya meninggalkan mansion milik keluarga Xaviera.
*****
Ririn dan Cavero berhenti di salah satu taman kota, mereka duduk dengan pandangan danau sambil meminum es teh yang tadi Cavero beli karena permintaan Ririn.
Mereka habiskan waktu berdua dengan saling cerita satu sama lain sampai mereka tidak sadar hari sudah sore.
"Pulang yuk udah sore," ujar Ririn kepada Cavero. Ririn pun hendak bangkit dari kursi taman namun sebelah tangannya di tahan oleh Cavero.
"Pulang ke rumah gue dulu, mau?" Tawar Cavero sambil menahan tangan Ririn.
*****
Jangan lupa dukung aku dengan vote, like, komen dan favoritkan..
Yang mau moment uwwu-uwwu an segera vote yaw biar bisa hari ini next part..
__ADS_1