
"ASSALAMUALAIKUM!!" Seru seluruh kelas XI IPA-6 di ambang pintu kantin.
Tidak ada yang santai, semuanya ngegas. Membuat makhluk-makhluk yang berada di dalam kantin pun terpental kaget. Bukan lagi terlonjak tapu terpental saking dahsyatnya seruan mereka.
Yaps, setelah melaksanakan hukuman, ralat nyantai di lapangan. Mereka semua berbindong-bondong menuju kantin di pimpin sang ketua kelas si Varel. Kalau pada dasarnya kekurangan akhlak, entah dimana, kapan dan mengapa itu tetap jail.
"MANG UJANGGG BAKSO 30 ES TEH 30 VAREL YANG BAYARIN," teriak Ririn sambil membantu teman-temannya menggabungkan tiga meja menjadi satu mereka duduk melingkar.
"SETUJU!!" Seru semua penghuni kelas XI IPA 6.
"Heh lo semua apa-apaan anying. Kagak ada kagak ada lagi bokek gue njirr. Lo aja Rin kan bokap lo sultan," sewot Varel.
"Setau Dina ayahnya Ririn namanya Ade?" Tanya Dina polos.
"Nah sip benar sekali Dina sayangkuuu muah muah lopyuu," ujar Ririn lebay.
Varel berdecak. "Ck! Lo diem aja Dinaa," geram Varel.
"Ekhem," dehem Bagas, pacar Dina.
"Nah lo pawangnya ngamok noh," ledek Enzy.
"Hayoo rel," kompor Mahira.
"Engh.. gak Gas bercanda sumpaj," ujar Varel takut ke Bagas sambil melototin Enzy dan Mahira membuat tawa teman kelasnya itu kembali pecah.
Njir rukun banget kelas mereka oyy.
Makk gue irii.
Semenjak si Ririn berubah suasana kelas mereka juga jadi makin kompak gitu.
Gue nyelip boleh gak si huaaaa.
Rin bawa gue ke kelas lo.
Dan masih banyak lagi pekikan-pekikan penghuni kantin melihat kekompakan mereka.
"PESANAN DATANG PESANAN DATANGG," heboh mang Ujang yang membawa nampan berisi beberapa mangkok bakso di bantu oleh siswa-siswi yang lain.
"OMG! GERRR apalagi gratisan huhuy, Nikmatt," seru Mahira.
"Hiih nikmattt," timpal Delisha.
"Bener banget. Makasi Varel ganteng," timpal Enzy juga.
"Ye lo bertiga kalo gratisan mah paling cepet lo," sewot Andi, teman sekelas mereka.
"Kaya lu gak aja," balas Enzy.
"Kalau gue wajar. Gue cuma anak pencari minyak bumi," ujar Andi dengan wajah tanpa dosanya.
"Bangsat! Bapak lo yang punya tambang minyaknya anjirr!" Ujar Varel ngegas. Masih belum terima isi dompetnya terkuras buat bayar kosan.
__ADS_1
"Anjing berisik! Tinggal makan aja susah bener lo pada," cetus Ririn yang udah kehilangan kesabaran ikut ngegas sambil menuangkan saos ke baksonya.
Semua temannya yang tadinya ribut langsung kicep dan memakan bakso mereka masing-masing.
Varel memakan baksonya dengan perasaan gak karuan, uang buat bayar kosnya baakl berkurang.
Saat Varel sedang memakan baksonya tiba-tiba ada tangan dari bawah meja yang memberinya beberapa lembar uang seratus ribu.
Varel terkejut melihat uang yang sudah berada di tangannya. Ia menatap orang yang punya tangan tersebut.
"Sstt.." Ririn menaruh telunjuknya tepat di bibir manisnya memberi kode untuk Varel agar diam kemudian mengangguk. Ririn tau Varel adalah anak kos yang bekerja paruh waktu.
Varel menatap Ririn tak percaya, namun tak lama senyum manisnya terukir lebar. Alhamdulillah gak jadi di usir dari kosan. Batinnya bersyukur kemudian melanjutkan makannya dengan tenang.
Setelah semua teman kelasnya selesai dan akan kembali ke kelas, Varel menuju stand mang ujang untuk bayar.
"Makasih Varel ganteng," ucap Laura setelah Varel bergabung kembali bersama temannya.
Varel mendengus. "Hm."
Ririn dan teman sekelasnya terkekeh melihat ekspresi dari ketua kelas mereka. Kemudian mereka berjalan beriringan memenuhi koridor menuju kelas mereka.
Di pertengahan jalan, XI IPA 6 berpapasan dengan Cavero dkk membuat mereka berhenti karena Ririn yang di memimpin jalan bersama ketiga temannya berhenti.
"Kenapa?" Tanya Ririn kepada sang kekasih.
Cavero menggeleng. "Gak papa. Nanti pulang sekolah aku tunggu di parkiran," ujarnya yang diangguki Ririn.
Ririn dan teman sekelasnya kembali melanjutkan langkahnya dengan sesekali tertawa. Banyak dari penghuni kelas lain yang menatap mereka iri dengan kekompakan mereka termasuk Cavero dkk.
Haiden mengangguk menyetujui. "Dulu sebelum Ririn berubah mana ada yang mau deketin dia kecuali tiga curutnya itu," ujarnya.
Cavero hanya tersenyum tipis, sangat tipis, mendengar celetukan temannya itu. "Cabut!" Titahnya.
"Emangnya dulu Ririn gimana?" Tanya Varen penasaran kenapa teman-temannya mengatakan Ririn berubah.
Sambil berjalan mereka membicarakan bagaimana Ririn yang dulu yang suka membully orang, termasuk yang suka ngedeketin Cavero.
Tidak terasa bel pulang sekolah sudah berbunyi membuat semua siswa-siswi berhamburan keluar kelas pulang ke habitat, ralat rumah masing-masing.
Ririn dan ketiga temannya berjalan beriringan menuju parkiran. "Lo gak mau sama kita aja pulangnya, Rin?" Tanya Delisha menatap Ririn.
Ririn menggeleng. "Gue sama Cavero," jawabnya.
"Huft! Ya deh yang sudah gak jomblo lagi," cetus Enzy merotasikan matanya.
"Ya udah kita kesana ya, hati-hati lo sama Cavero," ucap Mahira yang diangguki Ririn.
"Papayy," ujar Enzy melambaikan tangannya yang dibalas lambaian tangan juga oleh Ririn.
Mereka berpisah karena parkir khusus roda dua dan empat berbeda. Ririn berjalan ke arah Cavero yang sudah menunggunya di atas motornya bersama teman-temannya.
"Eh bu bos udah dateng toh," canda Haiden.
__ADS_1
"Bu bos bu bos pala lo," ketus Ririn.
"Dih ketus amat neng," sewot Malik.
"Serah!" Ririn merotasikan matanya melihat kedua makhluk bumi tersebut.
Btw, buat kalian yang tanya dimana Leo dkk. Jadi pren, mereka sudah kembali ke Bandung karena ada tugas negara yang harus mereka kerjakan. Anggap ae kaya gitu, karena jujur terlalu banyak pemain jadi puyeng sendiri buat bangun karakter mereka semua.
"Kita langsung pulang aja ya. Aku ada urusan soalnya," ucap Cavero kepada Ririn sembari memberinya helm.
Ririn menatapnya dalam. "Urusan apa?" Tanya nya.
Cavero menggeleng. "Bukan urusan penting kok," jawabnya tersenyum untuk meyakinkan kekasihnya itu.
Ririn tau Cavero berbohong tapi ia tau diri batasannya untuk tidak terlalu ikut campur dengan urusan Cavero, karena setiap orang butuh privasi.
Ririn naik ke motor Cavero. "Papay pren. Gue duluan ya," pamit Ririn melambaikan tangannya kepada Haiden dkk tidak lupa dengan wajah sombongnya kemudian memeluk pinggang Cavero erat bermaksud memamerkan kemesraan kepada mereka.
Haiden dkk yang melihat itu mendengus kecuali Varen. "Anjing emang si Ririn," kesal Haiden.
"Iya tadi aja ketus sama kita lah sekarang malah senyam senyum meluk si bos," timpal Malik.
"Sudah! Lebih baik kita balik," lerai David memasang helm dan melajukan motornya terlebih dahulu diikuti Varen dan yang lainnya.
Cavero telah sampai di mansion Ririn. Ririn turun dari motor lalu membuka helm. "Kamu mau langsung pergi?" Tanya Ririn yang diangguki Cavero.
"Aku pergi dulu ya," pamit Cavero tapi sebelum itu ia mengacak-acak rambut Ririn membuatnya terkekeh. Sedangkan Ririn mendelik kesal lalu menepis kasar tangan Cavero.
"Sudah sana lo pergi," kesal Ririn.
"Kamu Rin!" Tegur Cavero.
Ririn menghembuskan nafas pasrah. "Iya kamu pergi sana katanya ada urusan," ujar Ririn.
"Ngusir nih?" Goda Cavero.
"Terserah," ujar Ririn jengah.
Cavero terkekeh. "Aku pergi dulu," pamitnya lalu melajukan motornya meninggalkan mansion Xavier.
...***...
...SPOI NEXT PART!...
"Ririn bangun! Itu pacar kamu di depan sudah nunggu lama, kalau kamu masih gak bangun-bangun mommy usir," ancam Ayudia ngarang karena saking frustasinya.
"HAH! Mana pacar Ririn manaaa?!" Ririn langsung bangun mendengar Ayudia mengatakan pacarnya datang. "Aduh mommy kenapa gak bangunin Ririn dari tadi aish malu banget kalo pacar Ririn dateng masih dalam keadaan gini," cerocos Ririn berlari kesana kesini seperti orang gila.
Ayudia merotasikan bola matanya jengah melihat kelakuan anaknya. "Dasar kamu yah, giliran pacar aja langsung melek tu mata," omel Ayudia.
"Aduh mommy ngomelnya nanti aja. Sekarang mommy keluar dulu ya Ririn mau mandi gak enak ketemu mas pacar begini," ujar Ririn mendorong pelan Ayudia untuk keluar dari kamarnya.
...🌱...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan prenku semua.