RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL

RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL
Part 70


__ADS_3

"Aawws." Ririn memukul pelan lengan Malik.


"Kenapa lo? Orang gue mukulnya pelan-pelan kok," uja Ririn mengangkat salah satu alisnya.


"Gak, gye gak papa," jawab Malik. "Lo berempat pada bolos ya?" Tanya Malik kepada Ririn, Delisha, Mahira dan Enzy.


"Kagak. Lagi tawaf gue."


"Hilih. Udah pasti ini mah lo biang keroknya, kan?" Tuduh Malik kepada Ririn.


"Oiya dong dia. Gue kan anak baik-baik, jadi mana mungkin gue yang ngajak," jawab Mahira mengibaskan rambutnya.


"Matamu baik-baik, kelakuan udah kaya setan gitu," cibir Malik sembari menatap Mahira dengan tatapan mengejek.


"Kita, kan ngikutin dia," balas Enzy menunjuk Ririn sebagai biang keroknya. Sekarang dia lebih berani untuk bicara seperti itu karena dia yakin Ririn sudah berubah.


"Lah kok gue?" Tanya Ririn bingung menunjuk dirinya sendiri.


"Iya emang lo biang keroknya, bego."


"Serah dah." Ririn pun mempercepat langkahnya dan meninggalkan mereka bertiga.


🌱


"HALOOO PREN!" Teriak Ririn ketika sudah sampai di kantin dan melihat geng Divine yang juga membolos.


"Woy kerjaan lo teriak-teriak mulu, gak bisa kalem apa lo," semprot Haiden kepada Ririn.


"Masalah buat lo?"


"Masalah lah. Entar telinga gue budeg gimana?"


"Ya derita lo, gak ada hubungannya juga sama gue," jawan Ririn yang langsung duduk di samping Cavero. "Sini duduk!" Ajak Ririn kepada Mahira dan Enzy. Sedangkan Delisha sudah duduk di samping Varen.


"Kita mau jajan dulu deh, mau nitip gak?" Tawar Enzy sama mereka.


"Gue mau juga tapi bingung mau titip apa. Samain aja ya," ujar Ririn dengan denyum tak berdosanya.


"Duitnya?" Tagih Mahira.


"Talangin!" Ujar Ririn.


"Heleh jangab percaya, entar gak di ganti duitnya!" Ucap David.

__ADS_1


"Sembarangan," semprot Ririn. "Entar gue ganti lebih deh, itung-itung sedekah," lanjutnya.


"Mending lebihnya buat gue aja, gue kan yatim," cetus Haiden menaik turunkan alisnya beberapa kali sambil tersenyum jahil.


"Duh iya juga ya, pahalanya juga lebih besar kalau ke dia," gumam Ririn menatap uangnya lalu beralih menatap Haiden dan kedua temannya.


"Gue juga yatim," sahut Kenzo yang sedang fokus kepada ponselnya sedang bermain game.


"Alhamdulillah orang tua gue masih lengkap," ucap Varen yang merasa bersyukur.


"Heh kenapa malah ngomongin yatim. Mau nitip gak?" Tanya Enzy yang sudah tidak sabar ingin membeli makanan.


"Talangin!" Cengir Ririn.


"Heleh," cibir Mahira dan Enzy yang langsung pergi membeli makanan karena sudah lapar.


"Ini kayaknya ada yang ilang satu ya?" Tanya Ririn yang tidak melihat keberadaan Reyhan.


"Gak tau, gak balik-balik dari tadi. Ngomongnya kebelet doang," jawab Kenzo.


"Wahh jangan-jangan kesedot kloset tu orang," ujar Ririn ngawur.


"Cape gue ngomong sama orang kayak lo," ujar Varen yabg sudah merasa tertekan dengan kelakuan salah satu temannya itu.


"Ya diem, jangan ngomong!" Balas Ririn dengan santainya.


Cavero menoleh melihat Ririn. "Terus gue harus apa?"


"Ya gak ada juga si," jawab Ririn menggaruk pipinya yang tidak gatal.


Kini mereka pun tengah menikmati makanannya sembari bercanda dan tertawa. Sampai saat ini Kenzo masih sibuk bermain game dan Reyhan yang belum kembali sejak dari tadi.


...🌱...


"Gue ngapain ya sekarang," gumam Ririn bosan membolak balikkan tubuhnya di kasur sambil memeluk guling. "Huft! Bosan banget gue," sambungnya dan duduk seketika.


"Apa gue ke taman aja ya? Jogging biar badan gue tambah bagus," kata Ririn mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya. "Tapi kalau gue ketemu sama bocah yang kemarin terus temennya gelantungan di tangan gue gimana?" Kata Ririn bergidik ngeri. Bulu kuduknya seketika berdiri mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. "Tapi kalau gue di rumah doang bisa-bisa mati kebosanan gue."


"Udahlah gue pergi aja. Nanti kalo gue ketemu sama tu bocah ya tinggal ngindar. Nah gitu aja, pinter banget lo Ririn," ujar Ririn tersenyum bangga pada dirinya sendiri.


Setelah berdebat dengan dirinya sendiri, Ririn memutuskan untuk pergi ke taman. Sebelum itu, Ririn mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga dan tidak lupa memakai sepatu. Ririn memilih untuk memakai sepeda karena tamannya dekat depan komplek rumahnya.


Ririn menggayuh sepedanya dengan santai menikmati udara sore hari, matahari yang tidak terlalu panas dengan angin sepoi-sepoi.

__ADS_1


Sesampainya di taman, Ririn memarkirkan sepedanya di pinggir jalan dengan sepeda orang lain. Mata Ririn mengedar di setiap penjuru memastikan tidak ada Inaya di taman ini. Setelah memastikan tidak ada anak kecil indihome itu, Ririn pun bernafas lega. "Huft! Untung si anak indihome itu gak ada di sini," ujarnya.


Ririn mulai berlari kecil mengelilingi taman yang ramai.


BRAK


"ASTAGFIRULLAH YA ALLAH.. siapa si yang jalan ndak liat liat ish kan Cya yang cangtip ini jadi teljatuh huaaaaaa abangggg," gerutu hebih anak kecil yang menabrak Ririn. Anak kecil perempuan kira-kira umur tiga atau empat tahunan dengan pipi gembul dan hijab yang sangat pashionable di sertai kaca mata hitam kecil, di lengkapi dengan suara cemprengnya.


"Aduh dek maafin kakak, kakak gak liat beneran deh. Kamu kecil soalnya," ujar Ririn sambil jongkok menyamakan tingginya dengan anak itu.


"Aduhh kakak, Cya itu ndak kecil tapi emang belum besal aja tauuu," balas Cya.


"Lah apa bedanya coba?" Beo Ririn melihat Cya.


"Ya bedalah kakak. Kakak kan udah besal masa ndak tau sih," sewot Cya mendelik.


"Hadeh bocil-bocil," gumam Ririn pelan merotasikan matanya. "Oh ya nama kamu siapa dek? Sama siapa ke sini?" Tanya Ririn sambil mencubit pipi gembul anak itu.


"Ish kakak janan di cubit nanti pipi na Cya jadi tambah melal nanti tidak cangtip lagi. Nama aku Cya, Cyara kakak panggil aku Cya Cya," jawab Cya sambil mutar mutar membuat Ririn mikir. "Oh nama kamu Cyara?"


"Yaps!"


"Kalo nama kakak Ririn."


"Mon maap nih kakak, Cya ndak beltanya tauu," balas Cya yang membuat Ririn dongkol.


Ririn membuang nafasnya berat. "Anak siapa si ini Ya Allah," keluh Ririn frustasi.


"Ha? Oh Cya anaknya Ayah sama bunda," jawab Cya. "Ah sudahlah, Cya mau beli jajan. Bye bye kakak," ujar Cya dengan gaya angkuhnya tidak lupa dengan kaca mata hitam kecil dan tas mungil pink di tangannya.


"CYAAA!" Panggil seseorang yang membuat Cya dan Ririn menoleh.


"ABANGGG!"


"Mas pacar?"


"Kamu kemana aja si dek," gemas Cavero sambil membawa Cya ke gendongannya.


"Ririn? di sini juga?" Tanya Cavero menyadari keberadaan Ririn.


"Ha? Ah oh uya gue di sini hehe," jawab Ririn setelah aadar dari lamunannya.


...🌱...

__ADS_1


Happy reading pren. Maaf banget aku update gak panjang seperti biasa. Aku akan revisi nanti.


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan pren:)


__ADS_2