
Seminggu telah berlalu semenjak pertemuannya dengan Arnold. Semua anggota inti Dark Spider telah mengetahui tentang Aqila yang jiwanya masih ada di dunia. Hanya mereka yang tau dan abangnya, Lorenz.
Tentang keluarga Aqila, Ayah dan Bundanya telah meninggal sebulan setelah kepergian raganya. Mereka mengalami kecelakaan pesawat waktu perjalanan bisnis ke Singapore. Tentu kabar tersebut adalah kabar duka yang paling mendalam bagi Ririn, tapi sekuat jiwa abangnya menguatkan Ririn.
"Abang kapan ke Jakarta?" Tanya Ririn melalui telpon.
"Dua minggu lagi, dek." Jawab Lorenz.
"Nggak bisa besok ya?"
"Kamu ini. Mana bisa dek, abang juga harus urus kantor disini masih banyak kerjaan yang nggak bisa abang tinggalin." Jelas Lorenz.
"Oh ya, kamu jangan sedih lagi. Percaya sama abang mereka sudah tenang disana"
"Iya bang"
"Iya sudah kamu tidur gih, jangan begadang! Besok sekolah." Ucap Lorenz.
"Iya, abang juga jangan terlalu larut kerjanya. Malem bang"
"Malam juga sweety"
Tut
*****
Suasana di kantin seperti biasa, Ririn dkk yang bergabung bersama Cavero dkk dan Arnold.
Tapi tawa yang mereka ciptakan tak berlangsung lama.
BRAKK
Ajg..
Emak gue janda..
Asuu..
Jantung gue copot..
Gebrakan meja mengagetkan semua orang di kantin.
"Eh lo, jangan sok cantik deh. Dulu Cavero sekarang lo embat juga pacar gue, Arnold" ucap seseorang yang bernama Rima di nametag.
Ririn yang di ajak bicara hanya mengangkat alisnya sebelah, bingung. "Maksud lo?"
"Jangan sok polos lo. Jangan deket-deket lagi sama pacar gue. Kalo lo deket-deket sama pacar gue, habis lo!" Ancam Rima.
__ADS_1
"Maksud lo apa sih, nggak ngerti gue. Dateng-dateng gebrak meja. Gila lo?" Balas Ririn.
"Kemarin Cavero dkk sekarang Arnold, di bayar berapa lo?" Tanya Gita, teman Rima.
Ririn yang di katain begitu hanya diam saja sembari memakan makanannya kembali. Sedangkan Arnold yang dari tadi di sebut namanya hanya diam karena memang di suruh Ririn untuk diam. Cavero dkk, Enzy dkk hanya diam menonton santai sambil makan.
"Dasar, nggak pernah di ajarin sopan santun lo sama orang tua lo" Sercah Rima.
"Tutup mulut lo!" Bentak Ririn. Sudah cukup sampai disini kesabarannya, dia tidak akan diam saja apabila orang tuanya di injak-injak seperti ini.
"Jangan pernah sebut orang tuanya dengan mulut kotor lo itu!" Ucap Ririn penuh penekanan.
"Emang kenapa? Bener kan yang di bilang Rima?" Tanya Anggun teman Rima dan Gita.
Ririn sekuat tenaga menahan emosinya, tapi nihil. Dia tidak bisa, bukan tidak bisa tapi jika sudah menyangkut tentang orang tua dia tidak bisa.
BRAKK
Ririn menggebrak meja kuat membuat semua orang takut, apa lagi melihat mata Ririn yang sudah berubah merah kehitaman.
"Welcome back, Rose" sapa Arnold
"Hei Nol" jawab Rose.
"Oh ini ya orangnya?" Tanya Rose mangut-mangut.
"Kok diem?"
"Ri-rin?" Ucap Rima terbata-bata takut melihat perubahan mata Ririn.
"No. Aku bukan Ririn, panggil aku Rose" ucap Rose dingin membuat aura kantin semakin mencekam.
"Nol.. sebaiknya rumah sakit atau langsung kuburan?" Tanya Rose pada Arnold.
"Terserah Rose saja. Gue ngikut" jawab Arnold.
"Kau ini. Oke baiklah."
PLAKK
PLAKK
PLAKK
BUGH
Dengan tamparan yang kuat dari Rose membuat wajah Rima dkk seketika menoleh ke samping dan mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya.
__ADS_1
Rose menjambak rambut Rima. "Ini yang berani menggangguku tadi? Ini yang membuat Ririn nangis? Oh Nol, apakah benar ini adalah pacarmu?" Tanya Rose beruntun.
"Aakh- ish.." Rima meringis kesakitan.
"Dia bukan pacar gue, Rose" jawab Arnold santai, melihat bagaimana Rose melakukan hal tersebut sudah biasa baginya dan DARK SPIDER.
Rose melepaskan jambakannya dengan menghentakkan Rima, membuatnya seketika terjatuh dan meringis.
"Sekali lagi aku melihatmu menyakiti Aqila, maka siapkan kuburanmu." bisik Rose dingin membuat Rima sangat ketakutan.
"Cabut!" Ucap Ririn melenggang pergi meninggalkan kantin.
*****
Sepulang sekolah, Ririn tidak langsung pulang dia pergi menenangkan dirinya dengan jalan-jalan entah kemana terlebih dahulu.
Semenjak dia tau, Ayah dan Bundanya telah tiada Ririn sering pulang terlambat. Setiap kali di tanya pasti dia akan menjawab 'kerjakan tugas'.
Dia tau, jika pulang sekarang dengan keadaan kacau, pasti abang Nathan akan menanyakan ini itu dan itu membuat Ririn malas. Ririn juga tau, abangnya itu selalu mengawasinya. Dirasa sudah mendingan, Ririn pulang.
Kini Ririn sudah sampai dirumahnya. Seperti biasa dia akan buka pintu pelan-pelan jika pulang terlambat. Berharap tidak ada orang yang menyadarinya bahwa ia pulang terlambat. Namun, lagi dan lagi dia terus ketahuan oleh orang rumah. Seperti hari ini, Ririn di kagetkan oleh seorang nenek yang memakai dress berwarna toska. Bayangkan sendiri bagaiman cerahnya tu nenek..
"ASTAGFIRULLAH YA ALLAH." Saking kagetnya, Ririn sampai memundurkan langkahnya satu langkah hingga berakhir punggungnya mengenai handle pintu rumahnya. "Aaawwss" ringis Ririn.
ASTAGFIRULLAH BAJA BUSYETT TETETEWW ni nenek-nenek reok kok modelannya gini si? Gue yakin ini mah, cabe aja kalah sama ni nenek tua reot. Batin Ririn yang melihat nenek di hadapannya tersebut dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan tatapan aneh.
Di hadapan Ririn sekarang ada Adelard, Ayudia, Aira, Nathan, dan nenek Odi, nenek Ririn.
Nenek Odi menatap Ririn dengan tatapan tajam dan dengan tangan yang ia lipatkan di depan dadanya. "Where are you from?" (Habis dari mana kamu?) Tanya nenek Odi kepada Ririn.
Ririn melongo mendengar ucapan neneknya itu. Bukan, dia bukan melongo karena kaget neneknya yang bisa bahasa inggris. Melainkan dia yang tidak mengerti apa yang di katakan neneknya itu. Dia memanglah sangat pintar. Namun, dia tidak pintar dalam bahasa inggris, karena guru bahasa inggrisnya dulu terlalu membosankan. Jadi, dia sering membolos atau tidur setiap peajaran itu. Dan ya, inilah hasilnya.
Plakk
Ririn memukul kepalanya sendiri. Ni nenek reot ngomong apa ya?
"Why are you just silent?" (Kenapa kamu hanya diam saja?) Tanya Nenek Odi yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari cucunya itu.
"Hah? Oh i-" Ririn menjeda ucapannya sebentar. "I-i'm Ririn. Yeahhh i'm Ririn." Ucap Ririn dengan ekspresi yang sangat bahagia karena dia bisa menjawab pertanyaan dari neneknya. Walaupun yaa begitulah.
"Pppffff gblk!" Umpat Aira pelan sembari menahan tawa mendengar jawaban dari keponakan lucnutnya itu. Tidak beda halnya dengan Ayudia, Adelard dan Nathan yang sedari tadi memasang wajah datar mereka.
Sedangkan nenek Odi mengerutkan keningnya. Dia terus menatap Ririn dengan tatapan bingung. Mengapa jawaban cucunya ini sangat tidak nyambung?, Pikirnya.
*****
Maaf ceritanya sedikit membosankan..
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak yaw gengs. Vote, Like and Komen..