
Ayudia duduk di kursi samping ranjang Ririn dan Ade yang berdiri di sisi sebelahnya menatap Ririn yang penuh dengan alat-alat medis yang melilit hampir seluruh tubuhnya. Ayudia tidak henti-hentinya menangis melihat anaknya seperti itu.
"Sayang, kapan kamu bangun hm? Apa kamu tidak merindukan daddy?" Lirih Ade mengusap lembut rambut dan wajah anaknya. Helaan nafas panjangnya keluar begitu saja, sungguh dadanya terasa sangat sesak seperti ada bongkahan yang besar menghimpit membuatnya sesak dengan keadaan putrinya.
*****
Suasana di sekolah terlihat seperti biasa. Hanya saja ada beberapa orang yang terlihat murung karena keadaan Ririn yang semakin memburuk.
Ada beberapa orang yang masih penasaran dengan Rima, Anggun dan Gita yang tiba-tiba hilang bagai di telan bumi.
"Gimana ya keadaan Ririn sekarang?" Tanya Mahira entah kepada siapa dengan wajah sendu.
"Semoga keadaannya sudah membaik." Ucap Delisha pelan.
"Gue pengen ketemu." Lirih Enzy.
Mereka bertiga hanya berdiam diri di dalam kelas sedangkan teman kelas yang lainnya sudah berada di kantin karena sekarang waktu istirahat.
Tidak jauh berbeda dengan kelas dimana Cavero dkk berada. Hari ini adalah hari pertama Cavero masuk sekolah kembali setelah kejadian dimana Ririn masuk rumah sakit. Pandangannya kosong, raganya bersama anggota Divine tapi tidak dengan pikirannya yang entah kemana.
"Ririn emang nyebelin, tapi entah kenapa setelah dia keluar dari rumah sakit waktu itu gue akui dia jadi beda. Gue suka dengan dia yang selalu ceria, meski pun kadang-kadang dia nyeselin." Ucap Haiden yang di angguki yang lainnya kecuali Cavero tanda setuju.
Hanya Cavero yang tau kenapa setelah keluar dari rumah sakit Ririn berubah seperti bukan Ririn yang mereka kenal. Cavero tidak menceritakannya kepada teman-temannya. Karena dia pikir, itu bukan haknya untuk menceritakan pribadi orang lain.
"Iya, meski pun kita kadang-kadang berantem sama dia tapi Ririn orangnya asik" lanjut Kenzo.
Varen dan Reyhan hanya menyimak.
Ddrrttt ddrrttt
Cavero terkejut dengan dering telponnya yang ada di saku celana. Dia mengeluarkan ponselnya dan langsung mengangkat panggilan tersebut setelah melihat siapa yang menelponnya.
"Ha-"
"APA?!" Teriak Cavero mengagetkan keenam temannya.
"ANJING!"
"ASUU!"
"BANGSAT!"
Mereka mengumpati Cavero yang hampir membuat mereka jatuh karena kaget.
"Ada apa?" Tanya David mengusap dadanya.
"Gue ke rumah sakit sekarang!" Tanpa menjawab pertanyaan David, Cavero berlari keluar menuju parkiran dimana motornya berada.
"Ikutin!" Titah David berlari menyusul Cavero diikuti yang lain.
Ada apa tuh?
Kok mereka kaya panik gitu?
Apa terjadi sesuatu sama Ririn?
Banyak pemikiran murid tentang Cavero dkk berlari kencang dengan raut wajah panik mereka.
*****
Di ruangan Ririn, kini giliran Lorenz yang menemui Ririn. Sudah sehari adiknya dalam keadaan kritis, tidak ada perubahan sama sekali.
"Sweety bangun. Kamu nggak kangen sama abang?" Tanya Lorenz meski dia sendiri tau pertanyaannya tidak akan di jawab.
"Baru aja abang seneng saat tau sweety masih hidup meski dengan raga yang berbeda. Tapi kenapa sekarang kamu membuat abang kecewa." Lirih Lorenz.
"Sweety bangun."
"Abang mohon bertahanlah untuk kedua kalinya." Air mata Lorenz tak terbendung lagi. Lorenz menggenggam tangan Ririn erat dengan menundukkan kepalanya. Sedetik kemudian dia panik karena Ririn kembali mengejang. Lorenz segera memencet tombol darurat.
"Sweety apa yang terjadi?" Lorenz terkejut karena melihat alat deteksi jantung Ririn melemah hingga memperlihatkan garis terputus-putus.
__ADS_1
"Maaf tuan. Silahkan tunggu diluar." Pinta salah satu perawat dengan sopan.
"Tolong selamatkan adik saya." Pinta Lorenz mengatup tangannya memohon. "Kami pasti akan melakukan yang terbaik." Jawab perawat tersebut sambil menuntun Lorenz keluar ruangan.
"Nak, ada apa?" Tanya Ayudia panik menghampiri Lorenz.
"Ririn tiba-tiba mengejang lagi mom." Jawab Lorenz memeluk Ayudia.
Tidak lama kemudian, dokter Justin keluar dari ruangannya bertepatan dengan Cavero dkk datang.
"Apa yang terjadi, dok?" Tanya Cavero cepat.
"Maaf tuan nyonya, nona Ririn tidak dapat di selamatkan." Dokter Justin menundukkan wajahnya dengan sorot mata sendu.
Deg
Semua yang mendengar itu terdiam, seketika jantung mereka terasa berhenti berdetak beberapa detik.
"Jaga ucapanmu sialan!" Sentak Cavero dengan suara bergetar.
"Hiks nggak nggak hiks." Tangis Ayudia kencang. "Daddy hiks bilang kalo ini hiks cuma mimpi." Racau Ayudia.
Adelard hanya bisa memeluk istrinya erat dengan air mata yang mengalir. "Sabar sayang sabar."
"Kak Diaaa." Teriak Aira di lorong rumah sakit bersama nenek Odi.
Nenek Odi menatap mereka dalam diam. "What happened?" Tanyanya.
Tidak ada yang menjawab, hanya tangisan yang ia dengar. "Nathan?" Panggil nenek Odi meminta penjelasan.
Nathan menatap nenek dan tantenya lalu menggeleng seiring air matanya jatuh. "Ririn has left, granma." (Ririn telah pergi, nek) ucap Nathan memeluk nenek dan tantenya yang terdiam.
Tidak ada yang tidak mengeluarkan air matanya, bahkan David yang lebih dingin dan datar dari Cavero menangis mendengar penuturan dokter. Lorenz terduduk di kursi tunggu dan menangis dalam diam, sama halnya dengan Cavero yang berada di samping Lorenz dan teman-temannya di sisi sebelahnya lagi.
Nenek Odi berjalan tertatih masuk ruangan Ririn. "why did you leave me, ha?" (Kenapa kamu meninggalkanku, ha?) Tanya nenek Odi seiring air matanya keluar lagi.
"Wake up hei wake up, please!" (Bangun hei bangun, ku mohon!) Sentak nenek Odi mengguncang tubuh Ririn. Semua yang melihat itu semakin terisak. Aira segera memeluk ibunya, mencoba menenangkannya.
Cavero berjalan mendekati brangkar. "Bangun sayang." Lirih Cavero. "Jangan tinggalin aku!"
"Sayang bangun" lirih Cavero kembali.
"NGGAAKKKK!"
Semua terkejut mendengar suara teriakan Ririn di telinga mereka. Seketika mereka diam, dan menoleh ke arah brangkar.
Deg!
Cavero seketika menjauh dari brangkar dengan wajah shocknya melihat Ririn yang tersadar membuka matanya.
Plak!
Cavero menampar wajahnya sendiri untuk menyadarkan dirinya dari mimpi tersebut.
"Sakit. Jadi ini bukan mimpi?" Ringis Cavero mengelus pipinya yang sakit. "Bangsat! Gue terlalu keras nampar diri gue sendiri." Ucap Cavero ketika merasakan rasa panas menjalar di pipinya.
"Sayang kamu kembali?" Lirih Ayudia yang tersadar dari terkejutnya. Sungguh dia belum percaya akan semua ini. Dia memeluk putrinya itu, dan kembali air mata itu terjatuh.
"Terima kasih Tuhan." Seru Ade memeluk Ririn dan Ayudia.
Mereka kembali menumpahkan air matanya. Tapi bukan air mata sedih seperti beberapa menit yang lalu, air mata yang sekarang mereka tumpahkan adalah air mata haru bahagia.
Terima kasih Tuhan. Batin mereka saling berpelukan satu sama lain.
Thanks God. Batin nenek Odi tersenyum dalam pelukan Aira dan Nathan.
Terima kasih sudah bertahan untuk kedua kalinya, sweety. Batin Lorenz.
Ririn yang melihat semua orang menangis pilu, bingung. Ini semua pada kenapa dah? Batinnya dalam pelukan Ade dan Ayudia.
...*****...
__ADS_1
NEXT!
"Kenapa saya di periksa?" Tanya Ririn polos menatap dokter tersebut.
Sungguh dia masih bingung dengan apa yang terjadi. Mengapa semua orang menangis? Tapi tak khayal, dia patuh dan diam di periksa dalam pikirannya.
"Ini sebuah keajaiban, pasien kini dalam keadaan yang normal." Ucap dokter Justin mambuat mereka bernafaa lega.
"Woy dokter gadungan! Gue dari dulu juga udah NORMAL kali! Ya kali gue BELOK!" Sewot Ririn sedikit meninggi membuat semua orang terperanjat kaget kembali. Sudah berapa kali mereka kaget dengan Ririn dalam satu hari ini.
"Njirr! Gue harap jantung gue nggak jatuh ke perut." Umpat Haiden mengusap dadanya karena kaget.
"Aduhh Rin, nggak usah teriak-teriak bego!" Protes Lorenz menyentil kening Ririn gemas dengan tingkah adiknya itu. "Lo nggak papa, kan?" Tanya Lorenz.
"Gue cape banget anjirr hiks mommy huaaaaaa." Ririn menangis kencang tiba-tiba membuat semua orang kembali terperanjat kaget.
Dengan panik Ayudia memeluknya. "Mommy disini, udah jangan nangis. Nggak malu diliat pacarnya?" Tanya Ayudia sedikit menggoda anaknya.
Ririn berhenti menangis dan mengedarkan matanya. Dia menemukan objek itu. "Ehh ada mas pacar hehee. Lo nggak mau kasih gue apa gitu? Gue baru sembuh lo" ujar Ririn tersenyum genit tapi sedikit malu karena dilihat menangis.
"Coba tampar gue, mungkin ini mimpi." Pinta Cavero mendekati Ririn. Dia masih belum percaya bahwa orang yang sudah dinyatakan meninggal itu masih berbicara dengannya.
Plak!
"Jadi ini nyata bukan mimpi lagi?" Tanya Cavero dengan bodohnya.
"Bukan. Ini masih di dunia khayalan, dunia halusinasi. Puas lo?!" Sewot Ririn.
Pecah sudah tawa mereka melihat pasangan di depan matanya tersebut. Sedangkan Cavero masih perang tatap-tatapan dengan Ririn.
Ririn beralih menatap dokter Justin yang masih berada di ruangannya. "Eh dokter gadungan! Kapan saya pulang?" Tanya Ririn.
"Heh mulutnya! Nggak boleh gitu lagi." Tegur Aira karena melihat tatapan dokter tadi yang kecewa mendengar panggilan Ririn kepadanya. Dokter tersebut pasti berpikir dia tidak layak menjadi dokter, pikirnya.
"Iya sayang. Tidak semua orang akan menerima semua yang kamu katakan." Lanjut Ayudia membelai lembut rambut anaknya.
"Iya ya maaf."
Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat jawaban Ririn.
"Eh lupa. Mommy!" Panggil Ririn yang baru mengingat sesuatu. "Tadi kenapa semua orang nangis?" Tanyanya penasaran.
"Lo tadi mati njim!" Bukan Ayudia yang menjawab tapi Lorenz.
"Lo doain gue mati?" Tanya Ririn nge-gas menatap Lorenz tajam.
"Kalo lo nggak percaya, tanya aja mereka semua." Jawab Lorenz santai.
"Bener dad? Mom?" Tanya Ririn kepada orang tuanya dibalas anggukan.
"Ririn kan belum merasakan yang namanya nilah sama Kim Taeyung atau nggak sama Song Jong Ki, kasian mereka kalo jodohnya mati. Lagian kan nggak elit banget kalo Ririn mati muda." Cerocos Ririn membuat mereka menggelengkan kepala.
"Perlu gue bawa penghulu sekarang?" Tanya Cavero dingin mendengar penuturan ngawur Ririn.
"Don't you miss me?" (Apakah kamu tidak merindukanku?) tanya nenek Odi menatap Ririn sendu.
Ririn menatap neneknya lalu menatap Ade. "Artinya apa dad?" Tanya Ririn kepada Ade.
Ade terkekeh. "Apa kamu tidak merindukan nenekmu?" Jawab Ade.
"Of Course. I rindu dengan you." Jawab Ririn tersenyum menatap neneknya. Dia sungguh malu dengan dirinya sendiri yang mendengar bahasa inggrisnya yang tidak ada bagus-bagusnya.
"I don't understand what you're saying. but one thing is for sure, whoever you are, you are still my granddaughter." (Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Tapi satu hal yang pasti, siapa pun kamu, kamu tetap cucuku.) Ucap nenek Odi memeluk Ririn. Ririn terdiam dalam pelukan neneknya. Bukan karena terharu mendengar penuturan nenek Odi, tapi karena dia tidak mengerti apa yanh dikatakan neneknya.
Nenek Odi melepas pelukannya dan di gantikan Aira. "Cepat sembuh, biar nanti kita jalan-jalan berdua habiskan uang daddy-mu itu." ujar Aira terkekeh memeluk sayang keponakannya itu. Ririn mengangguk semangat meng-iya-kan perkataan Aira.
"Sudah. Sekarang gue yang melepas rindu sama adek gue!" Ujar Nathan memeluk Ririn posesif.
"Jangan pergi lagi!" Pinta Nathan lirih. "Kamu sukses buat abang hampir mati jantungan hari ini." ujarnya mencium rambut Ririn.
...🌱...
__ADS_1
Jangan lupa Vote, like, komen dan favoritkan..