
Panggilan kepada siswi atas nama Ririn Lethicia Xaviera untuk segera ke ruang bk. Sekali lagi..
Suara bariton yang berasal dari intelkom sekolah yang tersambung ke setiap penjuru sekolah.
Ririn yang di panggil hanya membuang nafas kasar. Pasti karena masalah kemarin. Batin Ririn kesal.
Saat ini dia masih di lapangan, lebih tepatnya di tribun. Baru saja akan bangkit dengan semangat menuju kantin, tapi suara bariton itu mengurungkan niatnya. Dengan langkah gontai dia berjalan menuju ruang bk. Niatnya ingin ke kantin karena lelah malah dipanggil.
"Rin, kita temenin nggak?" Tanya Mahira. "Nggak usah, biar gue sendiri aja" jawab Ririn.
"Mau kita-kita temenin nggak Rin? Tenang ada Cavero nanti yang ngomong." Tawar Kenzo cengengesan yang di balas gelengan oleh Ririn. "Gue sendiri aja"
Tok tok tok
"Masuk!" Ucap Pak Didit, guru konseling.
"Bapak panggil saya?" Tanya Ririn sopan.
"Ririn Ririn. Ckckck apa kamu nggak ada kapok-kapoknya buat masalah. Akhir-akhir ini saya seneng kamu tidak pernah masuk lagi ke ruangan saya tapi kenapa kamu berbuat ulah lagi?" Omel pak Didit.
"Saya nggak tau, pak" balas Ririn santai sembari menggigit kuku-kuku tangannya.
"Saya sudah seneng mendengar kamu yang berubah seperti akhir-akhir ini. Tapi kenapa kamu buat saya kecewa lagi dengan membuat Rima masuk rumah sakit." Ucap pak Didit.
"Apa yang terjadi?" Tanya Pak Didik kepada Ririn.
"Dia menghina orang tua saya!" Jawab Ririn masih santai.
"Apakah kamu harus sampai membuatnya masuk rumah sakit?" Tanya pak Didit dengan menekan kata 'harus'.
Sedangkan Ririn yang melihat raut wajah pak Didit, bukannya takut malah terkekeh geli melihatnya. "Dia dan antek-anteknya mengatai saya jalangg juga. Jika dengan kata-kata mereka tidak mengerti, lalu apa salahnya saya memberi sedikit balasan untuk mereka?" Ucap Ririn santai tanpa takut.
"Kamu tidak takut dengan saya?" Tanya pak Didit heran, biasanya Ririn akan memohon-mohon padanya untuk tidak di hukum dam segera keluar dari ruangannya yang menurut semua murid sangat menyeramkan.
Ririn melihat pak Didit sekilas, kemudian kembali menggigit kuku-kukunya tangannya. "Buat apa saya takut jika saya tidak salah" balasnya.
Pak Didit yang mendengar perkataan Ririn terkejut, sedetik kemudian hanya mendengus. Sungguh sudah sangat berubah. Bukan, bukan berubah melainkan dia berpikir bahwa yang di depannya sekarang ini bukanlah Ririn yang dulu dia kenal.
"Langsung saja pak, apa hukumannya? Saya cape mau ke kantin, haus" cetus Ririn.
"Kamu berdiri di lapangan hormat bendera sampai bel istirahat!"
"Oke pak. Tapi saya boleh ke kantin dulu nggak, pak? Haus saya" pinta Ririn.
"Nggak ada kantin kantin. Sekarang langsung ke lapangan. CEPAT!" Teriak pak Didit sembari menunjuk ke arah pintu.
"Gini ya, pak. Saya kan baru olahraga, cape pak. Haus juga, kalo saya nggak ke kantin buat beli minum bisa-bisa saya nanti pingsan pak. Gimana pak?" Tanya Ririn tersenyum manis.
Benar juga, nanti kalo dia pingsan saya juga yang repot. Batin pak Didit.
"Iya sudah, sana keluar!" Ucap pak Didit. "Baik pak, terima kasih."
*****
__ADS_1
"Woyy Rin" panggil David.
Ririn yang merasa ada yang memanggilnya mengedarkan matanya berkeliling yang ternyata Cavero dkk. Ririn berjalan menuju meja mereka dan duduk di dekat Malik.
"Kenapa?" Tanya Ririn to the point sembari meminum es teh milik Malik sampai sisa setengah kurang.
"Anjirr es teh gue!"
"Aelah minta sedikit, haus gue" elak Ririn.
"Sedikit mata lo. Nih sisa seperempat, njing"
"MANG UDIN BAKSONYA SEPERTI BIASA SATU SAMA ES TEH SATU" Teriak Ririn tanpa memperdulikan sekitarnya yang sudah tutup telinga mendengar teriakan Ririn.
"Siap neng" sahut mang Udin.
"Nggak usah teriak-teriak juga, bangsatt!" Kesal Malik. "Males jalan gue, cape"
"Bukannya lo di panggil sama pak Didit, kok lo bisa lolos gitu aja tanpa di hukum?" Tanya Cavero penasaran.
"Di suruh hormat berdera sampe jam istirahat" jawab Ririn.
"Terus kenapa lo ada di sini?" Tanya Kenzo. "Gue bilang beli minum dulu haus" jawab Ririn santai.
Mendengar penuturan Ririn, Cavero dkk melongo. Kok bisa gitu ya? Pikir mereka. Emang bener-bener ni anak satu, kelakuannya ada-ada aja.
"Kok bisa?" Tanya Haiden penasaran bagaimana caranya dia dengan mudah di izinkan pak Didit. Sedangkan mereka harus langsung melaksanakan hukumannya.
"Ya bisalah"
"Siap atu neng"
Cavero yang namanya di sebut melolot menatap Ririn. Apa tadi dia bilang, bayarin?
"Apa? Nggak ikhlas lo, sekali-kali teraktir gue" ketus Ririn. "Dih siapa lo?" Sewot Cavero.
"Sudah-sudah. Terus lo ngapain pesen bakso? Kan lo bilangnya cuma beli minum?" Tanya David. "Laper juga gue" jawab Ririn singkat.
"Anjing bisa gitu lo, nah lo gimana konsepnya tuh?" Heran Malik dengan kelakuan Ririn.
Kemarin bolos pelajaran tapi gurunya tau, sekarang di hukum tapi kantin dulu dan guru tau. Ajaib memang ni anak satu. Batin mereka menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir dengan kelakuan Ririn semenjak keluar dari rumah sakit.
"Oh ya, lo pada nggak pernah belajar ya? Setiap gue liat lo pada pasti ngantin." Tanya Ririn yang dari dulu penasaran.
"Ngapain belajar kalo udah pinter" jawab Haiden sombong. Ririn hanya mangut-mangut tak menimpali lagi, baksonya lebih menggoda.
"RIRINNNNN!" Teriak pak Didit.
"ANJ- ASTAGFIRULLAH" Ririn terloncat kaget untung saja tidak keselek baksonya sendiri.
Ririn menoleh ke belakang arah pintu masuk. "Ehh bapak hehe" ucap Ririn cengengesan.
"Ngapain kamu masih disini?" Sentak pak Didit. "Kalian berlima juga ngapain disini bukannya masuk kelas, hah?"
__ADS_1
"Itu- hm.. apa ya?" Ucap Ririn tersenyum kikuk menatap pak Didit.
"Enak ya baksonya?" Sindir pak Didit. "Enak banget pak, bapak mau juga? Saya pesenin pak, tenang ada Cavero nanti yang bayar" cerocos Ririn tersenyum manis.
Mendengar penuturan Ririn membuat pak Didit naik pitam. "CEPAT HORMAT BERDERA SEKARANG! KALIAN BERLIMA JUGA! CEPATT!!" Bentak pak Didit membuat mereka berlima berlari terbirit-birit.
Pak Didit memijat pelipisnya melihat kelakuan Ririn dan Cavero dkk.
*****
Kenapa tuh.
Kenapa mereka lari-lari gitu.
Ada apa ya..
Cavero ganteng bangetttt.
David ganteng banget, mau dong jadi pacarnya.
Huaaa pacar gue ganteng bangett, Cavero lopyu..
Kok mereka sama Ririn.
Dan masih banyak lagi jeritan-jeritan siswa-siswi yang kebetulan melihat Cavero dkk dan Ririn berlari terbirit-birit menuju lapangan. Cavero dkk dan Ririn tidak memperdulikan jeritan murid lainnya, mereka terus berlari ke lapangan.
*****
"Gara-gara lo sih Rin, ke kantin segala kita jadi kena juga kan" omel Haiden yang berada di sampingnya yang masih ngos-ngosan.
"Aelah. Namanya juga laper" jawab Ririn santai. Matanya melirik kiri kanan mencari keberadaan pak Didit. Dan ternyata aman, pak Didit sudah pergi.
"Eeh anj, bisa-bisanya lo duduk santai gitu" David menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Ririn yang dengan santai memakan kacang.
"Yaelah santai aja kali, pak Didit juga sudah pergi. Nih pada makan, gue juga punya kuaci" ucap Ririn.
"Udah nggak usah nganga gitu mulut lo pada, masuk lalat tau rasa lo pada" ejek Ririn membuat mereka menutup mulutnya rapat-rapat.
"Assalamualaikum" salam Ririn.
"Asalamualikum nek" salam Ririn di belakang sofa tempat neneknya duduk.
"ASALAMUALAIKUMM!" Teriak Ririn tapi tetap nenek Odi tidak menyahut.
"Hei, what are you doing there?" (Apa yang kamu lakukan disana?) Tanya nenek Odi.
"MOMMYYYY!"
"TANTEEE!
"ABANGGGG!"
"Aish ini orang-orang pada kemana sih, masa iya gue di tinggal sama nenek reot disini?" Gumam Ririn menggerutu. "Bodo amat dah. Biarin aja, gue cape mau tidur" Ririn melenggang pergi dari hadapan neneknya.
__ADS_1
*****
Jangan lupa tinggalkan jejak yaw. VOTE LIKE KOMEN AND FOLLOW..