
Ririn melepas pelukan Lorenz dan beralih menatap Nathan yang juga menatapnya. "Abang, maafin Ririn yang selalu gangguin abang" kata Ririn merentangkan tangannya.
Nathan yang melihat adiknya merentangkan tangannya langsung memeluk adiknya erat. Air matanya turun dengan deras. "Maafin abang yang sering cuekin adek. Maaf" lirih Nathan mencium kepala Ririn bertubi-tubi.
"Tante maafin Ririn yang selalu jahilin tante, selalu nyusahin tante bahkan selalu tanyain tante hal yang sensitif buat tante" Aira yang mendengar itu berlari menubruk tubuh Ririn dan menangis sesegukan. "Ayo jahilin tante terus, ayo nyusahin tante lagi. AYO RIN AYO!" ujar Aira mengguncang tubuh Ririn dalam pelukannya. Air mata keduanya turun semakin deras. Begitu juga dengan semua orang yang melihatnya.
"Grandma, do you wanna hug me?" Tanya Ririn melihat neneknya.
Nenek odi tersenyum melihat itu, dia berjalan pelan menuju cucunya. Wanita tua itu langsung memeluk cucunya. "I don't understand what happened. but seeing how everyone was crying, it meant that nothing was okay." (Aku tidak mengerti apa yang sudah terjadi. Tapu melihat bagaimana semua orang menangis, itu artinya tidak ada yang baik-baik saja.) Ujar nenek Odi menitikkan air mata.
"whatever happens, i just want grandma to know i love grandma." (Apa pun yang terjadi, aku hanya ingin nenek tau aku sayang nenek) ujar Ririn mengeratkan pelukannya. "Thank you for always pampering me, always giving me love, always hearing all my stories, Grandma." (Terima kasih selalu memanjakanku, selalu memberikan aku kasih sayang, selalu mendengar semua ceritaku, nek.) Lanjutnya, nenek Odi hanya mengangguk mendengar tenuturan cucunya.
"Sure, 'cause you're my love" lirih nenek odi.
Ririn melepas pelukannya kepada neneknya dan kali ini beralih menatap Cavero yang hanya berdiam diri memandang kearah lain.
"Cav?" Panggil Ririn lirih.
Cavero yang di panggil menghapus kasar air matanya dan menoleh kearah Ririn. "Kenapa?" Tanya Cavero dengan suara lembut.
Ririn yang mendengar itu tersenyum haru dan merentangkan tangannya. Cavero berjalan ke hadapan Ririn dan memeluknya. "Terima kasih sudah tidak membenciku lagi" lirih Ririn dalam pelukannya.
"Gue nggak pernah benci sama lo" ucap Cavero mengeratkan pelukannya. "Maafin gue kalo gue selalu kasar sama lo" lanjutnya.
Ririn menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Cavero. "Bukan salah kamu, ini salahku yang selalu nempelin kamu kemana-mana"
Inilah Ririn yang asli, jika bersama Cavero akan bicara dengan aku-kamu bukan lo-gue.
Cavero mengangguk singkat. "Gue udah maafin lo"
Ririn melepas pelukannya dari Cavero. Dia menatap seluruh keluarganya yang mengeluarkan air mata. "Terima kasih untuk semuanya. Ririn sayang kalian semua, aku pamit. Jaga kesehatan kalian semua terutama untuk mommy jangan terlalu banyak makan manis karena senyum mommy aja udah manis." Ucap Ririn tersenyum sedikit menggoda mommy nya itu membuat Ayudia semakin histeris.
"Nggak sayang nggak! Hiks jangan tinggalin mommy hiks." Ayudia menggeleng-gelengkan kepalanya memeluk erat Ririn.
"Jangan tinggalin hiks mommy lagi hiks." Isak Ayudia membuat semua menatapnya sedih.
Ririn tersenyum manis. "Dan buat daddy jangan sering begadang, begitupun dengan abang." Ririn menatap mereka berdua yang menitikkan air matanya. "Selamat tinggal" ucap Ririn di akhir perpisahannya, matanya perlahan tertutup membuat Adelard dan Nathan memalingkan wajahnya tidak kuat harus melihat putri dan adik kesayangannya pergi untuk selamanya.
"TIDAK! Tidak hiks Rin jangan tinggalin mommy!" Ayudia mengguncang tubuh Ririn yang menutup matanya tak sadarkan diri. Membuat semua orang panik.
"Cepat panggilkan dokter!" Ucap Adelard entah kepada siapa. Dia sendiri masih harus menenangkan istrinya yang masih terisak dalam pelukan Ririn. Adelard mencoba melepaskan Ayudia dan membawanya kedalam pelukannya.
"Dad bilang hiks sama mommy, ini hiks cuma mimpi hiks semua ini cuma mimpi kan dad hiks" isak Ayudia mencengkram baju lengan suaminya kuat.
"Ikhlas mom ikhlas. Kita harus mengikhlaskan semuanya." Ucap Adelard memeluk Ayudia dengan erat. Dia harus tegar dengan kenyataan yang baru ia alami demi keluarganya. Ayudia menggeleng kuat mendengar perkataan suaminya.
"Lethicia" raung Ayudia. Hatinya terasa hancur ketika mendengar ucapan selamat tinggal dari bibir putrinya itu.
Tidak berselang lama, dokter memasuki ruang rawat Ririn di ikuti oleh para suster di belaknagnya.
"Mohon maaf bapak dan ibu bisa tunggu di luar, kami akan menangani pasien sebisa mungkin." Ucap salah satu perawat mmeberitahu. Mereka pun berjalan keluar dengan hati penuh kecemasan.
Ya Allah selamatkan sweety lagi. Aku baru bertemu dengannya dan aku sangat menyayanginya meski dalam raga yang berbada. Batin Lorenz bedoa. Matanya terus menatap ke arah pintu ruangan Ririn.
Sementara itu di dalam ruangan, dokter dan tim berusaha sebisa mingkin untuk menolong Ririn.
"Dok, detak jantung pasien semakin melemah." Ujar salah satu perawat membuat kepanikan diantara mereka.
"Kita harus cepat! Berikan tabung oksigen kepada pasien!" Ujar dokter memberikan alat denyut jantung kepada Ririn.
__ADS_1
"Satu.. dua.. tiga" dokter menghitung dan menaruh alat tersebut tapi belum ada kemajuan.
"Tambahkan Vol nya" perintah dokter. "600cc siap!" Ucap salah satu perawat dengan lantang.
"Satu.. dua.. TIGA.." Dokter tersebut kembali menghitung dan melakukan yang sama. Sampai ketiga kalinya alat itu mengenai tubuh Ririn namun tidak ada kemajuan.
Dokter dan tim masih mengupayakan, sampai kali keempat akhirnya detak jantung Ririn kembali normal membuat dokter dan para perawat bernafas lega.
"Berikan obat pada cairan infus pasien. Kemungkinan untuk sadar kembali pasien membutuhkan waktu yang cukup lama." Titah sang dokter yang di angguki oleh salah satu perawat.
Gadis ini benar-benar diluar ekspektasiku, baru saja bulan lalu terkena koma sekarang harus mengalaminya lagi. Aku harap kau cukup kuat untuk bisa sadar kembali nona aneh. Batin dokter Justin yang dulu sempat bertengkar dengan Ririn.
Masih ingat dengan dokter yang di buat setres dengan Ririn ketika gadia itu bangun dari koma dan langsung bisa berlari?
Dokter Justin keluar menghadap keluarga Ririn dan menjelaskan apa yang terjadi dengan Ririn kepada mereka.
*****
Sekarang gue tau kenapa lo berubah. Dan sialnya gue suka dengan lo yang sekarang. Batin Cavero menatap pintu ruangan Ririn yang tertutup.
Semoga lo tenang disana. Batin Cavero lagi.
Ayudia sangat terpukul dengan kenyataan bahwa putrinya yang selama ini bukanlah putrinya yang sebenarnya. Begitu pun dengan yang lain. Jujur saja mereka masih belum percaya dengan kenyataan yang menurut mereka diluar nalar tapi pahitnya itulah kenyataan yang harus mereka terima.
Dalam pelukan Adelard, Ayudia terus menangis. Begitu juga dengan Aira dan nenek Odi yang sudah di jelaskan Nathan dengan sangat hati-hati mengingat kondisi neneknya, mereka berdua menangis dalam pelukan Nathan.
Nenek Odi tentu sangat terpukul dengan kenyataan ini, dari awal bertemu setelah sekian lama dia sudah merasa aneh dengan cucunya yang tidak seperti biasa.
"My love" raung nenek Odi dalam pelukan Nathan. Aira yang mendengar lirihan ibunya menangis kencang.
Siapa pun kamu, kamu tetap kesayangan tante. Batin Aira menangis.
Lorenz mengalihkan pandangannya menatap inti DARK SPIDER. "Bagaimana?" Tanya Lorenz dingin menatap mereka.
Ayudia mencoba menhentikan tangisnya dan menoleh kearah Lorenz dan inti dark spider karena mendengar suara dingin Lorenz. Entah apa yang di maksud dengan pertanyaan itu tapi hatinya mengatakan bahwa ini semua ada sangkut pautnya dengan putrinya itu.
...*****...
NEXT!
"Bagaimana?" Tanya Lorenz kepada inti Dark Spider lagi.
"Kita belum bisa menemukan mereka karena mereka seperti menghilang di telan bumi" jawab Leo selaku leader Dark Spider.
"Red Diamond?" Tanya Lorenz kepada inti Dark Spider yang hanya mereka yang mengerti.
Red Diamond? Batin Adelard terkejut mendengar nama kelompok mafia yang cukup di segani itu.
"Belum ada konfirmasi, King" jawab Leo menunduk hormat.
Tidak hanya Adelard yang terkejut namun Nathan juga terkejut mendengarnya. Nathan melihat mereka satu persatu, apakah Aqila yang memasuki raga adiknya adalah salah satu bagian dari mereka, pikirnya.
Ting..
Dering ponsel milik Jessy berbunyi tanpa pesan masuk. Jessy membukanya dan melototkan matanya membaca pesan tersebut.
"Maaf King." Ujar Jessy menghadap Lorenz. "Mereka bertiga ternyata di tangkap oleh Black Blood, entah apa yang membuat Black Blood menangkap mereka. Tapi saya rasa mereka menangkap tikus-tikus itu dengan tujuan yang sama dengan kita" lanjut Jessy menunduk hormat.
"Black Blood?" Gumam Lorenz sedikit terkejut mendengar salah satu kelompok mafia yang berada di atasnya.
__ADS_1
Black Blood jauh lebih kuat dan di segani oleh dunia dari Red Diamond.
Lagi lagi Nathan dan Adelard di buat terkejut mendengar perkataan mereka. "Siapa kalian?" Tanya Nathan dingin dan penasaran dengan mereka semua.
Lorenz dan inti Dark Spider menoleh menatap mereka yang juga menatap mereka dengan raut wajah bingung. Leo menoleh kepada Lorenz dan dia mengangguk.
"Dan tikus-tikus yang membuat Ririn masuk rumah sakit sudah di tangkap lebih dulu oleh Black Blood, seperti yang di jelaskan oleh Jessy." Lanjutnya lagi.
"Black Blood?" Gumam Nathan berpikir. "Bukankah semua anggota Black Blood memiliki tatto bergambar burung phonix kecil di bagian denyut nadi?" Tanya Nathan yang di angguki Lorenz dan Dark Spider.
Nathan terkejut mengingat siapa saja orang yang memiliki tatto tersebut. "Cavero!" Ucap Nathan celingak celinguk menatap sekitar mencari orang itu. Semua orang di buat bingung olehnya.
"Dimana Cavero?" Tanya Nathan yang tidak mendapati Cavero di sekitar mereka.
Lorenz mengangguk tersenyum mendengar itu. "Mommy daddy jagain Ririn sebentar, Lorenz ada urusan" ucap Lorenz tersenyum manis kepada Ayudia.
"Derren lacak keberadaan Cavero sekarang! Leo dan Arnold siapkan pasukan, Jessy dan Diki seperti biasa atur strategi untuk masuk kesana. MENGERTI?!" Perintah Lorenz dengan lantang.
"MENGERTI KING!" Jawab mereka serempak.
"Gue ikut!" Ujar Nathan yang tiba-tiba berdiri. Mereka menatap Nathan dalam diam lalu Lorenz mengangguk.
Mereka berjalan meninggalkan Adelard, Ayudia, Aira dan nenek Odi yang tersenyum melihat kekompakan mereka, terutama Nathan dan Lorenz di ruangan serba putih tersebut.
"Dek, bawa mama pulang aja. Kasian mama butuh istirahat, biar kak Dia sama kak Ade yang disini jagain Ririn." Ujar Adelard yang melihat mama mertuanya duduk dan menyender di tembok.
"Iya kak" jawab Aira patuh.
"Let's go home, ma." (Ayo pulang, ma) ajak Aira kepada ibunya dan membantunya untuk berdiri.
*****
Disisi lain.
Enam pemuda dan seorang gadis tengah berada di dalam mobil yang sama.
"Bagaimana, Ren?" Tanya Leo kepada Derren yang berada di kursi paling belakang.
"Belum" jawab Derren singkat.
"SIAL!" Umpat Derren yang terlihat kesal. Arnold yang duduk bersamanya melihat kearah laptop. "ERROR?" Tanya Arnold, seperti bukan pertanyaan tapi sebuah pernyataan.
"Tumben lo error dalam hal begini!" Ejek Diki.
"Black Blood bukan orang sembarangan, bahkan tingkatannya jauh lebih tinggi di bandingkan kita." Bantah Derren. "Dan gue rasa Cavero sudah tau siapa kita karena saat kita sampai di rumah sakit, dia melirik kita terus."
"Gue juga merasakan hal yang sama" lanjut Jessy.
"Apa Cavero adalah King Black Blood?" Tanya Arnold yang baru ingat sesuatu. Atensi semua orang teralihkan ke Arnold.
"Maksud lo, Ro?" Tanya Diki.
Mata Arnold bulat sempurna. "GOCHA!" Teriak Arnold membuat mereka terkejut.
"Gue udah duga," ucap Lorenz tersenyum miring.
...🌱...
Jangan lupa hadiahnya sayangku..
__ADS_1