
Hei gengs! Kalau kalian cari bacaan yang konfliknya berat jangan disini yaw wkwk. Ini aku buat cuma untuk hibur kalian tapi aku bikin sedikit konflik biar gak lurus-lurus aje ye kan.
...***...
Jam menunjukkan pukul empat sore. Ririn sudah nangkring di taman yang dekat dengan rumahnya.
Ririn duduk di kursi tengah-tengah taman. Ririn memperhatikan anak-anak kecil yang sedang bermain, ada juga yang bersama dengan orang tuanya.
Ririn melihat seorang anak perempuan yang duduk sendiri di sebuah ayunan. Karena Ririn adalah anak yang baik, jadi Ririn menghampiri anak itu.
"Hai cantik, kok sendirian aja?" Tanya Ririn membuat anak itu mengalihkan pandangannya ke arah Ririn.
"Gak kok kak, ini sama teman aku," jawab anak itu menunjuk ayunan yang ada di sebelahnya yang kosong.
"Temen?" Tanya Ririn membuat gadis kecil itu mengangguk.
"Iya itu temen aku, teman aku hebat banget deh kak. Bisa ngelepas matanya, terus bisa di pasang lagi," ucap gadis itu riang membuat Ririn memelototkan matanya ke arah ayunan yang bergerak dengan sendirinya itu.
"Kak? Kakak kenapa? Kakak namanya siapa?" Tanya gadis kecil itu memiringkan kepalanya menatap Ririn.
"Hah? Ehh na-nama kakak Ririn. Nama kamu?" Tanya Ririn gugup karena takut.
"Nama aku Inaya."
"Kakak mau kenalan juga gak sama teman aku?" Tanya Inaya membuat Ririn semakin melototkan matanya.
"Ha? Ah ga-"
"Inaya!" Panggil seorang wanita paruh baya menghampiri mereka. Wanita itu menghampiri Inaya dan langsung menggendongnya.
"Ma, kenalin ini kakak cantik. Dan kakak cantik kenalin ini mama Inaya," ucap Inaya memperkenalkan mereka dan wanita itu mengangguk.
"Rina, mamanya Inaya," ucap wanita itu mengulurkan tangannya tidak lupa dengan senyum cantiknya.
Ririn menerima uluran tangannya. "Ririn, teman anak mamanya Inaya," jawab Ririn membuat wanita itu terkekeh.
"Oh iya mba, Inaya anak indihome ya?" Tanya Ririn sedikit berbisik membuat Rina mengerutkan keningnya. Rina yang mengerti arah pembicaraan Ririn pun terkekeh dan mengangguk.
"Wahh mba, Ririn boleh nanya gak?" Tanya Ririn antusias.
Aneh sekali. Bukankah sedari tadi dia sudah bertanya padanya dan kenapa baru sekarang meminta izin padanya. Tapi tak khayal Rina menjawab. "Mau nanya apa Rin?"
"Mba udah kenalan sama temannya Inaya?" Tanya Ririn sembari mengusap tengkuknya merinding dan entah kenapa lengannya terasa sedikit berat sebelah membuat bulu kuduknya malah makin berdiri. Padahal di taman banyak orang.
"Teman yang mana Rin?" Tanya Rina balik sambil menahan senyumnya.
"Yang matanya bisa di bongkar pasang itu lo," ujar Ririn semakin mendekat ke arah Rina dan berbisik.
__ADS_1
"Ohh, itu yang lagi gelayutan di lengan kamu?" Tanya Rina yang lebih ke sebuah pernyataan. Ririn yang mendengar itu pun terdiam kaku, tak bergerak barang sejengkal pun.
"Rin?" Panggil Rina menahan tawanya.
Karena tidak mendapat respon, Rina mengguncang tubuh Ririn pelan. "Rin?" Panggilnya lagi.
Ririn yang tersadar pun menatap Rina aneh. "HUAAA MOMMYYYYY RIRINNNN MAU PULANGG!" Teriak Ririn langsung berlari dan menggayuh sepedanya dengan cepat. Karena tadi ia memilih menggunakan sepeda untuk ke taman.
Rina yang melihatnya pun tertawa lepas. Lucu sekali gadis itu, pikirnya. Rina sendiri padahal belum mengenal siapa teman anaknya itu, Inaya.
Tapi mengingat pertanyaan Ririn tadi membuatnya seketika berhenti tertawa. Kali ini Rina yang di buat merinding dan tangannya juga ikut merasakan berat.
"Inaya punya teman baru?" Tanya Rina pada sang anak yang diangguki Inaya. "Iya, itu lagi gelayutan di tangan mama," jawabnya membuat Rina seketika terdiam kaku dengan mata yang membulat sempurna dan mulut yang sedikit terbuka.
***
Malam ini Ririn berencana untuk pergi ke minimarket depan konflek perumahan, tapi mengingat kejadian tadi sore di taman membuat Ririn mengurungkan niatnya. Karena untuk pergi ke minimarket Ririn harus melewati taman itu lagi. Tapi jika tidak ke minimarket dan membeli cemilan, dirinya tidak akan bisa menonton drakor malam ini. Ia bimbang, gegana, gelisah, galau dan merana.
Dia membuka ponselnya dan mencari kontak seseorang. Tapi sudah beberapa kali di hubungi selalu operator yang menjawab. "Ish mas pacar kemana si dari tadi di telpon malah yang ngejawab cewek?" Kesalnya. "Wah pasti lagi selingkuh ni mas pacar. Awas aja kalau bener," lanjutnya ngomel tidak jelas.
Setelah memikirkan banyak pertimbangan, Ririn memutuskan untuk tetap pergi meski bulu kuduknya sudah berdiri lagi mengingat kejadian tadi sore.
"Kemana?" Tanya Nathan yang melihat Ririn menuruni tangga lengkap dengan piyamanya dan tas selempang kecil.
Ririn yang melihat Nathan ada di depannya seketika berbinar. "Abanggg," panggilnya bahagia.
Nathan mengerutkan dahinya bingung. "Kenapa?"
"Bang temenin ke minimarket depan," rengek Ririn.
"Mau beli apa?" Tanya Nathan.
"Mau beli cemilan buat nonton drakor nanti," jawab Ririn membuat Nathan merotasikan matanya. "Bang ayo," rengek Ririn yang tidak mendapat jawaban dari Nathan.
"Hm," jawab Nathan berdehem.
"Yes yes Aaaa makin sayang sama abangg," cetus Ririn senang.
Mereka berdua keluar rumah beriringan dengan Ririn yang tersenyum tak pernah luntur.
Saat melewati taman Ririn mengeratkan pelukannya di pinggang Nathan dan wajahnya ia sembunyikan di punggung Nathan. "BANG NGEBUT BANG!" Teriak Ririn mengagetkan Nathan dan refleks menambah gas motornya.
"Kamu kenapa sih dek?" Tanya Nathan bingung. Ririn seperti orang ketakutan apalagi saat melewati taman, bukan kah di taman tadi masih ramai.
"Huft! Akhirnya sampai," cetus Ririn turun dari motor dengan keringat di dahi dan nafasnya memburu.
"Kamu kenapa kaya orang ketakutan gitu?" Tanya Nathan melihat Ririn mengelap keringatnya.
__ADS_1
"Hah? Ah gak papa bang. Ayo kita masuk aja," ujar Ririn mengalihkan pembicaraan.
Mereka berdua masuk dan di sambut pegawai minimarket. "Selamat datang selamat berbelanja," ucap pegawai wanita yang berada di balik kasir. Ririn dan Nathan hanya tersenyum menanggapinya.
Ririn mengambil keranjang belanja lalu pergi ke stand snack. Sedangkan, Nathan hanya mengikuti dari belakang. Sesampainya mereka di stand snack-snack, Nathan meringis melihat Ririn yang mengambil adal beberapa snack ke dalam keranjang dan tak menyadari keranjangnya sudah penuh.
Tuk
Tuk
Ririn melihat apa yang jatuh dan mendengus. "Ish ni keranjang kok udah ful aja," omelnya lalu melihat Nathan yang berdiam diri. "Bang ambilin keranjang lagi," pintanya.
Nathan merotasikan bola matanya tapi tetap pergi mengambilkannya keranjang belanjaan.
Setelah di rasa cukup, Ririn membawa keranjang belanjaannya di bantu Nathan dan pegawai laki-laki yang membawa keranjang belanjaannya. Yaps, tiga keranjang terisi ful dengan berbagai cemilan dan minuman.
"Totalnya satu juta seratus tiga ribu delapan ratus mba," beritahu kasir.
"Bang bayar," titah Ririn dengan senyum manisnya membuat Nathan mendengus jengah namun tetap mengeluarkan credit card nya.
Selesai membayar, Ririn dengan santai mengayun-ayunkan empat kantong plastik besar berisi cemilannya dengan Nathan yang membawa satu plastik berisi minuman.
Dengan tidak tau dirinya Ririn merampok Nathan dengan cara halus padahal uangnya juga banyak di beberapa card yang dia punya.
...***...
SPOI NEXT!
"WOY PAK! BUKAIN GERBANGNYA DONG PAK SAYA KAN TELAT CUMA SATU JAM!" Teriak Ririn kepada bapak satpam di sekolahnya.
Cuma? Woy Rin sampai orang sudah selesai upacara karena hari ini hari senin lo bilang cuma? Aish entahlah.
"Maaf neng gak bisa," balas satpam itu.
Ririn tidak kehabisan akal, ia mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu. "Mau ya di sogok sama saya," ujarnya.
"Aduh neng gimana ya? Saya takut ketahuan sama yang lain," jawab bapak satpam tersebut menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan terhalang topi.
"Udah ambil aja pak, percaya sama saya," bujuk Ririn.
"Maaf neng!"
"Halah lama gue manjat juga ni pagar lama-lama. Bodo amat sama motor gue, mau di ambil orang ambil aja dah. Nnati gue beli lagi," cetus Ririn mulai memanjat pagar.
"Eh neng mau ngapain?" Tanya satpam itu panik.
"Makan siomay pak. YA MANJAT LAH PAK. Bapak gak liat kaki saya udah naik pagar gini?" Kesal Ririn.
__ADS_1
...🌱...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan gengs! Hadiahnya juga jangan lupa pren:)