RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL

RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL
FB PART-47


__ADS_3

"Lepasss!" Teriak seorang gadis yang terikat bersama dua temannya.


Mereka bertiga terus memberontak untuk di lepaskan. Namun, seorang pria yang ada di depannya dengan memakai topeng di bagian matanya itu tak peduli sama sekali, malah dia dengan santai duduk sambil menghisap rokok yang di apitnya di sela-sela jari telunjuk dan tengahnya. Menghembuskan asap melalui mulut dan hidungnya.


"Lo siapa hah?!"


"Apa salah kita!"


"Kenapa lo iket kita disini?!"


"Bacot!" Sentak orang tersebut.


Pria tersebut mengambil pisaunya yang ada di meja depannya. "Kalo gue ukir nama lo di tangan bagus nggak ya?" Pria tersebut tersenyum miring, Rima yang mendengar itu bahunya bergetar takut, tidak hanya dia tapi Anggun dan Gita tak kalah takut.


"Si-siap lo?" Tanya Rima bergetar. "Apa salah gu-e?" Tanya Rima lagi.


"Malaikat maut kalian" jawab Cavero santai namun terdengar dingin membuat Rima, Anggun mau pun Gita sangat ketakutan.


"Cav, di depan ada Red Diamond" beritahu David yang bari masuk keruang bawah tanah tempat dimana Rima dkk berada.


Cav? Batin ketiga gadis itu bertanya-tanya.


"Red Diamond?" Tanya Cavero menatap David dan dianggukinya.


"David!" Panggil Rima yang terkejut ada David disana yang tidak memakai topeng bagian mata seperti Cavero.


"Buat apa mereka disini?" Tanya Cavero dingin. David membisikkan sesuatu kepada Cavero yang membuatnya benar-benar kaget mendengarnya.


Cavero segera berjalan keluar di ikuti David, tapi David menghentikan langkahnya mendengar namanya di panggil seseorang.


"Vid! David!" Panggil Anggun cepat melihat David yang akan berjalan keluar.


David menoleh dan menaikkan alisnya menatap mereka. "To-long bawa kita keluar dari sini." Pinta Rima lirih dengan air mata yang sudah terjatuh.


David terkekeh mendengarnya. Rima, Anggun dan Gita yang mendengar David terkekeh terkesiap dan takut. "MIMPI!" Ketus David dan berjalan keluar meninggalkan mereka.


"Wow nggak nyangka seorang Cavero yang gue kenal pemuda SMA ternyata adalah pemimpin Black Blood." Ujar Loeenz dengan pura-pura terkejut. "Mafia yang dikenal kejam ternyata di pimpin seorang anak SMA." Lanjutnya.


"Mau apa?" Tanya Cavero to the point.


"Santai bro" ujar Nathan. "Berikan ketiga tikus itu!" Pintanya lagi.


Cavero mendengar perkataan yang keluar dari bibir Nathan. "Jangan mimpi!"


"Sudah-sudah." Lerai Lorenz. "Dimana dia sekarang? Gue mau dia mati!" Ucap Lorenz menggebu-gebu.


Tanpa membalas perkataan Lorenz, Cavero berjalan kearah ruang bawah tanah. Mereka yang melihat itu, mengikuti Cavero.

__ADS_1


"Hiks to-long hiks" ujar Rima terisak.


"Le-pas!"


"Hiks mama to-long"


Lorenz mendekati mereka. "Oh ini yang membuat adek gue sekarang harus di rumah sakit." Ujar Lorenz mencengkram dagu Rima membuatnya semakin terisak.


"Gu-e nggak kenal si-apa adek lo!" Sarkah Rima terbata-bata ketakutan.


"Ririn!" Ucap Lorenz dingin membuat ketiganya terdiam membeku.


Sekarang mereka tau alasan kenapa mereka berakhir berada di ruang yang sangat menyeramkan dengan pencahayaan yang minim, itu karena Ririn.


"Sudah ingat apa yang lo lakuin sama adek gue, hm?" Tanya Lorenz dingin.


"Kelamaan bangsat!" Geram Cavero melihat Lorenz yang terus saja berbicara dengan Rima dkk.


Lorenz yang mendengar itu pun segera mengeluarkan pisau lipat kecil dari saku jaketnya. "Muka lo cantik!" Celetuk Lorenz membelai wajah ketakutan Rima.


Srett!


Srett!


"AKHHH!" Rima menangis, dia memberontak, rasa perih menjalar di bagian wajahnya sampai kepalanya.


"AAKKHHH!" Tangis Anggun dengan kencang seiring air mata yang jatuh bercampur darah. Begitupun dengan Gita.


Nathan yang melihat bagaimana Lorenz yang dengan mudah tanpa beban menyayat wajah ketiganya tercengang. Dia meringis, dia memalingkan wajahnya ke arah lain.


Tapi tidak dengan Cavero, David, Malik, Lorenz dan yang lain. Hal seperti ini adalah hal biasa bagi mereka.


"Sekarang bagian gue!" Titah Cavero berjalan mendekati Rima dkk yang masih terisak.


Cavero berjongkok menyamakan mereka. "Kayanya tangan lo lebih bagus begini deh" ujar Cavero santai memotong jari-jari tangan Rima.


Gadis itu terus menangis dan berteriak kesakitan dan gadis itu masih memiliki tangan namun tanpa jari.


"Kalo gini kan jadi makin bagus tangan lo." Caveeo tersenyum lalu mengambil potongan jari-jari itu dan memasukkannya ke dalam toples yang sudah dia sediakan.


Anggun dan Gita yang melihat itu semakin histeris, mereka terus memejamkan matanya tidak kuat melihat bagaimana Rima yang kesakitan.


Tangisan ketiganya terdengar sangat pilu dan menyakitkan. Tapi yang lain tidak peduli akan hal itu, berbeda dengan Nathan yang sudah keluar dari ruangan tersebut dari tadi karena tidak sanggup melihat itu semua.


Ketiga gadis itu sekarang hanya memiliki tangan tapi tidak memiliki jari-jari. Cavero menggoyangkan toples tersebut sehingga berbunyi nyaring membuatnya tertawa keras tapi sangat menyeramkan.


"Bekas jari-jari ini yang gue lihat kemarin di wajah cantik pacar gue." Tawa Cavero keras.

__ADS_1


"Tanggal berapa sekarang?" Tanya Cavero entah kepada siapa.


"David!" Geram Cavero karena tidak mendapatkan jawaban dari mereka semua.


"Tujuh" jawab David singkat.


"Die or Death?" Tanya Cavero. "Malik!"


Ck kenapa harus gue sih. Kesal Malik dalam hatinya.


Malik mulai memilih dengan jarinya. "Die"


"Death"


"Die"


"Death"


Sampai jari ke tujuh. "Die" beritahu Malik dengan lantang.


"Oke!" Balas Cavero dengan senyum seringainya.


"Ja-ngan. Gue mohon" Rima memohon menatap Cavero tapi dia sama sekali tidak menghiraukan itu. Ucapan Rima, Anggun dan Gita yang terus memohon dengan tangisan pilu di anggap hanya angin lewat.


"Gue juga dong" pinta Lorenz yang dari tadi hanya menonton di belakang Cavero.


Cavero menoleh ke belakang kemudian mengangguk. Lorenz berjalan ke arahnya dengan pisau lipat kecil di tangannya.


"Katakan selamat tinggal untuk terakhir kalinya, sayang." Ujar Lorenz tersenyum miring kepada Gita sambil membelai rambut berantakannya.


Gita hanya menangis, bahunya bergetar hebat karena ketakutan. "BERISIK!" Bentak Lorenz.


Lorenz langsung menancapkan pisau kecilnya tepat mengenai jantungnya dengan tersenyum smirk. Begitu pun dengan Cavero yang melakukan hal yang sama kepada Rima dan Anggun. Seketika Rima, Anggun dan Gita menghembuskan nafas terakhirnya.


"Bereskan mereka!" Titah Cavero kepada dua orang penjaga di ruang bawah tanah tersebut.


Setelah mengatakan itu, Cavero dan yang lain berjalan keluar dan mendapati Nathan yang wajah gusarnya.


Lorenz yang melihat Nathan terkekeh geli. Begitu pun dengan yang lain. "Sudah muntah berapa kali?" Tanya Lorenz terkekeh kepada Nathan.


Nathan yang mendengar itu hanya menatapnya datar tanpa ada niat untuk menjawabnya. Dia masih membayangkan bagaimana mereka dengan begitu santainya melakukan hal seperti itu. Mengingat itu membuat Nathan bergidik ngeri.


...🌱...


Oke next part aku buat yang lucu aja..


Jangan lupa favorit, like komen dan hadiahnyaa sayangkuu..

__ADS_1


__ADS_2