
Sesampai di kamarnya, Ririn menaruh tasnya di meja belajar lalu dia melemparkan tubuhnya di kasur queen size miliknya.
"Kenapa gue harus mikirin omongan orang coba, aduhh Qila bukannya hal ini sudah biasa buat lo" monolognya sendiri sembari menatap langit-langit kamarnya.
"Apa gue suka lagi sama dia?" Lanjutnya.
"Nggak nggak nggak mungkin gue suka sama dia. Iya nggak mungkin" Ririn menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran yang baru saja terlintas.
Lamunannya buyar karena mendengar suara ponselnya.
Ddrrttt Drttt
...Zero...
Satu nama itu yang menelponnya.
"Iya halo?"
"Halo Rin, nanti malem ada balap lo mau ikut nggak?" Tanya Arnold di seberang sana.
"Jam?"
"Seperti biasa"
Ririn berpikir sebentar. "Iya gue mau. Lo tolong daftarin"
"Oke, di jalan xx. Kalo lo nggak tau nanti gue jemput"
"Gue tau kok, nanti ketemu disana"
"Oke"
Tut
"Udahlah lebih baik gue mandi istirahat" monolognya bangkit dari tidurnya lalu berjalan ke kamar mandi.
Setelah mandi dan memakai bajunya, Ririn berbaring seperti sebelumnya sambil melihat-lihat room chat nya. Ada satu chat masuk yang membuatnya mengernyitkan dahinya heran.
...Cavero...
Lg dmn?
Ni orang tumben chat gue. Batin Ririn heran.
^^^Anda^^^
^^^Rumah^^^
Nnt mlm gue jmp.
^^^Lo ngetik apa, bego!^^^
Nanti malem gue jemput
^^^Ngapain?^^^
Gk prl tau, lo siep² aj nnt jam 8 gue jmp.
^^^Sumpah gue nggak ngerti lo ngetik apa.^^^
^^^Gue tau lo kalo ngomong irit, tapi jangan ngetik juga lo ngirit. Bangsat!!^^^
Gak perlu tau, lo siep² aja nanti jam 8 gue jemput!
^^^Nah gitu kan enak bacanya.^^^
^^^Nggak bisa, gue ada janji.^^^
Mau kmn?
^^^Nggak perlu tau!^^^
Depan!
^^^Depan apaan?^^^
Gue di depan rmh lo!
^^^Ha? Ngapain lo njing?^^^
Udah buruan!
Read
Ririn berlari turun ke bawah dan menuju gerbang. Dan benar saja disana sudah ada Cavero yang masih memakai helm di atas motor.
"Ngapain lo kesini?" Tanya Ririn sedikit ngegas.
"Emang salah gue ke rumah pacar gue sendiri?" Tanya Cavero balik mendiami Ririn.
"Siapa pacar lo?" Tanya Ririn menantang. "Lo lah"
Ririn memalingkan wajahnya yang susah blushing. "Bukannya lo sendiri yang bilang kalo gue bukan pacar lo"
"Lo nggak nawarin gue masuk?" Tanya Cavero mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Nggak usah. Pulang sana, gue sendirian di rumah" usir Ririn.
"Yakin sendirian?"
"Iya sendirian, yang lain keluar kota" alibi Ririn. "Terus yang cowok pake kaos hitam lagi cuci motor itu siapa?" Tanya Cavero dan seketika Ririn menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya Ririn mendapati abangnya sedang cuci motor.
Bukannya tadi ada di kamarnya? Batin Ririn bertanya-tanya.
"Gue lagi nggak enak badan, lo pulang aja" alasan Ririn lagi masih berusaha untuk mengusir Ririn.
"Ayo pacaran beneran" ucap Cavero tiba-tiba membuat Ririn melengo.
"Hah?" Beo Ririn.
"Gue suka sama lo. Jadi pacar gue beneran" ucapnya lagi.
Blushing.
Kedua pipi Ririn merona, bibirnya bergetar menahan senyum, jantungnya seketika berdetak lebih kencang. Apakah ini reaksi dari tubuh Ririn saja atau memang Aqila juga mencintai Cavero.
"RIN, KENAPA NGGAK AJAK TAMUNYA MASUK" Teriak Nathan yang melihat Ririn sedang ngobrol dengan seseorang. "IYA BANG" balas Ririn.
"Lo sih, pulang lo sana!" usir Ririn kepada Cavero. "Lo masih belum jawab pertanyaan gue yang tadi" ujar Cavero masih kekeh tidak mau pergi.
"Kita kan emang pacaran, njim"
"Gue mau serius sama lo" ucap Cavero serius. "Bukan karena bokap gue yang akan ngajak lo dinner" lanjutnya.
"Iya ya. Sekarang lo pulang sana" ucap Ririn mengibas-ngibaskan tangannya mengusir Cavero.
"Oke. Nanti jam delapan gue jemput" ucap Cavero akan menyalakan mesin motornya tapi tidak jadi karena balasan Ririn. "Nggak bisa, gue ada janji"
"Janji sama siapa?" Tanya Cavero penasaran.
"Arnold!"
"Mau kemana?" Tanya Cavero lagi. "Kepo banget sih lo"
"Mau kemana?" Tanya Cavero sekali lagi.
"Mau balapan. Puas!" Sentak Ririn.
"Nggak boleh!" Balas Cavero cepat. "Kok lo ngatur?" Ucap Ririn tidak suka.
"Nggak boleh pokoknya!"
"Terserah lo, tapi gue tetep kesana!"
"Oke. Nanti gue jemput!" Ucap Cavero pasrah. "Nggak perlu, gue bawa motor"
"Terserah dah serah" pasrah Ririn kemudian masuk tanpa memperdulikan Cavero yang masih di luar.
"Baru juga jadi pacar beneran gue udah sok-sokan ngatur gitu" gerutu Ririn.
"Nyesel gue bilang 'iya' tadi" monolognya lagi.
Cavero yang melihat Ririn menghentakkan kakinya dan samar-samar mendengar Ririn ngomel hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Gemes. Batin Cavero kemudian menyalakan motornya lalu melenggang pergi.
...*****...
Seperti yang sudah Cavero bilang. Cavero akan menjemput Ririn, jam di dinding baru menunjukkan pukul setengah tujuh tapi Cavero sudah di rumahnya sekarang.
Sepertinya pemuda itu tidak pulang, karena baju yang di pakai sama seperti yang di pakai sore tadi. Atau dia pulang tapi tidak ganti baju? Entahlah.
Tok Tok Tok
"Eh Cav, mau ketemu Ririn?" Tanya Nathan yang baru membukakan pintu.
"Iya bang, Ririnnya ada?"
"Ada kok di dalem. Kamu tunggu di dalem aja ayo, abang panggilkan dulu"
"Iya bang, makasi"
Nathan naik keatas meninggalkan Cavero untuk memanggil Ririn.
Tap tap tap
Suara seseorang menuruni tangga membuat atensi Cavero yang duduk di sofa ruang tamu beralih ke arah tangga. Ada Ririn yang baru menuruni tangga dengan baju hitam celana jeans panjang serta jaket kulit dan rambut yang di kuncir kuda.
"Ayo langsung pergi aja" ucap Ririn. "BANG RIRIN PERGI DULU SAMA CAVERO" Teriak Ririn berharap abangnya dengar karena malas naik tangga lagi.
"Iya. Pulangnya jangan kemaleman" balas Nathan dari atas tangga. "Cav, jagain Ririn" lanjutnya lagi kepada Cavero.
"Iya bang, kalo gitu kita pergi dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
*****
Selama di perjalanan tidak ada yang membuka suara. Tiba-tiba Cavero menarik kedua tangan Ririn yang berpegangan di pinggangnya, menuntunnya untuk memeluknya.
"Apaan si lo" berontak Ririn untuk melepaskan tangannya tapi di tahan Cavero. "Pegangan nanti jatuh"
__ADS_1
"Modus lo" sentak Ririn. Tapi tak khayal dia blushing dengan perlakuan Cavero yang menuntunnya untuk memeluknya.
Kemarin memang Ririn memeluk Cavero waktu pulang sekolah, tapi sekarang beda. Jantung Ririn seakan berdetak lebih cepat dari sebelumnya apa lagi sore tadi saat Cavero dengan lantangnya menyatakan perasaannya.
Apa gue punya penyakit jantung? Batin Ririn memegang dadanya.
"Jangan pergi" ujar Cavero.
"Ha?" Beo Ririn yang tidak mendengar apa yang di katakan Cavero.
"LO CANTIK" Teriak Cavero. Sekali lagi Cavero berhasil membuat Ririn salah tingkah.
Ririn menguatkan pelukannya sambil menyembunyikan wajahnya di punggung Cavero. Jangan tanyakan jantungnya sehat atau tidak sekarang!
Anjing! Gue baper. Batin Ririn tersenyum.
...*****...
NEXT!
"Gimana? Sudah siap?" Tanya Arnold langsung, tapi tidak ada jawaban dari Ririn yang hanya berdiri kaku sembari tersenyum kikuk. "Ak-u hmm.."
"Biar gue yang gantiin dia" ucap Cavero cepat membuat Arnold menoleh ke arahnya.
"Tapi gue daftar atas nama Ririn" balas Arnold. "Tinggal ubah apa susahnya."
"Udah biar gue yang tetap maju, Ro gue pinjem motor lo. Gue nggak bawa motor" lerai Ririn yang langsung di tatap horor oleh Cavero. Bagaimana bisa dia membiarkan kekasihnya balapan.
"Apa lo beneran mau balapan?" Tanya Cavero dengan suara berat. Ririn hanya mengangguk cepat tanpa ragu tapi tidak dengan hatinya yang sudah was-was melihat tatapan dan suara Cavero kepadanya.
"Kenapa?" Tanya Ririn polos membuat Cavero gemas.
"Wihh siapa nih?"
"Ohh ini yang lo daftarin buat balap malam ini, Nold?"
"Wihh cantik Nold"
"Kenalan dong"
"Ekhm!" Deheman Cavero membuat atensi mereka beralih ke arahnya.
Kok aneh. Batin Ririn yang melihat sekilas orang yang awalnya biasa saja saat melihatnya datang namun berubah seratus delapan puluh derajat saat melihat Cavero datang di belakangnya.
"Sudah siap?" Tanya seorang perempuan di tengah peserta balap sambil membawa bendera kecil berwarna hitam dengan pakaian sedikit terbuka. Bukan, bukan sedikit tapi emang terbuka!.
Keempat peserta hanya mengangguk sebagai jawaban. Dari keempat peserta hanya Ririn seorang yang perempuan. Tapi ketiga musuhnya tidak tau karena dari area tempat Arnold tadi Ririn sudah memakai helm.
BRUMM
BRUMM
BRUMM
BRUMM
"SATU.. DUA.. TI-GA!" Teriak perempuan yang tadi sambil melempar bendera hitam ke udara sebagai tanda permainan sudah di mulai.
Keempat peserta yang mendengar itu, langsung saling kebut-kebut untuk mengejar garis finish.
"Waw lo kalah dari cewek Li" seru Diga kepada temannya yang bernama Liam.
"Bisa-bisanya lo bertiga kalah dari cewek, ckck" seru seorang pemuda lagi yang bernama Juan teman salah satu peserta yang bernama Gilang.
"Bacot lo!" Sentak Bian salah satu peserta.
"Sejak kapan lo suka balapan?" Tanya Cavero memecah keheningan di antara mereka.
"Sejak.. sejak kapan ya? Lupa gue" jawab Ririn sekenanya.
"Gue serius!"
"Kita makan dulu" ucap Cavero dingin, Ririn hanya menganggukkan kepala cuek dengan sikap dingin kekasihnya itu.
"Mang baksonya dua sama es teh nya juga" ujar Cavero kepada mamang bakso.
"Siap atu den"
"Cav?"
"Cav ngomong dong, jangan diem doang. Masa baru tadi sore jadian udah di kacangin aja gue, njirr" gerutu Ririn melihat Cavero yang cuek bebek sambil pegang ponselnya.
"Ririn jangan ngomong kasar!" Peringat Cavero.
"Lagian lo sih kacangin gue"
"Ini den baksonya" Ucap mamang yang datang membawa bakso pesanan mereka.
...🌱...
Maaf sepertinya tidak bisa update 3 part hari ini.
Yuk bantu aku biar bisa up 3 part lebih sehari dengan share ke teman-temanmu..
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan gengs!
__ADS_1
Alapyu