RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL

RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL
PART 41


__ADS_3

PLAKK


Ririn kembali di tampar. Riam dan teman-tennya tertawa terbahak-bahak melihat Ririn yang tersiksa.


"ANJING! SIALAN! KALO LO BERANI KITA DUEL AJA BY ONE!" Amik Ririn mencoba melepaskan diri.


BUGH


Rima memukul Ririn. Ririn cukup terkejut dengan pukulan Rima, tidak terlalu kuat tapi cukup membuatnya pusing.


BUGH


Anggun menendang kaki Ririn sedikit keras.


BUGH


"Dan ini buat lo yang sudah mempermalukan gue di depan banyak orang kemarin!" Ujar Rima memukul kembali wajah Ririn membuatnya mengeluarkan darah dari hidung Ririn.


"Udah! Ayo cabut! Biarin aja dia disini sampai mati!" Ujarnya kemudian melangkah keluar bersama Anggun dan Nita.


"Good!" Gumam seseorang mematikan camera ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. "Sembunyi-sembunyi" bisiknya kepada temannya karena melihat Rima dkk yang berjalan keluar.


Setelah di rasa aman. Seorang tadi dan kedua temannya keluar dari balik tembok dan berjalan masuk ke dalam gudang tersebut.


Ririn yang sudah tidak berdaya tapi sekuat tenaga berusaha untuk melepaskan tali yang mengikat tangannya terhenti karena mendengar pintu di buka. Ririn menyipitkan matanya melihat siapa yang datang.


"To-long!" Pintanya lirih.


"Iya Rin, lo harus bertahan." Ujar Monika berlari ke arah Ririn yang sudah terkapar dengan raut wajah khawatir.


Yaps, orang yang sedari tadi video perlakuan Rima kepada Ririn adalah Monika dan Jessica, temannya. Monika membuka ikatan tali pada tangan Ririn, sedangkan Jessica pada kakinya.


"Maaf gue nggak nolongin lo dari tadi, karena takut gue juga di sekap sama seperti lo. Gue mau minta tolong tapi sudah sepi" ujar Monika sembari membantu Ririn berdiri di sisi kanan dan Jessica di sisi kiri. "Dan gue juga mikir kalo gue di sekap bareng lo siapa yang bantuin kita nanti"


"Maaf banget, Rin" lanjut Monika dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ingatannya kembali pada kejadian malam itu dimana dia hampir di lecehkan oleh dua pria jika Ririn dan Cavero tidak datang.


Ririn sama sekali tidak membalas ucapan Monika, dia benar-benar lelah dan sakit di bagian kepalanya.


"Maaf gue juga nggak bisa lawan mereka, karena kondisi gue. Kalo gue lawan mereka bisa-bisa nanti beasiswa gue di cabut. Maaf banget Rin" ujar Jessica, matanya berkaca-kaca melihat Ririn yang wajahnya penuh lebam dan seluruhnya merah.


Ririn hanya menanggapinya dengan menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum tipis.


"Pelan-pelan aja jalannya" ujar Monika kepada Ririn dan Jessica.


"Sa-kit" lirih Ririn memejamkan matanya sambil berjalan pelan.


"Iya gue tau. Lo harus tahan sebentar lagi sampai mobil" ujar Monika menenangkan.


Memang yang banyak mendapatkan tamparan dan pukulan adalah kepalanya bukan kakinya, tapi pukulan Rima mampu membuatnya pusing dan mengeluarkan darah dari hidungnya.


Sesampainya di samping mobil milik Monika, Jessica masuk terlebih dahulu di kursi penumpang dengan Ririn yang di baringkan berbantalan paha Jessica.


Setelah memastikan Ririn aman, Monika berlari menuju balij kemudi dan menjalankan mobilnya meninggalkan area sekolah.


"Ayo Ka cepetan!" Ujar Jessica panik.


"Iya ya ini juga sudah ngebut gue" jawab Monika sedikit panik dan khawatir.


Saat ini dia sungguh khawatir, bukankah dulu dia sangat membenci Ririn? Tapi entahlah semenjak kejadian malam itu, Monika sadar sejahat apa dia kepada Ririn tapi Ririn masih dengan suka rela menolongnya. Sungguh Monika merasa sangat bodoh saat itu dan sekarang, dia tidak bisa menolong Ririn dengan cepat membuat Ririn sakit seperti sekarang.


Air mata Monika lolos begitu saja tanpa di minta melihat wajah Ririn yang penuh dengan lebam dan darah yang mengalir dari hidungnya. Dengan kasar dia menghapus air matanya, tangannya bergetar.


Tidak jauh berbeda dengan Jessica yang terus berkata 'bertahan sebentar lagi kita sampai' dengan air mata yang sudah dari tadi menetes.


Sungguh Ririn membenci situasi sekarang ini, dia tidak suka dikasihani dia tidak suka menjadi alasan orang lain menangis. Tapi hatinya tersenyum melihat Monika yang sangat khawatir dengannya.


Sesampainya di rumah sakit, Monika turun lebih dulu dan berlari masuk.


"SUSTER SUSTER" Teriak Monika. "TOLONG TEMAN SAYA, SUS!"


Perawat yang mendengar itu segera mendorong brangkar pesakitan menuju mobil Monika.


Monika membuka pintu mobil belakangnya dan perawat laki-laki segera mengangkat tubuh Ririn lalu di taruh di brangkar pesakitan. Mereka mendorong brangkar dengan berlari sampai di masuk ruangan, tapi Monika dan Jessica di tangan di pintu masuk.


"Sus, tolong teman saya" pinta Monika lirih.


"Pasti kita akan bantu, mohon tunggu di luar" jawab suster dan menutup pintu.

__ADS_1


"Rin, maafin gue" ucap Monika lirih.


"Kita duduk dulu. Doain semoga Ririn baik-baik aja." Ujar Jessica mencoba menenangkan teman kelasnya itu. "Jes, gue takut banget kalo Ririn kenapa-napa" lirih Monika.


"Gue emang udah jahat banget sama dia dulu, tapi dengan status gue yang musuhnya pun dia tolong di saat gue akan di lecehkan waktu itu sama dua orang. Dia orang baik, Jes. Baik banget" lanjutnya menangis memeluk Jessica.


Monika benar-benar merasa tidak berguna sekarang. Dia sangat berhutang budi dengan Ririn tapi dengan berpikir akan takut sama Rima dkk membuatnya tidak bisa membantu Ririn dengan cepat.


Jessica tau bagaimana Monika membenci Ririn dan selalu membuat drama seolah-olah Ririn telah membully-nya. Tetapi melihat bagaimana rapuhnya Monika sekarang, bagaimana khawatirnya dia sekarang membuatnya mengerti akan besarnya rasa bersalah yang temannya tersebut rasakan.


"Percaya sama Tuhan, Ririn akan baik-baik saja" balas Jessica membalas pelukan Monika.


"Apa kita harus memberitahukan kepada orang tuanya?" Tanya Monika tiba-tiba.


Jessica terlihat berpikir sebentar. "Kaya harus, nggak mungkin kita biarin Ririn sendirian disini nanti sedangkan kita juga nggak mungkin selalu stay disini."


"Oke. Gue chat Cavero dulu" ujar Monika membuka ponselnya mencari kontak Cavero.


"Bagaimana dengan video itu?" Tanya Jessica mengingat mereka berdua merekam semua perlakuan Rima kepada Ririn.


"Sekarang gue sebar ke grub sekolah" jawab Monika.


Ceklek


Terlihat seorang pria baruh baya keluar dari ruang tempat Ririn di tangani dengan jas putihnya.


"Dok, bagaimana dengan teman saya?" Tanya Monika cepat kepada dokter tersebut.


"Alhamdulillah tidak ada luka serius. Hanya tulang hitungnya yang patah itu mengakibatkan darah keluar tapi darahnya sudah kita hentikan." Jelas dokter tersebut membuat Monika dan Jessica menghela nafas lega mendengarnya.


"Apakah dia sudah sadar, dok?" Tanya Jessica.


"Pasien belum sadar karena di beri obat bius. Kemungkinan sebentar lagi akan sadar. Pasien akan di pindahkan ke rawat inap setelah ini" Jawab dokter tersebut.


"Kalau begitu saya permisi dulu" pamit dokter.


"Terima kasih dok" ucap Monika dan Jessica barengan.


"MONIKAAA!" Teriak Cavero yang berlari kearahnya bersama David.


"Gimana keadaan Ririn?" Tanya Cavero to the point.


"KARINNNN!" Geram Cavero. Awalnya Cavero berpikir Monika lah yang membuat Ririn masuk rumah sakit, tapi setelah melihat video yang di kirim Monika ke grub sekolah membuatnya sangat marah.


"Sebaiknya lo kasih tau keluarganya. Karena gue nggak punya nomor keluarganya makanya gue kasih tau lo" ujar Monika yang di angguki Cavero.


Cavero meronggoh ponselnya yang berada di dalam saku celananya lalu mengotak-atiknya.


...*****...


NEXT!


"Nak Caveroo!" Panggil seorang pria paruh baya yang berlari menghampirinya bersama Nathan dan Ayudia, terlihat pula Aira yang dengan sabar menuntun nenek Odi di belakang mereka.


"Bagaimana keadaan Ririn?" Tanya Ayudia dengan suara bergetar, bahkan air matanya tidak berhenti untuk mengalir.


"Sus, bagaimana dengan anak saya?" Tanya Ade lagi untuk memastikan keadaan anaknya.


"Keadaan pasien tidak terlalu parah, tulang hidungnya patah membuat darah keluar dari hidungnya. Selebihnya tidak ada masalah pak" jelas suster tersebut.


"VVIP" ujar Ade singkat. "Pindahkan anak saya ke ruang VVIP."


"Kalo begitu saya permisi dulu, mari," pamit suster tersebut.


"Kalian berdua lebih baik pulang dulu. Baju kalian juga ada noda darahnya" ujar Cavero kepada Monika dan Jessica.


"Em-eh iya"


"Kalo gitu, kami berdua pamit dulu om tante" pamit Monika dan Jessica.


"Tunggu!" Cegah Ade yang membuat langkah mereka terhenti.


Melihat dari baju dan keadaan kedua gadis di hadapannya sekarang ini, Ade yakin bahwa mereka yang sudah menolong anaknya.


"Tidak perlu om, saya bawa mobil sendiri kok" tolak Monika sedangkan Jessica hanya terdiam.


"Iya sudah kalian hati-hati"

__ADS_1


"Iya om, permisi"


Cavero yang melihat mereka berdua berjalan pelan segera menelpon seseorang.


"Ikuti dua gadis yang baru saja keluar dari sini. Bila perlu antar mereka, pastikan keduanya baik-baik saja sampai tujuan" ujar Cavero kepada seseorang yang ada di sebrang telpon.


*****


Di ruang rawat inap VVIP terlihat ramai orang yang sedang menatap orang yang sedang tidur nyenyak dengan luka lebam memenuhi wajahnya. Mereka adalah Adelard, Ayudia, Aira, nenek Odi, Nathan dan Cavero.


Ayudia duduk di samping brangkar menggenggam tangan anaknya. Dia menatap wajah Ririn sendu, hatinya sangat sakit melihat banyak luka lebam pada wajah anaknya.


"Bangun nak. Ini mommy" ujar Ayudia lirih.


Ceklek


Tidak ada yang tidak bingung dengan kehadiran lima pemuda dan satu gadis tersebut. Terlebih Cavero yang sudah mengepalkan tangannya melihat salah satu pemuda tersebut memeluk Ririn.


"Bangun sayang, abang sudah ada di sini" bisik seorang pemuda yang tengah memeluk tubuh pucah Ririn.


"Kalian siapa?" Tanya Aira yang sudah sangat penasaran.


"Lohh Lorenz?" Terkejut Nathan yang melihat orang tersebut.


"Eeugh" lengkuh Ririn setelah beberapa saat.


"Mana yang sakit? Sebentar tante panggilkan dokter dulu" serocos Aira cepat.


Grepp


"Bang nggak bisa nafas" ujar Ririn sesak. "Eh maaf-maaf, abang kelepasan" jawab Lorenz cengir.


Semua terdiam dalam kebingungan melihat Interaksi antara Lorenz dan Ririn yang terlihat sangat akrab bahkan terlihat seperti orang yang sudah lama kenal.


Ceklek


Pintu ruangan dibuka seorang paruh baya yang menggunakan jas putih di ikuti oleh dua orang perempuan berseragam biru di belakangnya.


"Maaf menggangu, saya periksa dulu" ucap dokter tersebut sopan.


"Silahkan dok" jawab Ayudia cepat.


Dokter dan kedua perawat tersebut melangkah mendekati Ririn dan mulai memeriksanya.


Setelah di periksa, dokter beralih menghadap Ade dan yang lainnya. "Keadaan pasien sudah mulai stabil. Tapi perlu di rawat beberapa hari disini dulu. Dan selalu olesin salep yang saya berikan waktu itu untuk luka lebamnya supaya cepat sembuh dan memudar." Jelas dokter tersebut.


Semua bernafas lega. "Terima kasih dok" ucap Ade tersenyum.


"Sama-sama pak. Dan jangan lupa minum obatnya secara teratur"


"Kalau begitu kami permisi dulu, pak/bu" pamit dokter dan perawat tersebut, mereka yang ada di ruangan tersebut hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu kenal Lorenz, dek?" Tanya Nathan penasaran setelah dokter dan kedua perawat itu benar-benar pergi. Jujur dia sedikit cemburu melihat interaksi Lorenz dengan adiknya.


Ririn menoleh kepada Nathan. "Abang kenal?" Tanya Ririn bukan menjawabnya. Nathan mengangguk singkat. "Dia teman SMA abang dulu di Bandung dan sekarang rekan bisnis abang juga" jawab Nathan.


"Rekan bisnis?" Beo Ade.


"Iya dad. Dia anak dari om Bayu rekan kerja daddy dari Bandung" jelas Nathan.


"Bayu?" Pikir Ade. Sedetik kemudian, dia terkejut. "Orenz?" Tanya Ade menunjuk Lorenz dengan mata berkaca-kaca. Lorenz mengangguk singkat sebagai jawaban.


"Tidak apa-apa om" jawab Lorenz.


Ririn menangis melihat interaksi dari daddy dan abangnya itu.


"Sayang ada yang sakit? Kenapa nangis? Kasih tau mommy, mana yang sakit nak?" Tanya Ayudia beruntun membuat semua orang menoleh ke arah Ririn.


"Ririn nggak papa mom" jawab Ririn menghapus jejak air matanya.


Cavero hanya berdiri di belakang mereka menahan diri untuk tidak menonjok Lorenz yang berani-baraninya memeluk kekasihnya itu.


"Emm sebenarnya.."


...🌱...


Jangan lupa tinggalkan jejak di setiap part gengs. Vote, Like, Komen, and Share..

__ADS_1


Jangan lupa bantu lindungi juga di Carnaval toon..


__ADS_2