
"Eh Cav, lo benci sama si Rir- eh maksudnya gue?" Tanya Ririn.
"Hah?"
"Emm, lo benci sama gue?"
"Hm."
"Oke. Terus apa yang harus gue laluin supaya lo nggak benci lagi sama gue?" Tanya Ririn serius dan antusias.
"Cukup jauhin gue dan jangan ganggu gue!" Jawab Cavero.
"Aaaaaakkh yang bener? Alhamdulillah ya Allah." Ucap Ririn kegirangan.
Akhirnya dia tidak perlu berurusan dengan manusia menyebalkan ini. "Oke. Dengan ini saya menyatakan bahwa saya akan berhenti mengganggu kalian lagi. Jadi, kembalikan hp saya dan saya pun akan pergi menjauh dari kalian!" Ucap Ririn formal sembari mengulurkan tangannya meminta handphonenya kepada Cavero.
"Ngapain?" Tanya Cavero.
"Ha?" Ririn mengerjapkan matanya bingung.
"Tangan lo."
"Lo kan minta gue buat jauhin lo. Jadi, balikin hp gue dulu abis itu gue janji bakal jauhin lo."
"Oh g-"
Brakk
Argh
Ririn merasakan panas di area pundak hingga tangannya karena ada seorang murid perempuan yang menumpahkan kuah bakso ke arahnya dengan sengaja. Membuat Cavero dkk semua yang melihatnya terkejut.
Aduhh anjir panas huaaaaa jangan-jangan pundak sama tangan gue hilang. Batin Ririn ngelantur sembari mengibas-ngibaskan tangannya.
"Ma-maaf Ririn aku nggak se-sengaja." Ucapnya gugup dan takut dengan mata berkaca-kaca. Ririn menatap tajam perempuan di hadapannta ini.
Si anak gorila ternyata. Wah mau main-main sama gue bit*h. Geram Ririn dalam hati.
"Makanya kalo jalan hati-hati!" Peringat Riri?n tenang membuat perempuan itu bingung dengan reaksi Ririn.
Tumben nggak ngamuk. Batin perempuan itu.
"A-aku bener-bener hiks nggak sengaja hiks maaf." Perempuan di hadapannya ini dengan menggenggam tangan Ririn, tapi saat Ririn melepaskan tangannya dari genggaman tersebut, perempuan itu dengan sengaja menjatuhkan dirinya sendiri.
Aish drama banget ni cewek. Batin Ririn jengah.
"Monika! Lo nggak papa?" Tanya seorang pemuda yang baru datang yang bernama Dion, membantu Monika yang tengah menangis berdiri.
Wahh ada pangeran monyet nya dateng. Ririn terkekeh dalam hati.
"Lo apa-apaan sih pake dorong Monika segala." Bentak Dion menatap Ririn tak suka.
"Gue nggak dorong dia. Dianya aja yang jatuhin dirinya sendiri." Ucap Ririn membuat Dion mengepalkan tangannya.
"Mana ada maling ngaku" ucap Dino.
Cavero dkk. yang melihat drama di depannya ini hanya diam menonton tanpa ada niat untuk menengahi.
FYI, dulu Cavero dkk. dan Dion adalah sahabatan tapi persahabatan mereka pecah karena Dion suka sama Ririn, sedangkan Ririn lebih suka sama Cavero itu yang membuat Dion memusuhi Cavero. Sedangkan Monika adalah musuh bebuyutan si Ririn, Monika selalu iri dengan semua yang dimiliki oleh Ririn.
Hell? Dia tau aja kalo gue suka maling. Maling mangga mang kupret. Apa dia cenayang?. Pikir Ririn.
"Iya orang kita lihat sendiri tadi lo hempasin tangan lo sampe buat Monika jatuh." Ucap Dino.
"Bener tuh" Melvin membenarkan.
__ADS_1
Ririn terkekeh pelan mendengar ucapan mereka. "Lo kalo nggak tau apa-apa sebaiknya diem" Ucap Ririn sinis menatap Melvin dan Dion dengan datar.
Eh busyett kok serem ya. Batin Melvin dan Dion.
"Lain kali nggak usah drama buat cari perhatian semua orang." Ucap Ririn menatap tajam Monika yang ketakutan, Dion yang melihat itu menyembunyikan Monika di belakangnya.
"Lo yang drama disini. Nggak usah nuduh orang, lo pikir dengan lo berubah penampilan kaya gini semua orang akan suka sama lo, gitu?" Dion menatap tajam Ririn.
"Lo pikir lo siapa? Lo pikir gue berubah penampilan buat lo, buat orang lain, gitu?" Tanya Ririn dingin menohok hati Dion, dia memang bukan siapa-siapanya Ririn.
Ririn tersenyum mengejek "Lo salah besar kalo gitu. Biar gue kasih tau Ririn yang dulu udah mati dan sekarang hanya ada Ririn yang berbeda." Jujur Ririn memang itulah kebenarannya bukan, Ririn yang sekarang adalah Aqila. Semua orang yang mendengar perkataan Ririn menganga.
"Jadi jangan harap Ririn yang sekarang akan diam jika ada yang berani mengusiknya!" Peringat Ririn datar membuat semua orang yang ada disana terdiam dengan pemikiran yang beda-beda.
Ini beneran Ririn?. Batin Melvin histeris
Wow amazing, Rin. Batin Malik dan Haiden
Dan masih banyak lagi batinan orang-orang yang ada disana. Cavero yang melihat itu semua tersenyum tipis.
"Lo pikir gue bisa langsung percaya. Sekalinya iblis tetap iblis mana mungkin langsung berubah jadi malaikat. Ucap Dion tersenyum miring.
"Nah bener tuh" gumam Dino menyetujuimya membuat Ririn malas terus berhadapan dengan pria-pria aneh di hadapannya.
Belum selesai masalah dengan si jambret, muncul lagi masalah sama ni monyet, hadehh. Batin Ririn jengah.
"Haloo memangnya ada iblis yang cantik bin imut macem gue? Yang ada iblis aja insecure kalo di samain sama gue" ucap Ririn dengan polosnya membuat semua orang cengo melihatnya.
"Kalo disamain sama lo baru tuh cocok iblis" lanjut Ririn tersenyum mengejek.
Haha mampus makan tuh bacotan gue. Batin Ririn tertawa puas.
"Yaa terserah lo pada mau ngomong apa. Mau percaya atau nggak sama gue, gue nggak peduli."
Ririn mengambil paksa hpnya yang berada di tangan Cavero dan pergi. Namun sebelum melangkah tangannya di tahan oleh Dion.
"Maksud gue? Jauh-jauh lo dari hidup gue, nggak usah ikut campur bisakan?" Ririn menatap Dion tajam.
"Gue nggak bakal ikut campur kalo lo nggak bully orang yang lemah terutama Monika." Tegas Dion.
"Denger baik-baik! Gue nggak bakalan bully orang kalo orang itu nggak ganggu gue duluan" bentak Ririn membuat semua yang melihatnya berdecak kagum dengan keberanian Ririn, terutama Cavero dkk.
"Lo tanya sendiri sama cewek sok polos di belakang lo itu."
"Emang dia polos nggak kaya lo." Sinis Melvin.
"Emang gue kaya gimana? Lo tau apa tentang gue Tuan Aldeon yang terhormat?" Melvin menelan ludahnya dengan kasar ketika dia melihat tatapan menakutkan dari Ririn tertuju padanya.
"Lagian, bukannya dia udah minta maaf sama lo. Dia nggak sengaja juga" ujar Dino membuat Ririn tersenyum sinis.
Ririn pergi dari kantin dengan tersenyum manis membuat semua orang disana terkesiap akan senyum Ririn.
"Lo tenang aja, Ririn nggak bakal berani apa-apain lo." Ujar Dion kepada Monika.
"Iya lo tenang aja kita bakal jagain lo kok." Ucap Dino.
"I-iya makasih kak." Ucap Monika tersenyum manis.
"Lo belum makan kan?" Tanya Dion di balas gelengan oleh Monika.
"Ya udah lo makan barebg kita aja" ucap Melvin.
"Cabut!" Pinta Cavero berdiri dan melenggang pergi dari kantin di ikuti yang lainnya.
"Gila si Ririn keren banget" ucap Haiden
__ADS_1
"Iya nggak nyangka gue, biasanya langsung ngamuk dia. Tapi tadi dia.. ahh sudahlah." Lanjut Malik.
"Ehh tangannya gimana ya, kuah baksonya masih panas banget tadi gila!!"
Sedangkan Cavero dan David hanya diam menyimak perbincangan temannya yang somplak itu.
Aneh. Batin Cavero
...🌱...
"Gimana? Suka?" Tanya Ade kepada Ririn.
"Suka banget. Makasih daddy!" Ucap Ririn sambil tersenyum bahagia. Sungguh dua merasa sangat senang karena akhirnya dia bisa mengendarai motor lagi.
"Dad, aku mau nyoba dulu, ya" Ririn tersenyum manis.
"Mau kemana, Rin? Nggak gant-.. Astagfirullah tangan kamu kenapa sayang?. Kenapa merah melepuh gini?" Tanya Ayudia beruntun.
"Bener?" Tanya Ade yang ikut terkejut melihat tangan anak gadisnya itu.
"Ayolah mom, aku nggak papa kok. Sumpah!"
"Mommy bilang masuk, Ririn!"
"Daddyy..." rengek Ririn.
"Aish!!"
"Ini semua kenapa rok semua sih njirr. Gue kan nggak terbiasa pake rok mana pendek-pendek banget lagi kaya kurang bahan. Gue tau sih harganya selangit, dari pada uangnya beli baju modelan gini mending uangnya buat beli martabak tuh duit, bisa sama gerobak-gerobaknya juga mungkin," oceh Ririn ketika melihat semua pakaian yang ada di lemarinya.
"Untung aja masih ada celana satu atau dua. Kalo nggak, mungkin gue nggak bakal pake baju." Ucap Ririn sambil membawa sebuah baju kaos berwarna putih dan celana berwarna army kembali ke kamar mandi untuk ganti baju.
"Gara-gara si anak gorila nih, jadi gue nggak bisa kan nyoba motor baru gue. Aish!" Gerutu Ririn.
"Njirr segitu sukanya dia. Ya meski pun gue akui sih kalo si jambret itu emang ganteng cuma kelakuannya aja yang kayak setan. Tapi nggak usah sampai segininya juga kali, Rin. Pekerja keras banget lo, dih." Tangan Ririn pun bergerak untuk men-delete semua foto-foto Cavero. Ia sangat kesal karena tangannya sangat pegal ketika menghapus foto-foto cavero yang jumlahnya sampai ribuan foto.
"Ekhm.. nonton kok nggak ngajak-ngajak." Ucap Ririn sambil berjalan dan duduk di tengah-tengah mereka.
"Iish kok seenaknya duduk di tengah?" Kesal Ade.
"Ish biarin dong. Lagian nggak baik berduaan kayak gitu, nanti orang ketiganya setan."
"Ya, itu kamu!" Ucap Ayudia sambil terkekeh. Sungguh momen yang langka sekali karena Ririn tidak pernah ikut serta dalam hala-hal seperti ini. Ia selalu lebih memilih berdiam diri di dalam kamarnya dari pada berbincang-bincang seperti ini.
"Rin, gimana tangannya, sayang. Masih sakit nggak?" Tanya Ayudia.
"Nggak kok mom. Udah mendingan." Jawab Ririn.
"Kita ke rumah sakit aja ya, sayang" bujuk Ade khawatir.
"Sudah mom tadi di sekolah sama petugas uks nya langsung." Balas Ririn.
"Sini tangannya biar mommy olesin salep biar cepat sembuh."
"Gimana sekolah kamu hari ini?" Tanya Ade mengalihkan pembicaraan.
"Nggak ada seru-serunya. Nih ya dad, di sekolah itu ada 5 orang cowok kelakuannya nyebelin banget. Tiap ketemu ngajak ribut mulu, untung bibir aku udah siap sedia buat ngelawan. Kalo nggak, bisa depresot diri ini. Udah gitu debatnya nggak selesai-selesai, pengen aku bacok tapi ingat negara kita ini negara hukum, yaa meski pun kadang yang beruang selalu menang. Jadi Ririn hanya bisa bersabar dan bersabar." Ucap Ririn panjang lebar dan di sambut gelak tawa dari kedua pasutri di sampingnya. "Ish kok pada ketawa sih, ini tuh cerita nyebelin tau!" Kesal Ririn.
"Kamu kok lucu banget sih" gemas Ade kepada anak perempuannya itu.
"Setelah kepalanya kebentur, sekarang tingkat kepercayaan diri kamu meningkat ya" sahut Ayudia.
"Ya udah ah, aku mau ke kamar dulu. Monggo atuh di lanjut lagi uwu-uwuannya, saya tidak mau ganggu." Ririn bangkit dari duduknya dan langsung pergi menuju kamarnya.
...🌱...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan gengs!
Hadiahnya juga jangan lupa!