RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL

RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL
PART 26


__ADS_3

Sore harinya, Ririn berencana untuk jalan-jalan keliling sekitar menggunakan sepada miliknya.


"Tolongggg!"


"Tolonggg!"


"Lepas! Kalo lo nggak lepas gue bunuh lo!" Ancam salah seorang berkepala botak.


Di pertigaan jalan menuju pasar yang sepi, dia tidak sengaja melihat ada seorang ibu paruh baya yang sedang tarik-tarikan tas dengan tiga pria berbadan besar dengan tato di seluruh tubuhnya.


"Wahh ada tontonan gratis nih." Gumam Ririn.


"Tolongin nggak ya, itu ibu comberan?" Pikirnya.


"Tapi nanti kalo gue tolongin, nggak bisa nonton lagi dong gue?" Masih memikirkan. "Tapi kalo gue nggak tolongin, kasian juga tuh ibu comberan"


"Tolongin nggak tolongin nggak tolongin" Ririn memikirkan dengan sepuluh jari tangan sebagai alat mikir.


"Lahh tolongin?" Gumamnya saat jari kesepuluh. "Aish merepotkan!"


"Hai om" sapa Ririn yang sudah di dekat orang-orang yang main tarik-tarikan tadi.


"Heh bocah, pergi lo sana!" Usir salah satu dari ketiga pria berbadan besar tersebut.


"Lagi ngapain om?" Tanya Ririn santai tanpa menghiraukan pertanyaan preman tersebut.


"Cantik juga lo."


"Lumayan nih bos"


"Kita ajak main-main aja dulu."


"Ck kelamaan om!"


Bugh


Bugh


Bugh


Ketiga preman itu jatuh tersungkur karena tidak siap melawan serangan Ririn.


"Sialan, serang!" Perintah salah satu preman tersebut.


Bugh


Prang


Bugh


"Wah wah om nggak gentle banget main tangan sama cewek lemah lembut kaya saya." Ucap Ririn mendramatis.


Brak


Melihat ada salah seorang yang bangun akan menyerang Ririn. Dia dengan gesit langsung menendang bagian perut lawan. Dalam sekali tendangan mampu membuat lawan terkapar.


"Cabut!" Perintah salah satu dari mereka.


"Terima kasih ya, nak!" Ucap ibu paruh baya yang tadi akan di copet.


"Sama-sama bu. Lain kali hati-hati ya bu. Saya permisi dulu." Pamit Ririn yang meringis karena kena sekali pukulan bagian perut.


"Iya nak, sekali lagi terima kasih."


Ririn pergi tanpa membalas perkataan ibu paruh baya tersebut. Untung kaga kena muka gue, kalo kena bisa turun kadar kecantikan gue. Batin Ririn percaya diri.


Sesampainya di rumah, Ririn langsung masuk kamar.


Gara-gara om-om itu nih, gagal kan gue cari cogan. Batinnya.


Untung semua orang sudah pada masuk kamar, jadi aman. Lanjutnya.


*****


Seperti biasa, setiap pagi Ririn akan bergaya ala model terlebih dahulu di depan cermin baru kemudian dia keluar menuju ruang makan.


Sesampainya di parkiran sekolah. Mata Ririn tak sengaja menangkap objek yang tidak asing menurutnya.


Plak


"Aaww.. sakit. Berarti ini nyata dong." Monolognya sembari mengusap pipinya yang dia tampar sendiri.


"Zerooo" seru Ririn berlari ke arah seorang pemuda yang terkejut.


Nggak mungkin. Batin pemuda tersebut.


Namanya, Arnold. Zero adalah panggilan dari Aqila, hanya dia yang memanggilnya seperti itu. Arnold yang sering di panggil Nol membuat Aqila selalu memanggilnya Zero.


Tiba-tiba Arnold merasakan sesak di dadanya mendengar panggilan itu. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari seseorang yang sudah berani memanggilnya seperti itu. Dia hanya melihat seorang wanita berlari kearahnya dengan gembira.


Grep


Ririn memeluk Arnold yang masih terkejut. "Ro gue kangen" lirih Ririn.


"Apa-apaan sih lo!" Sentak Ririn melepaskan pelukan Ririn.

__ADS_1


"Zero.." lirih Ririn.


"Siapa lo berani manggil gue gitu?" Tanya Arnold dingin.


Ririn kaget mendengar pertanyaan yang di lontarkan Arnold padanya. Tadi sedetik kemudian dia sadar bahwa kini dia berada di jiwa seseorang.


Sial! Gue baru sadar, bagaimana cara jelasinnya ya? Batin Ririn bingung.


"Jangan pernah panggil gue dengan nama tadi lagi!" Ucap Arnold penuh penekanan. Setelah mengatakan seperti itu, Arnold pergi meninggalkan Ririn yang masih memikirkan bagaimana cara menjelaskan bahwa dia adalah Qila kepada Arnold.


"Wah maen-maen peluk anak orang aja lo, Rin!" Ucap Haiden menghampiri Ririn yang diam.


"Iya Rin. Parah lo!" Lanjut Kenzo.


"Lo kenal dia, Rin?" Tanya Malik. Sedangkan Cavero dan David hanya menyimak.


"Diem anjirr!" Sentak Ririn kemudian pergi meninggalkan Cavero dkk.


"The real anjing ini mah" gumam Haiden kepada Ririn.


Di satu sisi, Arnold masih memikirkan kejadian yang tadi di parkiran. Selama ini hanya satu orang yang manggilnya dengan nama Zero, sedangkan orang yang memanggilnya seperti itu sudah tiada.


"Zeroo" panggil Ririn.


"Apaan sih lo, gue udah bilang jangan panggil gue dengan panggilan itu!"


"Lo mau tau kenapa gue bisa panggil lo begitu kan?" Tanya Ririn. "Lo mau tau siapa gue kan? Kalo gitu ikut gue!" Lanjutnya menarik tangan Arnold.


Arnold yang di tarik mengikuti kemana ia akan dibawa oleh seoeang gadis di depannya tersebut. Jujur saja, Arnold juga penasaran siapa gadis di depannya ini, bagaimana dia bisa tau namanya.


"Siapa lo?" Tanya Arnold to the point.


"Oke. Kalo gue bilang Aqila, lo percaya nggak?" Tanya Ririn.


Mendengar pertanyaan Ririn membuat Arnold terkejut. "Jangan pernah bawa nama sahabat gue, dia sudah tenang disana. Gila, lo"


"Aah udah gue duga." Ririn menghembuskan nafasnya kasar.


"Gue emang Aqila tapi dalam wujud Ririn. Ro lo percaya transmigrasi, nggak?"


"Percaya. Program pemerintah buat mindahin penduduk dari satu daerah padat penduduk ke daerah lain."


Plakk


Ririn memukul tangan Arnold pelan. "Bukan yang itu, bego. Yang gue maksud itu transmigrasi jiwa. Percaya nggak?"


"Nggaklah. Nggak usah gila lo!"


"Tapi itu yang gue alami." Lirih Ririn.


"Ini bukan omong kosong, Ro." Ucap Ririn.


"Lo bisa buktiin kalo ini bukan omong kosong?"


"Oke. Gue nggak tau apa yang bisa gue buktiin. Tapi semoga ini cukup buat ngebuktiin semua omongan gue." Ucap Ririn penuh harap.


"Gue tau lo nggak bisa tidur kalo belum minum susu pisang, dan itu harus di tuangkan ke dalam dot. Lo akan minum jika tidak ada orang lain. Bener, kan?" Tanya Ririn tersenyum manis.


"Ja-di, lo beneran Qila?" Tanya Arnold terkejut, pasalnya yang tau rahasianya ith hanya Aqila. Bahkan teman-temannya yang lain tidak tau sampai detik ini.


Grepp


"Gue masih nggak percaya kalo ini lo. Tapi cuma lo yang tau tentang gue yang itu." Ucap Arnold bergetar menahan tangis dalam pelukan Ririn.


"Gue bahkan nggak percaya Ro, tapi ini gue." Balas Ririn yang sudah meneskan air mata.


Kringg Kringg


"Sudah bell, nanti istirahat kita ke kantin bareng. Oh ya kelas lo dimana?" Tanya Ririn melepaskan pelukannya.


"Gue belum tau, ini hari pertama gue disini. Temenin gue keruangan kepsek yok." Ajak Arnold sembari mengusap air mata Ririn.


"Ya udah yok. Oh ya, panggil gue Ririn ya jangan Aqila." Pinta Ririn.


"Oke!"


*****


Waktu istirahat sudah lima menit yang lalu, Ririn celingak celinguk ke arah pintu masuk.


"Woyy ngapain tu mata." Seru Malik yang baru datang bersama yang lain.


Seperti biasa mereka langsung duduk tanpa minta izin dari yang sudah duduk lebih dulu.


"Temen lu cari sapa?" Tanya Kenzo kepada Mahira.


"Nggak tau, dari tadi kita-kita nanya nggak di jawab" balas Mahira yang di setujui Enzy dan Delisha.


"Woyy Zeroo" teriak Ririn setelah melihat orang yang di tunggu-tunggu dari tadi. "Sini, njing!"


Arnold yang mendengar ada yang memanggilnya melebarkan matanya mencari orang tersebut. Setelah ketemu, akhirnya dia menghampirinya lalu duduk di sampingnya.


"Lo kenal, Rin?" Tanya Enzy.


"Kok lo punya temen ganteng gini nggak ngenalin ke kita-kita." Ujar Mahira. "Ho'oh"

__ADS_1


"Dia baru pindah. Kenalin ini teman gue namanya Arnold dan Arnold kenalin mereka teman gue." Ucap Ririn memperkenalkan mereka.


"Lahh bukannya tadi lo panggil dia Zero?" Kini giliran Kenzo yang bersuara.


"Zero hanya panggilan dari gue. Lo pada harus panggil dia Arnold." Jelas Ririn.


"Hai aku Mahira"


"Gue Enzy"


"Delisha"


"Gue Kenzo"


"Malik"


"Haiden"


"David"


"Cavero"


Arnold hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Fyi, Arnold adalah temannya Aqila di kehidupannya yang dulu. Aqila dan Arnold adalah sekumpulan anak geng motor dulu tapi mereka bukannya pemimpin melainkan anggota inti.


Geng mereka bernama Dark Spider, yang di pimpin oleh Diki dan wakil Derren. Sedangkan anggota intinya, Leo, Arnold, Aqila dan Jessy.


*****


"Abang kapan ke Jakarta?" Tanya Ririn melalui telpon.


BRAKK


Gebrakan meja mengagetkan semua orang di kantin.


"Eh lo, jangan sok cantik deh. Dulu Cavero sekarang lo embat juga pacar gue, Arnold" ucap seseorang yang bernama Rima di nametag.


Ririn yang di katain begitu hanya diam saja sembari memakan makanannya kembali. Sedangkan Arnold yang dari tadi di sebut namanya hanya diam karena memang di suruh Ririn untuk diam. Cavero dkk, Enzy dkk hanya diam menonton santai sambil makan.


"Dasar, nggak pernah di ajarin sopan santun lo sama orang tua lo" Sercah Rima.


"Tutup mulut lo!" Bentak Ririn. Sudah cukup sampai disini kesabarannya, dia tidak akan diam saja apabila orang tuanya di injak-injak seperti ini.


BRAKK


"Welcome back, Rose" sapa Arnold.


"Hei, silahkan pilih mau masuk rumah sakit atau langsung kuburan, hm?" Tanya Rose santai sembari melihat-lihat kukunya.


"Kok diem?"


"Nol.. sebaiknya rumah sakit atau langsung kuburan?" Tanya Rose pada Arnold.


"Terserah Rose saja. Gue ngikut" jawab Arnold.


"Kau ini. Oke baiklah."


PLAKK


PLAKK


PLAKK


BUGH


"Aakh- ish.." Rima meringis kesakitan.


"Dia bukan pacar gue, Rose" jawab Arnold santai, melihat bagaimana Rose melakukan hal tersebut sudah biasa baginya dan DARK SPIDER.


"Cabut!" Ucap Ririn melenggang pergi meninggalkan kantin.


*****


"ASTAGFIRULLAH YA ALLAH." Saking kagetnya, Ririn sampai memundurkan langkahnya satu langkah hingga berakhir punggungnya mengenai handle pintu rumahnya. "Aaawwss" ringis Ririn.


Di hadapan Ririn sekarang ada Adelard, Ayudia, Aira, Nathan, dan nenek Odi, nenek Ririn.


Nenek Odi menatap Ririn dengan tatapan tajam dan dengan tangan yang ia lipatkan di depan dadanya. "Where are you from?" (Habis dari mana kamu?) Tanya nenek Odi kepada Ririn.


Ririn melongo mendengar ucapan neneknya itu. Bukan, dia bukan melongo karena kaget neneknya yang bisa bahasa inggris. Melainkan dia yang tidak mengerti apa yang di katakan neneknya itu. Dia memanglah sangat pintar. Namun, dia tidak pintar dalam bahasa inggris, karena guru bahasa inggrisnya dulu terlalu membosankan. Jadi, dia sering membolos atau tidur setiap peajaran itu. Dan ya, inilah hasilnya.


Plakk


Ririn memukul kepalanya sendiri. Ni nenek reot ngomong apa ya?


"Hah? Oh i-" Ririn menjeda ucapannya sebentar. "I-i'm Ririn. Yeahhh i'm Ririn." Ucap Ririn dengan ekspresi yang sangat bahagia karena dia bisa menjawab pertanyaan dari neneknya. Walaupun yaa begitulah.


"Pppffff gblk!" Umpat Aira pelan sembari menahan tawa mendengar jawaban dari keponakan lucnutnya itu. Tidak beda halnya dengan Ayudia, Adelard dan Nathan yang sedari tadi memasang wajah datar mereka.


...🌱...


Jangan lupa komen dan like..


Jangan lupa juga follow aku..

__ADS_1


Lopyuu


__ADS_2