RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL

RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL
Part 64


__ADS_3

Perlahan-lahan mata Ririn terbuka karena sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela kamarnya. Ia mengucek-ngucek matanya yang terasa perih kemudian dia melirik jam kecil yang ada di nakas samping ranjang. Ririn membulatkan matanya sempurna ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 07.27.


"Huaaa gue kesiangan njim." Ririn segera bangun dan mengambil seragam sekolahnya.


"Bodo amatlah gue gak bakal mandi sekarang. Lagian gak mandi juga gue tetep cantik."


Setelah selesai memakai seragam sekolahnya ia menyambar tas yang ada di meja belajarnya. Ririn langsung turun dan memakai kaos kaki dan sepatu dengan terburu-buru. Sampai-sampai tidak menyadari bahwa dia memakai kaos kaki yang berbeda.


Sepi.


Kata itu yang menggambarkan keadaan rumahnya sekarang. Entahlah penghuni rumah pada kemana sampai-sampai tidak membangunkannya.


Ririn berlari ke bagasi mengeluarkan motornya dan langsung menancap gas membelah jalanan ibu kota yang macetnya minta ampun. Bunyi klakson saling bersahutan umpatan-umpatan terlontarkan untuk Ririn karena dia menyalib kendaraan lain dengan tidak hati-hati tapi Ririn sama sekali tidak menghiraukan semua itu. Di pikirannya saat ini hanya sekolah.


***


"WOY PAK! BUKAIN GERBANGNYA DONG PAK SAYA KAN TELAT CUMA SATU JAM!" Teriak Ririn kepada bapak satpam di sekolahnya.


Cuma? Woy Rin sampai orang sudah selesai upacara karena hari ini hari senin lo bilang cuma? Aish entahlah.


"Maaf neng gak bisa," balas satpam itu.


Ririn tidak kehabisan akal, ia mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu. "Mau ya di sogok sama saya," ujarnya.


"Aduh neng gimana ya? Saya takut ketahuan sama yang lain," jawab bapak satpam tersebut menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan terhalang topi.


"Udah ambil aja pak, percaya sama saya," bujuk Ririn.


"Maaf neng!"


"Halah lama gue manjat juga ni pagar lama-lama. Bodo amat sama motor gue, mau di ambil orang ambil aja dah. Nnati gue beli lagi," cetus Ririn mulai memanjat pagar.


"Eh neng mau ngapain?" Tanya satpam itu panik.


"Makan siomay pak. YA MANJAT LAH PAK. Bapak gak liat kaki saya udah naik pagar gini?" Kesal Ririn.


"Eh jangan atuh neng," cegahnya. "Ya udah saya bukain gerbangnya tapi neng turun dulu atuh," ucapnya.


Ririn turun dan langsung ke motornya. "Dari tadi kek pak!" Cetusnya. Satpam itu membukakan gerbang tinggi dan mengizinkan Ririn masuk begitu saja.


"Nuh buat bapak! Jangan sampai ada yang tau ya pak," ujar Ririn memberikan beberapa lembar uang seratus ribu sebelum masuk ke dalam.


"Iya makasi neng! Semoga neng selamat dari BK ya neng."


"Bismillah doakan ya pak," ucap Ririn yang diangguki satpam itu.

__ADS_1


Ririn mendorong motornya sampai ke parkiran setelh itu ia pergi ke kelasnya. Saat sampai di depan kelasnya ia tidak langsung masuk. Sebelum masuk, Ririn mengintip terlebih dahulu dari jendela berharap tidak ada guru di sana.


Dengan malas Ririn pun masuk ke dalam. "Permisi bu," ucap Ririn.


"Kenapa kamu baru datang?" Tanya guru yang bernama Liza.


"Kesiangan," jawab Ririn jujur. Sementara itu, semua teman kelasnya tengah menahan tawanya karena tidak sengaja melihat kaos kaki Ririn yang sebelah kanan menggunakan putih polos dan sebelahnyaagi menggunakan kaos warna coklat bermotif polkadot seperti macan tutul. Sampai saat ini Riri masih belum menyadarinya.


"Hormat bendera sampai jam pelajaran saya selesai!" Peruntah guru tersebut.


"Hini ya bu. Saya kan sudah telah satu jam, berartu saya juga sudah rugi karena tidak bisa mengikuti pelajaran ibu dari awal karena tidakendapatkan ilmu dari ibu dan saya juga tidak mengikuti upacara tadi pagi sudah rugi juga saya tidak bisa mendengarkan curhatan bapak kepala sekolah. Dan sekarang saya di hukum juga, udah rugi gak dapet ilmu, panas-panasan pula nanti. Ibu gak kasian sama saya?"


"Itu kan karena kamu sendiri. Salah siapa datang terlambat?"


"Tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu, bu," jawab Ririn.


"Oke! Kalau begitu kamu tidak diizinkan untuk mengikuti pelajaran saya hari ini!" Tegas ibu guru tersebut frustasi.


"Nah begitu dong bu. Kalau gitu saya tidur dimana ya bu enaknya? Di kelas atau di kantin? Kan yang penting gak ikut pelajaran ibu," tanya Ririn dengan santai membuat teman sekelasnya cengo. Apalagi ketiga temannya yang menatapnya untuk membawanya ikut bersamanya.


Wajah guru yang mengajar di kelasnya sudah merah menahan kesal. Bisa-bisa mati muda, pikirnya. "DI KANTINN!"


"Wah ide bagus tuh bu. Makasi ya bu, papay prenku semua," ujar Ririn melambaikan tangannya ke kiri dan ke kanan dengan senyum lebar di wajahnya.


Lama-lama semua guru depresot dengan kelakuan Ririn yang tidak ada habis-habisnya.


Sesampainya di kantin, Ririn memilih kursi pojok untuknya tidur. "MANGGG NUMPANG TIDUR YA," teriak Ririn menggema di seluruh sudut kantin.


"Silahkan neng," jawab mamang bakso.


Ririn merebahkan tubuhnya dengan tasnya yang jadi bantal. Ia memejamkan matanya memulai acaranya menuju dunia mimpi.


Tidak lama bel istirahat berbunyi, banyak murid yang mulai memasuki kantin dengan cekikikan karena tidak sengaja melihat ke arah kaos kaki yang di pakai Ririn. Ririn yang mendengar suara berisik, membuka matanya perlahan karena tidurnya terusik.


"WOY tidur aja lo," cetus Haiden membuat Ririn terlonjak kaget dengannya. "Anjing!" Refleks Ririn memegang dadanya membuat Haiden, Malik dan Kenzo tertawa melihat raut wajah Ririn, sedangkan Cavero dan David hanya menaikkan sedikit ujung bibir seksoy mereka.


Ririn menatap sekitar dan mengerutkan dahinya bingung dengan penghuni kantin yang melihatnya sambil menahan tawa, ada juga yang dengan terang-terangan tertawa melihatnya.


"Semua orang pada kenapa?" Gumam Ririn. "Apa gara-gara gue gak mandi tadi pagi?" Lanjutnya lagi.


"Mas pacar ada apa sih?" Tanya Ririn kepada Cavero.


"Kaos lo beda sebelah," jawab Cavero.


Cavero sepertinya lupa sudah merubah lo gue jadi aku kamu kepada Ririn wkwk.

__ADS_1


Ririn yang mendengar jawaban Cavero seketika melihat ke arah kakinya dan matanya membulat sempurna. "Astagfirullah ini kaos siapa?" Pekik Ririn menunjuk kakinya sendiri.


Haiden, Malik dan Kenzo tertawa terbahak-bahak bahkan David pun ikut tertawa sekarang. Jangan lupakan penghuni kantin yang sedari tadi menahan tawa mereka pun pecah.


Anjing si Ririn ternyata gak sadar bhahaha.


Iya gue kira di sengaja bhhaha.


Sakit perut gue bangsat haha!


Adudu stop dulu haha ketawanya gue mau haha pipis anjing bhahaha.


Banyak orang yang tertawakan Ririn sambil sesekali menyeka air mata yang sempat-sempatnya keluar melalui ujung mata mereka.


"Anjing! Perut gue sakit Rin," cetus Haiden.


"Iya njirr. Kaos siapa yang lo pake itu?" Tanya Malik.


"Mana gue tau. Gue aja baru tau," jawab Ririn dengan tidak santai. Ririn membuka kedua sepatunya lalu kaos kakinya. Ririn mengangkat kaos kaki warna coklat pekat dengan motif polkadot seperti macan tutul dengan pandangan jijik. "Siapa yang punya kaos kaki begini? Kenapa ada di rumah gue?" Tanya Ririn entah kepada siapa. "Wahh pasti punya si nenek reot ini, fix dia," cetus Ririn menuduh nenek Odi yang sudah kembali ke Canada.


"Bhaha nenek lo seleranya tinggi juga ya," celetuk Kenzo kembali tertawa.


...***...


SPOI NEXT!


BRAK!


Ririn menggebrak meja tiba-tiba dengan keras membuat teman sekelasnya terlebih Delisha terlonjak kaget.


Anjing! Kaget gue.


Ririnnnnn.


Asu bisa tenang sehari aja gak sih?


Dan masih banyak lagi jeritan tertahan mereka yang kesal dengan Ririn. Sedangkan sang biang hanya menyengir kuda memperlihatkan giginya yang rapi dan putih.


"Apasi Rin?" Tanya Varel sang ketua kelas.


"Hehe maaf pak ketu," ucapnya. "Bosen aja gue. Enaknya ngapain ya?" Tanya Ririn.


"GUYS KONSER YOO!" Seru Ririn tiba-tiba yang kembali membuat teman kelasnya menatapnya kesal karena kaget dengan suara cempreng Ririn.


"BERISIK ANJ! GUE NGANTUK!" Bentak Rizal salah satu teman kelasnya yang terkenal bad dan saat ini sedang tidur tapi karena suara Ririn membuatnya terbangun.

__ADS_1


...🌱...


Jangan lupa vote dan hadiahnya prenku semua..


__ADS_2