
"Lepasss!" Teriak seorang gadis yang terikat bersama dua temannya.
Mereka bertiga terus memberontak untuk di lepaskan. Namun, seorang pria yang ada di depannya dengan memakai topeng di bagian matanya itu tak peduli sama sekali, malah dia dengan santai duduk sambil menghisap rokok yang di apitnya di sela-sela jari telunjuk dan tengahnya. Menghembuskan asap melalui mulut dan hidungnya.
"Lo siapa hah?!"
"Apa salah kita!"
"Kenapa lo iket kita disini?!"
"Bacot!" Sentak orang tersebut.
Pria tersebut mengambil pisaunya yang ada di meja depannya. "Kalo gue ukir nama lo di tangan bagus nggak ya?" Pria tersebut tersenyum miring, Rima yang mendengar itu bahunya bergetar takut, tidak hanya dia tapi Anggun dan Gita tak kalah takut.
"Si-siap lo?" Tanya Rima bergetar. "Apa salah gu-e?" Tanya Rima lagi.
"Malaikat maut kalian" jawab Cavero santai namun terdengar dingin membuat Rima, Anggun mau pun Gita sangat ketakutan.
"Cav, di depan ada Red Diamond" beritahu David yang bari masuk keruang bawah tanah tempat dimana Rima dkk berada.
Cav? Batin ketiga gadis itu bertanya-tanya.
"Red Diamond?" Tanya Cavero menatap David dan dianggukinya.
"David!" Panggil Rima yang terkejut ada David disana yang tidak memakai topeng bagian mata seperti Cavero.
"Buat apa mereka disini?" Tanya Cavero dingin. David membisikkan sesuatu kepada Cavero yang membuatnya benar-benar kaget mendengarnya.
Cavero segera berjalan keluar di ikuti David, tapi David menghentikan langkahnya mendengar namanya di panggil seseorang.
"Vid! David!" Panggil Anggun cepat melihat David yang akan berjalan keluar.
David menoleh dan menaikkan alisnya menatap mereka. "To-long bawa kita keluar dari sini." Pinta Rima lirih dengan air mata yang sudah terjatuh.
David terkekeh mendengarnya. Rima, Anggun dan Gita yang mendengar David terkekeh terkesiap dan takut. "MIMPI!" Ketus David dan berjalan keluar meninggalkan mereka.
"Wow nggak nyangka seorang Cavero yang gue kenal pemuda SMA ternyata adalah pemimpin Black Blood." Ujar Loeenz dengan pura-pura terkejut. "Mafia yang dikenal kejam ternyata di pimpin seorang anak SMA." Lanjutnya.
"Mau apa?" Tanya Cavero to the point.
"Santai bro" ujar Nathan. "Berikan ketiga tikus itu!" Pintanya lagi.
Cavero mendengar perkataan yang keluar dari bibir Nathan. "Jangan mimpi!"
"Sudah-sudah." Lerai Lorenz. "Dimana dia sekarang? Gue mau dia mati!" Ucap Lorenz menggebu-gebu.
Tanpa membalas perkataan Lorenz, Cavero berjalan kearah ruang bawah tanah. Mereka yang melihat itu, mengikuti Cavero.
"Hiks to-long hiks" ujar Rima terisak.
"Le-pas!"
"Hiks mama to-long"
Lorenz mendekati mereka. "Oh ini yang membuat adek gue sekarang harus di rumah sakit." Ujar Lorenz mencengkram dagu Rima membuatnya semakin terisak.
"Gu-e nggak kenal si-apa adek lo!" Sarkah Rima terbata-bata ketakutan.
"Ririn!" Ucap Lorenz dingin membuat ketiganya terdiam membeku.
Sekarang mereka tau alasan kenapa mereka berakhir berada di ruang yang sangat menyeramkan dengan pencahayaan yang minim, itu karena Ririn.
"Sudah ingat apa yang lo lakuin sama adek gue, hm?" Tanya Lorenz dingin.
"Kelamaan bangsat!" Geram Cavero melihat Lorenz yang terus saja berbicara dengan Rima dkk.
Lorenz yang mendengar itu pun segera mengeluarkan pisau lipat kecil dari saku jaketnya. "Muka lo cantik!" Celetuk Lorenz membelai wajah ketakutan Rima.
Srett!
Srett!
"AKHHH!" Rima menangis, dia memberontak, rasa perih menjalar di bagian wajahnya sampai kepalanya.
Rima semakin menangis sejadi-jadinya, dia terus memohon agar di ampuni tapi Lorenz tidak mendengarkannya. Dia beralih ke arah Anggun dan melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"AAKKHHH!" Tangis Anggun dengan kencang seiring air mata yang jatuh bercampur darah. Begitupun dengan Gita.
Nathan yang melihat bagaimana Lorenz yang dengan mudah tanpa beban menyayat wajah ketiganya tercengang. Dia meringis, dia memalingkan wajahnya ke arah lain.
Tapi tidak dengan Cavero, David, Malik, Lorenz dan yang lain. Hal seperti ini adalah hal biasa bagi mereka.
"Sekarang bagian gue!" Titah Cavero berjalan mendekati Rima dkk yang masih terisak.
Cavero berjongkok menyamakan mereka. "Kayanya tangan lo lebih bagus begini deh" ujar Cavero santai memotong jari-jari tangan Rima.
Gadis itu terus menangis dan berteriak kesakitan dan gadis itu masih memiliki tangan namun tanpa jari.
"Kalo gini kan jadi makin bagus tangan lo." Caveeo tersenyum lalu mengambil potongan jari-jari itu dan memasukkannya ke dalam toples yang sudah dia sediakan.
Anggun dan Gita yang melihat itu semakin histeris, mereka terus memejamkan matanya tidak kuat melihat bagaimana Rima yang kesakitan.
Tangisan ketiganya terdengar sangat pilu dan menyakitkan. Tapi yang lain tidak peduli akan hal itu, berbeda dengan Nathan yang sudah keluar dari ruangan tersebut dari tadi karena tidak sanggup melihat itu semua.
Ketiga gadis itu sekarang hanya memiliki tangan tapi tidak memiliki jari-jari. Cavero menggoyangkan toples tersebut sehingga berbunyi nyaring membuatnya tertawa keras tapi sangat menyeramkan.
"Bekas jari-jari ini yang gue lihat kemarin di wajah cantik pacar gue." Tawa Cavero keras.
"Tanggal berapa sekarang?" Tanya Cavero entah kepada siapa.
"David!" Geram Cavero karena tidak mendapatkan jawaban dari mereka semua.
"Tujuh" jawab David singkat.
"Die or Death?" Tanya Cavero. "Malik!"
Ck kenapa harus gue sih. Kesal Malik dalam hatinya.
Malik mulai memilih dengan jarinya. "Die"
"Death"
"Die"
"Death"
"Oke!" Balas Cavero dengan senyum seringainya.
"Ja-ngan. Gue mohon" Rima memohon menatap Cavero tapi dia sama sekali tidak menghiraukan itu. Ucapan Rima, Anggun dan Gita yang terus memohon dengan tangisan pilu di anggap hanya angin lewat.
"Gue juga dong" pinta Lorenz yang dari tadi hanya menonton di belakang Cavero.
Cavero menoleh ke belakang kemudian mengangguk. Lorenz berjalan ke arahnya dengan pisau lipat kecil di tangannya.
"Katakan selamat tinggal untuk terakhir kalinya, sayang." Ujar Lorenz tersenyum miring kepada Gita sambil membelai rambut berantakannya.
Gita hanya menangis, bahunya bergetar hebat karena ketakutan. "BERISIK!" Bentak Lorenz.
Lorenz langsung menancapkan pisau kecilnya tepat mengenai jantungnya dengan tersenyum smirk. Begitu pun dengan Cavero yang melakukan hal yang sama kepada Rima dan Anggun. Seketika Rima, Anggun dan Gita menghembuskan nafas terakhirnya.
"Bereskan mereka!" Titah Cavero kepada dua orang penjaga di ruang bawah tanah tersebut.
Setelah mengatakan itu, Cavero dan yang lain berjalan keluar dan mendapati Nathan yang wajah gusarnya.
Lorenz yang melihat Nathan terkekeh geli. Begitu pun dengan yang lain. "Sudah muntah berapa kali?" Tanya Lorenz terkekeh kepada Nathan.
Nathan yang mendengar itu hanya menatapnya datar tanpa ada niat untuk menjawabnya. Dia masih membayangkan bagaimana mereka dengan begitu santainya melakukan hal seperti itu. Mengingat itu membuat Nathan bergidik ngeri.
...*****...
NEXT!
"Eh nak, ayo masuk" ujar Ayudia yang melihat Monika dan Jessica di ambang pintu.
"Iya tante, makasih." Balas Monika tersenyum dan berjalan mendekati mereka. "Ini tante" Monika menyerahkan bingkisan buah yang ia bawa.
"Nggak perlu repot-repot. Makasi ya nak" ucap Ayudia.
"Bagaimana keadaan Ririn, tante?" Tanya Monika kepada Ayudia sambil melirik kearah Ririn dengan bibir pucatnya.
Muncul lagi tiga gadis memakai seragam yang sama dengan Monika dan Jessica.
__ADS_1
"Eh Delisha, Enzy, Mahira ayo masuk sayang." Sambut Ayudia tersenyum.
"Ngapain lo disini?" Tanya Enzy ketus kepada Monika.
Monika hanya diam tanpa menjawab. Dia terus melirik kearah Ririn tanpa menghiraukan ketiga teman Ririn yang menatapnya sinis.
"Maksud kalian apa tanya seperti itu. Nggak boleh begitu sayang." Ujar Ayudia lembut kepada ketiga teman anaknya.
"Dia yang selalu gangguin Ririn, mom!" Beritahu Mahira.
Ayudia terdiam. "Astagfirullah mommy lupa ucapin terima kasih sama kamu nak." Ucap Ayudia mendekati Monika dan Jessica.
Delisha, Mahira dan Enzy tercengang mendengar penuturan Ayudia. Pasalnya, mereka baru tau kenyataannya.
Monika baru saja akan membalas perkataan Ayudia tapi terhenti ketika matanya melihat Ririn yang tiba-tiba mengejang hebat membuatnya memekik panik dengan apa yang terjadi pada Ririn secara tiba-tiba.
"RIRINN!!" Teriak Monika. Semua orang yang ada di ruangan itu seketika panik. Aira segera menekan tombol darurat.
"Halo, mas segera ke rumah sakit!" Aira menelpon Adelard. Setelah mengatakan itu, Aira menutup telponnya.
"Sayang, bertahanlah. Mommy mohon." Ucap Ayudia yang berada di depan pintu ruangan menunggu dokter selesai.
Di dalam ruangan, dokter terus berusaha di dalam sana untuk Ririn yang masih mengejang dengan nafas yang tersedat-sedat dan jantung yang berdetak kencang membuat dokter dan perawat yang menangani Ririn panik.
"Suntikkan obat penenang pada pasien!" Titah dokter dan di angguki perawat tersebut. Tidak lama Ririn mulai tenang, namun tidak lama setelahnya masalah kembali datang.
"MOMMY!" Panggil Adelard dan Nathan yang baru saja datang dengan Lorenz dkk.
"Apa yang terjadi mom?" Tanya Nathan langsung.
Abang mohon, bertahanlah sweety. Batin Lorenz menatap pintu ruangan.
Gue mohon, bertahanlah. Lo pasti bisa La. Batin Jessy takut.
Inti Dark Spider terus membatin dan berdoa untuk Ririn.
Setelah sekian menit berlalu dokter pun keluar dengan wajah lesunya membuat Adelard segera menghampirinya.
"Apa yang terjadi dengan putri saya, dok?"
"Maaf tuan." Dokter Justin menghela nafas panjang sebelum berbicara. "Nona Ririn mengalami kritis sekarang dan keadaannya sanhat lemah. Kita berdoa semoga saja nona Ririn bisa melewati masa kritisnya." Jelas dokter Justin.
Deg
Jantung mereka seketika berhenti berdetak mendengar penjelasan dokter, mereka semakin terisak.
"LORENZ!" Panggil Cavero yang berlari bersama yang lain.
"Apa yang terjadi dengan Ririn?" Tanya Cavero langsung kepada Lorenz.
"Doakan saja semoga pasien bisa melewati masa kritisnya karena keadaannya sekarang dalam ambang batas hidup atau mati. Jika dalam waktu dua hari pasien tidak bisa melewati masa kritisnya hanya keajaiban yang dapat menolongnya." Ucap dokter Justin dengan wajah sendunya.
"Tolong lakukan apapun untuk putri saya dok. Saya akan memberikan uang berapa pun asal putri saya tetap hidup dan sehat kembali dok." Pinta Ayudia dengan derai air mata.
"Apa sekarang kita bisa melihat pasien dok?" Tanya Cavero.
"Bisa saja. Tetapi hanya satu dua orang yang masuk untuk saat ini dan harus memakai baju khusus. Sebaiknya jangan dulu temui pasien dengan banyam orang, karena keadaannya sekarang sangat rentan sekali."
"Baik dok, terima kasih."
"Sama-sama tuan. Kalau begitu saya pamit, permisi." Dokter justin pergi dari hadapan mereka.
"Sebaiknya kalian pulang dulu, besok kalo keadaannya sudah membaik kalian bisa kesini lagi." Ucap Adelar kepada Delisha dkk, inti Dark Spider, dan Monika Jessica.
Mereka hanya mengangguk patuh kecuali inti dark spider. Mereka berjalan menjauh dari ruangan Ririn dengan air mata yang masih terjatuh tanpa mau berhenti.
"Kalian ke markas yang ada di kota ini aja." Ucap Lorenz kepada Dark spider yang langsung di angguki mereka.
...🌱...
Sudahlah segini aja tentang physco-nya. Jujur aku lebih baik tulis hal yang buat perut sakit karena ketawa.
Oke next part aku buat yang lucu aja..
Jangan lupa favorit, like komen dan hadiahnyaa sayangkuu..
__ADS_1