
"Tuh temen lo, Rin." Ucap Malik menunjuk Delisha, Mahira dan Enzy yang sedang mencari meja kosong sambil membawa nampan berisi makanan yang telah mereka pesan.
Semua orang yang ada di meja itu pun menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Malik, termasuk Cavero.
Di sana terlihat Delisha, Enzy dan Mahira yang sedang berjalan menuju meja kosong di bagian pojok kantin. Namun, di pertengahan jalan mereka melihat Enzy menambak seorang gadis dengan rambut yang di kepang dan menggunakan kacamata.
Brakk
Byurr
Sebuah minuman yang di bawa oleh gadis lugu itu tumpah dan membasahi seragam Enzy. Enzy melihat seragamnya yang basah karena minuman itu, karena beralih menatap gadis itu dengan tatapan tajam. Lalu sedetik kemudian dia menampar pipi gadis itu dengan cukup keras.
Plak
"HEH KALO JALAN ITU LIAT-LIAT DONG, PUNYA MATA, KAN?! SEKARANG LIAT SERAGAM GUE JADI BASAH GINI GARA-GARA LO GOBLK!" Bentak Enzy kepada gadis itu.
Gadis itu memegangi pipinya yang terasa nyeri akibat tamparan dari Enzy sembari menunduk takut. Tidak ada perlawanan dari gadis itu, karena dia tau kalo dia membalasnya, maka dia akan mendapatkan balasan lebih dari ini.
Namun, disisi lain ada Ririn yang tidak terima dengan kejadian tadi. Tidak hanya kepada ketiga yang ternyata jadi temannya itu saja, dia juga merasa kesal kepada gadis berkacamata itu. Bukan karena dia telah menumpahkan minuman itu, tetapi karena dua tidak melawan dan hanya menunduk saja.
Brakk
Grepp
Ririn menggebrak meja dan juga mengambil minuman milik Malik kemudian berjalan menghampiri keempat gadis itu.
"Njing, es teh gue mau di bawa ke mana?" Tanya Malik sembari melongo melihat Ririn yang membawa minumannya. Kemudia Malik meratapi nasib minumannya karena sudah pasti minumannya tidak akan bisa di selamatkan.
Cavero dan yang lain memperhatikan Ririn dengan santai. Dia penasaran dengan apa yang akan Ririn lakukan.
Byurr
Plakk
Ririn sengaja menumpahlan minuman Malik kepada seragam gadis lugu itu, lalu dia mnampar Enzy dengan cujup keras sama seperti Enzy menampar gadis lugu itu tadi.
Semua orang yang ada di sana sangat terkejut dengan apa yang Ririn lakukan. Mereka semua pikir kalo Ririn hanya akan membalas gadis lugu itu tapi ternyata tidak.
Enzy memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan Ririn. Dia menatap Ririn tidak percaya karena Ririn tidak pernah menamparnya salama ini. Bahkan meski pun dia salah, Ririn akan tetap membelanya.
Ririn menaruh gelas yang dia pegang ke atas meja yang ada di sampingnya. Kemudia dia melipatkan tangannya di dadanya. "Tamparan lo terlalu berlebihan buat tumpahan minuman dia. Jadi gue buat seimbang." Ucap Ririn dengan santai.
"Rin, lo apa-apaan sih?" Tanya Delisha. Delisha dan kedua temannya merasa heran dengan Ririn akhir-akhir ini. Mengapa Ririn tidak membela Enzy seperti biasanya? Kalau dia jelas-jelas membela Enzy karena menurutnya Enzy tidak bersalah. Toh juga hal ini bukan untuk pertama kalinya, tetapi memang sudah menjadi kebiasaan mereka ketika ada yang berbuat salah kepada mereka.
Ririn tak menjawab pertanyaan Delisha, dia kembali menghampiri mejanya. Ririn mengambil nampan yang ada di meja dua lalu kembali kepada empat gadis itu. "Nih buat nutupin bagian depan kalian. Seragamnya tembus pandang."
"Sana kalian ke toilet nanti gue beliin seragam di koperasi. Terus jangan ada yang ribut-ribut lagi, kalo ada yang gue denger kalian ribut abis kalian semua sama gue, Paham!" Mereka yang mendengar itu hanya mengangguk pasrah, terlebih Mahira, Delisha dan Enzy yang merasa takut karena Ririn menatapnya tajam.
Kemudian mereka bertiga pergi dari area kantin dan Ririn pergi menuju koperasi untuk membeli seragam baru untuk Enzy dan gadis tadi.
Kini mereka berlima sedang berada di toilet. Di dalam ada Enzy dan gadis lugu itu yang sedang mengganti pakaian dan ada Mahira, Delisha dan Ririn yang sedang menunggu mereka diluar.
Sejak tadi Mahira dan Delisha terus memperhatikan Ririn. Dia sedang memikirkan apa yang salah dengan sahabatnya yang satu ini. Batin mereka.
"Ngapain liatin gue kaya gitu?" Tanya Ririn. Karena jujur saha dia merasa tidak nuaman dengan tatapan mereka berdua.
__ADS_1
"Aa-ahh ng-ngak kok" jawab mereka glagapan. Kemudian hening tidak ada yang memulai percakapan.
"Gue boleh nanaya nggak?" Tanya Mahira yang mendapat anggukan pelan dari Ririn
"Lo kok beda banget akhir-akhir ini, perubahannya drastis banget, kenapa?" Tanya Mahira memberanikan diri, tidak pedulu nanti dia akan mendapat balasan yang menyakitkan dalam bentuk ucapan atau pun tindakan dari Ririn.
"Gue mau berubah jadi yang lebih baik. Kita nggak bakal terus-terusan bully orang, kan? Kita nggak ada yang tau masa depan kita bakal kaya gimana. Coba lo bayangin aja, kali kita terus-terusan kaya gini terus orang-orang jadi benci banget sama kita, nggak ada yang suka sama kita. Terus nanti kalo kita lagi susah, siapa yang akan bantuin kita? Mereka? Nggak mungkin. Liat kita aja nggak sudi, apalagi mau nolongin." Jawab Ririn dan tentu saja itu bohong. Karena alasan yang sebenarnya adalah dia bukan Ririn tetapi dia adalah Aqila. Tapi perkatakaan itu juga ada benarnya. Siapa coba yang mau nolongin orang yang udah jahat sama kita? Hanya orang tertentu saja yang bisa.
Mahira terdiam seribu bahasa ketika mendengar perkataan Ririn. Dia merasa bahwa perkataan Ririn ada benarnya juga. Dia juga sebenarnya ada niat untuk berubah, tapi dia takut karena dia sudah terbiasa seperti ini.
Ceklek
Mereka berdua sudah selesai mengganti pakaiannya secara bersamaan, kemudian keluar dari dalam toilet tersebut.
"Sini nampannya!" Ririn mengulurkan tangannya meminta nampan mamang tukang bakso di kantin yang sedang di pegang oleh Enzy dan gadis tadi.
"B-biar a-ku saja yang kasi Mang Udin nanti kak." Ucap gadis itu memberanikan diri.
"Iya sudah minta tolong, ya." Balas Ririn yang angguki gadis itu. Kemudian Ririn pun pergi dari sana.
Saat ini dia sedang berjalan menuju ke kelasnya. Namun di pertengahan jalan dia bertemu dengan tiga anak Divine, tidak ada Cavero dan David. Tumben. Batin Ririn.
"Oiya, nih buat ganti minuman lo tadi. Sorry dan thanks ya!" Ririn memberikan Malik selembar uang berwarna merah.
"Kebanyakan nih, Rin." Ucap Malik, tapi sebenarnya dalam hatinya berdoa, semoga Ririn memberikan semuanya.
"Udah ambil aja, ribet amat!"
"Lumayan nih." Dengan senang hati Malik menerimanya.
"Njirr mata duitan banget lo. Padahal bokap lo tajir." Ucap Kenzo.
"Semerdeka lo!" Semprot Haiden.
...*****...
Srett
"Aduhh anjing!" Umpat Ririn.
"Iya nggak papa kok mas. Cuma kaki saya aja yang--"
"Astagfirullah Ririn lo kenapa?" Tanya Kenzo yang tiba-tiba datang bersama yang lain.
"Lo nggak papa?" Tanya Cavero.
"Maaf mas ini kesalahan saya yang nggak hati-hati tadi." Ucap pemuda yang menyenggol Ririn tadi.
"Nggak papa mas, nggak ada yang serius juga kok." Balas Ririn tersenyum manis. "Mas pergi aja nggak papa kalo emang lagi buru-buru. Nanti saya balik sama mereka."
"Biar motornya saya bawa ke bengkel, mba."
"Nggak papa mas, mas pergi aja nanti mereka yang bantu urus saya dan motor saya." Balas Ririn lagi meyakinkan. "Beneran mas, saya nggak papa."
"Baiklah kalo gitu saya pamit mba, maaf sudah membuat mba jatuh." Ucap pemuda itu yang di balas anggukan oleh Ririn.
__ADS_1
Setelah orang itu pergi, Ririn beralih menatap mereka. "Buruan bantuin gue, kaki gue sakit nih, njirr!"
"Tapi motor gue gimana?"
"Gue udah hubungi orang gue. Sebentar lagi mereka dateng." Ucap Cavero.
"Makasih, brett!"
"Loh, Rin kamu kenapa? Kok bisa sampe kayak gini?" Tanya Ayudia khawatir.
"Lecet dikit, mom" jawab Ririn santai.
"Ada apa sih, mom?" Tanya Ade yang baru selesai dari ruang makan.
"Sakit, kan?" Tanya Ade yang kemudian mendapat anggukan dari Ririn. "Makanya kalo daddy ngomong itu di dengerin, jangan ngeyel! Udah, mulai besok motornya daddy sita!" Ucap Ade tak terbantahkan.
"Heh, mana ada kaya gitu? Orang cuma lecet dikit nggak sakit kok, sumpah!"
"Berarti boleh di pegang, dong?" Tanya Ade tersenyum licik.
"Mau di tabok atau tonjok?" Tanya Ririn datar. Durhaka durhaka lah bodo amat gue. Dari pada luka gue di pegang-pegang.
"Berani kamu sama daddy?" Tanya Ade sembari berkacak pinggang.
"Ada apa nih rame-rame?" Tanya Nathan pada semua orang. "Astagfirullah kamu kenapa, Rin?" Tanya Nathan lagi khawatir.
"Lecet dikit, bang!" Balas Ririn.
"Makanya kalo abang ngomong tuh di dengerin. Mulai saat ini motornya abang sita, nggak ada motor-motoran lagi!" Ucap Nathan tak terbantahkan seperti Ade.
"Nggak bisa gitu dong, bang. Ini cuma lecet dikit."
"Nggak ada pokoknya!"
"Anak setan!!" Kesal Malik.
"Wah dad, nih dia nih, masa dia ngatain aku anak setan. Marahin dad, marahin." Adu Ririn kepada Adelard.
Malik membulatkan matanya ketika mendengar ucapan dari Ririn. "Heh, ngadi-ngadi lo, njirr." Ucap Malik sedikit panik.
"Nggau tau males pengen beli trek. Mau ngambek aja!" Ririn memalingkan wajahnya dengan mengerucutkan bibirnya.
Ade terkekeh melihat tingkah Ririn yang menurutnya sangat lucu seperti anak kecil umur tiga tahun. Sedangkan Nathan tersenyum melihat adiknya yang bisa banyak bicara seperti.
"Kok sudah bangun aja, sayang. Kan hari ini kamu nggak sekolah dulu?" Tanya Ayudia sembari mengelus-elus rambut Ririn.
"Nggak tau tadi tiba-tiba kebangun, terus ya udah bangun aja. Mau tidur lagi juga nggak bisa." Jawab Ririn.
"Yaudah, sekarang kamu sarapan dulu ya, mommy suapin. Hari ini, mommy masak tempe goreng tepung sama lobster saus padang. Mau ya?" Ucap Ayudia.
"Aaaaaa-" Ririn membuka mulutnya lebar-lebar.
"Nggak mau cuci mukanya dulu?"
...🌱...
__ADS_1
ig : @knririn_
Jangan lupa tinggalin jejak yaw gengs. Vote Like Koment..