
Kring kring
"Anjing! Siapa sih yang nyetel alarm sepagi ini. Arrg!" Gerutu Ririn yang mendengar suara alarm. Dia mematikan alarm lalu duduk mengumpulkan nyawanya.
Jam baru menunjukkan pukul 06:03, Ririn berniat untuk tidur lagi lima menit. Tapi, Tuhan tidak memihak kepadanya.
"Rin bangun! Siap-siap sekolah." Seru Aira dari luar kamarnya sembari menggedor-gedor pintu.
"BANGSAT!" umpatnya kesal.
"Iyaaa." Balas Ririn dengan malas.
Ririn pun dengan malasnya berjalan ke kamar mandi, tentu saja untuk mandi dan bersiap-siap.
Selang beberapa menit, Ririn sudah rapi dengan kemeja putih tulang dengan saku yang berlogo sekolahnya di tambah blazer hitam yang belum terpakai dan rok berwarna mustard dengan kotak-kotak, memperhatikan penampilannya di depan cermin sembari celinga celingo ala model.
"Ckck cantik kali lah kau ini, Rin." Monolog Ririn.
"Apa yang kurang ya?" Gumamnya lagi berpikir memperhatikan penampilannya lagi. "Nggak ada deh kaya nya. Cantik gini juga." Lanjutnya lagi.
Setelah di rasa tidak ada yang kurang pada penampilannya, Ririn berjalan keluar menuju ruang makan.
"Pagi semuaa." Sapa Ririn tersenyum manis. Lalu Ririn duduk di kursinya seperti biasa.
"Pagi sayang"
"Pagi dek"
"Pagi Rin"
Ririn memakan nasi goreng sebagai menu sarapannya bersama keluarganya pagi ini. Tentu yang masak, mommy nya. Meski pun di rumah sebesar ini ada pembatunya, tapi tetap untuk urusan masak Ayudia yang handle.
*****
"Selamat pagi anak-anak." Sapa seorang guru yang baru masuk ke kelas dimana terdapat ada Ririn disana.
Keributan yang tadi sempat terjadi pun sudah mereda, karena guru yang mengajar pagi ini sangat killer.
Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku dengan cewek jadi jadian yang sedang melamun tidak mendengarkan penjelasan guru di depannya. Mungkin dia masih memikirkan nasib sugar daddy nya wkwk..
"Ririn.."
"Ririn kenapa kamu melamun?"
__ADS_1
"RIRIN LETHICIA XAVIERA!!" Teriak guru tersebut.
"ANAK ANJING. ANAK ANJING COMEL"
Krikk krikk
Suasana kelas mendadak hening ketika suara teriakan itu menggema di seluruh ruangan. Mereka tersentak ketika Pak Andre berteriak memanggil nama Ririn terlebih kaget lagi mendengar teriakan Ririn dengan kata-kata kasar di depan Pak Andre, membuat Pak Andre reflek mundur mendengar teriakan Ririn sembari langsung berdiri di hadapannya.
Ririn menggigit bibirnya malu, dia menatap sekelilingnya yang mendadak diam. Rasanya sekarang Ririn ingin tenggelam di lautan saking malunya.
"Kamu! Berani ya kamu mengumpati saya?!" Bentak Pak Andre setelah sekian detik tersadar. Dia merasa sangat kesal karena merasa Ririn mengumpati dirinya.
"Bapak pede banget, buat apa saya ngumpatin bapak" balas Ririn santai. Sedangkan teman sekelasnya cengo melihat keberanian Ririn yang berani melawan perkataan pak Andre, terlebih lagi itu seorang perempuan.
"Itu tadi kamu mengumpati saya kan? Kata-kata kamu sangat kasar Ririn!! Ini masih di lingkungan sekolah, apalagi kamu ngomong gitu di depan guru kamu" omel Pak Andre.
Ririn memutar bola matanya malas, padahal dia yang salah malah menyalahkan dirinya. Tadi siapa coba yang teriak duluan, seandainya pak Andre tidak teriak mengagetkannya dia juga tidak akan teriak. Soal kata-kata kasar yang terlontar, dia tau dia salah, tapi mau bagaimana lagi mulutnya sudah ter setting otomatis untuk mengucapkan kata-kata kasar itu itu, apa lagi di saat kaget seperti tadi.
"Aduhh pak, kan tadi bapak yang teriak-teriak, ya kan saya jadi kaget."
Pak Andre terdiam, benar juga pikirnya.
"Salah siapa kamu melamun di jam pelajaran saya?" Balas Pak Andre yang tak mau kalah.
"Alasan terus kamu ya!! Keluar dari kelas saya SEKARANG!"
Ririn sebenarnya kesal ketika pak Andre memotong ucapannya. Tapi itu tidak jafi karena ketika dia mendengar kata 'keluar' matanya berbinar seperti memenangkan undian satu milyar.
"Beneran pak?" Tanya Ririn antusias.
Pak Andre menjadi heran begitu pula dengan teman sekelasnya, tapi itu tidak dengan teman-temannya yang menepuk jidat mereka masing-masing. Dia tau apa yang tengah Ririn pikirkan.
"CEPAT KELUAR!!"
Ririn tersenyum lebar. "Siap bang jago. Akhirnya gue keluar juga Yuhuu." Ucapnya kegirangan. "Dadah pren, selamat menikmati ngantuk dan lapar hehe" Lanjutnya melambaikan tangannya ke arah semua teman kelasnya.
Anjir keluar duluan lagi tu anak.
Rin bawa gue huaaa.
Bel istirahat masih lama.
Beruntung banget sih Ririn.
__ADS_1
Wahh nggak bener nih.
Huaaa gue juga mau keluarr.
Semua teman kelasnya hanya bisa ngebatin melihat Ririn yang lagi-lagi keluar kelas duluan dengan tenang.
"Hanya di lakukan oleh profesional ya pren" ucap Ririn yang sudah berada di ambang pintu dan berlalu setelah mengatakan itu.
Ketiga teman Ririn ingin ikut keluar, tapi tidak tau harus dengan cara apa. Mereka yang melihat Ririn keluar memelas tidak semangat.
"Sudah-sudah. Sekarang perhatikan apa yang saya jelaskan."
"Baik, jadu seperti yang di jelaskan kemarin ginjal berfungsi..."
Pelajaran terus berlanjut, meski tidak semua memperhatikannya tapi Pak Andee terus menjelaskan materi yang entah di pahami atau tidak oleh muridnya. Mulutnya terus berbicara panjang lebar, sepertinya Pak Andre tidak ada lelahnya sama sekali.
*****
Ririn berjalan di koridar yang sangat sepi, ini jam pelajaran mana ada siswa baik-baik yang berani berkeliaran di jam pelajaran. Tapi seperti yang kita lihat, Ririn bukanlah siswa baik-baik. Bahkan di kehidupan sebelumnya Ririn adalah seorang badgirl yang catatan kasusnya sudah memenuhi buku bk. Di sekolahnya dulu, siapa yang tidak kenal dengan Aqila. Meski dia terkenal badgirl tapi dia sedikit pintar.
"Gabut bet gue sumpah. Ngapain ya gue enaknya?"
"Ke kantin pasti gue ketemu sama lima sekawan"
Akhirnya setelah sekian lama berpikir, Ririn memutuskan untuk pergi ke taman belakang. Dia juga belum pernah ke taman belakang, jadi apa salahnya keliling sekarang mumpung lagi sepi. Pikirnya.
Setelah sampai di taman belakang, matanya berkeliling mencari tempat yang nyaman. Tapi matanya terpaku melihat pohon mangga yang buahnya sangat lebat.
"Asekkkkk."
Dengan perasaan senang, Ririn pun berjalan ke arah pohon mangga tersebut. Dia mulai memanjat, di lihat dari bawah saja mangga-mangga itu terlihat sangat menggoda. Ada yang sudah matang ada juga yang belum dan setengah matang. Matanya berbinar melihat mangga-mangga yang sudah kuning, dia sangat menyukai buah mangga tapi bukan yang manis. Ririn menyukai mangga yang sedikit manis lalu ada asam-asam nyess nya gitu. Duhh kok jadi ngiler ya bayangin tu mangga..
"Nih sekolah punya buah mangga nggak di manfaatin. Dari pada mubazir kan mending sedekahin ke gue." Celotehnya sembari memanjat.
Ririn terus saja bergumam sambil mulai memetik salah satu mangga yang berada di dahan paling rendah. Eitts begini-begini, Ririn mempunyai bakat si monyet, memanjat.
"Gue colong beberapa nggak bikir sekolah bangkrut kan?" Pikir Ririn. Ririn pun kini sudah berhasil memtik sekiranya lima mangga dengan ukuran sedang dan semua mangga itu matang. Dia juga menaiki pohon mangga tersebut lebih tinggi lagi mencari tempat ternyaman untuk dia duduk. Ririn merogoh saku roknya dan menemukan subuah silet kecil yang selalu dia bawa kemana-mana. Dia mulai mengupas mangga tersebut pelan dan tanpa di cuci terlebih dahulu, ia langsung melahapnya.
Rasa asam dan manis langsung menyapa indra perasanya. Kombinasi rasa yang sangat dia sukai. Saking menikmatinya, Ririn sampai memejamkan matanya dan meringis pelan ketika rasa asam yang sesekali hinggap di lidahnya. Ririn terus saja memakan buah-buah mangga itu, entah dia sadar atau tidak bahwa sedari tadi ada beberapa orang yang tengah memperhatikannya di bawah sana.
...🌱...
Jangan lupa kasih tips yaw gengs, meski hanya bunga tidak masalah biar besok aku triple up.
__ADS_1
Jangan lupa untuk Vote, Like and Komen..