
Di perjalanan pulang, Ririn dengan santai mengendarai motornya. Sampai di pertigaan jalan ada sebuah motor yang menyerepet motornya karena motor tersebut melaju dengan kecepatan diatas rata-rata.
Srett
"Aduhh anjing!" Umpat Ririn.
Orang yang menyenggol motornya pun turun melihat kondisi korban. "Mba nggak papa? Maaf mba tadi saya buru-buru." Ucap orang tersebut membantu Ririn bangun.
"Iya nggak papa kok mas. Cuma kaki saya aja yang--"
"Astagfirullah Ririn lo kenapa?" Tanya Kenzo yang tiba-tiba datang bersama yang lain.
"Lo nggak papa?" Tanya Cavero.
"Nggak papa kok, santai."
"Santai santai. Lo nggak liat keadaan lo."
"Maaf mas ini kesalahan saya yang nggak hati-hati tadi." Ucap pemuda yang menyenggol Ririn tadi.
"Nggak papa mas, nggak ada yang serius juga kok." Balas Ririn tersenyum manis. "Mas pergi aja nggak papa kalo emang lagi buru-buru. Nanti saya balik sama mereka."
"Biar motornya saya bawa ke bengkel, mba."
"Nggak papa mas, mas pergi aja nanti mereka yang bantu urus saya dan motor saya." Balas Ririn lagi meyakinkan. "Beneran mas, saya nggak papa."
"Baiklah kalo gitu saya pamit mba, maaf sudah membuat mba jatuh." Ucap pemuda itu yang di balas anggukan oleh Ririn.
Setelah orang itu pergi, Ririn beralih menatap mereka. "Buruan bantuin gue, kaki gue sakit nih, njirr!"
"Lah tadi lo bilang nggak papa, sekarang kenapa lo bilang sakit,njing!" Sertak Malik.
"Udah jangan banyak omong lo pada. Buruan bawa gue pulang!"
"Tapi motor gue gimana?"
"Gue udah hubungi orang gue. Sebentar lagi mereka dateng." Ucap Cavero.
"Makasih, brett!"
"Anjing! Di tolongin malah ngatain." Umpat Haiden.
"Lo bareng gue!" Ucap Cavero.
"Hah?" Beo Ririn.
"Ck.. buruan!"
Teman-temannya menatap Cavero tak percaya bahkan david sekali pun menatap ke arahnya, pasalnya untuk pertama kalinya Cavero mau dekat-dekat dengan Ririn apalagi sampai mau di antar pulang lagi.
Sesampainya di halaman rumah Ririn, Cavero juga membantu Ririn untuk masuk. Teman-temannya sekali lagi di buat terkejut dengan apa yang di lakukan Cavero pada Ririn hari ini.
"Loh, Rin kamu kenapa? Kok bisa sampe kayak gini?" Tanya Ayudia khawatir.
"Lecet dikit, mom" jawab Ririn santai.
"Ada apa sih, mom?" Tanya Ade yang baru selesai dari ruang makan.
Ayudia pun menoleh ke arah di mana Ade berada. "Ini dad, pulang-pulang Ririn udah kaya gini." Ucap Ayudia dengan suara yang sedikit bergetar.
Ade berjalan menghampiri Ririn. "Mana coba daddy liat!" Dari luar dia terlihat biasa saja. Namun, percayalah bahwa Ade sedang merasa sangat khawatir dengan keadaan putrinya.
"Dad, awas aja ya, kalo sampe daddy berani sentuh luka aku. Aku tonjok daddy!" Ucap Ririn mewanti-wanti.
"Sakit, kan?" Tanya Ade yang kemudian mendapat anggukan dari Ririn. "Makanya kalo daddy ngomong itu di dengerin, jangan ngeyel! Udah, mulai besok motornya daddy sita!" Ucap Ade tak terbantahkan.
"Heh, mana ada kaya gitu? Orang cuma lecet dikit nggak sakit kok, sumpah!"
"Berarti boleh di pegang, dong?" Tanya Ade tersenyum licik.
__ADS_1
"Mau di tabok atau tonjok?" Tanya Ririn datar. Durhaka durhaka lah bodo amat gue. Dari pada luka gue di pegang-pegang.
"Berani kamu sama daddy?" Tanya Ade sembari berkacak pinggang.
"Sebenarnya nggak sih. Tapi kalo daddy berani pegang luka aku, ya berani nggak berani, harus berani!" Balas Ririn.
"Durhaka lo sama orang tua." Cibir Kenzo.
"Diem, nyet!" Titah Ririn.
"Rin, mulutnya mau di jahit atau di robek, hm?" Tanya Ayudia menatap Ririn tajam.
"Eeh nggak mau. Tadi kelepasan doang my sumpah." Elak Ririn.
"Assalamualaikum" salam Nathan yang baru pulang kuliah.
"Waalaikumsalam"
"Ada apa nih rame-rame?" Tanya Nathan pada semua orang. "Astagfirullah kamu kenapa, Rin?" Tanya Nathan lagi khawatir.
"Lecet dikit, bang!" Balas Ririn.
"Makanya kalo abang ngomong tuh di dengerin. Mulai saat ini motornya abang sita, nggak ada motor-motoran lagi!" Ucap Nathan tak terbantahkan seperti Ade.
"Nggak bisa gitu dong, bang. Ini cuma lecet dikit."
"Nggak ada pokoknya!"
"Kalian ngapain berdiri aja? Nggak cape?" Tanya Nathan.
"Astagfirullah mommy lupa, ayo nak kalian duduk dulu."
"Maaf ya nak, disini emang nggak ada yang waras." Ucap Ade kepada Cavero dkk. "Ayo duduk dulu, nak."
"Ahh iya om, nggak papa." Ucap Cavero tersenyum.
"Dari tadi kek mom, cape tau!" Kesal Ririn.
"Biarin."
"Hih, lo nggak di mana-mana kerjaannya ribut mulu. Heran gue." Ucap Malik.
"Suka-suka gue lah. Lo siapa, sampe berani ngatur-ngatur gue?" Jawab Ririn.
"Anak setan!!" Kesal Malik.
"Wah dad, nih dia nih, masa dia ngatain aku anak setan. Marahin dad, marahin." Adu Ririn kepada Adelard.
Malik membulatkan matanya ketika mendengar ucapan dari Ririn. "Heh, ngadi-ngadi lo, njirr." Ucap Malik sedikit panik.
"Kali ini, kamu saya maafkan." Ucap Ade.
Mendengar pernyataan Ade, Malik pun bernafas dengan lega. Sedangkan Ririn tidak terima, bisa-bisanya daddy nya itu memaafkan Malik begitu saja. "Ihh daddy kok gitu sih."
"Suka-suka daddy lah. Kalo kamu nggak suka, ya itu suka-suka kamu."
"Nggau tau males pengen beli trek. Mau ngambek aja!" Ririn memalingkan wajahnya dengan mengerucutkan bibirnya.
Ade terkekeh melihat tingkah Ririn yang menurutnya sangat lucu seperti anak kecil umur tiga tahun. Sedangkan Nathan tersenyum melihat adiknya yang bisa banyak bicara seperti.
Lucu. Batinnya.
"Mommy, Nathan ke atas dulu." Pamit Nathan. "Iya sayang."
*****
Kini malam sudah berganti pagi, matahari sudah menampakkan dirinya untuk menyinari bumi.
Disini, di kamar yang bernuansa pink sudah ada Ririn yang baru bangun sedang mengumpulkan kesadarannya. Hari ini, dia tidak pergi ke sekolah akibat kecelakaan kemarin. Sampai saat ini, kakinya masih terasa sakit. Namun, tidak sesakit kemarin, karena sudah di obati Ayudia.
__ADS_1
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Ririn pun menoleh ke sumber suara.
"Siapa?" Tanyanya dengan suara khas bangun tidur.
"Ini mommy. Rin, boleh mommy masuk?" Tanya Ayudia dari luar.
"Masuk aja mom, pintunya nggak di kunci, kok!" Jawab Ririn.
Ceklek
Ayudia pun membuka pintunya dan dia pun langsung melihat putrinya yang baru saja bangun tidur.
"Kok sudah bangun aja, sayang. Kan hari ini kamu nggak sekolah dulu?" Tanya Ayudia sembari mengelus-elus rambut Ririn.
"Nggak tau tadi tiba-tiba kebangun, terus ya udah bangun aja. Mau tidur lagi juga nggak bisa." Jawab Ririn.
"Yaudah, sekarang kamu sarapan dulu ya, mommy suapin. Hari ini, mommy masak tempe goreng tepung sama lobster saus padang. Mau ya?" Ucap Ayudia.
"Aaaaaa-" Ririn membuka mulutnya lebar-lebar.
"Nggak mau cuci mukanya dulu?"
"Nggak ah males!" Jawab Ririn malas.
"Ish jorok banget kami ini, santi." Ledek Ayudia kepada anaknya sembari menyendokkan makanan yang ada di piring yang sedang dia pegang.
"Biarin!" Ucap Ririn tidak peduli.
...*****...
"Ngapain lo senyam-senyum kek gitu?" Tanya Ririn dengan tidak santainya.
"Yehh nggak bisa banget lo di baikin sama orang, bisanya ngajak ribut mulu!" Sewot Haiden.
"Serah gue lah!"
"Tuh budak tiga pada kenapa ya?" Tanya Ririn pada dirinya sendiri. "Apa mereka masih marah karena kejadian waktu itu, ya?" Ririn mengerutkan dahinya. Dia bingung kenapa mereka mengabaikannya begitu saja.
"Lo duduk di tempat gue." Ucap Delisha pada salah satu teman kelasnya yang ada di depan meja Mahira dan Enzy.
"Ngapain lo ngikut-ngikut, gue tau lo udah ngerjain tugas dari Bu Reni." Ucap Delisha kepada Ririn yang berdiri di antara Delisha dan Mahira, sedangkan Enzy berdiri di dekat Delisha.
"Penting banget buat lo?" Bukannya menjawab, Ririn malah tanya balik.
Setelah beberapa lama mereka terdiam, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri mereka dengan membawa 4 botol air minum.
"Nih, buat kalian." Gadis itu menyerahkan botol minum sama mereka sama-sama satu. Tapi mereka hanya diam tanpa ada niatan untuk menerima.
"Nggak usah, makasih!" Tolat Ririn.
"Harusnya lo bersyukur gue lepasin dia. Ambil tuh bekas gue! Lo kan emang pantesnya sama yang bekasan." Ririn tersenyum sinis membuat Monika mengepalkan tangannya marah. Sedangkan, ketiga teman Ririn diam menyaksikan drama apa lagi yang akan di tunjukkan Monika.
"Tentu saja gue Ririn yang berbeda." Ucap Ririn tersenyum miring, membuat Monika tertegun. Bagaimana bisa dia tau apa yang sedang di pikirkannya. Batinnya. Sedangkan ketiga temannya saling tatap satu sama lain karena bingung apa yang di maksud Ririn.
"Maksud lo apa?" Tanya Monika menatap Ririn dingin.
"Semenjak lo keluar dari rumah sakit, lo berubah ya. Jadi makin bego." Ucap Monika santai membuat Ririn geram.
"Tutup mulut lo!" Ririn menatap tajam Ririn yang terkekeh di hadapannya.
"Nggak usah marah-marah, aku kesini cuma mau ngasih kalian terutama si ono hadiah." Ucap Monika menunjuk Ririn dengan dagunya. Monika membuka tutup botol minum yang dia bawa dan menyiramkan ait itu ke kepalanya sendiru membuat Delisha, Enzy, Mahira dan Ririn terdiam melihat Monika di hadapannya.
"Maaf Rin hiks aku cuma hiks mau kasih hiks kamu minum hiks."
...🌱...
ig : @knririn_
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak yaw gengs. Vote Like and Komen..