
Cavero mengingat apa yang di katakan tadi malam.
Flashback on
Saat ini Cavero sedang berada di perjalanan pulang setelah dari supermarket tadi bersama ayahnya, Ayman. Karena Cavero tadi tidak membawa motornya, jadi lah dia satu mobil dengan ayahnya.
Ayman yang sedang fokus menyetir, sesekali melirik ke arah Cavero.
"Son, papa boleh nanya nggak?" Tanya Ayman dengan tatapan lurus ke depan karena sedang memperhatikan jalan.
"Boleh" Balas Cavero sedikit ragu.
"Tapi jangan marah, ya!" Ucap Ayman, Cavero pun mengganggukkan kepalanya.
"Papa boleh nikah lagi nggak?" Tanya Ayman was-was melirik Cavero sekilas.
Cavero terdiam sebentar sebelum akhirnya kembali buka suara. "Bo-boleh. Y-ya kalo papa mau ya silahkan, aku nggak bakal ngelarang. Tapi kalo aku nggak suka sama orang itu, aku bakal pergi dari rumah." Jawab Cavero
"Emang harus pergi gitu, ya?" Tanya Ayman lagi.
"Papa kan tau kalo aku nggak bisa pura-pura baik di depan orang." Balas Cavero yang hanya di balas anggukan kecil dari ayahnya.
Flashback off
Cavero memalingkan wajahnya. Bokap gue punya otak nggak sih? Masa mau nikahin sama anak yang seumuran gue? Gila aja. Mana modelannya kaya si Ririn lagi, bisa kelar hidup gue. Batin Cavero.
"Woyy ada apa sih?" Tanya David penasaran.
"Ini bokapnya si Cavero ngajak gue dinner." Jawab Ririn dengan santainya. Sedangkan, saat ini Cavero sedang menahan malu dengan tingkah ayahnya itu.
Memalukan. Batin Cavero.
"Anjirr! Yang bener?" Tanya Reyhan. Sudah dia duga pasti ada sesuatu yang terjadi antara mereka berdua, terlihat dari ekspresi Cavero yang tertekan.
"Beneran, ini ada buktinya." Balas Ririn sembari memberikan ponselnya kepada mereka.
"Jadi, mau nggak li jadi pacar gue? Kalo nggak, ya gue terima tawaran bokap lo lumayan Cav." Cerocos Ririn lagi.
"Gue mau. Jadi, tolak tawaran bokap gue sekarang!" Jawab Cavero dengan cepat. Bodo amatlah sama nasibnya yang akan menjadi pacarnya Ririn. Sekarang yang penting adalah mencegah Ririn untuk menjadi ibu tirinya.
"WOOHOOOO! Akhirnya gue punya pacar juga." Teriak Ririn kegirangan, untung keadaan kantin masih sepi karena belum bell istirahat. Sedangkan, kini Cavero sangat tertekan.
"Anj. Lulusan S3 percintaan, strateginya sadis bet. Deketin dulu bapaknya abis itu baru anaknya." Seru Kenzo menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lo no what what, kan?" Tanya Reyhan kepada Varen. Semua tau Varen menyukai Ririn semenjak pertemuan pertama mereka di parkir dulu.
"No what what, cuma nyelekit aja dikit." Balas Varen.
Ting
Tiba-tiba ponsel Ririn kembali berbunyi. Ririn pun langsung mengecek dan membuka notifikasi yang masuk.
082xxxxxxxxx
Maaf saya lupa bahwa ini nomor keponakan Aira.
__ADS_1
Tolong kamu sampaikan pesan saya tadi kepada tante kamu ya!
Kamu juga boleh ikut jika kamu mau.
Terima kasih.
"Ohh ternya bokap lo ngajakin tante gue bukan gue." Ucap Ririn setelah membaca pesan tersebut dan kembali menyimpan ponselnya.
"Ohhh tante lo" ucap mereka semua dengan perasaan lega.
1
2
3
Ririn dan Cavero membulatkan matanya ketika menyadari perkataan Riri. Lalu mereka menoleh secara bersamaan membuat mereka saling berhadapan dan tatap.
Mereka mengerutkan dahinya kebingungan. Mereka sama sekali tidak paham dengan apa yang terjadi.
"Ha? Gimana? Kok jadi ke tante gue? Kapan mereka ketemunya njirr?" Tanya Ririn bertubi-tubi. Saat ini Ririn tengah kebingungan. Bagaimana bisa ini semua terjadi?
"Ya mana gue tau. Tanya tante lo dong, bukan tanya gue!" Ujar Cavero sewot.
"Oiya bentar-bentar." Ririn pun kembali mengambil ponselnya berniat menghubungi Aira. "Eeh bentar. Gue kan nggak punya nomer tante gue, gimana cara telponnya?" Tanya Ririn yang baru kepikiran akan hal itu.
"Coba telpon nyokap lo aja. Siapa tau tante lo lagi sama nyokap lo!" Saran Malik.
"Bener juga lo. Tumben otak lo jalan." ucap Ririn, sedangkan Malik yang dikatain hanya memutar matanya malas. Dengan cepat Ririn langsung mencari nomor Ayudia dan menekannya untuk menelpon Ayudia.
"Halo, Rin?" Sapa Ayudia dari sebrang sana.
"Halo mom."
"Kenapa, Rin?" Tanya Ayudia.
"Mom, ada tante Aira nggak? Aku mau ngomong sebentar boleh?"
"Oh ada kok, bentar!" Ayudia pun memanggil Aira yang sedang asik menonton film.
"Halo, Rin. Kenapa?" Tanya Aira.
"Aku cuma mau nanya. Tadi ada yang chat aku ngajakin dinner, om-om. Siapanya tante itu?" Tanya Ririn to the point.
"O-ohh i-itu--" jawab Aira terputus putus.
"Tan, jangan ah oh ah oh doang dong, tan!" Sercah Ririn yang sudah merasa sangat penasaran.
"O-ohh itu, ke-kema-rin kan kamu izin mau beli minuman. Nah waktu itu kamu lama banget nggak balik balik. Jadi ya, tante susul ke stand minuman tapi kamu nggak ada. Dan malah ketemu sama orang yang chat kamu itu. Dia itu kenalan tante, terus kita ngobrol-ngobrol sebentar, terus dia minta nomornya tante. Berhubung tante belum belum punya nomor Indonesia, jadi tante kasih nomor kamu dulu. Hehe." Jelas Aira, walaupun dia merasa sangat-sangat mali. Tapi, bagaimana pun Ririn harus mengetahuinya. Karena dia memberikan nomornya ke orang lain tanpa meminta izin kepada Ririn terlebih dahulu.
"Lahh malah cengar cengir. Ish kenapa tante nggak kasih tau aku kemarin?"
"Gimana mau bilang sama kamu coba? Pas kita ketemu, kita langsung berjalan ke kasir. Masa iya tante cerita depan mba kasirnya. Terus pas di jalan juga gimana mau ngomong, orang kita aja perginya pake motor mana kamu bawa tante ngebut lagi." Cerocos Aira.
"Btw tan, di sini lagi ada anaknya. Mau ngom--' belum sempat Ririn menyelesaikan ucapannya, Aira sudah lebih dulu menutup telponnya. Tentu saja dia merasa malu karena ada Cavero di sana. Sementara dia sudah menceritakan semuanya. Wohoo tante Aira kena mental woyyy.
__ADS_1
Malik dan yang lainnya hanya bisa menahan tawa melihat kejadian hari ini.
"Nggak usah ketawa, njing!" Umpat Cavero melemparkan tatapan tajamnya kepada mereka semua.
"Mama baru Alhamdulilalh." Nyanyi Haiden dengan tawanya yang masih tertahan.
"Tuk di pakai di hari raya" lanjut Reyhan yang langsung di sambut tawa oleh mereka semua, kecuali Ririn dan Cavero yang masih kesal. Sedangkan Ririn, dia memikirkan bagaimana nadib sugar daddy nya yang di ambil tantenya. Angkut aja semuanya Rin, angkut!
Bokap gue aneh-aneh aja kelakuannya ish. Gue jual juga lama-lama. Batin Cavero kesal.
Ririn melupakan tujuan awalnya yang keluar lebih dulu dari kelas karena lapar. Sekarang gadis itu masih merenungkan bagaimana nasib sugar daddy nya itu.
*****
BRAKK
Anj..
Asuu
"LO NGGAK ADA KAPOK-KAPOKNYA YA CELAKAIN MONIKA!" Teriak seseorang yang baru saja menggebrak meja Cavero dkk. tepatnya di hadapan Ririn.
"MENTANG-MENTANG GUE NGGAK MASUK LO SEENAKNYA BULLY MONIKA HA!" Lanjutnya, dia adalah Dion.
"Ohh gue bully lo ya?" Tanya Ririn datar.
"I-iya ka-mu bul-ly aku d-di gudang" jawab Monika terbata bata.
Ririn tidak menjawab dan langsung menyeret Monika ke tengah kantin.
PLAK
BRUKK
"APA YANG LO LAKUIN SIALAN!" teriak Dion dan Melvin.
"DIAM LO SEMUA!" Bentak Ririn murka. Bahkan matanya berubah menjadi merah sedikit hitam.
"RIRIN LEPASIN PISAU ITU DI TANGAN LO!" Teriak Dion mencoba membuang pisau yang ada di tangan Ririn.
"Ii ituu Ri-rin kenapa? Ma-ta-nya juga merah gi-tu?" Tanya Enzy yang baru datang bersama kedua temannya berjalan ke arah Cavero dkk. Sedangkan, Cavero hanya melihatnya.
Setelah Cavero dan Ririn pergi, Dion dkk. pun menghampiri Monika yang ketakutan serta penampilannya yang jauh dari kata baik.
"Bro, gue cuma mau bilang dari tadi Ririn sama kita-kita jauh sebelum bell istirahat." Ucap Malik menepuk pundak Dion, sedangkan Dion hanya diam saja.
"Cari buktinya dulu baru beraksi." sinis Malik.
"Gue tau lo nggak bodoh." sindir Kenzo
...🌱...
Jangan lupa kasih aku hadiah/gift untuk novel ini ya gengs. karena itu berarti banget..
Jangan lupa Vote, Like and Komen..
__ADS_1