
"Ngapain kamu disini, Chayra?" tanya Dafri dengan tatapan curiga. Dafri sedikit menyipitkan matanya, ia seakan curiga bahwa Chayra sudah sejak tadi berada didepan kamarnya. Dan.. Kemungkinan pula mendengar obrolannya dengan Clarissa melalui telepon tadi.
"Ngak.. Ngak ngapa - ngapain kok." sahut Chayra cepat dan kemudian mencoba untuk berdiri dengan rasa sakit yang masih ia rasakan.
"Aduuhh..." desis Chayra dengan memegang lututnya yang terasa sakit. Dan Dafri juga melihat kearah lutut Chayra.
"Kenapa dengan lutut kamu?" tanya Dafri lagi. Chayra diam, tidak langsung menjawab pertanyaan Dafri. Tanpa menunggu jawaban dari Chayra, Dafripun langsung jongkok dan memeriksa lututnya Chayra. Laki - laki itu langsung saja menyingkap rok Chayra dan lalu melihat bagian lututnya yang ternyata sudah ada bekas memar berwarna merah kehitaman disana. Ternyata benturannya begitu kuat sehingga langsung meninggalkan bekas.
"Ini kenapa bisa memar begini?" tanya Dafri yang masih jongkok didepan Chayra. Chayra yang merasa risih Dafri yang melihat bagian lututnya lalu kembali menutup roknya tersebut.
"Tadi terbentur dengan guci itu." ucap Chayra seraya menunjuk kearah guci yang berukuran lumayan besar yang terletak didekat kamar Dafri.
"Ya Ampuun Chayra, Gimana bisa kamu menabrak guci itu? Kamu pasti jalan sambil melamun lagi kan? Kebiasaan kamu ini ya," Dafri lalu mengomeli Chayra. Setelah itu, Dafri langsung masuk kekamarnya dan seperti mencari sesuatu dan setelah itu kembali lagi keluar.
"Ini kamu oleskan salep ini ke bekas memar di lutut kamu itu." kata Dafri seraya menyodorkan sebuah salep ke Chayra.
"Iya, Terimakasih Dafri." ucap Chayra seraya mengambil salep tersebut. Dan tanpa berkata apa - apa lagi, Chayrapun berlalu dari sana dengan langkah yang tertatih - tatih.
Chayra langsung saja naik keatas menuju kamarnya. Kejadian barusan tadi membuat ia tidak jadi makan karena sudah keburu hilang nafsu makannya. Chayra kini duduk dipinggir ranjang lalu mengolesi salep yang diberi oleh Dafri tadi ke lututnya yang memar.
Rasa sakit pada lututnya ini tidak seberapa dengan rasa sakit dihatinya saat ini ketika kembali mengingat ucapan Dafri tentang dirinya saat telponan dengan Clarissa tadi. Sebenarnya tidak ada yang salah dari ucapan Dafri itu, yang salah adalah dirinya yang terlalu cepat terbuai dengan kebaikan yang diberikan oleh suami asingnya tersebut.
Chayra menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskannya dengan kasar, dengan begitu ia berharap bisa memulihkan kembali hatinya yang mulai rapuh. Chayra tidak ingin larut dalam rasa sakit yang tidak seharusnya ia rasakan. Chayra bertekad tidak lagi lemah dengan perasaannya sendiri. Ia sudah sepakat sejak awal bahwa tidak akan serius menjalani pernikahan ini. Dan ia harus konsekuen dengan apa yang sudah ia rancang sejak awal itu.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan dari pintu luar kamarnya. Dan diikuti dengan suara Dafri yang memanggil namanya, lantas saja Chayra langsung berjalan pelan menuju pintu.
__ADS_1
"Kamu sudah makan?" tanya Dafri setelah Chayra membuka pintu kamarnya. Chayra menjawabnya hanya dengan gelengan kepalanya saja.
"Kalau gitu, Ayo kita makan sama - sama. Aku sudah lapar." ajak Dafri seraya menarik tangan Chayra agar keluar dari kamarnya. Namun, Chayra langsung saja menepis tangan Dafri yang memegang tangannya tersebut.
"Aku gak lapar, kamu makan sendirian saja, Dafri." kata Chayra dengan nada dingin.
"Serius Gak lapar..? Kamu sudah masak sebanyak itu gak mungkin kan aku makan sendiri." ujar Dafri lagi.
"Kamu perlu makan nasi dulu Chayra karena setelah itu kamu makan obat penghilang nyeri untuk lututmu yang memar itu." lanjut Dafri lagi dan kemudian kembali menarik tangan Chayra untuk keluar dari kamarnya dan mau tidak mau Chayrapun pasrah mengikuti Dafri turun kebawah.
Mereka makan dalam keadaan hening. Dafri terlihat sangat menikmati makan malamnya, ia makan dengan begitu lahapnya. Entah karena memang kelaparan atau karena masakan Chayra yang memang enak. Sedangkan Chayra sama sekali tidak bernafsu untuk makan. Ia hanya makan nasi sedikit dan bahkan tidak menyentuh sama sekali bermacam lauk pauk yang sudah tertata rapi dimeja makannya.
"Kamu kenapa, Chayra?" tiba - tiba Dafri bertanya karena mungkin ia merasakan perubahan pada sikap Chayra yang sejak tadi hanya diam saja.
"Kamu jangan bohong, Chayra. Aku tahu.. Kamu mendengar saat aku telponan dengan Clarissa tadi kan?" tebak Dafri. Chayra kembali diam dan tidak berniat untuk menjawabnya.
"Chayra, aku minta maaf jika kata - kata aku yang kamu dengar tadi sudah membuat kamu tersinggung." ujar Dafri dengan merasa bersalah.
"Karena aku tidak bermaksud untuk membuat kamu tersinggung sebenarnya. Dan.. Aku pun mengatakan apa yang seharusnya aku katakan ke Clarissa." jelas Dafri dengan melanjutkan perkataannya. Sedangkan Chayra masih memilih untuk diam dan membiarkan Dafri terus memberikan penjelasan.
"Memang benar Clarissa lah yang telah menyuruh aku untuk lebih memperhatikan kamu, lebih peduli ke kamu dari segi pakaian dan kebutuhan kamu yang lainnya. Karena Clarissa tahu aku ini orangnya cuek, Chayra. Makanya dia menyuruh aku untuk itu." lanjut Dafri lagi.
"Beda dengan Clarissa yang memiliki hati yang luas dan begitu sangat peduli dengan orang lain. Ia selalu menanyai kabar kamu, akupun terkadang heran dengan dia yang sedikitpun tidak ada rasa cemburu dan curiga dengan kita. Karena kepercayaannya itulah yang membuat aku semakin sayang dengan dia." kata Dafri yang kali ini malah memuji kekasihnya itu.
"Dafri.." kata Chayra yang akhirnya mengeluarkan suara juga. Entah kenapa ia tidak mau membiarkan Dafri terus - terusan mengeluarkan kata - kata pujian untuk Clarissa.
__ADS_1
"Aku sangat paham, Dafri. Aku gak tersinggung kok, malahan aku sangat berterimakasih dengan Clarissa. Kamu sampaikan ucapan terimakasih aku ke dia ya." kata Chayra dan kali ini dengan tersenyum lebar dan juga dengan hatinya yang dibuat seikhlas mungkin..
...💚💚💚💚...
Keesokan harinya..
Hari masih pagi sekali tapi Dafri sudah mengetuk pintu kamar Chayra seraya memanggil namanya. Chayra yang memang sudah berpakaian rapi lalu membuka pintu kamarnya.
"Chayra, temanin aku ke bandara sekarang!" perintah Dafri tiba - tiba yang tentu saja membuat wajah Chayra bingung dan penuh tanda tanya.
"Ngapain ke bandara?" tanya Chayra.
"Nantik kamu tahu sendiri," jawab Dafri lalu menarik tangan Chayra menuju kebawah.
Beberapa saat kemudian, mereka pun kini sudah berada didalam mobil dan detik kemudian mobil tersebut melaju menuju Bandara.
Didalam mobil, Chayra perhatikan wajah Dafri yang agak tegang. Laki - laki itu kembali lagi ke sifat awalnya yang tidak banyak berbicara, padahal tadi malam ia berbicara panjang lebar ke Chayra.
Beberapa menit kemudian, merekapun sampai ke Bandara. Dafri turun dari mobil dengan buru - buru dan tanpa menunggu Chayra ia pun berlari masuk kedalam bandara tersebut. Chayra kemudian bergegas mengikuti Dafri dari belakang.
Namun, Langkah kaki Chayra langsung terhenti seketika saat matanya menangkap sesosok wanita cantik dan anggun yang sedang dihampiri oleh suaminya itu. Dan setelah berada didekat wanita itu, Dafri langsung memeluknya dengan erat. Chayra hanya bisa terpana dengan rasa yang sulit digambarkan pada hatinya saat ini...
...💝💝💝💝...
BERSAMBUNG...
__ADS_1