
Kedatangan Argantara dengan sikap sombong dan perkataannya yang menyinggung keluarga Chayra itu, tentu saja membuat mereka yang ada didalam sana terdiam dengan wajah yang terkejut. Apalagi keluarga Chayra yang tidak menyangka akan disambut seperti itu oleh besannya. Padahal saat terakhir mereka bertemu dulu, sikap Argantara cukup baik dan menerima mereka apa - adanya. Meskipun tidak banyak bicara saat itu, tapi kini ia sangat berbeda.
Melihat Papanya bersikap demikian, Dafri langsung bertindak dan menghampiri Papanya. Dafri tampak mengatakan sesuatu ke Argantara dengan setengah berbisik. Dan Setelah itu, Argantarapun berlalu dari sana.
"Bapak, Ibu.. Maaf atas perkataan Papa saya tadi. Beliau baru pulang dari luar kota, mungkin agak kelelahan jadi bawaannya emosi." kata Dafri dengan wajah yang tidak enaknya, meminta maaf atas sikap Papanya yang menurutnya memang sudah keterlaluan.
"Oh, Iya. Kami maklum kok, Dafri. Iya kan Pak?" kata Ibu Chayra dengan memaksakan untuk tersenyum, padahal didalam hati masih menggerutu juga. Ayah Chayra hanya mengangguk sedangkan adik - adik Chayra lebih memilih untuk diam.
Setelah agak siang, Dafri mengajak keluarga Chayra untuk makan siang di rumahnya. Sebenarnya Dafri juga menyarankan keluarga Chayra untuk menginap di rumahnya malam ini. Akan tetapi, ajakan Dafri tersebut ditolak oleh Ayah Chayra yang memilih untuk tetap pulang sore itu juga kerumah mereka.
"Chayra, Kamu gak apa - apa kan Nak? Ibu, Ayah dan adik - adik kamu berangkat sore ini juga?" tanya Ibu Chayra yang sebenarnya masih berat untuk meninggalkan Chayra yang masih belum pulih sempurna.
"Ya gak apa - apa buk, InshaAllah Chayra baik - baik saja dan akan kembali pulih. Ibu dan Ayah jangan risaukan Chayra ya." ujar Chayra dengan tersenyum. Bagaimana pun Chayra juga tidak ingin keluarganya tetap berada disini, karena ia tahu bagaimana Papanya Dafri tidak suka dengan keluarganya. Chayra seakan tidak sanggup jika harus melihat keluarganya dihina dan dicaci maki lagi oleh Papanya Dafri.
Maka, sore itu juga Dafri mengantarkan keluarga Chayra ke pelabuhan. Sedangkan Chayra tidak ikut karena mengingat keadaannya yang masih rentan apalagi jarak rumah Dafri ke pelabuhan cukup jauh juga.
Sedangkan dirumah Chayra memilih untuk masuk kekamar dan beristirahat namun saat ia akan menaiki tangga, ada seseorang yang datang dengan sebelumnya memencet bel dari luar. Karena saat itu bik Asih tidak ada di rumah, Maka Chayra lah yang membukakan pintu.
Chayra membuka pintu dengan perlahan - lahan, dan setelah pintu itu terbuka lebar, betapa terkejutnya Chayra saat melihat Clarissa sudah berdiri didepan sana.
"Clarissa..??" lirih Chayra masih dengan wajah yang kagetnya.
"Iya, Chayra. Gak usah kaget gitu kamu lihat aku datang kesini." ujar Clarissa lalu tersenyum tipis.
"Boleh aku masuk?" tanya Clarissa dengan meminta izin. Chayra kemudian menganggukkan kepalanya dan membiarkan Clarissa untuk masuk kedalam. Clarissa lalu duduk dikursi tamu dengan gayanya yang anggun itu, sedangkan Chayra masih berdiri ditempat yang tadi.
"Mau sampai kapan kamu berdiri disana, Chayra?" tegur Clarissa. Mendengar teguran dari Clarissa tersebut, maka Chayrapun berjalan tertatih - tatih menuju ketempat Chayra dan kemudian duduk juga dikursi seberang Clarissa.
"Oya, Chayra... Aku dengar, kamu ditusuk orang tak dikenal ya? Kok Bisa sih Chayra?" tanya Clarissa dengan mengerutkan keningnya. Chayra hanya menggelengkan kepalanya tanda iapun tidak tahu.
__ADS_1
"Dan.. Kamu tau tidak? Dafri malah menuduh aku yang membayar orang untuk melakukan penusukan itu. Aku.. Aku gak nyangka Dafri malah menuduh aku. Padahal Aku gak sejahat itu, Chayra!!" kata Clarissa dan kali ini sorot matanya memancarkan rasa tidak senang dengan tuduhan tersebut.
"Atau... Apa jangan - jangan, Kamu ya yang menghasut Dafri dengan mengatakan akulah dalang penusukan itu? Supaya Dafri semakin benci sama aku, Iya Chayra? Benarkah begitu?" tuduh Clarissa asal - asalan. Mendengar tuduhan Clarissa yang tiba - tiba itu,
"Demi Allah, Tidak Clarissa..!! Aku gak pernah menuduh siapapun, apalagi kamu." Chayra langsung menyanggahnya.
"Asal kamu tahu ya Chayra, meskipun kamu telah merebut Dafri dari aku.. Tapi, sedikitpun aku gak pernah berniat untuk mencelakai kamu. Aku masih punya hati nurani, Chayra. Aku masih bisa berpikir logis, meskipun sebenarnya hati aku sangat hancur." jelas Clarissa.
"Clarissa, aku minta maaf. Aku juga gak pernah berniat untuk merebut Dafri dari kamu, Dafri sendirilah yang telah memilih aku.. Aku gak pernah memaksa Dafri, malahan aku yang ingin mengalah dan pergi dari dia. Tapi, Dafrii.."
"Ya.. Ya.. Ya.. Jadi sekarang ini kamu cukup berbesar hati karena Dafri memilih kamu ditimbang aku kan?" ucap Clarissa dengan memotong perkataan Chayra.
"Oke.. Lanjutkanlah Chayra..!! Tapi, satu hal yang harus kamu ketahui Chayra.. Bahwa Sampai kapanpun kamu tidak akan pernah mendapat restu dari Papanya Dafri. Tidak akan pernah.. Karena Papa Dafri hanya menginginkan aku sebagai menantunya, bukan kamu..!!" ketus Clarissa dan setelah itu berdiri dari tempat duduknya.
"Oya, satu lagi. Kamu seharusnya bisa berpikir juga Chayra.. Dengan musibah yang menimpa kamu tiba - tiba itu..." Clarissa menggantungkan kalimatnya sejenak seraya memandang kearah Bagian perut Chayra yang sedang dipeganganya.
"Tidakkah kamu sadar bahwa itu sebagai hukuman bagi kamu yang sudah memisahkan aku dari Dafri? Kamu yang telah menghancurkan kebahagiaan aku, Kamu mungkin pantas mendapatkan musibah ini. Lebih dari itupun aku rasa sangat pantas." kecam Clarissa dengan tersenyum getir.
...💞💞💞💞...
"Sayang...?? Kamu lagi ngapain?" tanya Dafri ketika masuk kedalam kamar ia mendapati Chayra duduk melamun diatas ranjangnya.
"Ee.. Gak ngapain - ngapain kok, Dafri." jawab Chayra lalu tersenyum tipis.
"Tapi, aku perhatikan sepertinya ada yang mengganggu pikirkan kamu, ada apa sayang? Kamu ceritalah ke aku. Jangan dipendam - pendam." kata Dafri dengan setengah memaksa. Lalu Dafripun duduk juga disebelah Chayra yang tidak menjawab pertanyaan Dafri, malahan ia menunduk dengan wajah yang sedih.
"Chayra, ada apa?" tanya Dafri dengan lembut seraya menyentuh pipi mulus istrinya tersebut.
"Dafrii.." lirih Chayra kemudian menurunkan tangan Dafri yang berada diwajahnya.
__ADS_1
"Aku... Aku Merasa musibah yang menimpa aku ini, adalah hukuman bagi aku karena sudah membuat hubungan kamu dengan Clarissa berakhir. Aku yang merasa seakan - akan telah merebut kamu dari Clarissa," kata Chayra dengan matanya yang sudah mulai berkaca - kaca.
Tidak dapat dipungkiri perkataan Clarissa tadi benar - benar membuat Chayra terenyuh. Setelah pertemuan singkatnya dengan Calrissa tadi, membuat Chayra berpikir panjang dan merenungi nya dan setelah itu akhirnya malah menyadari bahwa semua perkataan Clarissa tersebut ada benarnya juga.
"Chayra, kenapa kamu berpikiran seperti itu? Kamu gak mungkin mendapatkan hukuman sedangkan diri kamu gak salah sama sekali." sanggah Dafri.
"Kamu gak salah, Chayra. Kamu jangan merasa aku meninggalkan Clarissa gara - gara kamu, tidak begitu sayang. Apalagi kamu merasa telah merebut aku dari dia, Gak lah. Sangkaan kamu itu gak benar sama sekali." kata Dafri.
Mendengar sanggahan dari Dafri tersebut, membuat Chayra langsung menarik nafas panjang. Dan sanggahan barusan itu, sama sekali belum bisa membuat hatinya menjadi tenang.
"Chayra, sudah berkali - kali aku minta ke kamu jangan berpikiran yang aneh - aneh. Jangan mudah terpengaruh dengan keadaan yang mungkin tidak mendukung kita, seperti sikap Papa ke kamu contohnya," kata Dafri.
"Bukan Dafri, ini bukan karena Papa." sahut Chayra langsung sehingga membuat Dafri menatapnya dengan bingung.
"Jika bukan karena Papa, Lantas.. Karena siapa Chayra?" tanya Dafri dengan curiga. Chayra seketika langsung terdiam dengan menelan ludahnya. Ia sadar bahwa sudah keceplosan. Padahal Chayra tidak bermaksud untuk mengadu tentang Clarissa yang telah berkata seperti itu kepadanya.
"Jawab Sayang, Siapa yang telah mengatakan seperti itu ke kamu?" tanya Dafri dengan menatap erat raut wajah Chayra yang sudah terlihat pucat. Chayra belum juga menjawab, ia hanya menundukkan wajahnya.
"Clarissa yang berkata seperti itu?" akhirnya Dafri bisa menebaknya. Chayra langsung mengangkat wajahnya namun tidak memberi jawaban apa - apa.
"Clarissa datang kesini menemui kamu ya?" tanya Dafri lagi dengan penuh selidik.
"Sayaangg... Jawab dengan jujur pertanyaan aku ini, jangan kamu diam dan melindungi Clarissa yang sudah jahat sama kamu." pinta Dafri dengan memohon agar Chayra memberi jawaban.
"Chayra???" panggil Dafri lagi setengah mendesak, karena tidak tahan dengan desakan dari suaminya itu, Chayrapun akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Aku akan buat perhitungan dengan wanita itu," desis Dafri dengan geram.
...💦💦💦💦...
__ADS_1
BERSAMBUNG...
.