Saat Rasa Itu Hadir

Saat Rasa Itu Hadir
Eps. 26 // SARAN DARI SAHABAT


__ADS_3

...πŸ’“HAPPY READINGπŸ’“...


"Hai, Clarissa...? Ada apa, kok tumben kamu datang kesini?" tanya Dafri ke Clarissa yang tiba - tiba saja menelpon dirinya dan memberitahu bahwa ia sudah berada di kanti rumah sakit.


"Kebetulan ada teman aku yang baru selesai melahirkan kemarin dirumah sakit ini, jadi Aku menjenguk dia. Dan sekalian aja aku ajak kamu ketemuan. Kamu gak lagi sibuk kan, Daf?" tanya Clarissa.


"Sekarang tidak, cuman sekitar 1 jam lagi ada jadwal USG. Bisalah aku nemani kamu ngobrol sebentar disini. Oya, kamu pesan makan apa?" tanya Dafri yang sudah siap - siap memanggil pelayan dikantin tersebut.


"Aku pesan Minuman dingin aja, Daf. Aku sudah makan." ujar Clarissa. Dan kemudian Dafripun memesankan minuman untuk Clarissa. Dan beberapa saat kemudian, Clarissa memanggil Dafri.


"Daf.." panggil Clarissa dengan suara yang agak berat.


"Hhmm.. Ya, kenapa Clarissa?" tanya Dafri yang baru saja selesai mengetik sesuatu pada handphonenya.


"Aku mau mintak kepastian dari kamu," ujar Clarissa dan kali ini dengan suara yang pelan. Mendengar ucapan Clarissa itu membuat Dafri langsung mengerutkan dahinya.


"Kepastian apa, Clarissa?" tanya Dafri yang pura - pura tidak tahu maksud dari pernyataannya itu, padahal Dafri sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan Clarissa tersebut.


"Kepastian hubungan kita ini, Daf. Tidakkah kamu bisa memahami perasaan aku saat ini?" kata Clarissa dengan lebih menekan kata - katanya.


"Ya aku paham, tapi.. Aku rasa gak seharusnya kita bahas masalah ini disini Clarissa. Karena gak enak banyak orang yang memperhatikan kita, ini dilingkungan kerja aku. Pastilah banyak teman sejawat dan teman lainnya dirumah sakit ini yang kenal dengan aku." kata Dafri lalu melihat sekelilingnya.


"Jadi kapan kita bisa membahas masalah ini?" tanya Clarissa lagi lalu menatap Dafri dengan penuh harap.


"Nantik aku hubungi kamu lagi, Oke?" putus Dafri akhirnya dan kemudian pelayan pun datang mengantarkan pesanan mereka.

__ADS_1


"Aku tunggu kabar dari kamu secepatnya, Daf." tekan Clarissa lagi dan setelah itu menyerumput minuman pesanannya.


"Iya," sahut Dafri seraya mengangguk - anggukkan kepalanya.


...πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...


Sedangkan dirumah, Chayra sedang menunggu kedatangan Sarah didepan teras rumah. Tidak lama kemudian, Sarahpun datang dengan mengendarai sepeda motor. Chayra langsung saja bergegas naik keatas motor temannya itu.


"Suami mu gak dirumah, Chay?" tanta Sarah saat mereka sudah diperjalanan.


"Gak Sarah, dia lagi dirumah sakit." jawab Chayra.


"Dirumah sakit? Ngapain? Oya, aku lupa suami mu kan dokter ya." kata Sarah dengan manggut - manggut. Beberapa saat kemudian, merekapun sampai disebuah tempat tongkrongan yang lumayan bagus. Sarah memberhentikan sepeda motornya dipinggir taman tersebut.


"Kita disini aja ngobrolnya ya Chay? Tempatnya bagus, banyak yang jual makanan juga." kata Sarah lalu dengan antusias menatap sekeliling taman yang bagus tersebut. Chayra hanya mengiyakan dan kemudian duduk dibawah rerumputan sedangkan Sarah pergi sebentar untuk membeli cemilan. Beberapa saat kemudian, Sarahpun datang kembali.


"Terimakasih, Sarah." lirih Chayra dengan tersenyum tipis.


"Iya, sama - sama Chayra. Oya, Apa yang bisa aku bantu, Chayra? Aku perhatikan wajah kamu kusut aja sejak tadi, kamu lagi ada masalah dengan suami kamu ya?" tebak Sarah.


"Iya, aku memang lagi ada masalah. Tapi, bukan dengan Dafri. Melainkan.. Dengan Clarissa, istri sirinya Dafri." kata Chayra dengan pandangan lurus kedepan.


"Kenapa emangnya, Chay? Apa jangan - jangan dia mendesak kamu untuk pergi meninggalkan Dafri ya?" lagi - lagi Sarah menebaknya dan kali ini tebakan nya sangat benar.


"Iya, Sarah. Clarissa menyuruh aku untuk menggugat cerai Dafri. Tapi, aku bingung karena Dafri sama sekali belum ada membahas mengenai itu. Aku juga gak tahu harus mulai dari mana untuk membicarakan hal ini ke Dafri." kata Chayra dan kemudian menghela nafas dengan berat.

__ADS_1


"Kenapa harus bingung, Chayra? Kamu tinggal minta cerai saja dari dia, karena toh kamu sendiri tahu kan kalau dia gak cinta sama kamu. Dia cuman cinta dengan istri sirinya itu. Jadi, apalagi fungsi kamu didalam pernikahan ini? Ditambah lagi Mamanya Dafri yang menginginkan kamu menikah dengan Dafri itu kan sudah meninggal dunia. Menurut aku, kamu gak usah tunggu Dafri yang memulai pembicaraan ataupun menunggu dia menceraikan kamu. Jangan Chayra..!!" kata Sarah dengan berapi - api.


"Kamu jangan terlalu naif dan bersikap lemah seperti ini, Cahyra. Kamu bukan seperti Chayra yang aku kenal deh, kamu itu harus tegas. Jangan mau dimanfaatin terus - terusan dengan mereka. Kalau aku jadi kamu, sudah lama aku pergi meninggalkan Dafri. Apalagi kamu sudah ditekan terus - terusan dengan istri sirinya Dafri itu kan??" sambung Sarah lagi yang kali ini mulai terpancing emosi karena sikap lemah yang ditunjukkan oleh sahabatnya itu.


"Iya, Sarah. Aku juga gak mau seperti ini terus - terusan. Aku ingin menjalani hidup yang normal seperti dulu lagi," kata Chayra dengan mata yang mulai berkaca - kaca.


"Aku tahu apa yang kamu rasakan, Chayra. Sebagai sahabat, aku gak bisa melihat pernikahan kamu digantungkan oleh lelaki itu. Jika dia memang ingin kembali dengan si Clarissa itu, seharusnya ia membahas ini sama kamu. Bukan malah mendiamkannya, maksud dia apa coba? Dengan mempertahankan kamu tujuannya apa? Aku juga gak paham dengan pola pikirnya, Chayra. Jadi, menurut aku Jalan terbaik bagi kalian satu - satunya adalah berpisah, agar tidak ada lagi hati dan perasaan yang sama - sama merasa tersakiti. Karena dia yang tidak kunjung memulainya, maka giliran kamulah yang harus segera bertindak tegas, Chayra" Jelas Sarah panjang lebar dan dengan memberikan saran terbaiknya untuk Chayra.


Chayra diam sejenak. Ia tampak merenung dan mencerna semua ucapan yang terlontar dari lisannya Sarah. Dan.. Semua yang Sarah katakan itu, langsung dibenarkan oleh Pikirannya. Meskipun hatinya saat ini masih setengah - setengah. Antara membenarkan atau malah menyanggahnya. Dan akhirnya, Chayra mencoba mengikuti apa kata pikirannya saat ini.


"Ya. Kamu benar, Sarah. Aku memang harus berpisah dari Dafri." kata Chayra dengan suara yang lantang.


"Nah, Gitu donk. Jadi, setelah ini.. Kamu jumpai suami kamu itu, Chayra. Kalian bicarakan lah semuanya secara baik - baik. Kalau bisa aku sarankan jangan ada perkataan yang saling menyinggung ataupun menyakitkan. Karena bagaimanapun kalian memulainya secara baik - baik dan kalian harus mengakhirinya dengan baik - baik juga." nasihat Sarah seraya menyentuh lembut pundaknya Chayra.


"Iya, Sarah. InshaAllah. Terimakasih sudah memberikan saran terbaiknya untuk aku." ucap Chayra seraya tersenyum lebar. Dan Sarahpun membalas ucapan Chayra dengan sebuah senyuman juga.


Setelah itu, merekapun melanjutkan obrolan mereka dengan membahas yang lain. Dan bersamaan dengan itu pula, Handphone Chayra berdering. Ada sebuah panggilan dari nomornya Dafri. Dengan sedikit rasa ragu, akhirnya Chayra pum menerima panggilan dari Dafri tersebut.


"Chayra,, Kamu dimana??" todong Dafri langsung dengan pertanyaan. Suara Dafri terdengar agak lain, begitu lemah dengan helaan nafas yang tidak beraturan.


"Aku.. Lagi bersama Sarah," Jawab Chayra seadanya.


"Chayra, segeralah pulang sekarang!! Aku membutuhkan kamu, pulanglah kerumah Chayra.." ucap Dafri tiba - tiba masih dengan nada yang sama, namun kali ini volume suaranya sudah semakin mengecil. Chayra dan Sarahpun langsing saling pandang atas apa yang barusan mereka dengar..


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


YUK TINGGALKAN LIKE DAN KOMENTARNYA YA, TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA...


__ADS_2