
Chayra sangat kaget setelah menabrak seseorang bertubuh lumayan kekar itu. Lelaki yang ditabraknya itupun tidak kalah kagetnya dengan Chayra.
"Chayra? Maaf.. Maaf.. Kamu gak apa - apa?" tanya Lelaki itu yang ternyata adalah Rama.
"Aku yang seharusnya minta maaf, Rama. Karena aku yang menabrak kamu, maaf ya?" ujar Chayra karena merasa tidak enak.
"Iya, gak apa - apa. Santai aja, Chayra. Oya, tapi tadi kenapa kamu buru - buru dan seperti panik gitu?" tanya Rama dengan wajah herannya.
"Eee... Itu, tadi aku pikir yang datang orang jahat ataupun perampok karena kamu masuknya gak ngucapin salam. Makanya, aku langsung kabur mau masuk kekamar." jelas Chayra. Dan Rama langsung tertawa lepas.
"Oh.. Ya maaf -maaf, aku juga lupa kalau ada kamu dirumah. Biasanya jam segini gak ada orang, kak Hilma dan suaminya biasa pulang siang ataupun sore. Makanya aku masuk tanpa salam." jelas Rama yang diselingi dengan tawa kecilnya itu. Chayra hanya tersenyum tipis mendengar penjelasan lelaki tersebut.
Lalu kemudian, Rama pamit masuk kedalam kamarnya. Dan Chayra kembali duduk ditempatnya tadi. Beberapa menit kemudian, Rama keluar dari kamarnya dengan sudah berganti pakaian. Rama langsung saja menghampiri Chayra dan duduk dikursi tepat didepan wanita itu.
"Kamu sudah sarapan, Chay?" tanya Rama. Melihat kedatangan Rama dan duduk di dekat nya, membuat Chayra menjadi canggung. Bagaimana tidak? Posisi Chayra saat ini menjadi serba salah. Ia berada didalam rumah dengan seorang lelaki yang bukan muhrimnya. Meskipun ia tahu Rama lelaki yang baik dan tidak mungkin berbuat macam - macam terhadapnya tapi tetap saja Chayra merasa tidak pantas berdua - duaan dengan lelaki yang pernah singgah dihatinya waktu dulu, jauh sebelum Dafri datang melamarnya.
"Sudah Rama," jawab Chayra dengan singkat. Chayra kemudian mengalihkan pandangannya dengan melihat layar televisi tanpa bermaksud untuk memulai pembicaraan lagi dengan Rama. Chayra lebih baik diam dan berharap Rama segera pergi dari tempatnya karena merasa dicuekin.
"Chayra," namun, harapan Chayra itu pupus sudah ketika tiba - tiba Rama kembali memanggil Chayra, sehingga mau tak mau membuat Chayra kembali menoleh ke arah lelaki tersebut.
__ADS_1
"Iya, Rama. Kenapa?" sahut Chayra.
"Sebelumnya aku minta Maaf, Chayra. Karena aku gak bermaksud untuk ikut campur permasalahan rumah tangga kamu. Tapi, aku cuman mau memberikan saran saja ke kamu. Ya syukur - syukur kamu mau menerima saran dari aku ini." kata Rama yang kembali membuka pembicaraan.
"Saran apa ya Rama?" Chayra bertanya dengan penasaran.
"Menurut aku, Alangkah baiknya kamu beritahu suami kamu tentang keberadaan kamu saat ini dimana. Tidak baik kamu pergi dari rumah tanpa memberi kabar, Chayra. Karena bagaimanapun juga status kamu masih istri sahnya suami kamu itu. Ya aku tahu walaupun suami kamu sempat mengatakan bahwa tidak ingin melihat kamu lagi, tapi yang aku tangkap itu hanyalah luapan emosinya semata. Bukan dari hatinya." ucap Rama dengan pandangannya tidak lepas dari Chayra.
"Lagi pula, aku juga gak mau dijadikan kambing hitam atas perselisihan kalian berdua. Yang aku tangkap dari cerita kamu ke Kak Hilma kemarin, dimana seolah - olah kamu menjadikan aku sebagai alat untuk membuat suami kamu salah sangka dan akhirnya meninggalkan kamu. Benar demikian kan Cahyra?" lanjut Rama lagi dengan bertanya. Chayra diam sejenak, dalam hati ia membenarkan juga apa yang dikatakan oleh Rama. Chayrapun sebenarnya merasa tidak enak harus melibatkan Rama dalam permasalahannya ini.
"Rama, sebenarnya aku gak pernah berniat untuk melibatkan kamu dalam permasalahan aku ini. Waktu itu, pikiran aku lagi kalut dan tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membuat suami aku melepaskan aku. Dan kebetulan waktu itu dia melihat kamu mengantarkan aku kerumah, dari sanalah ide dadakan itu muncul. Ditengah kekalutan itu, aku membuat cerita seolah - olah.." Chayra berhenti sejenak, ia seakan tidak mampu untuk melanjutkan kalimatnya. Rasa tidak enak sekaligus malu benar - benar merasukinya saat ini. Sehingga membuat Chayra seakan tak mampu untuk mengangkat wajahnya dan melihat Rama yang masih menunggu kelanjutan ucapan dari Chayra tersebut.
"Ya.. Aku bisa pahami Chayra" ucap Rama yang akhirnya membuat Chayra bisa sedikit bernafas lega. Jadi dengan begitu, ia tidak perlu melanjutkan ucapannya kembali.
"Kecuali jika...Kamu benar - benar masih mempunyai rasa terhadap aku, itu lain ceritanya lagi." sambung Rama dengan seuntai senyuman manis sudah mengembang disana. Chayra hanya bisa terdiam dengan menelan ludahnya yang terasa sangat pahit.
...💞💞💞💞...
Sedari tadi Clarissa perhatikan Dafri tidur dengan gelisah diatas sofa sana, matanya memang sudah terpejam namun mulutnya terlihat komat - kamit seperti mengatakan sesuatu. Maka, karena rasa penasaran Clarissa pun turun dari tempat tidurnya dan berjalan mendekati Dafri.
__ADS_1
Setelah berada disamping Dafri, Clarissa jongkok dan mendekatkan wajahnya ke wajah Dafri. Clarissa ingin mendengar kata apa yang keluar daru mulut lelaki itu.
"Chayra.. Chayra.. Jangan pergi, jangan tinggalkan aku Chayra.."
Mata Clarissa langsung terbelalak kaget mendengar kata - kata yang keluar dari mulut suaminya itu.
"Aku sangat mencintai kamu, Chayra.." lirih Dafri lagi dengan terus - terusan mengigau menyebut nama Chayra. Dan Clarissa yang tidak tahan mendengar itu semua, lantas pergi dan kembali lagi ketempat tidurnya.
Clarissa merasa kesal, marah dan sakit hati mendengar Dafri yang belum bisa melupakan Chayra. Walaupun kelihatan dari luar Dafri bisa berlagak seolah - olah tidak lagi ingat Chayra, tapi ternyata dihatinya masih tetap ada Chayra. Pasti saat ini dia sedang bermimpi tentang Chayra.
Tapi, biarpun demikian.. Sebisa mungkin Clarissa berusaha meredam rasa amarah yang mulai memuncak di dadanya saat ini. Clarissa menyentuh dadanya yang sudah berdebar - debar dengan kencang, ia mencoba untuk tenang dengan menarik nafas panjang berkali - kali lalu menghembuskannya dengan perlahan - lahan.
Setelah itu, Clarissa mengambil minum yang ada diatas meja lalu meminumnya sampai habis. Clarissa sudah bertekad untuk tidak lagi mengikuti amarah yang berlebihan seperti kemarin - kemarin itu. Karena jika diperturutkan, akan membuat mentalnya semakin terganggu dan susah untuk pulih kembali. Tidak dipungkiri, Clarissa ingin pulih dan sembuh dari gangguan mentalnya ini. Yang kata dokter dan juga Mamanya sudah muali parah, karena itulah sebelum semuanya terlambat, Clarissa harus berbuat sesuatu agar tidak terpuruk dan hancur oleh gangguan mentalnya tersebut.
Clarissa kembali melihat Dafri yang sudah berhenti mengigau, Ia pandangi wajah lelaki yang sangat ia cintai itu. Tapi, sayangnya.. Cinta Clarissa bertepuk sebelah tangan. Clarissa tidak bisa lagi memiliki hati Dafri seutuhnya. Hati Dafri hanya terpaut kepada Chayra semata...
...💞💞💞💞...
BERSAMBUNG...
__ADS_1
.
.